
Mbak Ipeh langsung kaget dan melonjak. Tapi kemudian terjatuh, tergelincir. Karena ternyata ilalanhnya basah. Tubuh Mbak Ipeh sempat berguling. Lalu berusaha untuk bangun dan jatuh lagi. Bangun lagi dan berjongkok. Lalu menjauhi Tari.
"Glek..." Mbak Ipeh menelan air liurnya, karena shock. Bagai baru tersengat listrik tegangan tinggi.
Padahal Tari kemudian, mengabaikan suara berisik ilalang yang dibuat Mbak Ipeh. Tari masih berdebat dengan Mbah Kahpok dibawah pohon yang tadi tempat bayangan hitam Mbah Kahpok bersembunyi.
"Bodoh !... Kau fikir, kau kubiarkan selingkuh. Pergi menemui dukun lain ?!. Dia tidak apa-apanya dibandingkan aku. Aku sudah menghancurkannya. Kalau kau tidak percaya, pergi saja temui dukun itu. Lihat saja sendiri, apa yang telah kulakukan kepadanya"
"Apa yang mbah lakukan kepadanya"
"Lihat saja sendiri"
"Wus !..."
Bayangan hitam itu pun pergi dan langaung menghilang. Tari bergegas kembali menuju mobil dan mendapati Mbak Ipeh tengah membersihkan muntahannya tadi didalam mobil. Bersama si sopir.
"Ayo jalan !" perintah Tari.
Mbak Ipeh tersentak gugup, mendengar suara Tari. Sesaat melirik Tari yang masuk ke dalam mobil. Mbak Ipeh kemudian hanya menunduk. Tidak berani menatap Tari.
Takut nanti tanpa sengaja tatapan mereka beradu. Lalu Tari menangkap kegugupan, kecurigaan dan kekecewaan dimata Mbak Ipeh. Bisa jadi Tari menyerang Mbak Ipeh.
"Wow...jangan. Bahaya..." bisik Mbak Ipeh didalam hatinya.
"Ayo kita jalan" ulang Tari memerintah si sopir.
"Gak bisa, mobilnya penyok. Radiatornya bocor..."
"Jangan banyak alasan !. Ayo jalan !... Kalau gak... Saya gak mau bayar !"
"Gak bisa, bu... Radiatornya..."
"Bawa stock air. Ayo jalan !..."
"Resiko..."
Spontan Tari keluar dari dalam mobil. Bergegas mendekati si sopir.
"Resikonya...saya akan lempar kamu ke jalan !. Biar kamu dilindas truk !" kata Tari mengancam. Sambil menarik krah baju si sopir.
__ADS_1
Tentu saja si sopir ketakutan. Membandingkan tubuhnya yang kurus kecil dengan tubuh Tari yang lebih tinggi darinya dan gembul lagi. Sekali dilempar Tari, tubuhnya bisa melayang ke jalan ini yang ramai dilalui truk-truk besar.
Ancaman Tari itu bukan ancaman kosong. Terlihat dari sorot matanya yang buas dan menyeramkan. Akhirnya si sopir mengikuti kemauan Tari. Setelah Mbak Ipeh mengatakan sudah dekat tujuan. Lebih kurang berjarak tiga jam lagi. Jadilah mereka melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan, Mbak Ipeh masih digelisahkan oleh fikirannya tentang perselingkuhan Tari dengan Mbah Kahpok. Walaupun Mbak Ipeh belum pernah melihat Mbah Kahpok. Baik sosoknya ataupun wajahnya. Hanya mengetahui nama Mbah Kahpok dari Tari yang merupakan dukun 'pegangan' Tari.
Agar kekagetan dan kegelisahannua tidak terlihat Tari, Mbak Ipeh berakting seolah-olah tidak mengetahui pembicaraan Tari dengan Mbah Kahpok. Lebih banyak memainkan hpnya dan sesekali melemparkan tatapannya ke arah luar mobil. Untungnya mabuk darat Mbak Ipeh berangsur-angsur pulih. Setelah muntah tadi.
Sementara Tari belum menyadari kegelisahan Mbak Ipeh. Maka ketika tiba dialamat tinggal dukun itu, segera Tari berjalan tergesa-gesa menuju rumah si dukun yang dimaksud.
Seorang pria separuh baya menyambut kedatangan Tari. Pria itu memperkenalkan diri sebagai adik dari dukun itu. Pria itupun dapat menebak dengan benar maksud kedatangan Tari dan dari pria itulah Tari mengetahui kabar tentang si dukun itu.
Si dukun itu telah meninggal disambar petir didalam rumahnya. Pada waktu malam yang cerah. Kejadian itu terjadi sehari sebelum kedatangan Tari ini.
"Sial !" umpat Tari didalam hati.
Hanya itu kata yang terucap oleh Tari disepanjang perjalanan mereka kembali pulang. Tari lebih banyak terdiam.
Untuk beberapa saat Tari dicekam kebingungan yang sangat hebat. Sampai menciutkan nyalinya. Amarah dan dendamnya pada Bintang, menggantung di kebingungannya.
Bahkan beberapa hari kedepan, Tari masih lebih banyak berdiam diri dirumah mereka. Rumah yang diberikan almurhan mertuanya kepada Anton sebagai rumah mereka.
