
Tari akan membuat perhitungan cepat kepada Bintang. Atas sikapnya yang telah menjatuhkan harga diri Tari didepan anak-anak kampus.
Karena itu, begitu tiba dirumah dan mendapati Anton sedang menonton TV dikamar mereka; Tari langsung menumpahkan kemarahannya pada Anton.
"Lihat saja, ya !...Akan kuusir dia dari rumah ini !. Tunggu saja saatnya.
Anton berusaha fokus pada siaran salah satu televisi swasta yang sedang ditontonnya. Menayangkan siaran langsung pertandingan tinju internasional kelas berat.
Anton tidak memperdulikan Tari. Padahal volume suara Tari lebih kencang dari volume TV. Anton berpura-pura terpukau dengan pertandingan tinju itu.
"Dasar !...Adik kau itu !...Perempuan tidak tahu sopan santun !. Perempuan tidak beradab !. Beraninya dia menghinaku dikampus !. Ajar adik kau itu sopan santun !. Kau dengar itu Anton !. Ajar si kurang ajar itu !" kata Tari lagi dengan emosi yang tertahan. Hingga membuat nafasnya sesak.
Tari berusaha mengatur pernafasannya. Duduk rileks diatas tempat tidurnya dan menjulurkan kedua kakinya.
Terlihat oleh Tari dari ekor matanya. Anton masih duduk santai, juga diatas tempat tidur mereka itu. Pada sisi yang satu lagi, disebelah Tari; dengan mata melotot kelayar TV.
Spontan Tari merampas remote TV dari tangan Anton dan "Plak !..." Langsung menghantamkan remote itu kekepala Anton. Anton tidak mengaduh. Hanya memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Nonton saja kerja kau !...B*bri !...Brug !..." lanjut Tari dan menimpuk kepala Anton dengan remote itu. Remote itu sudah pecah dan jatuh didekat bokong Anton.
Tidak ingin berlama-lama menghadapi kemarahan Tari, Antonpun segera beranjak dan akan melangkah keluar kamar.
"Hei, bodoh !. Berikan aku uang !" kata Tari. Membuat Anton mengurungkan niatnya. Lalu berbalik menatap Tari.
"Aku tidak punya uang" jawab Anton dengan wajah datar.
"Aku tidak perduli !. Pokoknya aku mau uang...sekarang !"
Anton berbalik dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Tapi Tari mengejarnya dan meraih tangan Anton dengan kasar. Menarik tangan Anton dengan sekali hentakan kuat.
Anton nyaris terjatuh. Karena tidak menduga hal itu. Tapi untungnya Anton dapat dengan refleks menahan tubuhnya dengan kedua kakinya. Menjejakkan kakinya dengan kuat.
Sementara Tari langsung berdiri didepan pintu kamar dengan berkacak pinggang. Tubuhnya yang gemuk berhasil memenuhi pintu.
"Makanya kerja kau !. Kerjaaaaa !!!!." teriak Tari. Anton masih diam. Menarik tangan Tari dari ambang pintu dan membuka pintu. Lalu berjalan keluar dengan berpura-pura santai. Padahal hatinya membantin kesal atas sikat Tari itu.
"Awas kau kalau pulang tidak bawa uang !. Kubunuh kau !" teriak Tari dari depan pintu kamar. Mengiringi langkah-langkah kaki Anton.
__ADS_1
Setelah Anton akan menuruni anak tangga, Tari kembali masuk kekamar dan menutup pintu kamar dengan menghempaskannya sangat kuat.
Itu adalah salah satu kebiasaan jelek Tari. Titisan dari ibunya. Cara manjur untuk meluapkan amarah. Agar semua orang yang mendengarnya tahu, kalau dia lagi marah. Lalu orang yang mengetahui kemarahannya, dilanda ketakutan.
Memang Bila dan para penghuni rumah lainnya terganggu, bukan ketakutan. Keadaan rumah yang biasa tenang dan damai, kini harus selali jadi berisik dan gaduh.
