
Tari mengalihkan perhatiannya pada ibu. Membuat ibu seperti Mila. Selalu ketakutan bila melihat dirinya. Berbekal dari tuduhan ayah, bahwa hobbi ibu adalah bermain judi.
Karena itu setiap hari, setelah pulang dari pasar. Lalu mengurus ayam-ayamnya, ibu langsung pergi lagi dan akan pulang ketika tengah malah sudah berlalu. Nah...itulah waktu yang dipakai ibu untuk bermain judi.
Tari akan menyelidiki tuduhan ayah itu. Apakah benar atau hanya praduga ayah. Jika tuduhan itu benar, maka Tari akan menjadikan tuduhan itu sebagai senjata untuk menaklukkan ibu.
Segera Tari beraksi. Memanfaatkan waktu luangnya untuk pulang. Walaupun itu harus terlebih dahulu menemui Mbah Kahpok. Tidak mengapalah. Toh Tari juga akan membutuhkan pertolongan Mbah Kahpok.
Jadi tidak masalah. Mbah Kahpok minta 'jatah' nya. Tari memberikan dengan sukacita. Karena akhir-akhir ini 'jatah' itupun dirasakan Tari sebagai kebutuhan. Jadi lakukan sajalah. Toh saling menguntungkan kedua belah pihak.
Setelah itu barulah Tari menguntit ibu. Melihat ibu masuk ke sebuah rumah yang berpagar tinggi. Setelah ibu memarkirkan motornya ditempat penitipan motor yang berada disamping rumah itu. Ibu memencet bel. Kemudian pintu pagar rumah itu dibuka oleh seorang sekuriti. Ibu pun segera masuk dan pintu pagar ditutup kembali.
Tari masih mengamati rumah itu dari sebrang depan rumah itu. Kebetulan ada sebuah warung kopi dan Tari nongkrong diwarung itu. Tentunya tidak ngopi. Tapi nyeruput es teh manis.
Tidak berapa lama kemudian, datang lagi beberapa orang ibu-ibu. Juga melakukan hal yang sama seperti ibu tadi. Memarkirkan motor mereka dipenitipan motor, memencet bel, pintu terbuka dan mereka masuk. Sempat terlihat Tari, keadaan rumah itu sepi.
Tari penasaran, rumah siapakah itu ?. Hal itu ditanyakannya pada sipemilik warung kopi itu.
"Ooo...itu rumah Pak Cakra, neng" jawab si pemilik kopi.
"Rumah bapak-bapak...tapi yang masuk banyak ibu-ibu" tanya Tari lagi, lebih penasaran.
"Ooo...Pak Cakra ada bisnis rumahan, neng...dirumah itu"
"Bisnis rumahan apa ?"
"Nenun, neng. Nenun kain tradisional. Lalu dipacking dan dipasarkan media on line, neng"
"Serius nenun ?...bukan judi ?"
Spontan si pemilik warung kopi tertawa-tawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi Tari tidak menerima mentah-mentah informasi itu. Tari harus mencari tahu sendiri.
Tari pun mendekati pintu pagar rumah itu dan memencet bel yang ada ditiang tembok pintu pagar. Tapi disebelah dalam. Karena Tari tadi melihat ibu dan beberapa ibu-ibu yang lain meraba-raba pada bagian sebelah dalam tiang tembok itu.
"Huh..manasih...kok kerasa..." kata Tari ngedumel. Karena tidak merasakan ada sesuatu ditiang tembok sebelah dalam itu.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba pintu pagar terbuka. Tampaklah sisekuriti berdiri dengan wajah garang. Menatap Tari dengan mata melotot.
"Siapa kamu. Ada keperluan apa " tanya si sekuriti dengan nada membentak datar.
"Ngg..anu...anu...mau melamar kerja" jawab Tari gugup.
"Apa ada tulisan lowongan kerja disini"
"Tidak...kali aja ada"
"Disini sudah banyak pembantu. Jadi tidak lagi butuh. Ayo..pergi kamu " kata si sekuriti dan langsung menutupkan kembali pintu pagar itu.
