
Melihat Tari keluar dari dalam klinik, Bintang dan Bila saling berpandangan dengan tatapan was-was dan kecurigaan. Lalu segera mengejar Tari. Sebelun Tari pergi menjauhi klinik.
"Apa yang lo lakukan didalam klinik !" tanya Bila curiga. Setelah mereka berhasil menghadang Tari. Agar tidak lari.
"Melakukan apa yang harus gua lakukan. Ada yang keberatan ?" jawab Tari santai dengan senyuman sinis mengembang dibibirnya.
"Apa yang lo lakukan !" desak Bintang mulai memperlihatkan kepanikannya.
"Suka-suka gua !. Itu hak gua !. Minggir kalian !..."
Tari mengunci pintu klinik itu dan menyimpan kuncinya didalam saku bajunya. Lalu melangkah angkuh ditengah Bila dan Bintang.
"Kembalikan kunci itu !" kata Bila.
"Tidak !" kata Tari, kini dengan memperlihatkan senyum kemenangan yang sombong.
"Kurang ajar !... Pelacur !..." kata Bintang sangat marah. Sambil tangannya menjambak kuat rambut Tari.
Taripun mengaduh kesakitan. Lalu berbalik, berhadapan dengan Bintang. Menggapai rambut Bintang dengan satu tangannya. Tangannya yang satu lagi berusaha melepaskan tangan Bintang dari rambutnya dengan mencakar-cakar tangan Bintang. Bintang mengaduh kesakitan dan terpaksa melepaskan tangannya dari rambut Tari.
Kesempatan itu akan dipergunakan Tari untuk menjambak rambut Bintang. Tapi Bila sudah terlebih dahulu mendorong kuat tubuh Tari. Taripun terjatuh beberapa langkah dari Bintang.
"Kalian keroyokan !.. KDRT !... Gua akan lapor polisi !" kata Tari mengancam.
Lalu Tari bangun, berdiri dan melangkah pergi, akan menjauhi mereka. Melihat itu Bila dan Bintang bernafas lega dan lalai memperhatikan Tari. Sekedar memastikan bahwa Tari sungguh melangkah pergi, menjauhi mereka.
Tari melihat ada kesempatan untuk membala. Seketika Tari berbalik dan langsung menyerang Bintang dengan menjambak rambut Bintang sekuat tenaganya dengan kedua tangannya.
"Krek !"
"Mati kau !" teriak Tari marah.
"Buk !" Bintang terjatuh. Pantatnya menghantam kuat ubin teras depan klinik.
Sedangkan kedua tangan Tari masih menjambak rambut Bintang.
"Aaaaa !!!" teriak Bintang kaget dan kesakitan.
Tari langsung menyeret Bintang.
"Mati kauuuuu !!!!" teriak Tari lagi. Sambi masihl menyeret Bintang.
Tentu Bila tidak tinggal diam. Bila mencengkeram kuat kedua tangan Tari. Tari tidak bergeming untuk melepaskan tangannya dari rambut Bintang. Melihat itu sia-sia, Bila pun menjambak rambut Tari dengan lebih kuat lagi.
Kini tampak pemandangan yang dramatis. Bintang pada posisi duduk dilantai, diseret Tari dengan posisi sedikit membungkuk dan Bila menjambak Tari dari belakang Tari. Posisinya berdiri menjambak rambut Tari dengan lebih kuat lagi.
"Lepaskan rambut adik gue !" teriak Bila.
__ADS_1
Tiba-tiba mobil Anton masuk kehalaman rumah. Anton kaget dan panik melihat aksi jambak-menjambak itu. Tergesa-gesa Anton keluar dari dalam mobil. Lalu berlari kearah mereka dan melerai mereka.
"Berhenti kalian semua !. Perempuan gia !" bentak Anton.
Segera merekapun saling melepaskan aksi jambak-menjambak itu.
"Kau lihatkan ?... Mereka selalu menyerangku. Keroyokan lagi..." kata Tari dengan suara sedih.
Sambil memegangi kepalanya. Tari mengaduh-aduh kesakitan dan hampir menangis. Terduduk diatas tanah depan teras klinik.
"Lu yang lebih dulu nyerang gue" kata Bila membela diri.
"Stop !.. Aku tidak mau lagi ada keributan dirumah ini !" kata Anton, marah.
"Katakan itu pada istrimu..."
"Plak !"
Tak terduga Anton menampar Bintang. Membuat Bintang terdiam. Kata-katanya terpotong. Bila kaget menyaksikan hal itu. Taripun kaget, bahagia. Spontan Tari berdiri dan tersenyum sombong. Menatap Bila dan Bintang, secara bergantian.
"Bagus.. Tampar lagi. Biar tahu diri dia" kata Tari dan melirik-lirik Bintang dan Bila.
Karena Tari merasa mendapat pembelaan dari Anton. Tari terangsang akan menyerang Bintang lagi. Tari akan melangkah mendekati Bintang. Anton yang menyadari hal itu, segera mencengkeram tangan Tari dan menariknya untuk masuk kedalam rumah.
Kali ini Tari tidak berusaha meronta, hanya memilih patuh. Sambil tatapannya hanya tertuju pada Bintang dengan senyum kemenangan.
