
Ternyata kesakita yang dialami ibu itu adalah atas permintaan Tari. Mbah Kahpok membuat tenggorokan ibu sakit, seperti terbakar. Sampai suara ibu beberapa hari kedepan hilang. Alias ibu jadi bisu sementara. Walaupun sakit itu masih tergolong ringan, menurut Tari. Jika dibandingkan sakit yang diperbuat ibu kepada dirinya.
Baik ayah atau ibu tidak mengetahui hal itu. Karena itu ibu tidak merasa gentar untuk membenci Tari. Tiap kali melihat Tari, darah ibu langsung mendidih di ubun-ubun kepalanya. Caci-maki ibu kepada ibu semakin meningkat. Kini menuduh Tari sebagai pelacur, simpanan Mbah Kahpok.
Perselisihan antara Tari dan ibu pun semakin hebat. Sampai-sampai Tari meminta Mbah Kahpok untuk langsung membunuh ibunya itu. Untunglah nasehat Mbah Kahpok masih berterima dilogika Tari (đŸ˜ˆdisini para setan tersenyum jahat. Menyadari ternyata Tari masih punya otak untuk berfilir logis), bahwa mereka akan membuat ibu tersiksa secara perlahan.
Semakin ibu memperlihatkan amarahnya kepada Tari, maka semakin mudahlah Mbah Kahpok untuk masuk ke fikiran ibu. Siksaan itu dimulai dari situ.
Usaha dagang ibu dibuat sepi pengunjung oleh Mbah Kahpok. Bahkan dihari selanjutnya, kios ibu dibongkar maling. Barang dagangannya ludes...des..habis !. Itu masih belum cukup. Ayam-ayam ibu dibuat mati satu per satu. Terserang penyakit ayam. Kurang dalam satu minggu, ayam ibu juha sudah habis.
Belum lagi ibu selesai menguburkan sisa bangkai-bangkai ayamnya, para penagih hutang datang kerumah. Menagih hutang ibu beserta bunga dan dendanya. Bahkan ada beberapa orang yang sampai mengancam ibu.
Tari sangat bahagia atas penderitaan ibu itu. Sebagai balasannya, Tari memberikan pelayanan yang terbaik untuk Mbah Kahpok. Kebahagiaannya itu juga terdampak kepada teman-temannya di kampus.
Tari jadi rajin nongkrong di kantin kampus. Ketawa-ketiwi, bercerita, mentraktir teman, menjadi pembicara gossip dikamar asrama. Pokoknya kini Tari tampil sebagai tokoh baik untuk teman-temannya. Sahabat pemberi solusi masalah yang terpercaya. Begitulah Tari menganggungkan dirinya. Anehnya, teman-temannya mereka mengagungkannya.
Buktinya Neneng, telah menaruh kepercayaan penuh pada Tari. Mengajak Tari untuk menemaninya mengambil uang dari ATM. Bahkan Tari di ajak masuk ke bilik ATM. Melihat jari-jari Neneng saat memasukkan nomor PIN nya. Tari langsung menghafal dan menyimpannya di memori otaknya.
Anggaplah sebagai suatu rejeki. Jika suatu hari Neneng lalai. Tari pasti bersigap cepat memanfaatkan kelalaian itu. Sekarang ini Tari cukup stand by saja disisi Neneng. Tidak apalah dianggap sebagai kacung atau apa Neneng lah, oleh beberapa teman yang sedikit tidak menyukai Tari. Preet...kan sajala dulu.
Benar saja, setelah dalam kesetiaan berhari-hari; Neneng ketiduran disuatu siang yang sepi. Padatnya jadwal kuliah, membuat phisik kurus Neneng tumbang. Tari menyeringai bahagia. Apalagi...makjleb !...pintu lemarinya tidak terkunci.
