PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Tragedi didepan Rumah


__ADS_3

Amarahnya tertantang untuk melayani tantangan Bintang itu. Lalu Tari berlari masuk kembali kerumah Tante Hombing. Membuat Tante Hombing kebingungan.


Sedang Bintang berjalan cepat keluar dari halaman depan rumah Tante Hombing itu. Menuju kedepan rumah orang tuanya.


"Bintang...Tari...lebih baik dibicarakan baik-baik. Ayo...mari sini. Kita duduk bersama. Ayo.." ajak Tante Hombing dengan nada suara lembut. Padahal hatinya sudah gelisah dihantui hal-hal yang menakutkan, yang terlintas difikirannya.


Baik Bintang dan Tari, sama-sama sudah terbakar emosi. Tidak memperdulikan ajakan Tante Hombing. Niat Bintang sudah tidak bisa ditawar lagi, akan menunggu Tari didepan pintu pagar rumah orang tuanya itu.


Jika mereka akan bertarung secara phisik, Bintang sudah siap. Biar Anton puas melihat mereka beradu secara phisik. Sampai titik darah penghabisan. Begitu yang ada difikiran Bintang. Begitupun niat Tari. Tari akan mempertahankan rumah itu.


Ketika berada didalam rumah Tante Hombing, Tari langsung berjalan menuju dapur. Niatnya akan mengambil pisau yang panjang dan runcing, yang pernah dipakainya untuk mengiris daging ayam.


Angel melihat Tari mengambil pisau itu. Spontan ketegangan dan ketakutan menyerangnya. Apalagi tadi Angel memang mendengar Tari bertengkat dengan Bintang didepan rumah mereka ini. Tubuhnya terasa kaku dan membeku. Beberapa saat Angel hanya terdiam. Sampai Tari berjalan lagi keluar rumah mereka. Barulah hatinya memerintahkannya untuk mengikuti Tari.


Langkah Tari sangat lebar, ketika keluar dari halaman depan rumah Tante Hombing. Tante Hombing hanya melihat Tari. Tidak mengetahui bahwa Tari membawa pisau. Tapi ketika Angel juga keluar dari rumah dengan setengah berlari. Wajahnya tampak panik ketakutan, Tante Hombing malah mencegahnya.


"Itu urusan mereka. Jangan ikut campur" kata Tante Hombing mencegah Angel. Sambil menarik lengan Angel.


"Tapi, ma...itu... Mamanya dedek Happy..." kata Angel terbata-bata. Berusaha menjelaskan pada mamanya.


"Biarin...Kita gak boleh ikut campur"


"Ma !...Mamanya dedek Happy bawa pisau kita"


"Untuk apa...Ya ampuuunnn....jangan-jangan...Tari..."


Begitu Bintang melihat Tari berjalan tergesa-gesa ke arahnya, Bintang lebih siaga mempersiapkan segala kemungkinan serangan dari Tari. Pasti menjambak rambut. Bintangpun memperhatikan tangan Tari. Ingin tahu arah gerakannya.


Tapi betapa terkejutnya Bintang. Sampai Bintang tercengang diam. Melihat sebilah pisau ditangan Tari.


"Aaaaaa !!!!!!" terdengar jeritan Angel didepan pintu pagar rumah mereka.


Melihat pisau ditangan Tari terarah keperut Bintang. Tapi malang bagi Bintang. Saat dia tercengang kaget melihat pisau itu, juga kaget mendengar teriakan Angel; tangan Tari yang memegang pisau itu telah bergerak cepat kearah perutnya.


"****...****..."


Pisau panjang itu masuk keperut Bintang. Seketika dicabut Tari lagi dan masuk lagi ke dada Bintang.


"Mati kau !...mati kau !" bisik Tari ditelinga Bintang. Saat menusuk dada Bintang.


