PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Lagi-lagi Ibu


__ADS_3

Kesempatan emas bisa berdiam diri seperti ini, dipergunakan setan kembali. Berlagak angin sepoi-sepoi bertiup sejuk ke telinga Tari. Membacakan daftar perlakuan dan perkataan kasar ibu kepada dirinya. Perlakuan teman-temannya.


Agar Tari mampu melakukan perlawanan yang lebih lagi. Sekaligus dengan bonusnya, pembalasan. Tidak hanya pada ibu. Meskipun ibu menduduki peringkat pertama. Selanjutnya ada Kabila n d gank nya.


Nama Gracia tertulis bold, seperti nama ibu. Hanya nama Gracia lebih kecil hurufnya dari nama ibu, Ibu Siti. Kemudian ada nama Erika dan Riris dengan keterangan, 'akhir'. Lalu pada urutan terakhir nama ayah, Prakoso. Keterangannya tanda tanya di dalam tanda kurung kurawal.


Cukup dengan mengambil uang ayah saja. Maka rasa sakit hati Tari terhadap ayah sedikit demi sedikit terobati. Sebagai catatan, ayah dilarang marah pada Tari. Tetaplah dengan kebiasaan pagi. Jadi Tari dapat leluasa mengambil uang ayah. Dengan begitu kebencian dan amarah Tari pada ayah, akan terabaikan. Nama ayahpun akan terhapus dari agenda pembalasan dendam Tari dengan sendirinya.


Tari pun bangkit diatas dendam dan kebenciannya. Harus membuat ibu, Erika, Riris, Kabila n d gank nya, juga Gracia; meratapi perbuatan mereka terhadap Tari. Mereka harus menderita dan tersiksa oleh penyesalan. Pernah membuat Tari sakit hati dan berkubang kepahitan.


Mengusung dendam dan kebenciannya itu setiap hari. Kemanapun Tari pergi. Tidak akan membuat dirinya kelelahan. Malah langkah-langkahnya semakin tampak begitu ringan dan lincah. Merasa bebas berprilaku bagaimana pun juga. Sesuai kemauannya untuk menikmati hidupnya.


Jantungnya tak berdegup kencang lagi. Saat mendengar teriak dan caci maki ibu kepada dirinya. Sangat santai Tari masuk ke rumah. Melalui pintu depan dan melintas didepan kamar ibu dan ayah.


Tidak jarang berpapasan dengan ibu yang sedang bernyanyi caci maki tentang dirinya. Matanya akan tajam menatap Tari. Tapi Tari sudah bisa tidak memperdulikannya. Anggap saja sedang mendengar suara hantu ataupun sedang melihat wajah hantu.


Eee...apakah hantu memiliki wajah ?. Kalau ya...dulu Tari sudah melihatnya. Seperti wajah Mbah Kahpok. Bahkan wajah Mbah Kahpok lebih enak dilihat dari pada wajah ibu. Iiii...seram dan kejam. Bagi Tari, ibu hanya hantu penasaran yang hanya bisa gentayangan.


Tari hanya tersenyum sinis. Berjalan santai menuju kamarnya. Ibu semakin marah dan pasti akan mengejar Tari. Insting Tari benar. Karena itu Tari akan melangkah lebar. Jika sudah melewati pintu kamar ibu atau ketika sudah mendengar teriakan ibu.


Segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Membiarkan ibu beratraksi didepan pintu kamarnya untuk menumpahkan amarahnya. Menggedor-gedor kasar, menedang ataupun memukul dengan gagang sapu.


Bahkan pernah beberapa kali merusak pintu dengan kampak, juga palu. Akibatnya, ibu bertengkar dengan ayah. Sementara Tari tiduran dengan nyaman diatas tempat tidurnya.


Sudah beberapa hari ini, Tari memperlihatkan sikap perlawanan seperti itu. Menurut amarah ibu, sikap Tari itu harus segera dihentikan. Jika tidak, bisa merusak jalur stabilitas emosi ibu. Bagi ibu, Tari adalah biang kerok atas ketidak bahagiaan ibu. Lahir dan batin. Harus segera ditangani sampai tuntas. Malam ini harus tuntas.


Kembali ibu melanjutkan amarahnya tadi sore. Membuat kegaduhan di depan pintu kamar tidur Tari. Agar Tari bangun dan dihajarnya. Mumpung pada tengah malamlah, ibu merasa kekuatannya pulih.