Memang sejak pertengkaran terakhir dengan Bintang itu, Tari kembali kerumah mereka itu. Tanpa Anton dan Happy. Tidak mengisi daftar hadirnya diwarung Mbak Ipeh. Tentunya juga tidak membuat kegaduhan lagi dirumah almarhum mertuanya.
Tari hanya sedang dilanda rasa telah dipermalukan dan dilecehkan oleh keluarga Anton, juga oleh Anton. Saat ini Tari hanya perlua diam sebentar dan berfikir sebentar. Mengumpulkan amarahnya untuk meluapkan perasaan itu.
"Ini soal waktu. Sebentar lagi" bisik suara-suara yang didengar Tari lewat tiupan angin.
Suara-suara yang dahulu sering didengarnya. Ketika berada diatas pohon kesayangannya, yaitu pohon mangga yang ditanam ayah dengan mantra-mantra Mbah Kahpok dari 'tempat sampah' itu.
Saat ini Mbah Kahpokpun belum bisa menolongnya. Alasannya karena Tari masih memproduksi susu. Tari tidak bisa membayar jasa Mbah Kahpok dengan tubuhnya untuk menolong dirinya sendiri.
Sedangkan Mbak Ipeh mengaku pada Tari bahwa dia tidak mengetahui dukun yang lain, yang lebih sakti. Padahal Mbak Ipeh sebenarnya sedang diteror ketakutannya sendiri dan rasa bersalah pada keluarga dukun itu, pada Anton dan keluarga Anton.
"Okelah ..." kata Tari pada dirinya sendiri. Seakan menghibur dirinya sendiri dan memberi suport pada dirinya sendiri.
Mempergunakan masa berdiam diri untuk mengumpulkan kekuatan pembalasan dendam. Dahulu juga Tari pernah melakukan masa berdiam diri dan ketika....
"Teeeeettt..." bel masa berdiam diri berbunyi. Serangan pembalasan dendam Tari terjadi dengan begitu hebat.
__ADS_1
Waktu itu yang menerima serangan pembalasannya adalah Karina n d ganknya. Satu persatu mereka ditaklukkan Tari dengan aksi terornya, menebarkan ketakutan.
Jadi jika itu ingin terjadi lagi pada lawan-lawannya kini, baik-baiklah Tari mempergunakan masa itu. Rajinlah bekerja dengan masuk tepat waktu, tidak bolos dan tidak pulang kerja sebelum jam kerja usai.
Walaupun sulit melakukannya. Karena biasanya Tari masuk kerja sesuka hatinya. Pulang kerja juga sesuka hatinya. Mau masuk merja atau tidak masuk, itupun sesuka hatinya.
Toh dirinya adalah seorang PNS. Kerja tidak kerja, gaji bulanan dan pensiun sudah pasti diterimanya.
"Wow..."
Ingat hal itu, menggoda Tari mengurungkan niatnya untuk masuk kerja dan pulang kerja tepat waktu.
"Ah...buat apa gua nyusahin diri sendiri. Toh gaji pasti gua terima setiap bulan. Ntar pensiun, dapat gaji juga. Itulah untungnya jadi pegawai negri"
Jika puskesmas tempat Tari bekerja dapat mendengar perkataan Tari itu. Pasti puskesmasnya menjawab,
"Lagian gua gak butuh lo. Tugas lo kan hanya mencatat pasien. Lo gak masuk juga, masih ada orang yang bisa mencatat pasien. Jadi gak apa-apa lo gak masuk. Gak ngaruh"
Maka ketika Tari masuk kerja kesiangan lagi hari ini, tidak ada seorangpun yang merasa kehilangan. Tidak juga para medis. Tidak juga para petugas administrasi. Apalagi pasien, tidak ada yang kehilangan.
Hanya tukang kantin puskesmas yang kehilangan Tari. Biasanya Tari kan lebih lama makan dan minum dikantin. Lalu ngoceh yang banyak. Semakin banyak ngocehnya, semakin banyak yang dimakannya. Samalah seperti di warung Mbak Ipeh.
Hari itu juga Tari langsung ke kantin. Begitu tiba di puskesmas tempat dia bekerja itu. Makan dulu, minum dan ngoceh tidak jelas topiknya dengan suara kencangnya.
Setelah kenyang, barulah Tari masuk ke puskesmaa. Itupun hanya untuk 'setor wajah' dan tanda tangan absen. Melirik-lirik pasien sebentar. Kemudian perlahan-lahan kabur dari puskesmas.
"Tari !"
Tiba-tiba seseorang memanggil Tari. Sebelum Tari berhasil keluar dari puskesmas. Tari menoleh orang itu. Ternyata ibu wakil kepala puskesmas yang memanggilnya.
Tari pun mendekati si ibu wakil kepala puskesmas itu.
"Kamu dipanggil dokter kepala" kata si ibu itu.
Tanpa ada respon apapun dari Tari ke ibu itu, Tari langsung melangkah menuju ruangan dokter kepala dengan kesombongannya. Berjalan membusungkan dada dan mengangkat bahunya. Mendengus sebentar didekat wajah si ibu wakil kepala. Sambil terus melangkah.
Tiba didepan pintu ruang kerja dokter kepala, Tari mengetuk pintu.
"Tok...Tok..."
__ADS_1
"Masuk"
Tari langsung membuka lebar pintu itu dan seketika tercengang, kaget.***