Darah Bintang berhamburan ketangan dan baju Tari. Tak sempat Bintang mengaduh kesakitan. Hanya tubuhnya yang kemudian terjatuh keatas tanah didepan pintu pagar rumah almarhum orang tuanya.


"Bintaaaaannnnngggg !!!!..." jerit panjang Tante Hombing, sangat histeris. Melihat Bintang rebah bersimbah darah diatas tanah.


"Kakak Bintaaannnggg !!!!..." jerit Angel lagi. Jeritan pilu yang menyayat hati.

__ADS_1


Jeritan mereka itu membuat orang-orang yang mendengar, kaget. Kemudian berlarian kearah mereka. Tidak sampai satu menit, kemudian sudah banyaklah orang mengerumuni tubuh Bintang yang sudah diam dan bersimbah darah.


Tergeletak diatas tanah, disisi jalan, didepan pintu pagar rumah almarhum orang tuanya sendiri. Suasanapun jadi ramai dan bising oleh kasak-kusuk orang-orang yang berkerumun itu. Tidak ada yang memperhatikan Tantr Hombing yang telah terkulai pingsan dan tengah diratapi Angel.


Sementara Tari masih tersenyum puas menatap Bintang. Lalu menebarkan senyuman hampa pada semua orang yang ada itu. Sisa senyumannya dari menikmati wajah kesakitan Bintang tadi itu.


Orang-orang ramai itupun panik, tidak beraturan. Ada yang menginterogasi Angel. Ada yang berteriak-teriak memanggil Anton. Ada pula yang menelepon rumah sakit, meminta ambulans. Ada juga yang menelepon polisi. Bahkan lebih banyak yang hanya menatap Bintang.


Mbak Min pun tadi mendengar jerit histeris Angel dan mamanya, juga berlari keluar rumah. Hampir bersamaan dengan Anton.


"Ada apa ?... Siapa ?..." tanya Mbak Min pada orang-orang itu. Sambil membuka tumpukan kerumunan orang-orang itu.


Begitu melihat tubuh Bintang terkapar ditanah, bermandikan darah dan masih ada pisau tertancap didadanya sebelah kanan; Mbak Min menjerit histeris sangat kuat.


"Aaaaa !!!... Bintaaaannngggg !!!!...."


Sambik menyerbu masuk dikerumunan itu untuk mendekati tubuh Bintang. Lalu terduduk lemas disisi tubuh Bintang dan menangis meraung. Memanggil nama Bintang sekencang-kencangnya.


Tapi mereka semuanya mengabaikan Tari. Tidak memperhatikan tangan dan baju Tari yang berlumuran darah. Mungkin karena darah itu telah menyatu dengan baju Tari yang berwarna hitam pekat dan berlengan panjang.


Hingga tidak ada yang mencolok untuk diperhatikan. Juga mereka semua belum mengetahui keterlibatan Tari atas insiden ini. Angel yang merupakan saksi kunci, masih menangisi mamanya yang masih belum sadarkan diri. Jadi Angel belum dapat memberikan informasi apapun.


Karena itu Tari dapat berjalan santai. Keluar perlahan dari kerumunan dan pergi menjauhi kerumunan itu dengan wajah senyum bahagia. Tapi fikirannya kosong.


Tari berjalan santai menjauhi kerumunan itu. Tapi masih melihat polisi berdatangan mendekati kerumunan itu. Bahkan melayangkan senyumannya itu kepada para polisi itu.


Sedang Anton masih berdiri mematung disisi tubuh Bintang. Hanya menatap kedada Bintang yang tertancap pisau dan keperut Bintang yang koyak lebar menganga.


Darah segar masih mengucur dari perut dan dada Bintang. Tak seorangpun yang berani menyentuh pisau itu untuk mencabutnya. Hanya Mbak Ipeh yang kemudian meletakkan dua potong kain kecil untuk menutupi luka diperut Bintang dan disekeliling pisau yang tertancap didada Bintang.


