
Memang dirumah Tari tak memiliki teman. Apalagi teman bermain. Mengekspresikan jiwa kanak-kanank yang lugu dan bebas. Erika dan Riris hanya bisa menjahilinya dan menjahatinya. Membuatnya kesal, marah dan menangis. Jika sudah menangis, pasti akhit ceritanya ibu akan memukuli mereka. Erika akan menuduh Tari lah biang keroknya. Jadi lebih baik bermain sendiri diteras depan rumah saja. Bertemankan bayangan difikiran kanak-kanaknya.
Sore itupun Tari sedang asyik bermain sendiri. Melihat-lihat gambar dari sebuah buku dongeng bergambar. Pemberian Miss Cecil tadi pagi. Begitu asyiknya Tari memperhatikan buku itu. Sampai-sampai tidak menyadari, kalau Riris sedang mengintipnya. Berencana untuk menjahilinya.
Perlahan-lahan Riris mendekati Tari dari arah belakang Tari. Begitu ada peluang...hap !....secepat kilat menyambar buku Tari itu. Tari kaget dan berpaling, melihat ke arah belakangnya. Menyadari itu adalah ulah Riris. Spontan Tari menangis kencang.
"bucu acu itu. Minta Lilis...kacih miss itu. minta..." kata Tari disela tangisnya. Sambil berusaha merebut kembali bukunya itu dari tangan Riris.
Riris mempertahankan buku itu dengan mengangkat tinggi buku itu. Sampai ke atas kepalanya. Tari melompat-lompat meraih buku itu. Riris kemudian berlari menghindari Tari. Masuk kedalam rumah. Tari mengejarnya, sambil menangis kencang.
Mereka berlarian diruang makan. Kejar-kejaran mengelilingi meja makan segi empat.
"Minta itu...b*b* tau..." kata Tari dalan tangisnya. Mengukapkan kekesalannya.
Mendengar perkataan Tari itu, Riris kaget dan berhenti. Taripun berhenti. diam. Ciut nyalinya mendapati tatapan tajan Riris kepadanya. Beberapa saat Riris menatap tajam pada Tari. Mentransfer kemarahannya yang telah dikatai Tari dengan "babi". Lalu tiba-tiba Riris melempar kuat buku itu kearah Tari. Duk !...ujung sebelah atas buku itu, tepat mengenai satu sudut bibir Tari. Tari kaget dan kesakitan. Spontan menangis lagi dengan lebih kencang.
Ibu yang sedari tadi sudah mendengar tangisan Tari itu dari kandang ayam, tidak dapat lagi menahan amarahnya. Segera tangannya menyambar sebuah kayu yang ada didekatnya. Setengah berlari ibu mengejar mereka ke ruang makan. Nguing....nguing...nguing...antena Riris menangkap sinyal bahaya. Begitu melihat ada bayangan ibu. Memantuk dari luar kedalam ruang makan. Akibat sinar matahari sore hari.
Riris berniat berlari. Tapi masih sempat menampar pipi Tari dua kali, kiri dan kanan. Lalu berlari kencanglah. Sedangkan Tari tidak tidak memperhatikan ada bahaya yang mengancam. Karena Tari lagi-lagi menangis kencang. Sambil memaki Tari dengan bahasa ibu nya.
Begitu ibu sudah berada didekatnya, barulah nalurinya menangkap sinyal bahaya. Terlambatlah bagi Tari untuk menghindar. Ibu sudah mengayunkan kayu itu ke betis Tari. Tap...tap...ibu memukul kayu itu ke betis Tari berkali-kali, kiri dan kanan. Taripun menangis menjerit dan melompat-lompat. Ibu mencengkeram satu tangan Tari. Membuat Tari tidak dapat berlari menghindar.
"Catit buuuu...catiiiittt....janan, bu...catiitt..." jerit Tari kesakita.
"Makanya kau diam. Diaaammm...*nj*ng..." teriak ibu.
Suara mereka bersahut-sahutan. Hingga membuatnya sangat letih. Barulah ibu berhendi. Taripun berhenti menangis. Tapi masih sesegunggukan. Lalu terduduk dan masuk kekolong meja makan. Merintih pelan dan memegangi kedua betisnya.
