PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Muslihat Kecil


__ADS_3

"Semoga Tari putus dari Anton. Semoga Anton sudah sadar dan bertobat. Amin" doa Fitri yang sangat tulus itu, entah diarahan kepada siapa. Tuha ?...Kayaknya Tuhan tahu deh, doa Fitri itu jahat. Karena diisi dengan kemarahan dan kebencian.


Bahkan setelah berdoa itu, Fitri tersenyum sinis dengan matanya yang masih tertutup rapat. Pasalnya Fitri sedang membawangkan sesuatu. Jika doanya terkabul, Fitri akan buat paduan suara didepan asrama untuk Tari. Mengkumandangkan lagi patah hati dengan irama march, bertempo lambat. Seperti irama pemakaman. Pemakaman ***** Tari.


"Heheheh😈"


Fitri berkhayal sendiri dan tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan doanya telah terkabuk. Eh...kita membuka mata. Ya ampun, ternyata Fitri masih dalam posisi berdoa dan doanya melayang tanpa arah tujuan. Nyasar di kehampaan alam semesta.


Buktinya, Tari tampak sedang berada diklinik papi Bintang. Mengenakan seragam kebesarannya, putih-putih dan sedang memeriksa seorang pasien.


Itu dilakukan Tari dalam rangka menarik perhatian calon papi mertua. Usai PKL, Tari cap cus ke klinik papi.


Ketila seorang perawat yang bekerja diklinik papi, sedang merawat Bintang; hal itu disampaikannya kepada Bintang.


"Apa ?!...Mau apa dia diklinik" kata Bintang, kaget dan marah.


"Bantuin dokter papi, Bin" jawab si perawat, tanpa rasa bersalah.


Usai diobati si perawat, Bintang langsung menyerbu ke klinik papi dan benar !...Bintang melihat Tari sedang memeriksa seorang pasien papi. Tak berfikir pajang, Bintang langsung menarik lengan Tari dengan kasar. Membawa paksa Tari untuk keluar dari klinik.


Papi yang melihat hal itupun, langsung bertindak. Mengikuti Bintang yang membawa Tari keluar. Sedang Tari tak membantah sedikitpun. Tari hanya diam dan pasrah dibawa Bintang menjauh dari klinik.


Lalu Bintang melepaskan tangannya dengan cara menghentakkan lengan Tari.


"Pergi lo...pergi yang jauh" kata Bintang kepada Tari.


"Bintang...Tari...ikut papi kerumah" kata papi tiba-tiba. Membuat Bintang kaget. Tidak memperhatikan sang papi sejak dia masuk keklinik dengan kemarahannya. Tatapannya hanya tertuju pada Tari.


Sementara Tari yang tadi sempat melihat ke papi, sejak lengannya ditarik Bintang; berpura-pura pasrah dan tak berdaya. Padahal hatinya bersorak bahagia. Apalagi melihat papi mengkitui mereka.


Setelah berkata itu, papi terus melangkah menuju rumah. Berdiri diteras rumah. Menantikan Bintang dan Tari mendekat kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan Bintang"


"Dia ini, pi. Ngapain coba dia ada diklinik. Sok tahu...padahal nilai jeblok."


"Karena itu Tari mau belajar. Tari mau bantuin papi. Apakah itu salah"

__ADS_1


"Salah. Itu pura-pura, pi. Dia ini mau mengambil alih klinik papi..."


"Cukup !...Papi gak pernah ajarin kamu berprasangka buruk pada seseorang. Tindakan Tari sudah benar..."


"Benar apanya. Dia itu mau nyingkiran Kak Bila, pi. Ngapain coba diklinik, saat kak Bila belum datang..."


"Kamu sudah keterlaluan. Sudah mempermalukan papi didepan pasien. Sekarang ngotot dengan papi. Memotong pembicaraan papi dan bersuara kencang didepan papi. Ayo...kamu kembali kekamar. Istirahat dan koreksi diri"


Bintangpun terdiam. Melihat papi sungguh marah padanya. Tari yang sedari tadi duduk tertunduk, akhirnya tersenyum puas. Menyaksikan Bintang dimarahi papi dan merasa dirinya dibela oleh calon bapak mertuanya itu.


"Horeee..." Tari bertempik sorak riang didalam hatinya.


Melirik Bintang yang dibawa papi masuk kedalam rumah. Tapi jauh dilubuk hati Tari, kejadian tadi itu tak urung membuat hatinya juga gusar pada Bintang dan semakin membenci Bintang.


"Seharusnya lo, gua buat mati waktu dikamar mandi itu. Biar gak ribet hidup gua" kata Tari dan kembali melirik kearah dalam rumah.


Tampak kini Bintang sedang dinasehati papi dan maminya.


Tidak berapa lama kemudian, Anton pun datang. Tari segera menghambur menyambut Anton. Anton sangat kaget, bahagia. Serasa dapat undian berhadiah. Melihat Tari ada dirumah orang tuanya dan menyambutnya lagi dengan senyuman manis.


