
Emosi Bintang dan Bila pun seketika memuncak kembali. Ingin melabrak Tari yang sedang menari-nari bahagia itu.
"Abang itu hanya anak angkat !..."teriak Bintang dan spontan membuat Tari terdiam, terpelongo. Matanya terbelalak menatap Anton.
Anton kembali menunduk. Padahal sesaat tadi kepalanya telah tegak untuk menatap tajam mata Bintang.
"Jadi abang tidak berhak mengusir kami !"
"Sudah !" Bila membentak Bintang.
"Kalau itu mau kamu...Oke" lanjut Bila. Menjawab Anton dengan tegas, tanpa ragu.
"Kak...Gak...Jangan..."
Bintang mencoba mencegah keputusan Bila. Tapi tampaknya sia-sia. Sepertinya keputusan Bila itu sudah mantap. Seirama dengan langkah kakinya yang mantap akan menuju kamarnya. Anton melirik Bila.
Sebenarnya hal itu membuat rasa bersalah dihati Anton semakin besar. Tapi fikirannya mempengaruhinya, bahwa inilah yang terbaik. Mereka harus berpisah rumah.
"Papi yang meminta Kak Bila untuk tinggal dirumah ini. Jadi keputusan papi yang harus dipatuhi. Bukan keputusan abang. Abang sungguh tidak tahu diri. Bintang tidak menyangka, abang mengkhianati papi kami" kata Bintang sangat kecewa. Menumpahkan kekesalannya atas keputusan Anton.
Tapi kata-kata Bintang itu semakin menyulutkan amarah Anton. Anton menatap Bintang dengan tajam. Menghalau rasa bersalah yang tadi hinggap menyiksa dirinya.
"Kau belum lahir, sejak aku diangkat jadi anak papi. Kini papi sudah meninggal..." kata Anton dengan suara berat.
"Sekarang keputusanku yang berlaku. Kalau kau tidak suka, silahkan angkat kaki dari rumah ini" lanjut Anton sangat tegas.
"Horeeeee....Syukur... Syukuurrr...." teriak Tari kegirangan dengan tidak tahu malu.
Lalu berjalan akan kembali menuju kamar mereka dengan berjalan berlenggak-lenggok. Sok jadi pragawati yang sedang catwalk.
Emosi Bintang terpancing keluar lagi. Spontan bergerak akan menghampiri Tari. Tapi Anton lebih cepat dari gerakan Bintang. Anton telah terlebih dahulu menghampiri Tari dan segera menarik Tari untuk lebih cepat melangkah. Masuk kekamar dan langsung mengunci pintu kamar eks papi dan mami yang telah menjadi kamar mereka.
"Bang Anton !... Kalau abang mau dihormati, bukan begini caranya. Bukan cara arogan seperti ini. Bang !..." kata Bintang, berdiri didepan pintu kamar mereka.
Tapi tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh Tari lagi.
"Lo budek, ya !. Kurang jelas apa kata Anton !" kata Tari jutek dari ambang pintu kamar mereka.
"Kurang ajar !" kata Bintang sudah sangat marah.
"Diaaaammm !!!..." kata Anton melerai dengan berdiri dibelakang Tari.
"Aku muak dengan semua ini !. Muak !" teriak Anton dan langsung menghempaskan pintu sangat kuat, hingga tertutup.
"Brak !"
Ternyata Bila kembali turun. Ketika mendengar Bintang dan Tari masih bertengkar. Begitu Anton menghempaskan pintu kamar mereka itu, begitu pula Bila menarik paksa tangan Bintang untuk segera pergi.
__ADS_1
Bila menarik tangan Bintang untuk kembali kekamar mereka sendiri dilantai dua rumah itu. Sebelum Bintang kekamarnya sendiri, Bila menarik tangan Bintang untuk masuk kekamar mereka.
Ternyata didalam kamar mereka sudah ada Edhi. Tentu membuat Bila dan Bintang kaget. Melihat Edhi yang sedang duduk ditepi ranjang mereka. Padahal tadi sebelum Bila akan berangkar kerja, Edhi sudah lebih dulu berangkat kerja.
"Aku sudah mendengar semuanya. Aku tadi kembali lagi. Karena hpku tertinggal. Aku melihat kalian bertengkar lagi" kata Edhi tenang.
Edhi mengangkat wajahnya dan menatap Bila dengan tatapan sendu.
"Sayang, kita pindah saja. Aku tidak mau melihat kalian gaduh melulu. Kita harus pindah... Sekarang juga"
"Ayo, Bin... Kamu ikut kakak" kata Bila pada Bintang. Sejenak Bintang menatap Edhi.
"Iya, Bin...Kamu ikut kami. Ayo..." kata Edhi pada Bintang.
"Maaf, kak...bang. Bintang akan tetap disini, dirumah papi dan mami..."
"Tapi, Bin.." kata Bila. Tidak rela dengan keputusan Bintang itu.
"Bintang akan baik-baik saja. Percayalah, kak" kata Bintang dan berlalu dari kamar Bila. Berjalan lesu menuju kamarnya sendiri.
"Bang..." rengek Bila sedih. Segera Edhie memeluk Bila dengan mesra.
"Pelan-pelan kita bujuk Bintang untuk ikut bersama kita, ya. Ijinkan dia saat ini mempertimbangkannya" bisik Edhi lembut ditelinga Bila.
