PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Galau Berujung


__ADS_3

Bintang masih terngiang-ngiang kata-kata Fitri, bahwa Anton kena pellet Tari. Anton harus diobati orang pintar. 100% Bintang membenarkan pendapat Tari itu. Hanya bagaimana cara Bintang membawa Anton ke orang pintar. Secara Fitri sudah menyetujui untuk membicarakan hal tentang Anton ke kakek Toni.


"Yah...Toni" pekik Tari didalam hati. Seakan mendapatkan pencerahan.


"Minta bantuan Toni saja untuk membawa Anton main kerumah kakeknya. Lalu diobatin deh disana. Cihuiii..." Bintang bersorak riang didalam hatinya.


Akhirnya Bintang dapat bernafas lega. Telah menemukan ide cemerlang untuk menyelamatkan Anton dari pengaruh pellet Tari. Setelah itu Bintang akan jadi makcomblang Anton dan Karina.


Sementara Anton sedang duduk bersama dengan papi dan maminya, diteras depan rumah mereka pada suatu sore. Anton sedang menyampaikan niatnya untuk menikah dengan Bintang.


"Ooo...jadi kamu udah punya pacar toh. Kenapa gak pernah dikenalin sama papi dan mami" kata papi. Merasa surprise mendapat kabar ini langsung dari Anton.


"Iya ya, pi. Tiba-tiba aja udah minta ijin mau menikah dengan....siapa tadi namanya..." tanya mami. Tak kalah bahagianya dari papi.


"Tari, mi. Tari Sriwulan" jawan Anton


"Nama yang indah" komentar mami, tulus.


"Kita sebagai orang tua, setuju. Kalau kamu sudah komitmen untuk menikah" kata papi, menyetujui niat Anton.


"Papi mami setuju ?" tanya Anton lagi. Karena sangat bahagia.


"Tentu setuju" jawab mami.


Spontan Anton memeluk kedua orang tuanya itu. Menciumi pipi mereka. Secara bertubi-tubi dan bergantian. Membuat kedua orang tuanya itu teryawa-tawa bahagia. Melihat anaknya bahagia.


Bintanglah yang sangat urung-uringan dan shock. Mendapat kabar rencana Anton akan menikahi Tari, dari papi via telepon. Papi menyampaikannya sangat bahagia. Bintang yang mendengarnya. hanya terdiam. Bingung dan tidak rela.


Padahal rencana Bintang baru susunan rencana dan belum terlaksana.


"Pi...papi kan belum kenal sama Tari. Seharunya jangan langsung setuju" kata Bintang dari sebrang sana.


"Tapi kan Bang Anton sudah kenal, Bin. Lagiankan Ban Anton sudah dewasa. Dia pasti sudah tahu yang terbaik untuk dirinya. Kan yang mau menikah Bang Anton, bukan papi" jawab papi menjelaskan dengan bercanda.


Bintang masih sangat kesal dan tidak rela. Saat papi menutup pembicaraan mereka. Karena itu keesokan harinya, Bintang minta ijin pada Ibu Pur untuk menemui orang tuanya.


Setelah dapat ijin Ibu Pur. Bintang langsung kerumah orang tuanya. Tidak naik taksi. Tapi naik motor on line. Katanya biar cepat.

__ADS_1


Begitu tiba dirumah, Bintang langsung menemui orang tuanya dan membicarakan tentang sosok Tari. Menceritakan keburukan Tari. Mulai kebiasaannya mencuri uang teman-teman sekamarnya. Menyiram saos sambal ke mata Martha. Meneror Mila, hingga menjadi pelakor atas hubungan Fitri dan Toni.


"Karena Toni itu tajir, mi. Orang tuanya pun kaya. Jadi Tari mengejar Toni. Terang saja Toni tidak mau. Habis si Tari itu norak, jorok, jelek. Semuanya yang jelek deh, mi. Ada pada Tari ini"


"Gak boleh julid, nak. Pantang" nasehat mami pada Bintang. Membuat Bintang semakin kesal. Bukannya mendapat dukungan dari orang tuanya. Eh...malah dikasih nasehat.


Bagaimanapun gigihnya usaha Bintang mempengaruhi orang tuanya, tampaknya tidak akan berhasil. Karena papi maminya merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Kecuali merestui niat Anton.


Anton yang sangat bahagia. Telah dapat restu dari orang tuanya. Beberapa hari kemudian menemui Tari diasrama dan mengajaknya makan malam disebuah kafe. Moment itulah dipakai Anton untuk menyampaikan berita bahagia ini kepada Tari.


"Papi dan mami merestui rencana kita. Kita akan menikah" kata Anton dengan sangat bahagia. Sambil menggemggam kedua tangan Tari.


"Bagus, dong. Lalu..."


"Lalu...aku dan keluargaku akan menemui orang tua kamu untuk melamar kamu. Kamu harus beritahukan hal ini kepada ibu kamu"


"Ibuku ?"


"Iya:


"Jreng !" seketika bayangan wajah ibu, mengusik fikiran Tari. Mengobok-obok suasana hatinya. Sesaat tadi sangat bahagia. Beberapa detik kemudian hancur berantakan.


