PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Harus Ada Korban


__ADS_3

Tari menggenggam kuat pentungan itu dengan kedua tangannya. Mengangkatnya tinggi diatas kepalanya dan akan menghantamkannya dengan sangat kuat ke kepala Mila. Sambil menatap Mila yang masih meronta-ronta dibawah kakinya dengan senyum kepuasan.


"Selamat jalan ke neraka" kata Tari.


"Berhentiiiii !!!..." teriak Bang Sotar tiba-tiba.


Karena terganggu dengan teriakan Bang Sotar, Tari mengurunhkan niatnya. Menatap marah kearah Bang Sotar yang tampak tengah berlari kearahnya dan diikuti Mang Kimun yang berlari dibelakang Bang Sotar.


"Gggrrr...Kurang ajar !"


Tari menggeram marah dan menyongsong kedua orang petugas ronda itu. Berlari kencang kearah mereka. Bagai banteng yang akan menanduk dua orang yang berbaju merah didepannya.


Mang Kimun dan Bang Sotar kaget. Tapi terlambat untuk berhenti. Apalagi untuk menghindar. Karena jarak mereka sudah sangat dekat.


"Buk !... Buk !...Prak !..."


Tari menyeruduk mereka dengan sangat kencang. Bang Sotar yang bertubuh kecil kurus, melayang kebelakang dan jatuh dibahu jalan. Sedang kepala Mang Kimun sempat dihantam Tari dengan pentungan itu, sangat kuat. Membuat Mang Kimun roboh, terduduk diatas trotoar.


Tari tersenyum puas melihat mereka telah ditaklukkannya. Walaupun tidak sangat puas. Lalu kembali akan memukulkan pentungan itu ke kepala Mang Kimun. Hingga Mang Kimun benar-benar roboh. Jatuh tergeletak diatas trotoar.


Tapi sebelum itu Tari ingin memuaskan matanya. Menatap Mang Kimun yang sudah sangat kesakitan. Hanya bisa tertunduk dan mata terpejam rapat. Sayup-sayup terdengar suara rintih kesakitannya.


"Lo bodoh !...Lo membuat gua sangat marah. Lo biarkan orang-orang itu lolos. Padahal mereka akan mencelakai gua. Lebih baik lo berhenti deh jadi petugas ronda. Lo...Gua nyatain sekarang...pensiun !"


Tari mengayunkan pentungannya. Mang Kimun hanya bisa melihat pentungan itu berayun-ayun didepan wajahnya dengan pasrah dan dia tahu akan diarahkan ke kepalanya.


Mang Kimun sudah tidak berdaya. Akibat terkena hantaman pentungan itu ke kepalanya sudah beberapa kali. Hantaman yang terakhir itu, telah membuatnya sangat tidak berdaya. Bahkan sebentar lagi bisa saja dia jatuh tergeletak diatas trotoar itu.


Kepalanya sangat sakit dan Mang Kimun sudah merasakan ada darah yang menetes dari kepalanya ke wajahnya.


"Hahahaha...."


Kembali Tari tertawa kencang nan bahagia. Melihat tetesan darah diwajah Mang Kimun.


"Lo tumbalnya. Gara-gara lo, gua kehilangan mangsa. Si Mila itu tidak jadi mati. Itu karena lo !. Lebih baik lo mati saja !. Maaaaa....tiiiii...."


"Buk... Buk !..."


Saat Tari akan menghantamkan pentungan itu ke kepala Mang Kimun. Tiba-tiba Bang Sotar sudah menyeruduk perut Tari sangat kuat. Hingga Tari terdorong beberapa langkah ke belakang dan jatuh terduduk diatas trotoar.


"Kurang ajar !" umpat Tari kencang. Lalu bangun dan berdiri. Langsung menyeruduk kuat Bang Sotar.


Padahal Bang Sotar belum sempat membuat strategi pertahanan, maupun perlawanan. Jika musuh seketika menyerang balik dengan membabi buta. Tentu saja tubuhnya yang kurus kecil itu, tidak sanggung bertahan. Ketika Tari menyeruduknya.


"Buk !..."


Tubuh Bang Sotar terdorong sangat jauh kebelakang. Sampai ketengah jalan.


"Brak !... Buk !...Gedebuk !..."

__ADS_1


"Ciiiiiittttt....."


"Gubrak !... Gubrak !....Praaaannnngg..."


Sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dijalanan sunyi itu, menyambar tubuh Bang Sotar dan tersangkut distang motor.


Sipengendara motor kaget dan panik. Langsung menginjak pedal rem dan akhirnya mereka jatuh. Motor dan sipengendaranya terseret beberapa meter dari tempat tadi terjatuh. Sedang Bang Sotar kembali melayang dan jatuh juga diatas aspal.


"Buk !...."


"Aaaaa !!!!...." jerit Bang Sotar beberapa detik. Lalu diam dan tubuhnya pun tak bergerak.


Semua kejadian itu dilihat Tari dengan kenikmatan yang luar biasa. Senyum kepuasan semakin terkembang lebar dibibirnya.


Ketika semua sudah diam, sepi pun menyerang. Taripun menoleh kekiri, kekanan dan kearah belakang. Keadaan disekitar itu memang sepi. Apalagi bila sudah datang malam dan masuk ke tengah malam.