Sebuah senyuman yang tidak pernah dilihat Anton, menghiasi bibir Tari. Kecuali jika permintaannya dipenuhi Anton. Lagi pula sudah beberapa hari ini Tari selalu menghindarinya. Eh...sekarang ditemukan berada dirumah orang tuany. Lagi menantikan dirinya. Begitu anggapan Anton.


"Sudah lama kamu disini ?"


"Sudah"


"Oh ya ?...kenapa gak bilang ke aku. Kalau kamu nungguin aku dirumah"


"Biar kamu kaget aja"


"Wow...aku kaget"


Sejenak mereka tertawa-tawa bahagia.


"Kamu sudah makan ?"


"Belum...Makan yok...tapi jangan dirumah"

__ADS_1


"Ayo...kita ke kafe"


"Iya...gak enak disini. Soalnya orang tua kamu lagi marah sama Bintang"


"Marah karena apa"


"Nanti aku ceritain...ayo...."


Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Anton pun pergi bersama Tari. Sungguhpun Tari ingin menikmati kebahagiaannya hari ini. Tapi hatinya masih sangat panas. Terbakar amarah pada Bintang. Jadi lebih baik diademkan dulu dengan makan dan minum dikafe pilihannya.


Harus diakui Tari. Agar dirinya tidak salah langkah, bahwa Bintang tidak bisa diabaikannya begitu saja. Okelah, Tari akan berbaik hati pada Bintang. Demi mengharhai calon papi mertua yang telah membelanya. Tari akan menempatkan posisi Bintang diposisi tertinggi dalam daftar daftar musuh-musuhnya.


Kini nama Bintang ditulis dengan huruf kapital semua dan dibuat warna merah, bold dan digaris bawah. Artinya Bintang dapat perhatian khusus Tari. Sebagai musuh yang dapat ganjaran yang sangat berat.


Serangan fajar tahap kedua akan dimulai. Alunan genderang perang, semakin kencang ditabuh Tari dengan irama yang syahdu harmomis.


Tarikannya dimulai dari para tetangga sekitar rumah papi mami mereka. Tari mulai menyerukan nama Bintang. Menggembar-gemborkan peristiwa Bintang yang bersikap kasar pada Tari diklinik papi mereka itu.


Ceritanya dikisahkan sedramatis mungkin dengan tambahan-tambahan kejadian yang dikembangkan Tari. Dimana Tari adalah korban yang sangat tidak berdaya dan disudutkan. Kisah yang sama juga dikisahkannya dikantin kampus. Pendengarnya adalah adik-adik tingkatnya.


Karena itu Tari mendapat simpati dari para tetangga. Tetapi belum dari adik-adik tingkatnya. Hanya sebagian kecil yang merespon kisah Tari. Jadi dikampus, Tari mendapat sedikit perolehan suara simpati.


Lumayan banyak suara simpati adalah dari tetangga rumah orang tua Bintang. Terutama dari suara tetangga yang rumahnya percis disamping rumah orang tua Bintang, yaitu tante Hombing. Kebetulan si tante itu juga tidak menyukai Bintang.


Menurut si tante, Bintang itu orangnya sombong. Karena Bintang tidak pernah bergaul dilingkungan tempat tinggalnya. Terkhusus tidak bergaul dengan anak Tante Hombing yang seumuran dengan Bintang.


"Lihat saja, kalau anakku itu sudah lulus dari akmilnya...tak akan aku undang si Bintang itu untuk syukuran"


"Iya...tante. Bagua itu...gak perlu undang si Bintang itu"


"Pernah lagi....gua keremu sama dia mall. Eee...gua diceukin sama si Bintang. Padahal gua udah senyum. Si Bintangnya anggurin senyuman gue. Sakit kan ?...gua ini udah tua. Lebih dulu senyumin dia. Itu juga gak dianggap. Memang anak itu gak tahu sopan santun"


"Begitu deh...si Bintang, tan"


Tari dan Tante Hombingpun akhirnya saling mendukung untuk menjelekan Bintang.


Sementara ini cukuplah informasi itu untuk memuaskan kebenciannya pada Bintang. Ditambah pembelaan dari papi yang tentunya aura dukungannya sangat kuat. Selanjutnya Tari akan melakukan penyerangan balasan melalui Anton.

__ADS_1


Cinta mati Anton terhadap Tari, akan dipakai Tari untuk menyerang Bintang. Jika Bintang menyindir Tari lagi didepan orang tua mereka, Tari akan berpura-pura sebagai korban penindasan. Mengalah dan menyembunyikan kemarahannya terhadap Tari. Tapi didepan Anton, Tari tidak sungkan-sungkan menumpahkan kebenciannya terhadap Bintang dengan kata-kata cacian dan sumpah serapah.


"Kusumpahi, adikmu itu akan jadi perawan tua !. P**ek nya akan dikerumuni belatung !. Itu sumpahku !"***


__ADS_2