Tangan Mbak Ipeh gemetar saat melakukan hal itu. Mata dan hatinya tidak sanggup melihat kengerian itu. Mbak Ipeh memeluk Mbak Min dan menangis dibalik punggung Mbak Min.


Beberapa orang polisi sudah berada di tempat kejadian dan tidak berapa lama kemudian, ambulans pun menyusul. Polisi-polisi itu langsung melakukan tugasnya, diantaranya menghimpun informasi dari Angel.


Lalu Mbak Min, Mbak Ipeh dan Anton juga dimintai keterangan dan informasi. Tentang Tante Hombing, informasinya masih ditunda. Menunggu Tante Hombing benar-benar pulih dari shocknya.


"Jadi anda suami dari Tari Astuti" tanya seorang polisi perempuan pada Anton. Ketika Anton dan polisi itu berada diteras depan rumah almarhum papi dan mami.


Polisi lain memanggil polisi perempuan itu dengan sebutan "Dan"


"Iya, bu" jawab Anton dan membaca nama polisi itu "Kabila DF"


"Kami membawa surat penangkapan atas nama Tari Astuti"


"Penangkapan ?" Anton kaget, bingung. "Atas tuduhan apa ?"

__ADS_1


"Pembunuhan dan rencana pembunuhan"


"Pembunuhan dan rencana pembunuhan ?"


"Iya"


"Siapa yang dibunuhnya dan akan dibunuhnya"


"dr Martha, Bapak Kimun, Bapak Danu Anggara, Ibu Mila....."


"Dia sudah membunuh Bintang, Ton. Dia sudah membunuh Bintang. Uuuuu...." rengek Mbak Min dengan tangisan pilu. Sambil mendekati Anton.


"Geledah !" perintah sang Komandan Kabika DF itu.


Para polisi itupun langsung menggeledah seluruh ruangan yang ada dirumah itu. Anton hanya diam dan terduduk, seperti orang bodoh yang linglung. Tidak sanggup berkata-kata lagi. Anton hanya tertunduk. Bahkan seperti tidak mendengarkan suara tangisan Happy yang sedang berada dipelukannya.


Seorang polisi perempuan yang lain, sudah sedari tadi meminta Happy dari Anton. Itupun seperti tidak didengarkan Anton. Mbak Ipeh juga sudah meminta Happy. Masih seperti tidak didengar Anton.


Karena tangisan Happy semakin kencang, akhirnya Mbak Min memberanikan diri mengambil Happy dari pelukan Anton. Barulah Anton melepaskan Happy.


Tidak berapa lama kemudian, Bila datang dengan wajah sedih dan marah. Setengah berlari Bila menghampiri Anton. Seketika Anton mengangkat wajahnya. Karena Anton sangat mengenali langkah kaki Bila.


Anton menatap Bila dengan kesedihan, kepasrahan dan rasa bersalah yang sangat besar.


Begitu Bila tiba percis dihadapan Anton,


"Plak !..."


Bila menampar satu pipi Anton dengan sangat kuat. kembali Anton tertunduk dengan spontan. Menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba mendesak keluar. Karena sebenarnya Anton ingin sekali memeluk Bila. Meminta penghiburan dari sang kakak yang telah dilukainya.


Belum lagi air matanya keluar,


"Srek..."


Bila telah menarik kuat kerah baju Anton. Lalu menyeretnya kehadapan photo kedua orang tua mereka.


Sebuah photo yang berukuran sangat besar dan berbingkai dari bahan yang sangat mahal.


Kemudian Bila mendorong tubuh Anton kehadapan photo itu.


"Berlutut !" perintah Bila pada Anton.


Anton mematuhi perintah Bila, berlutut dihadapan pboto kedua orang tua mereka itu.


"Pertanggung jawabkan perbuatanmu pada papi dan mami !. Pertanggung jawabkan !"***

__ADS_1


(terimakasih sudah membaca. Jangan lupa beri like ya, kalau suka dan komen. ♥️you all⚘)


__ADS_2