
Ketika Tari tepat dibawah sinar lampu jalan, tampaklah sebuah kapak terayun ditangannya.
"Siapa itu, pak"
"Istri saya...kesurupan. Ayo lari...ngumpet"
Anton berlari kencang. Walaupun harus berusaha tidak terlihat oleh Tari. Begitu pula dengan kedua orang petugas ronda itu. Mereka mengikuti Anton. Tetap berada dibawah kegelapan.
Sampai mereka tiba di pos ronda dan bersembunyi disitu. Lalu seorang petugas ronda menelpon Pak RT dan RW via hp. Memberitahukan tentang kejadian ini.
Beberapa tetangga yang belum tidur, mendengar teriakan-teriakan Tari. Lalu mereka keluar rumah masing-masing untuk mencari tahu, apa gerangan yang terjadi ?.
"Antoooonnn !...Dimana kau !...Keluar kau !...*nj*ng !. Kupotong k*nt*l mu !. Keluar kau !"
Mereka melihat Tari berlari-lari, kesana kemari disekitaran gang mereka itu. Sambil memperlihatkan sebuah kapak yang ada ditangannya.
Tentu saja para tetangga itu ketakutan terkena imbas kemarahan Tari. Merekapun segera kembali masuk kerumah masing-masing dan mengunci pintu rumah mereka. Hanya berani mengintip dari balik tirai jendela mereka. Itu hanya sedikit saja.
Tidak berapa lama kemudian, Pak RT dan Pak RW segera meluncur kerumah Anton. Bersama kedua petugas ronda tadi dan beberapa tetangga Anton yang masih penasaran dan ada yang usil. Sekedar mencari bahan perbincangan esok hari.
Mereka mendapati pintu pagar, sebuah pintu mobil baru, pintu rumah dan pintu-pintu kamar terbuka lebar. Pak RT, Pak RW dan kedua petugas ronda masuk kedalam rumah secara bersam-sama dan berhati-hati. Jangan sampai bertemu Tari.
Sementara para tetangga dilarang Pak RT untuk ikut masuk. Mereka hanya berjaga-jaga dipintu pagar rumah Anton.
Karena kengerian mengancam mereka. Jika terpergok Tari didalam rumah itu, bisa jadi mereka ditebas Tari dengan kapak yang ditangannya itu. Pak RT sangat percaya kalau Tari memang sedang kesurupan. Orang yang kesurupan akan nekat melakukan apapun. Termasuk menebas mereka dengan kapak.
"Ayo, buruan. Kalau sudah selesai, kita langsung keluar. Rumah ini aroma mistisnya tajam" kata RW, khawatir dan takut.
Kedua petugas ronda dan Pak RT pun tergesa-gesa memeriksa semua sudut dan ruangan rumah Anton itu. Sampai kelantai dua. Memastikan bahwa dirumah itu 'bersih'. Artinya tidak terjadi sesuatu yang mengerikan.
"Bersih, pak" lapor seorang petugas ronda ke Pak RW.
"Oke...Kalau begitu, Ayo kita pergi. Jangan lupa tutup semua pintu-pintu" pesan Pak RW kepada kedua orang petugas ronda itu.
__ADS_1
Setelah itu, mereka keluar dari rumah Anton itu. Tidak lupa menutup satu pintu mobil baru yang tadi terbuka. Menutup pintu pagar dan menguncinya.
Kejadian ini bukan kali yang pertama. Jadi Pak RW dan Pak RT sudah tahu dimana posisi kunci pintu pagar rumah Anton, biasa tersimpan. Karena itu mudah bagi Pak RW dan Pak RT mengunci pintu pagar itu dan mengembalikannya lagi ketempat biasa itu.
"Pak Sukri, berjaga-jaga didepan rumah Pak Anton. Tapi berhati-hati dari Ibu Tari"
"Iya, pak" jawab seorang petugas ronda itu yang bernama Pak Sukri.
Pak RT dan Pak RW sudah dapat menduga keadaan rumah Anton itu. Jika sudah bertengkar sangat dahsyat seperti itu, rumah Anton ditinggal begitu sajal oleh mereka.
Baik Anton dan Tari, tidak akan datang kerumah itu untuk beberapa hari kedepan. Tari akan menginap dikamar Mbah Kahpok dan Anton akan berada dirumah orang tuanya. Karena pertengkaran seperti tadi malam, bukanlah pertengkaran yang pertama.
Boleh dikata, sejak mereka menghuni rumah itu. Tiada hari tanpa pertengkaran. Sampai tetangga menyebut rumah mereka adalah neraka.
Walaupun Anton tidak berkata apa-apa. Tapi orang tuanya dapat menduga, kalau Anton sedang bertengkar lagi dengan Tari. Taripun tidak akan datang kerumah mertuanya itu. Hanya sekedar melintas dari depan rumah orang tua Anton. Melirik dengan ekor matanya kearah rumah mertuanya itu dan tidak lupa mengangkat dagunya. Lalu mendengus dan terus berjalan.
Singgah sebentar dirumah Tante Hombing. Lalu ke iwarung Mbak Ipeh. Menghabiskan satu hari ditempat itu dengan keluh kesah berisi caci maki, sumpah serapah dan kata-kata kotor.
Sampai Tari letih sendiri dan kemudian tertidur disalah satu bangku warung Mbak Ipeh itu. Tidak perduli dengan orang-orang yang datang dan pergi, silih bergati diwarung itu. Pokoknya Tari tidur ngorok.
"Busyet dah !" umpat suami Mbak Ipeh. Ketika beberapa kali tak sengaja melihat rok Tari tersingkap.
