PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Lo Jual Gua Beli


__ADS_3

"Cekrek"


Seseorang keluar dari ruangan kloset itu. Tatapannya mengandung kemarahan dan kejijikan pada Tari dan Bintang.


"Hei !...Kalian lesbi liar !. Mau bercumbu aja harus teriak-teriak. Buat gua eneg tahu. Iiiii...." kata orang dan bergidik. Lalu pergi keluar, nyaris berlari.


Tari segera melepaskan tangannya dari rambut Fitri. Lalu akan pergi keluar juga. Tapi sesaat menoleh pada Fitri.


"Awas lo !...Gua belum selesai dengan lo !"


"Iiii..." jawab Fitri dengan bergidik. Mengikuti gerakan orang tadi. Tanpa disadarinya, ketakutannya telah hilang. Begitu pula rasa sakit perutnya, telah hilang.


Seyogyanya Tari masih sangat marah, kesal, benci. Karena memang Tari hidup dari perasaan emosi seperti itu. Ibu menghidupinya dengan perasaan emosi seperti itu


Maka ketika dikampus Tari melihat Bintang sedang berjalan bersama Della, barah amarah dan kebencian Tari langsung menggulung-gulung diubun-ubun kepalanya. Bagai lahar panas didalam perut gunung berapi.


Tanpa berfikir dua kali, Tari langsung mendekati Bintang. Berdiri tidak jauh didepan Bintang yang sedang berjalan kearahnya. Tari menatap Bintang dengan tajam. Garis wajahnya memperlihatkan karakter aslinya kepada Bintang. Betapa hebatnya amarah dan kebenciannya terhadap Bintang. Melampui ketidaksukaan Bintang terhadap Tari.


Melihat Tari yang tiba-tiba muncul didepannya dengan sengaja, Bintangpun menghentikan langkahnya. Juga menatap tajam kemata Tari. Menantang Tari dengan tak gentar. Menatap Tari dengan tajam pula.


Beberapa saat mereka saling menatap tajam seperti itu. Bagai banteng yang akan beradu. Della yang was-was, lalu menarik lembut lengan Bintang untuk berbelok dari jalan itu, menghindari Tari.


Barulah Bintang tersadar dan mengikuti Della. Sepertinya Tari tidak rela melepas buruannya begitu saja. Cepat Tari bergerak dengan langkah lebar, menyusul Tari. Lalu menyikut lengan Bintang dengan sangat kuat.


"Aduh !...Busyet !..." teriak Bintang spontan kaget.


Belum menyadari siapa yang menyikut lengannya itu, Tari sudah keburu mencengkeram kuat pergelangan tangan Bintang yang tadi disikutnya itu. Sebelum Bintangpun mengaduh kesakitan dan menoleh kearah Tari, Tari mengemplang kuat kepala Bintang.


"Aduh !...Sinting lo, ya !" teriak Bintang, setelah melihat wajah Tari.


"Udah...jangan hiraukan. Ayo pergi..." kata Della yang ketakutan. Sambil menarik lagi lengan Bintang untuk menjauhi Tari.


Bintang menghentakkan tangannya dari cengkeraman Tari. Tapi Tari semakin mengencangkan cengkeramannya. Hentakkan itupun tak melepaskan cengkeraman Tari dari tangan Bintang.


Bintang terbakar emosi untuk balik mengemplang kepalan Tari,

__ADS_1


"Duk.." Berhasil dan Tari meringis. Memicingkan sebelah matanya, menatap Bintang. Tampak Bintang menatap tajam kemata Tari. Sementata Della masih terus menarik lengan Bintang untuk menjauhi Tari.


"Ayo...Bin. Sudahlah...yok..."


Tak disangka, ketika Bintang lalai dari tindakan Tari selanjutnya. Beberapa detik melirik Della dan mengawaskan tangan Della dari lengannya. Seketika Tari mendorong tubuh Bintang dengan kuat. Bersamaan dengan melepaskan cengkeramannya dari tangan Bintang.


Akibatnya Bintang dan Della terjatuh. Terduduk diatas tanah. Sedang Tari tertawa-tawa kencang. Melihat mereka terjatuh.


"Mampus lo bedua !" kata Tari disela tawa bahagianya. Lalu melangkah pergi menjauhi mereka dengan langkah lebar. Masih tertawa-tawa kencang.


Semakin banyaklah mata teman-teman menatap kearah mereka dan Tari. Tatapan silih berganti. Ada yang iba, tapi tak berdaya menolong. Ada yang ketakutan, kebingungan dan ada yang hanya geleng-geleng kepala. Tak tahu apa maknanya.


Sengaja Tari langsung pergi, meninggalkan Bintang.Tari tidak ingin memberi kesempatan pada Bintang untuk membalasnya, didepan teman-teman mereka. Karena Tari sudah mendapat peringatan keras dan terakhir dari pihak yayasan kampus. Agar Tari tidak membuat kegaduhan lagi. Jika melanggar peringatan itu, Tari langsunh D.O.


Padahala Tari kan sebentar lagi lulus. Menjadi seorang bidan adalah satu-satunya bahan yang bisa ditawarkannya kepada Anton, keluarganya dan orang-orang sekitarnya. Kalau Tari sampai di DO, lalu apalagi kebanggaannya.


