
"Sekolah saja belum selesai, sudah berani dia menghina gua. Selesai kuliahnya juga dia masih belun jelas. Masih mencari-cari kerja. Capek deh...Iya gak, tan. Kalau gua sudah jelas, pejabat negara sekarang. Iya kan, tan ?" kata Tari lagi. Kini memuji dirinya sendiri.
Tante Hombing sudah semakin tidak nyaman. Ingin rasanya mengusir Tari keluar dari rumahnya. Om Hombing sudah kembali keluar dari kamar. Kini berdiri berkacak pinggang diambang pinti ruangan tempat Tante Hombing dan Tari sedang menonton TV.
Tapi ajaran kesopanan melarang Tante Hombing mengusir Tari.
"Pamali" begitu kata orang tua-orang tua zaman dulu.
Hal itu menghentikan keinginan Tante Hombing, mengusir Tante. Tetap bersikap sebagai tuan rumah yang baik. Sampai tetes darah terakhir.
Walaupun duduk Tante Hombing sangat gelisah. Sebentar-sebentar melihat kearah jam dinding yang tergantung disebelah kanan mereka. Sebenarnya Tante Hombing tidak hanya gelisah. Tapi juga mulai ketakutan pada emosi Om Hombing yang terkontrol lagi. Lalu mengusir kasar Tari.
Pasalnya tadi pagi, sebelum kekantor; Om Hombing sudah menyatakan secara langsung kepada Tante Hombing. Tentang ketidaksukaannya akan kehadiran Tari dirumah mereka.
"Papa tidak suka mama berteman dengan Tari. Apalagi si Tari datang kerumah ini. Suaranya kencang, bahasanya kotor dan tidak punya sopan santun, ma. Itu tidak baik buat anak-anak. Mental dan jiwa anak-anak kita bisa diracuni si Tari. Mama perhatikan itu" begitu pesan Om Hombing tadi pagi.
Tante Hombing membenarkan pendapat Om Hombing itu. Hanya sekarang Tante Hombing bingung, bagaimana caranya menyampaikan kata-kata yang baik untuk menyuruj Tari segera pergi dari rumah mereka ini dan dilarang datang lagi kerumah mereka ini.
Dalam kegelisahannya mencari.kata-kata yang sopan, Tante Hombing tidak menyadari waktu telah cepat berlalu. Tante Hombing belum menyampaikan sepatah katapun kepada Tari. Memintanya untuk segera pulang dan besok jangan datang lagi kerumah mereka. Sementara Tari.sudah beranjak meninggalkan Tante Hombing. Karena Anton sudah datang menjemputnya.
Ketika Tari sudah melangkah mendekati pintu keluar rumah mereka, barulah Tante Hombing tersentak. Berdiri cepat dan menyusul Tari. Tampak seperti tuan rumah yang baik. Mengantarkan tamunya, sampai ke depan pintu pagar rumah mereka. Padahal hanya sekedar memastikan Tari keluar dari rumah mereka.
Lalu dengan cepat.Tante Hombing mengunci pintu pagar rumahnya. Walaupun Tari belum masuk kedalam mobil barunya. Tampaknya Tari masih memarahi Anton. Entah masalah apa. Tak ada urusan Tante Hombing dengan topik kemarahan Tari itu.
Tante Hombing hanya melambaikan tangannya pada Tari.
"Hati-hati kalian, ya. Daaaahhhh..." kata Tante Hombing. Walaupun tak ada respon dari Tari atau Anton.
"Bodo" bisik hati Tante Hombing dan segera berbalik dan melangkah menuji rumahnya. Lalu masuk dan mengunci pintu rumahnya.
Anton dan Tari sedang menuju rumahnya. Untungnya selama perjalanan, didalam mobil Tari tertidur. Setelah tiba didepan rumah mereka, barulah Tari dibangunkan Anton.
"Aku langsung pergi, ya. Pak Kartolo harus sudah sampe pagi nanti ditempat kerjanya" kaya Anton berpamitan dan memberi keterangan. Setelah Tari turun dari mobil. Tari tidak menjawab Anton. Maka Anton langsung melajukan mobilnya menuju rumah Pak Kartolo.
Pak Kartolo adalah pelanggan yang sudah beberapa hari ini diantar Anton keluar kota. Biasanya mereka pergi ketika Anton telah mengantarkan Tari kekantor dan malam harinya kembali kekota.
Tapi hari ini Pak Kartolo minta diantar pada subuh ini. Karena itu Anton memberitahukan Tari. Ada atau tidak ada jawaban dari Tari, Anton tidak perduli; yang penting Anton sudah membuat laporan.
Lagian Anton tidak betah berlama-lama dirumah bareng Tari. Tetap saja Tari tidak akan membuatkan kopi untuknya. Apalagi menyediakan makannya. Sebelum pergi kerja. Alasan Tari selalu uangnya kurang. Kurang dan kurang terus.
Jadi biarlah tetap tukang warung saja yang membuatkan makan dan kopi untuk Anton. Kalau masih letih atau ngantuk, bisa tidur dimobil sebentar. Setelag itu meluncur kerumah Pak Kartolo. Menjemput Pak Kartolo dan mengantarnya keluar kota. Menjelang sore barulah mereka kembali kekota.
__ADS_1
Mereka tiba dikota, ketika telah menjelang tengah malam. Anton lebih dulu mengantarkan Pak Kartolo kerumahnya. Memberi upah bayaran kepada Anton. Lalu Anton pulang kerumahnya.
Ketika tiba dirumahnya, Tari juga sudah berada dirumah. Tak ada sambutan dari Tari. Walau hanya senyum manis secuil.