Karena itulah, maka suami Mbak Ipeh sudah jarang ke warung membantu Mbak Ipeh. Suami Mbak Ipeh memilih dagang rokok ditepi jalan saja.
Hingga hari malam, barulah suami Mbak Ipeh datang kewarung untuk membantu Mbak Ipeh bersih-bersih warung untuk tutupan. Itupun Tari masih sering didapati suami Mbak Ipeh tiduran dibangku itu.
Setelah Mbak Ipeh dan suaminya selesai bersih-bersih warung, barulah Tari berniat untuk pergi dari warung itu.
Melintas lagi dari depan rumah mertuanya dan melirik sinis. Kembali kerumah orang tuanya dan menginap lagi dikamar Mbah Kahpok. Sampai beberapa hari kedepan. Setelah amarahnya surut, barulah Tari pulang kerumah mereka. Ketika telah menjelang tengah malam.
Tiba dirumah, Tari mendapati Anton sudah tidur lelap diruang keluarga rumah mereka. Tari cuek dan membiarkan Anton disitu.
Keesokan paginya, ketika.Tari bangun; Tari tidak mendapati Anton lagi dirumah mereka. Tetap Tari cuek dan hari ini Tari harus kekantor pemerintahan untuk mengurus administrasi kelengkapan dirinya sebagai seorang PNS baru.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian SK pengangkatan dari keluar. Juga SK penempatannya. Untunglah Tari ditempat dikota ini. Kalau tidak, Tari akan sangat marah dan membakar kantor pemerintahan itu.
Maka Tari mulai bertugas sebagai Bidan kota. Tapi tetap saja tak bisa dilupakannya untuk mengunjungi tempat favoritnya, yaitu warung gorengan Mbak Ipeh. Seperti hari ini, pulang kerja Tari meluncur kewarumg Mbak Ipeh.
Menikmati gorengan dan es teh manis. Sambil berkeluh kesah cacian dan makian kepada keluarga Anton dan Anton.
"Lu sudah PNS. Masih saja resah-reaah sedih gitu. Mikirin apalagi sih" tanya Mbak Ipeh. Berusaha menghibur Tari, sipundi-pundi kesayangannya.
"Resahlah, mbak"
"Resah karena apaan. Seharusnya sudah bahagia dong"
"Bahagia gimana ?...Gua lulus kan karena dibantu uang sogok dari bokap gua.." Tari memulai hoaksnya yang dramatis. "Jadi gua harus berfikir untuk mengembalikannya. Pelan-pelan sih bisa dari gaji gua nanti. Tapi, uang kebutuhan gua sehari-hari...bagaimana ?. Masa gua harus minta ke bokap lagi"
"Lho ???...si Antonkan sudah kerja, taksi on line. Tentu bisa dong mencukupi kebutuhan kalian sehari-hari. Lagian, masa sih...mertu lu gak mau bantu uang sogokkan itu"
"Itulah, mbak. Makanya...gua ini sebenarnya sedih. Coba mbak bayangkan. Gua masuk PNS kan derajat mertua gua yang terangkat. Pasti keluarga mertua gua bilang ke mertua gua...hebat lo ya, dapat menati pegawai negri. Iya kan, mbak. Bukannya derajat bokap. Gua kerja dan dapat uang, juga untuk biaya keperluan kami sehari-hari. Hasil kerja si Anton...yah...dapat buat makan dia sendiri saja, sudah bersyukur gua. Makanya gua sedih"
Masih mengenakan seragam PNSnya, Tari berada diwarung Mbak Ipeh. Antara berkeluh kesah, menggosip atau memamerkan dirinya sebagai seorang pegawai negri. Tari tahan berlama-lama diwarung Mbak Ipeh itu.
Tiap kali pulang kerja, pasti ke warung Mbak Ipeh. Berkicau dengan mulut penuh makanan. Tidak pernah mencuci tangannya. Walaupun itu baru selesai buang kecil. Bisa saja terikut yang besar, alias berak.
Tidak pernah salinan. Setelah hampir setengah hari memakai pakaian itu. Apalagi sekedar mengganti ****** *****. Tidak perduli kalau nafasnya bau atau keringatnya sudah sangat bau.
Hingga Mbak Ipeh berbenah untuk menutup warungnya pada tengah malam. Barulah Tari terpaksa beranjak dari warung itu. Itupun setelah suami Mbak Ipeh beberapa kali berdehem. Seakan memberi isyarat kepada Tari bahwa warung untuk hari ini telah ditutup.
Padahal larut malam sudah beranjak perlahan. Tari baru tiba dirumahnya. Melihat Anton sudah terlelap diranjang mereka. Tari juga akan memilih langsung tidur. Tanpa mandi dan salinan.
Tapi Tari memilih tidur dikamar tidur yang ada disebelah kamar tidur utama yang menjadi kamar tidur mereka. Ketika Tari sudah terlelap, Anton yang terbangun dan langsung bersiap-siap pergi kerja. Tanpa mencari keberadaan Tari.
Apakah Tari tadi malam pulang kerumah, ataukah tidak. Anton tidak ingin merepotkan dirinya pada hal itu.
Begitulah keadaan keseharian mereka. Bila tidak ada pertengkaran. Mereka bagai dua orang asing yang hidup dalam satu rumah. Keduanya menjalani keseharian mereka masing-masing.
__ADS_1
Bagi Anton itu lebih baik daripada bertemu, pasti bertengkar. Anton sudah capek bertengkar dengan Tari. Ketenanganlah yang diinginkan Anton. Walau ketenangan itu sangat dingin.
Baru beberapa hari ketenangan itu tercipta. Kemudian terpecahkan lagi. Ketika Tari pulang kerumah dan tidak mendapati satu mobil mereka didalam garasi.***