PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Anak Setan !


__ADS_3

Benar saja, Tari mendapat kabar bahwa Angel menderita sakit perut dan harus opname dirumah sakit. Karena tiap jam buang air. Hingga tubuhnya lemas.


"Mudah-mudahan cepat mati" bisik Tari didalam hatinya.


"Mudah-mudahan cepat mati, ya" kata Tari yang kedua kalinya.


Pada fikiran Tari, dia mengucapkan kali kedua itu masih didalam hatinya juga. Ternyata tanpa disadarinya terucap lewat bibirnya.


Mbak Ipeh yang sedang menggoreng tahu isi, mendengar kata-kata Tari itu dan menoleh kaget pada Tari. Tampak Tari seperti sedang berkhayal. Tatapannya lurus kedepan, menghadap jalan. Tapi mulutnya masih mengunyah goreng pisang. Itu tampak pada tangannya masih ada sisa potongan pisang goreng.


"Siapa yang cepat mati" tanya mbak Ipeh, penasaran.


Sesaat Tari melihat kesekeliling warung, masih sepi. Belum ada pembeli. Tari berkesempatan untuk menceritakannya tanpa ragu pada Mbak Ipeh.


"Gua taburi sedukit racun tikus dimartabak yang gua kasih ke Tante Hombing tadi malam"


"Gile lo !" Mbak Ipeh tersentak kaget.


"Habis...mereka songong. Mereka mengusir gua dari rumahnya. Happy mereka terlantarkan disofanya. Jelas gua sakit hati, mbak"


"Tariiii...Tariiii..." keluh Mbak Ipeh. Sangat tidak suka atas tindakan yang mencelakai Angel. Tapi Mbak Ipeh sadar, tak berdaya untuk menegur Tari.


Hanya bisa geleng-geleng kepala. Saat melihat Tari berjalan keluar dari warungnya.


"Lo kali yang menelantarkan Happy" kata Mbak Ipeh. Masih menatap Tari masuk kesebuah taksi dan pergi ketempat kerjanya. Begitu dugaan Mbak Ipeh. Padahal Tari pergi membezuk Angel kerumah sakit.


Bela-belain bolos kerja. Agar tampak didepan Tante dan Pak Hombing, sangat khawatir dan prihatin pada Angel.


"Kakak kaget mendapat kabar, kamu masuk rumah sakit. Makanya kakak bezuk kamu dulu. Sebelum pergi kerja. Kakak sangat khawatir. Tapi tadi kata mama, kamu udah agak mendingan. Syulurlah...Semoga semakin membaik keadaan kamu, ya. Cepat pulih dan segera pulang" kata Tari ketika membezuk Angel dengan menampilkan wajah sedih.


Juga sepenggal kata-kata manis penghiburan yang tadi sudah dihafalkan Tari. Maka ketika habis kata-kata manisnya, kembali kekebiasaannya. Berceloteh berisik dan dengan bahasa kotor, mengumpat keluarga Anton.


Belum selesai umpatannya. Pada kesempatan berikut, berpura-pura menanyakan keadaan Angel. Setelah dapat info bahwa Angel telah pulang dari runah sakit; Tari berniat akan membezuk Angel kerumah.


Tidak lupa membawa buah tangan. Katakanlah ibarat tiket masuk kerumah Tante Hombing. Membezuk Angel sebentar, berbasa-basi sedikit. Kemudian perlahan mulai ngoceh lagi tentang Bintang, Bila dan tralalalililili.....tentang keadaan rumah mertuanya yang seharusnya jadi miliknya. Sesuai pesan mami mertuanya kepada dirinya.


Setelah semua keluh kesahnya hari ibi dibagikan pada Tante Hombing, Tari pergi lagi. Meninggalkan Happy lagi. Ketika Happy sudah tidur diatas sofa yang ada didepan TV.