Sedetikpun Tari tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tari sangat leluasa cantik mengambil kartu ATM Neneng dari dalam dompetnya. Karena Tari sudah mengetahui dimana letak kartu ATM pada dompet Neneng. Tari sangat santai melakukan aksinya. Mengembalikan dompet itu pada posisi semula didalam tas Neneng. Tas itupun diletakkannya kembali pada posisi semula juga didalam lemari. Menutup lemari itu. Menatap Neneng yang masih tertidur pulas dengan senyuman manis. Lalu pergi meninggalkan Neneng.
Tari masih mengendapkan ATM Neneng didalam dompetnya sendiri dan masih berakrab ria dengan Neneng. Neneng belum menyadari kalau kartu ATM nya sudah berpindah tempat. Karena Neneng belum merasa membutuhkannya. Jadi tidak mencarinya. Lagi pula Neneng tidak merasa khawatir sedikitpun tentang kartu ATM nya. Semua masih aman-aman saja.
Begitu mempunyai kesempatan untuk mempergunakannya, barulah Tari mempergunakannya. Tari menguras semua semua isi ATM Neneng. Hanya menyisakan saldo beberapa puluh ribu rupiah saja. Jleb...uang Neneng sudah berpindah ke dompet Tari.
Sangat leluasa pula Tari mengembalikan kartu ATM itu kedalam dompet Neneng. Tanpa diketahui oleh seorangpun. Bahkan Tari lebih berbaik hati pada Neneng. Mentraktir Neneng beberapa kali. Sampai-sampai Neneng sangat tersanjung, merasakan kebaikan Tari itu.
Nyaris sama dengan yang dialami Suryati. Hanya Suryati menyimpan uang kiriman dari orang tua nya, didalam lemari pakaiannya. Katanya sih biar cepat, jika ada keperluan mendadak. Paling yang tinggal di tabunganya hanya beberapa puluh ribu saja. Begitu pengakuan jujur Suryati pada Tari. Tari pun menyimpan pengakuan ini sebagai 'pekerjaan rumah' yang akan dituntaskan.
Maka begitu ada kesempatan, Tari langsung menuntaskan 'pekerjaan rumah'nya itu dengan tenang. Bak seorang yang sangat profesional, mengamankan nyaris seluruh uang Suryati. Tari merasa sangat berbaik hati menyisakan dua lembar saja. Mentraktir Suryati makan mie pangsit kesukaan Suryati. Mie pangsit Pak Haji yang warungnya ada disebrang kampus mereka.
Sama seperti Neneng, Suryati pun belum menyadari uangnya telah hilang. Kecuali Mila yang tampak kasak-kusuk. Mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari pakaiannya. Menghempas-hempaskannya satu-persatu. Pakaian yang memiliki saku, dirogoh sakunya.
__ADS_1
Garis wajah Mila tampak begitu sedih dan sangat khawatir. Nyaris menangis Mila masih memeriksa lagi dan lagi seluruh isi lemarinya. Seluruh pakaiannya sudah berantakan didepan lemarinya itu.
"Mencari apa sih, Mil" tanya Ruli yang bingung melihat sikap Mila itu.
"Amplop" jawab Mila asal. Tapi mulai ada isak tangis yang tersendat ditenggorokannya.
"Amplop apa. Biar gue bantu cari"
"Amplop coklat, berisi uang. Uang kuliah yang baru gue ambil dari bank. Gue simpan didalam amplop. Tapi kok...amplopnya gak ada"
"Amplopnya benar lu simpan didalam lemari ?"
"Iya...gue simpan dibawah jaket kampus kita. Tapi kok gak ada.:
Sejenak mereka berdua krasak-krusuk mencari dengan lebih teliti lagi.
"Coba lu ingat lagi deh...yakin lu simpan didalam amplop dan amplopnya dibawah jaket kampus kita"
"Benar, Li. Gue simpan dilemari, dibawah jaket kampus kita" jawab Mila sudah terisak.