Bila tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan dengan keadaan rumah seperti itu. Jika Bila egois, Bila dan suaminua bisa saja memilih pindah dari rumah orang tuanya ini. Toh...mereka sudah punya rumah sendiri.
Tapi kini permasalahannya berbeda. Dulu orang tuanyalah yang meminta mereka untuk tinggal dirumah ini. Bila ingat kata-kata papi, dihari pernikahan mereka.
"Bila dan Edhie, tinggal dirumah papi-mami, ya. Rumah itukan besar. Kalau kamu pergi, papi-mami kesepian. Bintang akan masuk asrama dan Anton...Kamu tahu sendiri. Anton jarang pulang kerumah. Tinggal dirumah papi-mami, ya" kata papi dengan wajah memelas sedih.
Jadilah Bila dan Edhie tinggal dirumah orang tuanya ini.
Kini rumah memang sudah ramai. Tapi keramaian yang ditimbulkan oleh Tari, bisa membuat orang tuanya stress. Maka Bila memilih tetap bertahan untuk menjaga orang tuanya. Untunglah Edhie mendukung Bila dalam hal ini.
Ketika Bintang pulang kerumah orang tuanya, tanpa sengaja mendengar Tari bertengkar dengan Anton. Suara Tari yang kencang, menarik perhatian Bintang untuk memperhatikan kearah kamar mereka. Ternyata pintu kamar mereka tidak tertutup. Maka Bintang dapat dengan jelas kedalam kamar mereka.
Bintang melihat Tari sedang menjoroki Anton berkali-kali dan sangat kasar. Beberapa kali mengemplang kepala Anton, menampar wajah Anton.
Saat itulah Anton melihat Bintang yang sedang memperhatikan mereka. Segera Anton melepaskan tangan Tari dari krah bajunya. Sampai krah baju itu robek.
Kemudian Anton dengan cepat pergi keluar kamar dan Tari menghempaskan kuat pintu kamar mereka itu. "Prak !"...pintu kamarpun tertutup dengan menghasilkan bunyi yang keras. Bintang hanya mendesah sedih. Sekaligus marah didalam hatinya.
Tidak dapat dipungkiri lagi, masa-masa pengantin baru Anton sangat tidak bahagia. Hal itu tidak perlu diceritakannya pada siapapun. Karena pasti bukan rahasia keluarganya lagi.
Bintangpun cenderung mengabaikan kekerasan yang dilakukan Tari terhadap Anton. Bukan berarti Bintang menyerah dengan sikap Tari itu. Tapi Bintang sedang melakukan perlawanan, versi Bintang. Sesuai saran Fitri yang pernah didengarnya.
Saat Fitri datang kekamar Bintang hanya untuk molor. Setelah gaduh dengan Tari. Saat Fitri akan sudah terbangun dan akan pergi dari kamar Bintang. Fitripun memberi petunjuk dan pesan, bagaimana menghadapi amarah Tari.
"Kalian semua harus berhati-hati menghadapi Tari. Lebih baik kalian diam. Kalau diam dan seolah-olah cuek pada si Tari, dia akan kepanasan. Seperti orang terbakar" Begitu petunjuk dan nasehat Fitri.
Nasehat dan petunjuk itu tidak hanya disampaikannya pada Bintang. Tapi juga pada teman-temannya yang menemaninya istirahat dikamar Bintang. Juga pada semua teman-teman satu kamar Bintang.
Bintangpun menjalankan nasehat dan petunjuk dari Fitri itu. Bintang berhati-hati dan berpura-pura cuek pada Tari. Jika kebetulan berpapasan dengan Tari, baik dikampus. Terlebih lagi dirumah. Bahkan Bintang membuat ekspresi yang mencekam, yaitu mendengus kuat dihadapan Tari.
Ternyata nasehat dan petunjuk Fitri itu, berhasil. Tari seperti cacing kepanasan meliahat Bintang. Selalu gelisah dan marah. Namun tak kuasa melilit Bintang. Karena Tari hanya seekor cacing. Bukan ular besar.