Sementara ibu masih berteriak-teriak memanggil Riris. Meluapkan emosinya yang masih menggulung-gulung di ubun-ubunnya. Membakar kepalanya, menyusup ke hatinya dan membuat jantungnya berdetak sangat kencang. Ibu berteriak lagi dengan suara yang mulai parau. Tapi Riris tak kunjung datang dan Erika entah dimana.
Akibatnya kemarahan ibu kembali terlampiaskan pada Tari. Menarik kencang si Tari dari kolong meja.
__ADS_1
"Ampun, bu..." isak Tari ketakutan.
Ibu tidak perduli pada isak Tari itu Amarahnya telah membangkitkan arwah penasaran didalam dirinya. Ibu menyeret Tari dengan paksa ke kandang ayam. Lalu mengurungnya disalah satu kandang ayam, bersama-sama dengan ayam-ayam.
Eeh...malah Tari kegirangan. Setudaknya punya teman yang menurutnya lucu-lucu. Apalagi ada anak-anak ayam yang baru beberapa hari menetas. Mengintip dari balik sayap induknya. Untungnya ukuran kandang ayam termasuk besar. Bisa untuk Tari berdiri, melompat dan lari-lari kecil.
Tari pun bermain ciluk baa dengan anak-anak ayam itu. Letih bermain ciluk baa...Tari menangkap beberapa anak ayam itu. Memangkunya, memeluknya dan menciuminya. Memuji anak-anak ayam itu sebagai anak yang manis, anak yang baik dan blablabla...
Percis yang memperlakukan anak-anak ayam itu, sepert Miss Cecil memperlakukannya. Tapi ketika hari mulai gelap, Tari pun mulai ketakutan. Ayam-ayampun mulai tidur. Aroma kandang ayam mulai dirasakan Tari, menyengat kehidungnya. Mengingatkan kembali cerita seram yang pernah didengarnya dari Erika. Tentang kegelapan yang beraroma bau, sepi; seperti kandang ayam. Banyak dihuni oleh hantu. Masih kata Erika, bahwa hantu itu jelek. Matanya satu berwarna merah dan satunya bolong. Giginya panjang-panjang. Sampai keluar dari mulutnya. Bahkan yang lebih menyeramkan dari kisah Erika, hantu itu memakan daging anak-anak.
Mulailah Tari panik ketakutan. Berjalan kesana-kesini, mencari jalan keluar. Tapi tak ditemukannya. Suara jengkrik mulai berkumandang. Suara tikuspun mulai berisik. Membuat ketakutan Tari memuncak. Taripun menangis dan merintih sedih. Menatap kearah pintu belakang rumah yang tertutup sedikit dan memanggil-manggil ayah.
Ternyata yang mendengar tangisannya adalah Mbah Kahpok. Mbah Kahpok membuka pintu kamar belakang. Sejenak berdiri untuk memastikan pendengarannya. Benarkah dia mendengar suara seorang anak kecil menangis ?.
Karena kaget, Tari berhenti menangis. Konon cerita Erika, satu-satunya kamar belakang yang ada dirumah mereka itu, tak berpenghuni. Makanya setiap hari gelap dan tertutup. Nah...sekarang, Tari melihat pintu kamar itu terbuka dan ada yang berdiri diambang pintu itu. Kebetulan kandang ayam tidak jauh dari kamar itu. Hanya berbatas satu meter lah dan asa jalan setapak yang menguhubungkan kandang ayam dan kamar belakang. Kamar belakang itu juga tidak jauh dari pintu belakang rumah.
Sosok Mbah Kahpok yang kurus tinggi, rambut panjang tergerai dan kumis janggut juga panjang. Tampak seperti melayang-layang mendekati Tari. Tari pun tercengang dan matanya terbelalak melihat ke arah Mbah Kahpok. Suasana remang-remang dari bulan yang separuh, tanpa ada bohlam tambahan dibelakang rumah itu; membuat bulu kuduk Tari berdiri. Mbah Kapok semakin mendekat...dekat...dan hup !...Mbah Kahpok tiba didepan pintu kandang ayam itu.
Tari memang tidak mengenal Mbah Kahpok yang adalah dukun simpanan ayah. Begitu pula Erika dan Riris. Mbah Kahpok menghuni kabar belakang. Sengaja ayah menciptakan kondisi kamar belakang yang gelap, tampak luarnya banyak cat yang sudah ngelotok, pintu dan jendela tak pernah terbuka. Agar Erika, Riris dan Tari tidak berani untuk mengintip. Bahkan untuk melihat kearah kamar itu saja, mereka sudah ketakutan. Karena itulah Tari menyangka Mbah Kahpok adalah hantu.