"Mampus kau !" kata Tari tanpa suara. Hanya dengan gerakan bibir. Sebelum masuk kedalam rumah
Tiba didepan pintu kamar, barulah Anton melepaskan cengkeramannya dari tangan Tari.
"Kamu pilih, diam didalam kamar atau masih mau gaduh. Kalau masih mau gaduh... Lebih baik kau segera keluar dari rumah ini. Kita cerai !..."
"Plak !"
Spontan Tari menampar pipi Anton.
"Brak !"
Lalu menutup pintu kamar dengan cara menghempaskannya. Seketika Anton menahan nafasnya, karena kaget. Nyaris saja daun pintu itu menjempit jari-jarinya.
Tari masuk kedalam kamar. Sedangkam Anton duduk diruang keluarga. Menantikan Bila dan Bintang. Anton yakin, Bila dan Bintang pasti akan masuk kedalam rumah.
Yah...mood Bila dan Bintang untuk bekerja sudah hilang. Mereka masuk kedalam rumah. Ketika Anton melihat mereka masuk, segera Anton berdiri dan menedekati mereka dengan kepala tertunduk.
Anton tidak berani bertatapan dengan mereka. Begitu pula Bila dan Bintang, tidak ingin melihat Anton. Walaupun pipi Bintang yang ditampar Anton. Tapi rasa sakitnya ada dihati Bintang.
Hal yang sama juga dirasakan Bila. Begitu pula Anton. Ingin rasanya Anton memotong tangannya yang tadi sudah menampar Bintang. Tapi perasaan bersalah itu harus ditutupinya didepan mereka.
__ADS_1
Agar mereka melihat sikap Anton yang membela istrinya. Sebesar apapun kesalahan istrinya, Anton tetap memilih membela istrinya. Itulah yang dilakukannya, yaitu menjalankan tugas sebagai suami.
Juga Anton ingin memperlihatkan kepada kedua saudaranya itu, bahwa Anton orang yang harus dihormati sebagai satu-satunya anak laki-laki orang tua mereka. Jadi hanya peraturan Anton yang harus berlaku dan dipatuhi semua penghuni dirumah ini.
Sesuai pendapat Tari yang memang dibenarkan Anton. Kini sedang dijalankannya.
"Kalian tidak menghargai aku sebagai anak laki-laki dirumah ini. Laki-laki satu-satunya anak..." kata Anton dengan tersendat. Beberapa saat terdiam lagi.
Sepertinya sangat berat menggerakkan lidahnnya. Anton gelisah, lalu menghela nafas berat.
"papi dan mami" kata Anton dengan berat. Nada suaranya sangat pelan. Seperti sedang berbisik pada angin.
"Istrimu itu yang selalu..."
"Ssssttt..."
Cepat Bila menutup mulut Bintang dengan satu tapak tangannya. Melarang Bintang untuk memberi jawaban. Apalagi dengan suara lantang.
Bila tidak ingin bantahan Bintang semakin memperkeruh keadaan. Membuat posisi mereka semakin tersudut dan Anton semakin putus asa.
"Lebih baik Kak Bila keluar dari rumah ini" kata Anton samar-samar dan suara bergetar.
"Apa !?" kata Bintang kaget.
"Abang sadar gak sih...dengan apa yang abang katakan itu ?!" tanya Bintang, marah dan kecewa.
Anton masih tertunduk. Perasaan bersalah kembali menyerangnya. Terbayang wajah papi dan maminya. Juga wajah Happy.
Seakan Anton diperhadapkan pada dua pilihan. Pilihan yang sebenarnya tidak ingin dipilihnya. Antara orang tuanya atau Happy.
Jika memilih orang tuanya, maka Anton harus bercerai dari Tari. Ini demi keharmonisan hubungan keluarga yang telah dibina papi dan maminya.
Jika bercerai dari Tari, bisa saja Anton kehilangan Happy. Karena Tari pasti tidak ingin Anton mendapatkan hak asuh Happy. Segala cara akan dilakukan Tari untuk memisahkan Happy dan Anton. Hal itu bisa merusak suasana batin Happy.
Jika memilih Happy, berarti Anton harus kehilangan keluarganya. Contohnya seperti yang baru dikatakan Anton. Meminta Bila keluar dari rumah mereka ini.
"Coba katakan sekali lagi" tantang Bintang pada Anton.
"Kalau kau mau ikut keluar... Silahkan"
"Yah !... Silahkan !... Pintunya terbuka lebar" kata Tari tiba-tiba.
Tampak Tari keluar dari kamar dengan kegirangan. Melangkah lebar akan mendekati mereka bertiga.
Tentu saja Bintang dan Bila, kaget. Begitu pula dengan Anton. Spontan bersamaan mereka menatap kearah Tari. Sambil melangkah, sambil juga menari-nari kegirangan.
Emosi Bintang dan Bila pun seketika memuncak kembali. Ingin melabrak Tari yang sedang menari bahagia itu.
__ADS_1
"Abang itu hanya anak angkat !..." teriak Bintang dan spontan membuat Tari terdiam, terpelongo.***
(terima kasih masih setia membaca novelku ini ⚘ini untukmu)