"Mana bayarannya" tagih Tari pada Anton. Sebelum Anton istirahat, meletakkan pantatnya disofa mereka. Segera Anton merogoh saku kemejanya dan menyerahkan seluruh uang pemberian dari Pak Kartolo tadi.
Sejenak Tari menghitung jumlah uang itu. Tapi kemudian melemparkannya kewajah Anton.
"Kau fikir aku perempuan jalanan !. Kau kasih uang segitu..."
"Itu yang ada. Cukupkanlah itu"
"B*b* kau !...Aku ini sedang hamil !..."
Anton tersentak kaget, tak percaya dengan apa yang dikatakan Tari. Tapi tak urung seketika wajah Anton tampak cerah, berseri-seri. Segera Anton mendekati Tari dan memegang perutnya.
"Plak !"
Tari memukul tangan Anton yang akan menyentuh perutnya.
"Singkirkan tanganmu itu !. Aku jijik !. Hei !...uangmu itu tidak cukup !. Tambah uang itu atau kubunuh anakmu ini !" ancam Tari.
"Iya...ya...Aku akan tambahi. Aku akan semakin rajin kerja"
"Plak !"
Kembali juga Tari menampar tangan Anton. Menyingkirkan tangan Anton yang akan menyentuh perutnya.
"Benar, Ri...Kau hamil !" tanya Anton dengan wajah cerah. Senyum manis mengembang dibibirnya.
Sejak mereka menikah, baru kalilah Anton merasakan kebahagiaan yang sempurna dan sangat luar biasa.
"B*b* !...Kau fikir aku bohong !?. Kubunuh anak ini ! Mau kau !"
"Jangan gitu dong, sayang"
Seketika Anton memeluk Tari, dari belakang. Kali ini Tari tidak memberotak. Kesempatan itu dipergunakan Anton mengelus lembut perut Tari. Pun Tari tidak memberontak. Anton semakin terangsang. Lalu mencium pipi Tari.
"Wadowwwww....." Anton menjerit dan melepaskan pelukannya. Karena Tari mencubit sangat kencang kedua tangan Anton yang mengelus perutmya dan perlahan merambat ke dadanya. Lalu mencium pipinya.
"Apaan sih, sayang"
__ADS_1
"Sayang !...Sayang !...Aku bukan perempuan murahan !"
"Srep !"
Tari menendang paha Anton.
"Sakit, sayang"
"Aku sudah bilang, jijik melihatmu !"
"Iya...iya...Terserahlah" kata Anton dan tampak meringis menahan sakit dipahanya.
"Iiiii..."
Tari merinding dan segera akan masuk kekamar tidur mereka. Anton mengikutinya dan tidak meringis lagi.
"Jangan masuk kamar !. Aku sudah bilang !, aku jijik melihatmu !"
"Lalu aku kemana ?"
"Pulang kerumah orang tuamu !"
Tari segera menutup pintu kamar dengan cara menghempaskannya kuat.
Tak ayal kabar bahagia itu segera disampaikan Anton kepada papi dan mami. Papi dan mami pun sangat bahagia dengan kabar itu. Merekapun datang kerumah Anton. Mengunjungi Anton dan Tari. Memberi ucapan selamat kepada mereka. Membuat acara syukuran kecil-kecilan dirumah mereka dengan mengundang tetangga kanan, kiri dan depan.
Perhatian mertuanya itu tidak membuat hati Tari luluh. Lalu belajar mencintai keluarganya itu. Malah itu dijadikannya sebagai alasan menyombongkan dirinya, bahwa kedudukannya akan setara dengan mami mertuanya. Dirinya adalah ahli waris dari mertuanya dan harus dihormati.
Siasat baru muncul dihatinya. Tari bersikap sok ramah dan sok akrab kepada mertuanya. Terutama kepada mami mertuanya. Semakin setia mendampingi mami mertuanya menghadiri undangan-undangan dari kerabat dan keluarga. Juga tetangga dan kolega.
Suaranya yang bising kembali terdengar dirumah mertuanya itu. Memanggil mami mertunya dengan ramah. Tapi dengan nada tinggi dan melengking. Agar semua orang dirumah itu mendengar, bahwa dirinya akrab dengan mami mertuanya.
Memerintah para asisten dirumah mertuanya itu untuk ini, itu, menghidangkan makannya, minumnya. Bahkan dengan sengaja memerintah para asisten itu didepan Bila dan Bintang (Jika kebetulan Bintang ada dirumah orang tuanya itu). Agar melayaninya dengan baik dan sopan.
"Bi Min...tolong sepatu saya yang mau saya pakai ke undangan dengan mami hari ini, dibersihkan dan letakkan diteras. Biar saya melihatnya dan tidak pusing mencarinya"
Semua orang penghuni rumah itu, memanggil Minah dengan "Mbak Min". Hanya Tari yang memanggilnya "Bi Min". Walaupun diusahakan Tari tidak ada kata cacian dan makian. Demi tetap mengambil hati mertuanya.
Tetap saja tingkah dan sikap Tari itu, sangat menyebalkan bagi para asisten, Bila dan terutama Bintang. Karena bagi mereka, semua itu adalah kepura-puraan.
Lihat saja jika akan pergi ke undangan. Tingkahnya sangat menjijikkan. Pakai meminjam perhiasan milik mami untuk dipamerkan. Padahal keundanganpun masih sengaka memakai baju seragam PNSnya itu.
__ADS_1
"Jangan lupa dikembalikan, ya" bisik Bintang ditelinga Tari.***