"Diam !...Sssttt...Saya akan mengeluarkanmu"
"Cau hancu...cana cau...canan cicit acu..."suara Tari pelan memelas. Memohon pada 'sosok hantu', agar tidak menggigitnya.
"Diamlah anak cengeng" kata Mbah Kahpok dengan suaranya yang berat. Tapi diusahakannya untuk lembut. Agar Tari tidak ketakutan padanya.
Ketika pintu kandang ayam terbuka, Tari malah mundur dua langkah. Masih tampak ketakutan. Menatap Mbah Kahpok dengan was-was dan curiga.
__ADS_1
"Ayo keluar..."
"Canan cicit acu..."
"Kamu gak mau keluar ?..." Mbah Kahpok menatap Tari dengan tatapan serius. Segera Tari menundukkan wajahnya. Barulah Mbah Kahpok seakan mengerti. Lalu mundur beberapa langkah. Menjauhi pintu itu.
Menyadari Mbah Kahpok mulai menjauh, barulah Tari menghambur keluar. Berlari kencang masuk kedalam rumah. Tanpa menoleh sedikitpun pada Mbah Kahpok. Larinya kencang menuju kamar tidur mereka. Masuk kekamar dan langsung mengunci pintu kamar. Melihat tempat tidur mereka, Tari langsung melompat naik. Untunglah goncangannya tidak mengusik Erika dan Riris.
Tari menarik selimutnya. Menutupi seluruh tubuhnya. Berusaha untuk tenang dan memejamkan matanya. Memaksa dirinya untuk segera tidur. Tapi Tari tidak dapat tidur. Karena terbangun pada tengah malam sudah menjadi kebiasaannya dan sekarang sudah tengah malam. Kebiasaan itu menguasainya. Bahkan mengusik niatnya untuk bangun dan mengintip dari balik pintu. Melupakan ketakutannya pada 'sosok hantu'.
Kali ini tidak ada pertengkaran antara ayah dan ibu. Malah ayah dan ibu tampak sedang duduk akur diatas lantai, didepan TV yang tidak menyala. Tapi apa itu yang bersama mereka. Wow...Tari kaget, nyaris melonjak. Tapi kaki gemetaran dan tangannya kaku, tak bisa digerakkan. Tari sangat ketakutan. Sampai serasa dihipnotis.
Mengapa tidak !...'sosok hantu' itulah yang bersama ayah dan ibu. Mereka bertiga duduk bersila, berhadap-hadapan dengan mata terpejam rapat. Tak ada juga suara dari mulut mereka. Hanya mulut si 'sosok hantu' yang komat-kamit. Ada sebuah wadah bulat, berwarna hitam dan mengeluarkan asap; ditengah-tengah mereka.
Hal itu membuat Tari jadi semakin tertarik untuk memperhatikan. Fikirnya, "mengapa mereka membakar sampah didalam rumah". Padahal Tari ingat pesan Miss Cecil, asap sampah berbahaya. Bisa membuat kita terbatuk-batuk. Tapi ketika 'sosok hantu' itu kemudia berdiri dan membawa 'tempat sampah' itu, Tari menduga bahwa mereka juga mendengarkan perkataan Miss Cecil. Pasti mereka akan membakar sampah itu diluar rumah.
Ternyata tidak, 'sosok hantu' itu hanya berkeliling diruangan itu. Membawa-bawa 'tempat sampah' itu. Lalu kembali duduk seperti semula, bersila dan berhadap-hadapan dengan ayah dan ibu. Mata ayah dan ibu masih terpejam.
Tari semakin terheran-heran. Apalagi melihat ayah dan ibu meletakkan kedua tangan mereka diatas 'tempat sampah' itu. Seperti akan menyentuh asap itu. Kemudian mengusap-usapkan tangan mereka itu kewajah mereka masing-masing. Terbersit tekat dihati Tari, besok akan memberitahukannya pada Miss Cecil. Biar ayah dan ibu dimarahi Miss Cecil.
__ADS_1
Tekat itu akhirnya membuat Tari tenang. Kembali ke tempat tidur mereka dan tidur lelap.\*\*\*