Ruli juga sangat iba melihat Mila dan akan menangis juga. Kasihan melihat Mila yang sudah banjir air mata.
"Atau jangan-jangan, lu sudah bayar uang kuliah lu"
"Belum...belum...gue malah mau bayar sekarang. Aduh...gimana, nih..."
"Lagian...kenapa gak langsung transfer aja sih uang kuliah lu. Ini nih...salah satu yang dikhawatirkan. Kalau pake uang tunai. Ribet kan ?"
Mila berhenti mencari. Duduk lesu ditepi tempat tidurnya dan menangis tersedu-sedu. Melihat keadaan Mila itu, Ruli merasa sangat bersalah atas perkataannya. Ruli pun berusaha menghibur Mila.
Tidak berapa lama kemudian, Tari datang dan melihat mereka. Begitu melihat pakaian Mila berantakan dan pintu lemari Mila terbuka lebar, Tari langsung menduga kalau Mila sudah mengetahui uangnya hilang.
Tanpa ragu, bahkan menampilkan wajah berekspresi bingung; Tari pun menghampiri mereka. Menginterogasi mereka berdua.
"Ada apa ?" tanya Tari, sok kaget.
__ADS_1
"Uang Mila hilang. Uang kuliahnya" jawab Ruli disela isak tangisnya. Masih memeluk Mila yang menangis pilu.
"Hilang ?...masa sih ?..." kata Tari dengan ekspresi sedih, bersimpati.
Tari membantu mereka, mencari-cari ditumpukan baju Mila. Sambil sesekali bertanya pada Mila akan keyakinan ingatannya bahwa Mila memang menyimpan uangnya dilemari. Mila menjawab hanya dengan mengangguk. Karena tak sanggup lagi untuk berkata-kata.
Tangis kesedihan dan wajah keletihan ayahnya yang melintas difikirannya, sangat menyesakkan dadanya.
"Ini dompet lo, Mil" kata Tari bahagia, menemukan dompet Tari.
"Uangnya tidak didompet, Ri. Tapi didalam amplop" jawab Ruli, masih mewakili Mila.
"Ooo..." kata Tari setengah suar, manggut-manggut. "Gue tahu kok" bisik Tari didalam hatinya.
Sedikitpun hati Tari tidak trenyuh, melihat kesedihan Mila itu. Sedang Ruli sudah menangis bersama Mila. Lalu meminjamkan uangnya kepada Mila.
"Nih..Mil. Lu pakai uang gue aja dulu"
"Eit !...Eh !..."kata Tari spontan. Melonjak berdiri, kaget. Menepis dengan tiba-tiba tangan Ruli yang sedang menyerahkan uangnya kepada Mila.
Seketika Ruli dan Mila juga kaget. Terdiam dan terbengong, melihat Tari. Kemudian Tari menyadari hal itu dan segera bersikap manis kepada keduanya.
"Maksud gue...lo baik banget, Li" kata Tari lembut. Meraih uang itu dan menyerahkannya pada Mila. "Thanks ya, Li. Sudah mau menolong Mila"
"Gak usah berterima kasih begitulah, Ri. Mila kan teman kita. Tugas kita untuk menolong teman"
"Mil, kok diam aja. Bilang makasih dong sama Ruli" kata Tari sambil menyikut lembut lengan Mila yang masih terpaku sedih dan haru.
"Tapi gue gak tahu cara bayarnya, Li"
"Ntar aja itu kita fikirkan. Lu besok bayar gih...uang kuliah lu. Ntar telat lo" jawab Ruli dengan wajah jujur dan tulus.
"Lo memang teman yang sangat baik, Li" kata Tari dan memeluk mereka berdua.
Tari berlagak bahagia memerankan tokoh baiknya. Hingga bersikap bak seorang mama yang baik nan sopan. Mengingatkan anaknya untuk tahu memuji dan berterima kasih. Copypaste dari sikap dan kata-kata Miss Cecil***
__ADS_1