
Erika, Riris dan Tari masuk bebas kedalam bekas kandang ayam itu.
"Mampus kalian !...Mati kalian disitu !..." pekik ibu bahagia. Langsung menutup pintunya dan....ceklek !...menguncinya. Lalu ibu pergi meninggalkan mereka. Sambil terus berteriak memaki mereka. Untunglah langkahnya lebar. Jadi ibu cepat hilang dari pandangan mereka. Tinggallah mereka didalam bekas kandang ayam itu malam ini.
Kandang ayam yang tidak ada ayamnya. Karena itu disebut bekas kandang ayam. Hanya berisikan tahi ayam yang sengaja ditumpuk ibu disitu untuk dijadikan kompos. Karena disekeliling tepi halaman belakang ini, banyak tanaman ibu. Entah tanaman apa, mereka tidak mengetahuinya. Tepatnya tidak mau tahu.
Puih !...baunya sangat tidak terhankan. Erika dan Riris tidak tahan lagi. Beberapa saat, setelah ibu masuk kerumah; Erika dan Riris langsung melampiaskan amarah mereka kepada Tari. Mereka memaki Tari. Sambil menampar kepala, pipi, mencubit lengan dan paha Tari.
Tari hanya diam pasrah. Duduk lesu disebuah kayu bekas dengan memeluk erat kedua kakinya. Menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Mengabaikan kemarahan dan siksaan kekerasan dari Erika dan Riris. Karena ternyata Tari lebih sangat ketakutan pada gelap dan aroma bau kandang ayam ini. Bayangan hantu yang menyeramkan, yang akan memakannya; itulah yang membuat Tari hanya pasrah diperlakukan bagaimanapun oleh Erika dan Riris.
Memaksakan matanya untuk terpejam. Agar hantu itu tidak mengetahui, kalau dirinya tidak dapat tidur. Erika dan Riris tidak akan mengerti ketakutan Tari itu. Lebih besar rasa takutnya dari pada rasa sakit ditubuhnya saat ini. Apalagi teringat akan cerita-cerita teman-temannya, bahwa tempat gelap dan bau adalah sarang hantu-hantu. Jadi sekarang Tari berada disarang hantu.
Seketika tubuh Tari menggigil diserang ketakutannya. Semakin membenam wajahnya diantara kedua lututnya, menyembunyikan wajaynya. Agar hantu-hantu tidak melihatnya. Tangisannya mendesak keluar dari dadanya. Tapi apa daya, Tari juga takut menangis. Takut hantu-hantu itu mendengar suaranya. Lalu menyerbunya dan memakan tubuhnya. Sedikit demi sedikit, dari mulai jari kaki hingga ke kepalanya.
Segera Tari menutup mulutnya dengan menempelkan mulutnya di satu lututnya. Menekannya kuat untuk menahan tangisannya. Ketakutan Tari itu bagaikan peluang bagi para setan untuk menangkapnya. Mumpung malaikat penjaga Tari telah lama off. Setan pun akan berlagak menjadi sosok yang perduli dan pengertian akan penderitaan Tari kini. Melebihi malaikat-malaikat penjaga itu.
__ADS_1
Meniupkan suara lembut mereka ke telinga Tari diantara tiupan angin. Para setan mengutuki Erika dan Riris. Seakan mewakili Tari yang sebenarnya ingin marah pada Erika dan Riris. Tapi ketakutan dan ketidakberdayaan dirinya yang berstatus masih kanak-kanak, membuat kemarahan itu tersembunyi.
Perlahan hati Tari sedikit merasa lega. Mendengar suara angin bertiup kencang. Lebih kencang dari ******* nafasnya. Berarti para hantu tidak akan mengetahui keberadaannya disarang mereka ini. Padahal itu adalah hembusan suara setan yang berbisik-bisik bising ditelinganya. Membiarkan Tari mengartikan seperti itu untuk memanipulasi pertolongan para setan. Agar Tari akrab dengan suara mereka dan tidak lagi takut dengan sosok hantu yang menakutkan. Seperti cerita-cerita yang didengarnya.
Saat Tari mulai terbuai dengan suara angin itu, setan pun memunculkan rasa sakit hatinya yang selama ini terendap disudut hatinya yang masih kanak-kanak. Menampilkan bagaimana perlakuan kasar ibu, Erika dan Riris kepadanya. Pertengkaran ayah dan ibu yang mengganggu tidurnya. Hingga bagaimana Tari akhirnya terkurung di eks kandang ayam ini.
Semua rasa sakit itu disusun setan dengan rapi difikiran Tari. Terangkai menjadi jalinan kenangan-kenangan pahit yang dapat diingat Tari setiap saat. Setan berlagak pesuruh yang patuh dan perduli. Selalu siap menyuguhkan kenangan pahit itu. Kapanpun Tari ingin mengingatnya. Hanya dengan mendengar suara tiupan angin ditelinganya.