Agenda ibu pada tengah malam ini adalah mengajarkan Tari, apa itu kemarahan seorang Ibu Siti. Ibu berteriak, menendang dan menggores-gores pintu kamar Tidur Tari dengan pisau.

__ADS_1


Eee...malah sikap ibu itu membuat Tari jadi mengantuk dan sedikit lagi akan terlelap. Samar-samar Tari masih mendengar suara ayah. Membantu ibu membangunkan Tari. Mengetuk kencang pintu kamar Tari. Berteriak memanggil nama Tari.


Tapi Tari tidak bergeming. Ayah mulai kesal. Bahkan lebih kesal. Mendengar samar-samar suara ngorok dari dalam kamar Tari. Ayah pun menjiplak ibu. Mengeluarkan nada amcaman yang membuat merinding bulu kuduk para ajudan setan.


Di dalam kamarnya, Tari tidak berdaya bereaksi. Kantuknya sangat parah menyerangnya. Jadi sulit untuk terusik ancaman ayah. Besok pagilah dibahas. Begitu bisik setan ditelinga Tari, meninabobokkan Tari.


Bangun pagi keesokan harinya. Tari masih sempat menghirup udara pagi dari balik jendela kamarnya. Sinar matanya ceria, melihat keluar. Walau yang tampak hanya tembok yang berlumut. Yah...tembok rumah mereka yang memisahkannya dari rumah-rumah tetangga. Tembok yang tingginya satu meter dan tidak pernah di cat. Makanya dipenuhi dengan lumut.


Beberapa kali Tari menghirup udara pagi. Sampai Tari bersin-bersin. Lalu mengucek-ucek hidungnya yang terasa gatal. Kemudian Tari bersiul kecil. Sambil berjalan keluar kamar tidurnya. Menuju kamar mandi.


Tak ciut nyali Tari. Ketika tiba-tiba fikirannya diingatkan tentang ancaman ayah tadi malam yang samar-samar didengarnya. Itupun dibawah sadarnya. Antara mimpi dan nyata.


Bagaimana jika tanpa sengaja berpapasan dengan ayah atau ibu yang sudah menantikannya didepan kamar mandi ?. Itupun Tari tak gentar. Tetap melangkah tegar menuju kamat mandi. Walaupun tingkat kehati-hatiannya tampak dari sudut matanya. Matanya melirik-lirik dari ujung kelopak matanya, mengawasi sekitarnya.


Aahhh...tampak tenang. Keadaan rumah yang normal dengan ketenangan seperti ini. Tak berpapasan dengan ayah dan ibu. Ketenangan ini mengusik keusilannya untuk menyelinap. Mengintip kamar ibu dan ayah.


Woooww...mata Tari berbinar nakal. Ternyata ayah benar-benar tidak mengenal Tari. Setelah ancamannya malam tadi, ayah menduga kalau Tari akan takut dan jera. Tari tak akan berani mencuri lagi. Maka membiarkan dompetnya tergeletak pasrah diatas meja.


Ketika nanti ayah mendapati dompetnya kosong dan telah berpindah tempat, bagaimanakah reaksi ayah ?. Betapa bahagianya Tari, menebak-nebak reaksi ayah itu. Kebahagiaannya itu diluapkannya dengan tertawa-tawa kencang didepan Kabila n d gank nya.


Luapan kebahagiaannya itu mengalahkan suara intimidasi di dalam dirinya akan kemarahan ayah dan ibu. Sampai-sampai Kabila n d gank nya itu hanya cengar-cengir. Menganggap Tari sudah gila. Mereka tidak berani untuk interupsi. Sejak kejadian Tari menjambak Gracia.


Sangat songong Tari kembali memaksa masuk dalam Kabila n d gank nya. Mendominasi percakapan dengan topik receh. Tidak nyambung bagi Kabila n d gank nya. Tambahan lagi bau nafas, bau badan dan bau ketek Tari. Ikut-ikutan mendominasi bau parfum dan spalshcologne Kabila n d gank nya. Membuat Kabila n d gank nya, uring-uringan dan cengengesan.


Sikap sok disukai dan rasa percaya diri Tari itu tumbuh. Pasti karena Tari sudah mengambil alih kembali traktir-mentraktir. Sebagai orang yang sebenarnya tidak berharap untuk ditraktir, Kabila terposisikan harus pasrah.


Mana Tari selalu memaksa ikut lagi kedalam mobilnya. Tiap kali pulang sekolah. Padahal dahulu, sebelum Tari songong dan tidak mampu mentraktir; Tari oke-oke saja disuruh naik angkot sendirian. Menemui mereka ditempat yang telah mereka sepakati.


