PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Malam Itu


__ADS_3

Seketika Tari merinding disuguhi fikiran seram seperti itu. Membuat Tari berniat undur. Rasa penasarannya menyisakan rencana dihatinya. Suatu waktu sajalah masuk kekamar ini. Kalau hari sudah siang. Saat ayah dan ibu tidak dirumah. Sekarang ini lebih baik Tari mencuri dengar saja. Apa yang mereka bicarakan didalam itu.


Suara perempuan itu dihasilkan dari mulut Mbah Kahpok. Perempuan yang bernama Nyai itu tidak tampak wujudnya. Dia hanya meminjam tubuh Mbah Kahpok untuk berbicara dengan ayah. Menjadi pengantara menghubungkan dirinya dengan ayah.


Tari tidak mengetahui hal itu.


"Lalu...apa yang harus saya lakukan sekarang. Tolonglah saya Nyai"


"Tidak ada. Kecuali menunggu pohon yang satunya tumbuh besar"


"Tapi sebelum itu, apa yang akan terjadi pada saya"


"Tak ada jaminan dari saya. Orang-orang akan bisa menuntut kamu. Hihihihihi...."


Tari terperanjat mendengar suara tawa yang menyeramkan itu. Menimbulkan suara gesekan pipinya dan daun pintu kamar. Sejenak Tari menahan nafasnya. Berharap suara yang ditimbulkannya, tidak mengusik ketiga orang yang didalam kamar itu.


Dugdugdug...jantung Tari berdegup. Mengkhawatirkan pintu kamar terbuka. Salah seorang dari ketiga orang yang didalam kamar itu, memergokinya. Dugdugdug...mata Tari awas melihat kebawah celah pintu.


Tari telah memasang kuda-kuda. Jika saja ada tampak bayangan bergerak dari celah bawah pintu itu, Tari akan segera berlari kencang. Bersembunyi dibalik batang pohon pisang yang ada didepan kamar ini.


Jumlah pohon pisang itu lumayang banyak. Memisahkan kamar ini dari kandang ayam ibu. Cukuplah buat Tari bersembunyi disitu.


Beberapa detik kemudian, tak ada tanda-tanda bahwa Tari kepergok sedang mencuri dengar. Kekhawatirannya berangsur hilang. Muncul kembali rasa penasarannya. Menuntut untuk dipuaskan. Berbisik mesra pada Tari untuk mengintip saja.


Abaikan rencana yang tadi baru disusun. Rasa penasarannya menuntut kepuasaan untuk melihat si nyai. Perlahan Tari mencoba membuka pintu. Menggenggam grendel pintu dan menggerakkannya kebawah secara perlahan.


Syukurlah tak mengeluarkan bunyi. Tari mendorong pintu itu, juga dengan perlahan. Agar tidak menimbulkan suara. Syukuuurrr...juga, tak ada suara berderit. Jadi Tari leluasa membuka pintu itu. Mengintip dengan jelas keadaan didalam kamar.


Tampak Mbah Kahpok sedang duduk bersila didepan ayah. Sedang ayahpun duduk bersila menghadap Mbah Kahpok dengan mata terperjam. Tapi...astagaaaaa....ayah telanjang.

__ADS_1


Nyaris Tari berteriak, kaget. Untunglah kedua tapak tangannya cekatan menutup mulutnya. Namun tadi sempat menimbulkan suara yang boleh dibilang berisik pada kesunyian lewat tengah malam ini. Karena sikunya membentur daun pintu.


Tari menahan nafasnya dan membelalakkan matanya. Menatap Mbah Kahpok dan ayah. Tapi tampaknya mereka tidak terusik. Tari pun menghela nafas pelan, lega dan melanjutkan aksinya.


Mengedarkan tatapannya ke sekeliling kamar. Mencari-cari si nyai. Sekalian memperhatikan isi kamar. Karena inilah kali pertama Tari melihat ke dalam kamar ini. Sayangnya, lampunya remang-remang. Tapi Tari ingin tahu keadaan bagian dalam kamar ini.


Tanpa sadar Tari semakin lebar membuka pintu kamar itu. Setengah tubuhnya nyaris masuk kedalam kamar. Tak disadarinya, mata tajam Mbah Kahpok telah menatapnya dengan kemarahan.


Sampai tatapannya bertemu dengan mata Mbah Kahpok. Spontan Tari tersentak, kaget. Tari ingin segera berlari keluar. Tapi kedua kakinya tak dapat digerakkannya. Tari ingin berpaling dari tatapan Mbah Kahpok. Itupan tak dapat dilakukannya.


Lehernya kaku untuk digerakkan. Bola matanya juga tak dapat digerakkannya. Seluruh tubuhnya, tak dapat digerakkan. Hanya jantungnya yang masih bergerak. Berdetak sangat cepat. Membuat nafasnya sesak. Matanya hanya bisa membelalak dan berkedip. Tak bisa dipejamkan.