Padahal dengan begitu, sebenarnya setan sedang membiakkan rasa sakit itu menjadi dendam yang akan dilahirkan Tari kelak. Begitu padatnya kenangan rasa sakit itu difikiran Tari. Sehingga tidak menyisakan sedikitpun tempat untuk kenangan manis. Termasuk kenangan bersama Miss Cecil.
Tari kecil memang tidak mengerti dengan apa yang sedang diperbuat setan pada fikirannya. Bahkan tidak seorangpun yang tahu tentang pembiakan itu. Tapi sepertinya setan tampak berhasil. Buktinya Tari tidak menangis, dikurung di eks kandang ayam itu. Tangis yang tadi mendesak keluar, seketika hilang. Bahkan kini Tari mulai mengantuk. Kemudian tertidur lelap hingga pagi.
Malam itulah setan mencatatkan dikehidupan Tari untuk tidak akan menangis lagi. Tapi memberontak, pada saatnya tiba. Jika kandungan dendam itu sudah siap untuk dilahirkan.
Sebenarnya getarannya sudah terdeteksi. Itu jika orang yang profesional kesensitifannya, selalu ada bersama Tari. Misalnya Miss Cecil. Tapi tidak mungkin Miss Cecil sampai sekarang bersamanya. Seiring beranjaknya usia Tari, Miss Cecil hanyalah tokoh baik dimasa Tari masih dikelas Taman Kanak-Kanak dulu. Sekarang Tari sudah remaja. Sudah duduk dikelas 13. Sebentar lagi menghadapi ujian akhir.
__ADS_1
Sementara Miss Cecil entah dimana kini keberadaannya. Mungkin sudah kembali kedunia dongeng. Kabar terakhir yang didengar Tari, ada seorang pemuda yang melamar Miss Cecil. Lalu membawa Miss Cecil ke kerajaannya. Jadi Tari sudah sangat tahu, bahwa tokoh baik itu hanya ada di dalam dongeng ataupun cerita-cerita fiksi belaka.
Setelah kepergian Miss Cecil, setan menebar gosip difikiran Tari. Kalau sebenarnya Miss Cecil itu tidak baik. Miss Cecil hanya meracuni fikiran Tari dengan dongengan tentang tokoh baik. Agar Tari selalu cengeng. Mudah menangis kalau diusili Erika dan Riris. Juga kalau dimarahi ibu. Berharap tokoh baik itu datang. Membelanya dan menyihir Erika, Riris dan ibu jadi kodok. Jadi batu juga boleh.
Tapi buktinya, sampai sekarang tak ada tokoh baik itu. Membawa Tari lari dari 'menara' kemarahan ibu. Jadi lebih baik Tari berhenti dengan khayalan dan pengharapan akan tokih baik itu. Itu semua rekayasa Miss Cecil. Agar beliau disebut ibu guru yang baik.
Jadi tokoh baik tidak diperlukan. Teman-teman juga, tidak diperlukan. Tokoh teman pun hanya ada di dongeng dan cerita-cerita fiksi. Semua itu nama lain dari tokoh baik. Fakta juga membuktikan, teman hanyalah sekumpulan orang-orang yang suka bergosip dan mengusili orang lain. Istilah kerennya melakukan perundungan terhadap teman yang tampak lemah.
Tari sudah muak jadi korban perundungan teman-temannya. Pernah digosipkan tentang keabsahan jenis kelaminnya. Sering dujauhi, diusili....Puaahh !!...Tari muak mengingat semua itu. Ingin memuntahkannya didepan Erika dan Riris. Sayangnya, mereka sudah pergi ke propinsi sebrang. Katanya untuk melanjutkan studi dikampus yang berkredibilitas internasional.
Puih !...Tari jadi tidak bisa muntah. Hanya meludah disembarang tempat. Saat mendengar alasan mereka itu. Seharusnya dikatakan saja dengan jujur. Kalau mereka hanya ingin jauh dari ibu. Buktinya sampai sekarang, mereka tidak pernah memberi kabar. Kecuali kalau minta uang. Barulah mereka menelpon ayah. Minta uang kos-kosan lah, beli bukulah, inilah, itulah. Semua itu dusta.
Menurut prediksi Tari, mereka sebenarnya tidak kuliah. Melainkan mereka itu sudah kawin dipropinsi sana. Hanya tidak mau memberitahu ayah. Agar ayah tetap menyantuni mereka.
__ADS_1
Walaupun begitu jelek pemikiran Tari terhadap kedua kakaknya itu. Diam-diam Tari menyebutkan mereka beruntung. Karena sudah jauh dari ibu. Suatu saat Tari juga ingin jauh. Sejauh-jauhnya dari ibu dan tidak berharap untuk bertemu lagi.\*\*\*