"Nggg...ya..."


Tak ada gairah Tari untuk merespon pertanyaan Anton. Hatinya sangat gusar. Karena harus berhadapan lagi dengan ibu.


Sama gusarnya dengan Bintang yang tidak rela, jika Tari menjadi bagian dari keluarganya. Juga gusar, karena merasa bersalah pada Karina. Telah gagal jadi makcomblang.


"Gue dan Bang Anton gak berjodoh, Ri"


"Tapi...mengapa harus Tari, sih. Abang gue gelap mata banget. Gak bisa apa, dapat perempuan normal"


"Lo kata Tari gak normal" komen salah seorang teman seangkatan Bintang.


"Gak lah...dia kan sudah lebih dulu kawin dengan bayangan" komen teman Bintang yang lain.


"Eh iya, Bin. Berarti abang lo dapet bekas dong. Kasihan amat abang lo. Udah jelek, barang bekas lagi" yang lain ikut komen.

__ADS_1


Akhirnya Karina semakin kasihan melihat Bintang. Lalu membawa Bintang menjauh dari teman-temannya itu. Saat mereka sedang berjalan bersama itu. Tari melihat mereka dari kejauhan.


Hati Tari terbakar melihat mereka berdua. Tapi syukur, tak bisa diluapkan. Karena mereka tengah berada dilingkungan kampus. Seandainya diluar kampus, Tari sudah menjambak kedua orang itu. Lalu mendorong mereka ke jalan disaat ada mobil yang melintas. Agar mereka terlindas dan Tari akan tertawa-tawa bahagia sangat kencang.


"Hheee..." Tari menghela nafas, berat. Bayangan jahat tadi seketika tersingkir oleh bayangan wajah ibu.


Tawa-tawa bahagia yang tadi dikhayalkannya, seketika sirna. Berubah jadi senyum pahit. Karena Tari harus mempersiapkan diri untuk bertemu ibu lagi. Bukan karena Tari takut bertemu ibu. Tapi Tari eneg melihat ibu. Bawaannya ingin muntah diwajah ibu.


Belum lagi tuntas masalah itu. Eh...masalah keoriginalannya pun kini membuat hatinya gelisah. Kegelisahan itu baru terjadi. Saat melakukan kewajiban perjanjian pertemuannya dengan Mbah Kahpok. Kini Mbah Kahpok tengah sangat bergairah diatas tubuhnya.


Tari pun hanya dapat memalingkan wajahnya. Berharap Mbah Kapok segera mendapat *******.


"Huh !...syukur. Hanya satu episode" bisik Tari didalam hatinya. Ketika Mbah Kahpok usai. Meraih rokoknya dan menghisapnya. Menghembuskan asapnya ke udara dan memainkan batang rokok itu pada jarinya.


"Mana lebih dulu mau dituntaskan" tanya Mbah Kahpok. Membuat Tari kaget dan bingung. Arah pertanyaan Mbah Kahpok ini.


Mbah Kahpokpun memperhatikan Tari yang sedang mengenakan pakaiannya didepan Mbah Kahpok. Sebenarnya Mbah Kahpok mengetahui, kalau Tari ingin menikah dengan Anton. Tapi Tari mulai ragu. Setelah menyadari kalau dirinya tidak perawan lagi.


Hanya Mbah Kahpok tidak ingin mengungkapkannya langsung. Biarkan saja Tari yang mengemis pada Mbah Kahpok untuk minta bantuannya.


Mbah Kahpok juga tahu, kalau ada beberapa teman Tari yang ingin menjahatinya. Itupun Mbah Kahpok enggan memberitahunya. Alasan sama, biarkan Tari mengemis pada Mbah Kahpok. Minta bantuannya.


Kecuali satu, Fitri. Mbah Kahpok sangat mengingini tubuh Fitri.


"Temanmu Fitri, masih dendam padamu. Dia ingin balas dendam dengan memakai jasa kakeknya Toni"


"Apa ?!" Tari kaget. Sampai lupa mengancing bajunya pada bagian dada dan tersembullan dua buah gelimang daging itu.


"Tuing" sesuatu yang dibagian bawah Mbah Kahpok mulai mengeras. Untungnya Mbah Kahpok mengenakan sarung. Jadi tidak diketahui Tari.


"Mbah...tahu Toni"


"Tidak. Tapi saya tahu kakeknya"


"Kakeknya akan berbuat apa pada saya"


"Tidak akan berbuat apa-apa." kata Mbah Kahpok. Sambil menarik tangan Tari untuk duduk disampingnya. Taripun patuh dan duduk disamping Mbah Kahpok.

__ADS_1


"Kakek Toni adalah adik seperguruan saya" kata Mbah Kahpok. Sambil merangkul pundak Tari dan meremas kedua gelimang daging itu. Lalu Mbah Kahpok menarik satu tangan Tari dan dimasukkan kedalam sarungnya.


"Tak akan ada yang mengganggumu. Selama kamu bersama saya" suara Mbah Kahpok telah penuh *****. Tangan Mbah Kahpok semakin nakal. Tangan Taripun demikian. Hingga pergulatan ronde keduapun terjadi.


__ADS_2