Kini bukan hanya Angel yang kesal. Melainkan Tante Hombing sangat dongkol dan marah. Sofa mereka sudah sering dipipisin Happy. Menyebabkan aroma yang sangat tajam menusuk hidung. Hingga menembus kepala.


Meninggalkan aura yang selalu ingin marah kepada siapa saja. Makanya saat Happy sudah bangun dari tidurnya, Tante Hombing mengantarkan Happy ke rumah papi mami. Kebetulan ada Bintang yang baru saja pulang dari kerja.


"Lho ?...mamanya kemana, tante ?" tanya Bintang sangat kaget dan bingung.


"Tante tidak tahu. Tadi dia sudah pulang ngantor. Terus terima telepon dari temannya. Terus pergi lagi. Hampir setiap hari begitu, Bin. Pergi kerja udah kesiangan. Pulang kerjanya cepat. Giliran menjemput Happy dari rumah tante, pasti kemalaman. Biasnya tengah malam baru datang, Bin"


"Waduh...Sorry ya, tante. Jadi ngeropotin....Sorry, ya..."

__ADS_1


Bintang sangat kaget dan gugup. Ketika mendengar laporan dari Tante Hombing.


"Iya, udah. Pokoknya tante udah mengantarkan Happy ke kamu, ya"


"Iya, tan. Makasih ya, tan"


Bintang menggendong Happy dan menimang-nimangnya. Bernyanyi kecil, sambil menciumi pipi Happy. Seketika Happy benar-benar happy.


Menggerak-gerakkan kaki dan tangannya kewajah Bintang. Bintangpun menciumi kaki dan tangan Happy itu. Happypun tertawa-tawa kencang. Sejenak Tantr Hombing memperhatikan mereka dan terpaku bahagia.


"Happy senang sama kamu. Begitu kamu gendong, dia bahagia"


"Saya juga senang kalau sudah menggendongnya, tante. Rasanya... maaf ya, tan. Rasanya si Happy ingin saya saja yang jagain, yang ngerawat. Tapi maminya itu...Saya berharap maminya jangan ada" kata Bintang, setengah berbisik pada Tante Hombing.


"Iya, tante ngerti"


Tante Hombing tersenyum bahagia dan masih memperhatikan Bintang dan Happy yang masih bercanda.


"Gimana kabar suami Ruli ?" tanya Tante Hombing tiba-tiba.


Seketika Bintang kaget dan gugup. Tapi masih menciumi kedua tangan Happy. Tidak menyangka kalau Tante Hombing mengetahui hal itu dan bertanya kepadanya.


Tapi Bintang berusaha menutupinya dengan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Tante Hombing itu. Berpura-pura sangat asyik mencadai Happy. Menciumi pipi, tangan dan kaki Happy.


Melihat keseruan Bintang dan Happy itu, sepertinya Tante Hombing mengerti bahwa Bintang tidak ingin membahas hal itu.


Setelah Tante Hombing berlalu, barulah Bintang berhenti mencadai Happy. Hanya menggendong Happy dan menimang-nimangnya. Sambik fikirannya menjelajahi masalah yang menimpa Ruli.


Memang Bintang telah mengetahui kejadian yang menimpa Ruli itu dari Ruli sendiri. Sejak kabar itu diketahui Bintang, suasana rumah dirasakan Bintang semakin mencekam.


Tapi Bintang berjuang melawan suasana yang mencekam itu. Bila perlu melawan Tari demi mengembalikan keharmonisan didalam rumah mereka ini.


Hanya Happylah kini yang menghiburnya dan menjadi kekuatannya. Sikap kecengengngan akan kesedihan dan kerinduannya pada kedua orang tuanya, harus dapat disingkirkan dengan bercanda bersama Happy.


Ketika Bintang bernyanyi, Happy juga bersuara. Seakan tengah bernyanyi bersama Bintang. Sambil mempermainkan kedua kakinya diwajah Bintang. Sesakali Bintang mencium kaki Happy dan bernhanyi lagi. Happy tertawa kecil dan bernyanyi juga.