Belum sampai disitu. Kini Tari pun begitu percaya dirinya meminta Kabila untuk mengantarkannya pulang. Permintaannya memakai nada perintah pula. Lengkaplah kekesalan Kabila menghadapi Tari. Tapi seorang Tari tidak berempati pada kekesalan orang lain.

__ADS_1


Begitu bahagianya dia keluar dari mobil Kabila. Tanpa kata, "Thanks ya girls. See you tomorrow. Bye...Mmmmmuah !" Malah Tari menghempaskan kuat pintu mobil Kabila. Saat menutupnya kembali. Kabila dkk kaget, mendengus kesal dan langsung tancap gas.


Tari tidak tahu akan kekesalan Kabila dkk itu. Sok berkelas padahal songong. Tari melangkah menuju pintu gerbang rumahnya. Membuka pintu gerbang pun dengan dagu terangkat. Lalu melangkah masuk kerumah, sok ala-ala perempuan berkelas.


Hal itu membuainya. Tidak mawas akan mata jelalatan ibu yang sedang bernafsu menyerangnya. Baru saja satu kaki Tari terjejak dilantai teras depan. Sebuah gagang sapu melayang ke arahnya. Pletok !...gagang sapu itu mulus mengenai kepalanya.


"Aduh !...*nj*ng !..." teriak Tari spontan.


"Mati kau !, binatang !" teriak ibu bahagia. Bersamaan dengan teriak spontan Tari itu.


Tari masih kelimpungan, kaget dan kesakitan. Ibu sudah melangkah lebar mendekati Tari. Hup !....ibu sampai didepan Tari dan hap !...tangan ibu sudah menjambak Tari sangat kuat.


"Lepaskan !..." teriak Tari dan melakukan perlawanan. Berusaha melepaskan tangan ibu dari rambutnya.


"Pencuri !...perempuan gila !...sinting !..." kata ibu. Sambil mengayun-ayunkan tangannya yang menjambak Tari. Tari mengaduh-aduh, marah.


"Aduh !...brengsek !...ibu tiri kau !..."pekik Tari. Lalu mencakar lengan ibu.


"Aduuuuhhh !...*nj*ng !...kubunuh kau !..." teriak ibu kesakitan dan sangat marah.


Tangan ibu pun terlepas dari rambut Tari dan Tari langsung berlari ke sampimg rumah. Tujuannya sudah pasti, akan memanjat pohon kesayangannya.


Tapi...astagaaaaa....pohon itu tidak berada ditempatnya lagi. Sedang ibu telah berhasil menyisul Tari. Kini ibu sedang berdiri tidak jauh dibelakang Tari. Terlihat senyum jahat ibu mengembang kepada Tari. Ditangan ibu ada gagang sapu tadi. Memukul-mukulkan gagang sapu itu pada satu tapak tangannya. Seakan berkata, "Kena kau !...Mati kau !..."


Tari mulai bingung dan panik. Lalu nekat berlari kencang ke arah ibu, akan menerobos ibu. Mengambil resiko dipentung pakai gagang sapu. Sedang ibu sudah bersiaga. Memasang kuda-kuda dan mengangkat tinggi gagang sapu itu di tangan kanannya.


Menantikan Tari tiba didekatnya. Lalu dipentungnya gagang sapu itu. Kalau boleh tepat mengenai kepalanya. Begiti Tari hampir menerobos ibu. Tak disangka ibu. Tari spontan melemparkan tas sekolahnya ke arah wajah ibu. Dug !...tas itu telah diisi Tari dengan satu buah bata.


Ibu gelagapan, kesakitan. Kehilangan konsentrasi dan kehilangan kesempatan. Tari berhasil lolos di saat ibu gelagapan tadi. Tari terus berlari kencang. tak ingin berhenti untuk menertawakan ibu. Walaupun ingin tertawa kencang dan menari-nari bahagia di depan ibu.

__ADS_1


Nantilah itu, sekarang berlari jauh dulu. Bahkan jauh meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Tari memang berbadan bongsor, tapi lincah dan gesit. Buktinya bisa lolos dari kepungan ibu dan gagang sapunya, dari samping rumah yang sempit.


Ketika lari tadi, hanya satu yang terbersit difikiran Tari. Menuju sebuah pohon besar yang ada dibelakang rumah tetangga mereka yang sudah beberapa hari kosong. ***


__ADS_2