Sementara Tari telah berada diwarung Mbak Ipeh. Sejak Bila menarik tangan Bintang. Tari langsung ngacir untuk menyebarkan kabar sukacitanya itu. Pertama-tama ke warung Mbak Ipeh.
Sambil berjingkrak-jingkrak masuk kewarung Mbak Ipeh. Membuat beberapa orang yang sedang berada diwarung itu bersama Mbak Ipeh, spontan terdiam dan menatap Tari dengan terheran-heran.
"Gua berhasil Mbak Ipeh. Gua berhasil !"
"Berhasil apa" tanya Mbak Ipeh, basa-basi.
Karena dugaan Mbak Ipeh, pasti Tari habis gaduh lagi dengan Bintang atau Bila. Lalu berhasil menjambak rambut mereka.
"Basi" bisik Mbak Ipeh didalam hatinya.
"Si Bila hari ini angkat kaki dari rumah itu"
"Apa !?" tanya beberapa orang dan Mbak Ipeh, nyaris bersamaan. Mereka terperankat, kaget.
"Kenapa dia pergi"
"Pergi kemana ?"
"Kemana dong kita berobat lagi"
"Berarti klinik tutup dong"
__ADS_1
Tanya orang-orang tadi antusias. Mengekspresikan kekagetan mereka.
"Klinik tetap buka. Dokter tetap ada kok"kata Tari menjawab orang-orang itu. Agar mereka tidak grasak-grusuk.
Belum saatnya untuk heboh. Karena Tari ada rencana lain, rencana yang sangat menghebohkan.
"Oooo...dokter Bila hanya pindah rumah. Tapi tetap sebagai dokter diklinik itu" kata seseorang yang berada diwarung itu dengan sok tahunya
"Bukan... dokternya saya ganti" jawab Tari.
"Siapa ?..."
"Baik kagak dokternya. Maksud gue, ramah kagak dokternya.
"Bertangan dinginkah ?..."
"Cewek atai cowok, pengganti Bila itu"
"Aduh...kok dokter Bila pergi gak kasih pemberitahuan sebelumnya.."
"dan blablablabla..." banyaklah tanya orang-orang itu. Seakan mereka tidak rela melepaskan Bila.
Tentu saja Tari sangat kesal. Harus melayani pertanyaan mereka semua. Bukannya mereka bersukacita, mendapatkan kabar itu. Tapi seakan berduka cita. Kehilangan dokter kesayangan mereka, yaitu Bila.
Bila yang mereka kenal itu baik, lembut, ramah dan bertangan dingin. Tidak juga membuat tarif mahal. Terjangkaulah oleh mereka-mereka. Malah dari mereka yang tingkat ekonomi lemah, sering tidak dipungut pembayaran. Jika berobat diklinik itu.
Tari tidak tahan lagi mendengar kisah sanjungan mereka akan seorang dokter Bila. Segera Tari berlalu dari warung Mbak Ipeh. Menuju markasnya yang kedua, yaitu rumah Tantr Hombing.
Terlebih dahulu Tari membeli banyak gorengan Mbak Ipeh. Sebagai suap untuk bisa masuk kerumah Tante Hombing dan Tante Hombing mau mendengar kabar sukacitanya ini.
Walaupun masih dengan untung-untungan. Semoga beruntung, pintu pagar rumah Tante Hombing tidak terkunci. Semoga saat ini Tante Hombing lagi sangat ingin makan gorengan. Teman kopi manis hangat kesukaan Tante Hombing. Sambil nonton TV.
Maka kloplah untung-untungan Tari itu. Sesuai dengan predikai. Ketika datang kerumah Tante Hombing. Walaupun saat menyambut kedatangan Tari, Wajah Tante Hombing sangat jutek. Tidak kena dengan suap gorengan Tari.
Tapi Tari tidak perduli. Langsung meletakkan gorengan itu diatas meja yang ada di depan Tante Hombing. Berdampingan dengan kopi si tante. Seiring dengan meletakkan pantatnya juga disamping Tante Hombing. Seiring pula dengan dimulainya kisah kabar sukacitanya itu dengan kata-kata joroknya.
"Sudah diusir si Anton si l*nt* satu itu, tan" kata Tari dengan mulut penuh. Karena tengah mengunyah satu gorengan sekaligus.
"Siapa ?" tanya Tante Hombing, kaget.
"Si dokter gadungan, l*nt* Bila"
"Memangnya ada apa. Kenapa dia diusir"
"Ngeyel dia !... Mampuslah dia sekarang !. Tinggal si l*nt* Bintang itu. Dia juga harus diusir, pakai cepat. Bagaimana caranya ya, tan. Aku sudah sangat sebel melihat dia. Terlalu sakit hatiku dibuat si l*nt* Bintang itu"
"Biarlah dia disitu. Toh... ada saatnya, Bintang juga akan pergi dari rumah itu. Doakanlah biar dia dapat jodoh. Biar dibawa jodohnya itu pergi dari rumah itu"
__ADS_1
"Haahh ??...Mendoakannya agar dapat jodoh !?. Gak sudi aku. Aku hanya mendoakannya, agar dia cepat mati...atau...kubunuh saja si Bintang itu, tan ?"***