Mbak Min dan beberapa asisten lain yang mendengar Bintang dan Happy bernyanyi, jadi ikut bernyanyi pula. Bukan lagu yang terkenal. Tapi senandung yang harmonis dari suara-suara mereka. Seketika suasana rumah jadi ramai dan ceria.


Anton yang baru pulang kerja, ketika mendengar suara-suara senandung itu; seketika hatinya diliputi keceriaan pula. Apalagi sayup-sayup terdengar suara Happy. Kadang suara tawa kecil Happy. Kadang lagi senandungan Happy.


Suasana bahagia itu memulihkan tubuh dan fikiran Anton yang tadi terasa sangat lelah. Juga membangkitkan semangat kerjanya. Berharap akan menemukan lagi kebahagiaan malam ini pada keesokan harinya.


Setelah pulang kerja, Anton berharap akan mendengar suara canda tawa Happy dan Bintang lagi. Sambil menenteng satu kantongan cemilan untuk Bintang dan para asisten rumah tangga, Anton melangkah pasti dengan hati bahagia masuk kedalam rumah.


Tapi...Sepi.


"Pada kemana orang-orang" tanya Anton pada Mbak Min yang lagi di dapur.

__ADS_1


"Mbak Bintang ada dikamarnya. Mbak Bila dan mas Edhi, juga ada dikamar mereka"


"Happy dimana ?"


"Sejak pagi dibawa Ibu Tari"


"Dibawa ketempat kerjanya ?"


"Kalau itu saya tidak tahu"


"Biasanya sih ditinggal di warung Mbak Ipeh, mas" celetuk seorang asisten yang bernama Nina.


"Ditinggal diwarung Mbak Ipeh ?!" tanya Anton dengan nada kaget. Mengulang perkataan Nani"


Tanpa menunggu jawaban dari Nani, Anton segera pergi kewarung Mbak Ipeh untuk mengecek informasi dari Nani itu.


Tiba diwarung Mbak Ipeh, Anton menemukan Happy terbaring diatas dipan kayu, dikerubutin nyamuk.


"Aaaa...."Anton menjerit marah didalam hatinya. Sambil berjalan dengan langkah lebar kearah Happy dan segera menggendongnya dengan hati yang sangat terluka. Menciumi wajah Happy dengan rada bersalah. Telah menelantarkan Happy. Tapi Anton tidak menemukan Tari diwarung itu.


"Anak gue dibuat kayak gorengan tidak laku" kata anton pada Mbak Ipeh dengan suara bergetar. Antara marah dan sedih.


"Dimana Tari, mbak"


"Dia tadi pergi, Ton" jawab Mbak Ipeh dengan ketakutan.


"Kemana ?!"


"Gak tahu..."


"Dia memang begitu, bang. Sering ninggalan Happy disini" lapor seseorang.


"Ggrrrr..." Anton menggeram marah.


Sambil berjalan pulang menggendong Happy, memendam kemarahannya pada Tari. Sekaligus hatinya yang sangat sakit, perih. Seperti teriris-iris pisau silet. Melihat keadaan Happy yang jorok, bau, dikerumunin lalat; Anton mendekap Happy sangat erat.


"Maafkan, papi...Maafkan, nak"


Maka ketika Tari kembali ke rumah, Anton langsung menyerbunya dengan tuduhan-tuduhan yang benar. Sesuai fakta yang dia dapatkan diwarung Mbak Ipeh.


"Ibu seperti apa kau ini !. Meninggalkan bayi di warung !"


"Hei !...Jangan banyak bacot kau !. Suka-sukakulah !...Apa urusanmu !..."


"Tentu saja urusanku. Happy itu anakku juga:


"Setan kau !...Dia bukan anakmu !..."***

__ADS_1


__ADS_2