Tiba-tiba Mbah Kahpok berubah cepat menjadi seorang perempuan nan cantik. Menatap manis pada ayah. Lalu menatap Tari sebentar, sangat sinis.


Perempuan itu menerkam ayah dan mencumbui ayah, begitu bergairah. Nafas Tari pun semakin tidak beraturan. Menyaksikan adegan 17 thn keatas itu. Suatu adegan yang tak pernah dan tak layak ditontonnya.


Tari meronta untuk membuat tubuhnya dapat bergerak kembali. Bolak-balik Tari mengedip, menggerakkan bibirnya. Berusah menggerakkan tangannya, kakinya, lehernya. Sampai Tari mengedan panjang. Seperti orang yang sakit perut. Karena sesak mau berak.


Tari mengedan lagi. Kali ini sangat pankang dan kuat. Eeeegggg....aaaaggg....berhasil sedikit. Lehernya bisa digerakkannya. Tari mencoba berpaling. Eeeegggh...berhasil !. Tari sudah bisa menoleh kekanan. Eeeeggg...Tari menggerakkan pinggangnya. Berhasiiillll...Tari pun menggerakkan pinggang dan lehernya secara bersamaan. Menoleh kebelakang,


"Aaaa...." teriak Tari. Karena begitu Tari menoleh. Matanya beradu dengan mata Mbah Kahpok.


Mbah Kahpok telah berada dibelakangnya. Menghadapkan wajahnya tepat ke wajah Tari. Sesaat kemudian, Mbah Kahpok meniup wajah Tari dengan nafasnya. Taripun terkulai lemas dan jatuh dipelukan Mbah Kahpok.


Mbah Kahpok membopong tubuh Tari. Membawa Tari ke kamar tidur Tari. Tari tidak dapat melakukan perlawanan. Tubuhnya tak berdaya. Seakan sudah lumpuh total.


Hanya kesadarannya yang masih bisa berjalan. Melihat langkah kaki Mbah Kahpok menuju kamar tidurnya. Menghempaskan tubuhnya diatas kasurnya. Setelah itu, Tari tidak tahu lagi.


Ketika Tari terbangun pada pagi hari. Ada sisa rasa sakit atau nikmat ditengah selangkangannya. Tari tak dapat membedakannya. Keduanya muncul bersamaan. Tari tidak berkesempatan untuk ambil pusing mencari tahu keduanya.

__ADS_1


Karena kemudian, Tari mendengar suara berisik. Pertengkaran ayah dan ibu didepan kamarnya. Menuntutnya untuk berjalan mendekati pintu kamarnya dan mencuri dengar pertengkaran ayah dan ibu.


"Kau istri yang tidak berguna !"


"Kau yang tidak berguna !. Keperluan anak-anakmu, aku yang penuhi semua !. Suami apa seperti kau ini !"


"Hei !...semua gajiku, kuberikan padamu. Kau pakai untuk apa gajiku itu !. Kau pakai untuk judi ya !"


"Diam kau !...lancang mulutmu !. Padahal kau yang sudah terbukti selingkuh dengan nyai mu itu !. Tapi aku diam saja !. Kau tahu kenapa !?. Karena aku muak melihatmu !. Laki-laki bodoh !...tolol !..."


"Jaga mulutmu !...Kalau tidak karena dia, tidak mungkin kita bisa membangun rumah sebesar ini !. Tidak mungkin aku dapat promosi dikantor !. Punya usaha dan selalu menang tender !. Ingat itu !...Itupun semua karena permintaanmu !, perempuan bodoh !"


"Alasan !..."


"Kali ini, aku tidak mau menanggung akibat dari kebodohanmu" volume suara ayah mulai turun. Memberi peringatan pada ibu.


"Maksudmu...aku yang salah ?!. Aku harus menanggungnya !?. Enak saja !...Itu semua karena si bodoh Tari !. Anak kurang ajar itu !. Sudah berani dia melawan aku !"


"Tapi kau bisa menghukum dia dengan cara lain. Bukan dengan menebang pohon itu. Kau lihat ?!...semua jadi kacau !. Nyai marah...kau merusak keanggunannya dan dia tidak mau lagi menolongku"


"Syukurlah...Berarti kau tidak harus melayani dia lagi !"


"Kau memang bodoh !"kata ayah sangat kesal pada ibu.


Lalu terdengar langkah kaki ayah menjauh dari depan kamar Tari. Sementara Tari hanya manggut-manggut mengerti. Ternyata pohon kesayangannya ditebang ibu. Agar Tari tidak bisa menghindari ibu dengan memanjat pohon itu.



Emosi ibu yang buta, berdampak besar pada kedudukan ayah. Berdampak juga pada Tari. Tari kehilangan tempat nyaman dirumah ini.\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2