Oleh karena itu Tari segera menghindar. Cukup memperlihatkan pada Bintang saja, bahwa Tari bisa berbuat lebih lagi dari yang tadi diperbuatnya. Itu adalah alarm peringatan dan akan ada lagi peringatan selanjutnya. Jika Bintang masih membandel, melawan Tari.


Yah...alarm itu membuat jantung Bimtang berdegup kencang. Kaget dengan kejadian tadi. Termasuk juga Della. Tampak mereka masih duduk dikantin kampus, membicarakan kejadian tadi dan merenunginya.


"Lebih baik lo jauhin dia deh. Dia itu sadis dan nekat" komen salah seorang teman mereka.


"Iya, Bin" kata teman yang lain. "Lo dengar gak...kejadian ditempat PKLnya dia" lanjut temannya itu. "Fitri nyaris digebukin Tari ditoilet rumah sakit, tempat mereka PKL"


"Apa ?..." tanya Bintang kaget "Mengapa digebukin" lanjut Bintang, mulai deg-degkan khawatir.


"Gak tahu masalahnya apa. Tapi Fitri bilang, dia dituduh Tari merecoki hubungannya dengan Anton?"


"Merecoki bagaimana ?"


"Gua juga gak ngerti, Bin. Lo tanya langsung deh ke Fitri"


Bintang terdiam dan sepertinya mengetahui arah kemarahan Tari ini, bahwa Tari tidak rela dengan rencana mereka. Membawa Anton untuk mendapatkan pengobatan melenyapkan pellet Tari dari Anton.


Maka semakin kuatlah keyakinan Bintang, bahwa benar Tari mempergunakan ilmu pellet untuk mengikat Anton. Kalau tidak begitu, mana mungkin Anton jatuh cinta klepek-klepek dengan Tari.

__ADS_1


Tari itu bukan tipe wanita, entah itu dikatakan wanita zaman now atau wanita modie; entahlah. Tapi Tari itu tipe wanita nenek sihir. Tak perlu dandanan, tak perlu ke salon. Hanya perlu punya uang, makan dan menebar ketakutan pada semua orang.


Jadi Bintang tak ingin mengikuti saran teman-temannya itu. Tari memikirkan tentang keluarganya. Sepertinya akan diporak-porandakan Tari dengan sikap jahatnya itu.


Darah Bintang mendidih lebih dari 360°C. Membayangkan Tari merusak kedamaian dirumah mereka. Walaupun ada tersembul ketakutan dihatinya akan aksi nekat Tari lagi pada dirinya. Seperti yang diperbuat Tari terhadap Martha, Mila dan kabar terakhir terhadap Fitri.


Mengingat Fitri, Bintang jadi merasa bersalah. Lalu Bintang bersama Della, menemui Fitri kerumahnya. Sementara Fitri, kini dirumahnya sedang mengalami sakit. Entah sakit apa.


Suatu tengah malam, setelah kejadian itu; Fitri tidak bisa tidur. Dia berteriak-teriak ketakutan. Berlarian kesana-kesini didalam kamarnya dan didalam rumah. Setelah pagi menjelang, barulah Fitri dapat tidur.


Ketika sudah mendapati malam hari lagi, Fitri gelisah. Semua celah pintu, jendela, ventilasi; ditutupnya pakai kain, bantal, selimut. Semua lampu harus nyala. Tidak boleh ada ruangan yang gelap. Bahkan lampu mobil yang digarasi, harus nyala.


Pada tengah malam, Fitri berlarian lagi keseluruh ruangan rumah. Sambil membawa sapu. Bahkan pernah membawa pisau dan pacul.


Fitri akan berhenti berlarian, setelah pagi menjelang. Lalu Fitri tertidur sangat lelap. Seperti seorang yang baru menggali gunung. Wajahnya tampak sangat lelah. Tidurnya pun sampai ngorok kencang.


Begitu hari akan menjelang malam, spontan Fitri terbangun. Maka ketika Bintang dan Della menemui Fitri kerumahnya pada siang hari, para asisten rumahnya enggan membangunkannya.


Akhirnya Bintang dan Della mengunggu Fitri dikamar Fitri. Sampai Fitri bangun. Ketika hari menjelang malam, Fitri terbangun dan hatinya sedikit tentram. Mendapati ada teman yang akan menemaninya malam ini.


"Syukur deh kalian datang. Jadi gua ada teman untuk melawan jin penjaga Tari itu" begitu kata Fitri kepada Bintang dan Della.


Seketika Bintang dan Della merinding ketakutan. Bulu kuduk mereka berdiri, tegak.


"Maksud lo, jin penjaga Tari mengganggu lo" tanya Della penasaran ditengah ketakutannya.


"Iya...jin itu mau memperkosa gue. Sama seperti waktu dikamar asrama. Bin, Tari itu pasti udah gak perawan. Dia menjual perawannya ke jin itu"


"Fit, mendingan kita sekarang buruan deh kerumah kakek Toni. Biar lo dibantu kakek Toni" usul Della.


Walaupun masih sangat ketakutan, ternyata Della masih bisa berfikiran waras.


"Iya, Fit. Ayo sekarang kita kerumah kakek Toni. Lo telpon Toni. Suruh dia nemuin lo dirumah kakek Toni"


Fitri mengangguk-angguk setuju. Lalu Fitri beberes dan mereka pergi kerumah kakek Toni.***

__ADS_1


__ADS_2