Para penghuni rumah dilingkungan mereka itu, sangat tertutup. Pergaulan antar tetangga sangat kaku dan cuek. Keadaan itu sangat menguntungkan Tari. Tidak ada rasa ketakutan yang menerornya saat itu.


Malah Tari masih berjalan santai kearah tadi Mila terjatuh. Tapi Mila sudah tidak ada lagi. Tari menebarkan pandangannya, terkhusus fokus kearah depan yaitu arah rumah dan klinik Mila berada. Hanya tinggal beberapa rumah lagi dari lokasi kejadian itu.


Tapi Mila tidak ditemukan Tari lagi. Jejaknya pun hilang disapu malam. Padahal lampu-lampu jalan disepanjang jalan itu, semua hidup dan menyala terang.


Tari tidak kecewa. Bahkan masih tetap tersenyum, kini senyum manis. Sambil berjalan kembali kerumahnya. Mengunci pintu rumahnya dan pintu pagar rumahnya. Saat itulah Tari melihat ada beberapa orang yang sudah berada ditempat kejadian itu.


Tempat dimana tadi Tari nyaris mengirim Mila ke neraka. Lalu membantai Mang Kimun dan tanpa sengaja menewaskan Bang Sotar. Menyebabkan seorang pengendara motor, telah jadi korban tanpa sengaja pula.


Tapi Tari tidak perduli dengan semua itu. Bahkan Tari melangkah menjauh dan semakin jauh dari rumahnya dan dari tempat kejadian itu.


Teringat bahwa Bintang masih berada didalam rumah ini. Tinggal bersama-sama dengan mereka dalam satu atap.


"Buk !... Plak !..."


Sangat kencang Tari meninju perut Anton dan menampar wajahnya.


"Ap... Apa...Aduh !..." kata Anton kaget dan panik.


Seketika Happypun terbangun dan menangis kencang. Karena tidurnya telah terganggu.


"Sssshhhhh...sayang. Sssshhhh...." kata Anton berusaha menenangkan Happy.


"Hei !..." kata Tari. Sambil mengemplang kepala Anton.


"Sudah kau usir si Bintang itu !" lanjut Tari dengan suara sangat kencang. Berusaha menyaingi suara tangisan Happy.


"Sssshhhhh...Bobok lagi, ya. Papi jagain kam...."


"Plak !..."


"Apaan sih !"

__ADS_1


"Usir si Bintang itu !....Sekarang !..."


Anton hanya mendesah kesal. Lalu menggendong Happy dalam dekapannya, akan membawa Happy keluar dari kamar mereka ini yang dulunya adalah kamar almarhum kedua mertuanya.


"Hei !... Bodoh !..."


"Bakbuk.... Bakbuk... Bakbuk...."


Bertubi-tubi Tari memukul punggung Anton yang sedang menggendong Happy dan berjalan keluar dari kamar.


"Bakbuk... Bakbuk... Bakbuk..."


"Berhenti kau, b*b*!"


"Iya...Iya..." jawab Anton asal. Tanpa menoleh kearah Tari.


"Apanya yang iya, ha !. Apa !..."


"Bisa tidak, nanti saja dibahas"


Akhitnya Anton berhenti melangkah dan menoleh kearah Tari. Menatap mata Tari dengan tatapan sedih.


"Tidak !"


"Kasihan si Happy...dia nangis. Tunggu sampai dia tidur lagi"


"Bodo !...Aku bilang usir si Bintang...sekarang !. Kalau kau tidak mengusirnya, aku akan membunuhnya !"


"Kau gila !"


"Si Bintang itu yang gila !. Usir dia atau dia mati kubunuh dirumah ini !. Pilih mana, ha !"


Tari menghadapkan wajahnya tepat kedepan mata Anton. Hingga Anton dapat melihat dengan jelas aura kemarahan yang sangat kuat dari kedua bola mata Tari itu. Itu artinya Tari sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Iya..." jawab Anton lesu, terpaksa mengalah. Lalu melanjutkan langkahnya.


"Kalau dia masih disini, jangan salahkan aku membunuhnya. Tapi kaulah yang membunuhnya !. Ingat itu !..." kata Tari mengiringi kepergian Anton keluar dari kamar.


"Prak !..."


Terdengar suara hempasan pintu kamar yang dituutup dengan kencang. Sampai terdengar semua penghuni rumah ini. Tapi semua harus wajib berpura-pura tidak mendengar.


Jika ada yang buka suara protes, alamat tidak selamat hidupnya berada didalam rumah ini.


Kecuali Happy yang masih menangis kencang. Walaupun Anton masih menimang-nimangnya dan memberinya pelukan kenyamanan seorang bapak.


"Uuuuuaaaaa.... Uuuuuaaa..."


"Ssshhhh, sayang. Sssshhhh, sayang. Anak papi yang baik, pintar. Happy anak papi, sayang. Sssshhhh..." kata bibir Anton.

__ADS_1


Tapi fikirannya melayang. Mencari-cari kalimat yang sopan untuk meminta Bintang keluar dari rumah ini.***


(Thanks ya msh setia bersamaku disini. Loop u all so much⚘)


__ADS_2