__ADS_1
Tapi Bintang tidak tahu, keberhasilan itu berdampak pada Anton. Semakin Bintang cuek, semakin Tari gusar dan grasak-grusuk. Menghambur-hamburkan amarahnya pada Anton. Mengutuki, mencaci dan menyumpah serapahi Bintang didepan Anton.
Anggota tubuhnya semakin lancar melakukan kekerasan phisik kepada Anton. Tidak hanya sekedar melempar remote. Tapi juga pernah melemparkan TVnya. Setelah Anton berhasil menghindar. Ketika dilempari sepatu, gelas, asbak, pas bunga.
Untung Anton cekatan dan langsung menangkap berhasil TV itu. Berhubung TV nya 36 inc, TV itu dilemparkan Anton keatas kasur mereka. Saat Anton menangkap TV, Tari berkesempatan menendang perut Anton.
Anton kaget dan langsung menjatuhkan TV keatas kasur. Taripun masih berkesempatan mengemplang kepala Anton. Menampar wajahnya dan nyaris meninju bibirnya.
Untungnya Anton sudah meletakkan TV keatas kasur. Saat Tari melayangkan tapak tinjunya kearah bibir Anton. "Hup..." Anton berhasil menangkap tangan Tari. Mencengkeramnya sesaat dengan kuat. Lalu menghempaskannya dengan kuat pula. Kemudian Anton segera pergi, keluar dari kamar dengan langkah lebar.
Amarah Tari belum reda. Tari menyusul Anton. Sambil berteriak mencaci maki Anton. Tidak memperdulikan papi-mami yang melihat mereka dengan tatapan kaget, sekaligus sedih.
Anton semakin mempercepat langkahnya keluar rumah, Taripun demikian. Anton pergi entah kemana. Tari pergi kerumah Tante Hombing. Tanpa kata salam, Tari nyelonong masuk kedalam rumah Tante Hombing.
Meletakkan pantatnya disamping Tante Hombing yang lagi berada diruang keluarganya. Duduk pada sebuah sofa panjang, didepan TVnya. Saat itu Tante Hombing sedang nonton drakor favoritnya. Tari tidak mau perduli. Malah Tari langsung berkeluh kesah dengan suaranya yang bernada tinggi itu.
"Bakalan gua buat mati dia !. Lihat saja...Mati dia !"
Ternyata Tante Hombing tidak merasa terganggu dengan kehadiran Tari yang tidak melalukan ritual tata krama itu. Misalnya mengetuk pintu. Malah melayani Tari dengan senyuman lebar dibibirnya.
"Benar-benar perempuan tidak tahu diri dia itu. Gua akan usir dia dari rumah itu. Lihat saja nanti !"
"Bintang lagi ?"
"Iya...Siapa lagi perempuan gila yang tidak tahu diri didunia ini. Kurang ajar dia !. Dia sering menghina gua !. Itu kan sama saja dia menghina abangnya. Iya kan, tan ?"
"Memangnya dia bilang apa ke kamu"
"Dia memang tidak bilang apa-apa. Tapi sikapnya itu lho...Sangat menghina gua. Dia sering mendengus, mencibir, menatap sinis ke gua. Iti artinya kan dia menghina gua. Coba tante bayangkan, perempuan seperti apa dia itu !" kata Tari sangat menggebu-gebu, penuh amarah dan kebencian.
"Kenapa tidak kau adukan saja ke suamimu"
"Sudah berkali-kali, tante. Sampe mulut gua berbuih. Tante tahula bagaimana si Anton bego itu. Dia hanya bilang sabar, maklum...Ituuuuu....saja. Gua gak tahan, tante. Tidak ada yang memperduliin gua dirumah itu" renget Tari sangat dramatis.
"Seharusnya si Bintang tidak boleh begitu. Dia tidak boleh menghina kamu. Dia itukan masih gadis. Nanti jauh jodoh lho, kalau dia jutek seperti itu"
"Baguslah jauh jodohnya. Gua sumpahi dia jadi perawan tua"***
__ADS_1