Puih !...Tari sangat kecewa. Karena merasa gagal dan usahanya sia-sia. Tidak mendapatkan bukti otentik tentang tuduhan ayah itu. Sama artinya, Tari tidak mempunyai bahan untuk dijadikan senjata melawan ibu. Membuat ibu ketakutan pada Tari. Kecuali hanya penglihatan dari Mbah Kahpok. Memperlihatkan dari media air yang ada disebuah wadah, didalam kamar Mbah Kahpoh; bahwa ibu dan beberapa ibu-ibu lainnya sedang bermain judi didalam rumah itu.
Ibu bukanlah orang mahir bermain judi. Hanya sekedar ikut-ikutan. Hingga menjadi hal yang paling disukai. Karena selain berjudi, ditempat itu juga mereka bergosip dan dihidangkan banyak makanan. Nah...ibu suka berkumpul bergosip dan makan. Tapi harus ikut berjudi. Walaupun ibu selalu kalah. Itulah sebabnya ibu memiliki banyak hutang untuk modal judinya.
Keterangan Mbah Kahpok yang terakhir inipun tidak mampu menepis kekecewaannya. Tari merasa tidak mendapat senjata ampuh yang diinginkannya untuk menaklukkan sang ibu yaitu sang musuh terbesarnya.
Tari kembali ke asrama dengan membawa kekecewaannya. Sepanjang perjalanannya kembali ke asrama, kekecewaan itu menertawakannya. Memaksa Tari untuk mengungkapkannya dalam cacian dan makian ke siapa saja orang pertama yang dilihatnya.
Naas bagi si satpam. Tidak hanya mendapatkan caci maki dari Tari. Tapi juga shock, melihat Tari pulang subuh ke asrama. Si satpam merasa harga dirinya sebagai satpam telah diinjak-injak oleh Tari.
"Ternyata benar rumor yang saya dengar dari anak-anak. Kamu selalu pulang subuh !. Dari mana kamu !. Ayo ikut saya ke pos" kata si satpam tegas dan langsung menarik satu lengan Tari.
"Mau ngapain. Bapak mau memperkosa saya !. Lepaskan !..."
Tari menghentakkan tangannya. Si satpam pun menoleh marah pada Tari. Tanpa melepaskan tangannya. Saat itulah Tari berkesempatan meludahi wajah si satpam. Cih !...si satpam tersentak kaget. Tapi kedua matanya merem. Satu tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil sapu tangan.
Kembali Tari menghentakkan tangannya dan terlepas. Si satpam menghapus ludah Tari dari wajahnya. Membuka matanya dan terlihatnya Tari telah berlalu memasukki asrama. Si satpam pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Tari berlari menuju kamarnya. Tepat didepan pintu kamar, Tari berpapasan dengan Mila. Mila kaget memebelalakkan matanya. Sedangkan Tari spontan mengembangkan senyuman jahat pada Mila. Seketika kekecewaannya sirna.
Apalagi kemudian terlihat Mila sangat gugup ketakutan dan langsung tertunduk. Seperti bunga yang layu, sesudah berkembang. Lututnya gemetaran dan tubuhnya menggigil.
Sasaran tepat dan empuk akhirnya terhidang didepan Tari. Taripun langsung menyantapnya. Menarik lengan Mila dan mencengkeramnya kuat.
__ADS_1
"Apaan sih !...lepaskan !.." Mila memberanikan diri ditengah ketakutannya. Nada suaranya meninggi. Sehingga jadi perhatian beberapa orang teman lain. Terpaksa Tari melepaskan cengkeraman tangannya. Mila pun segera berlari menjauhi Tari.
Mila berlari menuju kamar mandi. Karena memang tadi niatnta hendak ke kamar mandi. Jika Tari tidak menghadangnya. Tapi Mila tidak bernafas lega. Karena Tari mengikutinya ke kamar mandi.
Ups !...Mila salah memilih kamar mandi sebagai tempat aman. Pada hari subuh, kamar mandi masih sepi. Seharusnya Mila kembali masuk kamar. Semua teman-temannya masih dikamar. Jadi tidak mungkin Tari nekat menjahatinya ditengah keramaian teman-temannya.
Kalaupun tadi sudah sesak berak atau pipis, seharusnya abaikan dulu. Tahan dulu sebentar. Itu akan lebih baik. Ketimbang memaksakan diri harus berak atau pipis. Tari malah senang. Lihatlah Tari menyungging senyum lebar. Menyusul Mila kekamar mandi dengan langkah lebar dan berhasil masuk bersama Mila. Sebelum Mila berhasil mengunci pintu kamar mandi.
Tari langsung mendorong tubuh Mila. Agar jauh dari pintu. Mila nyaris terjatuh. Sementara Tari telah menutup dan mengunci pintu kamar mandi.
"Mau apa lo ke gue, Ri" rengek Mila
"Yang jelas bukan untuk memperkosa lo. Gua gak doyan perempuan. Apalagi perempuan bermulut lebar. Kayak lo..."
Tari mengguyur Mila dengan air. Memakai ember dan berkali-kali. Sambil menggetok pantat ember itu ke tubuh Mila. Lalu menendang Mila. Memukulnya lagi dengan pantat ember. Menjambak rambut Mila. Menampar kepalanya, pipinya...Bagai orang kerasukan setan, Tari menyiksa Mila.
Mila menangis dan berusaha mengelak dan menangkis serangan Tari. Tapi Tari semakin kesetanan. Menendang perut Mila. Akan meninju bibirnya. Untunglah Mila bisa mengelak dan spontan menendak tulang kaki Tari.
"Aduh !...breksek !..." ujar Tari marah dan menatap tajam pada Mila. Lalu kembali akan mengguyur Mila. Mila pun segera mendorong kuat tubuh Tari. Tari terjatuh dan Mila segera berlari mendekati pintu. Membuka kuncinya, membuka pintunya dan berlari kencang dengan tubuh basah kuyup.
Tari tidak berniat menyusul Mila. Hatinya lega telah menyiksa Mila. Membuat perempuan itu semakin ketakutan pada dirinya. Itulah yang diinginkan Tari. Hasratnya terpuaskan sudah.
Sementara Mila mengalami trauma berat. Kekagetan teman-teman yang melihatnya masuk kekamar dengan berlari dan tubuh basah kuyup, tidak digubrisnya. Mila hanya ingin lari sejauh mungkin dari Tari. Jiwanya mati, akal sehatnya hanya menganjurkannya untuk pergi.
Mila akan pergi dari asrama ini dan tak ingin kembali. Berarti juga pergi dari kampus. Alias mengundurkan diri. Karena peraturan dari pihak yayasan kampus, menegaskan semua mahasiswinya wajib tinggal diasrama. Baik jauh atau dekat rumah orang tua si mahasiswinya.
Percuma kalau hanya mengadukan ke Ibu Pur. Perihal prilaku Tari itu. Paling Tari dikenakan sanksi. Lalu besok-besok, besar kemungkinan Tari akan menyiksanya lagi. Lebih baik keluar dari kampus ini.
Tekad Mila itu sudah bulat. Mila tidak mau menghabiskan hari-hari perkuliahannya dalam ketakutan pada Tari. Tidak hanya hari-harinya yang habis. Tapi juga waktu, fikiran dan uang orang tuanya. Diluar sana masih banyak kampus kebidanan lain yang tanpa Tari.
Lagi pula, bila sudah keluar dari kampus; Mila bertekad akan buka suara. Soal Martha yang kabarnya mengalami gangguan penglihatan. Itu adalah satu-satunya jalan untuk Mila balasa dendam pada Tari. Biar Tari ditangkap polisi.
Walaupun Tari tak menemukan alasan yang menurutnya dapat diterima. Mila tetap memaksa pada orang tuanya untuk keluar dari kampus. Pokoknya...keluar dari kampus. Titik !!!.
Kekerasan tekad Mila, membuat orang tuanya dan Ibu Pur, akhirnya menyetujui niatnya itu. Tapi tidak buay Tari !***
__ADS_1