PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Sisa Perlawanan


__ADS_3

"Iti semua kulakukan untukmu !. *nj*ng kau !... Si Bintang itu menghinamu. Dia tidak menghormatimu. Kau dengar itu, bangsat !..." teriak Tari dan masih giat meronta dan menendang siapa saja yang ada didekatnya. Termasuk akan menendang Kabila. Tapi seketika urung.


Spontan Tari terdiam dan menatap Kabila. Demikian pula Kabila, kini terpelongo menatap Tari.


Rudi langsung memborgol Tari. Membawa paksa Tari keluar dari rumah itu. Tari meludahi Rudi, Kris dan Hans; sangat brutal.


"Cih !...Cih !... Cih !..."


Entah sudah beberapa kali, mengenai wajah mereka. Tapi tiba-tiba Tari tertawa kencang.


"Hahahaha....Aku tahu...Hahahah..."


Sampai membuat Rudi, Kris dan Hans kaget. Sedikit lengah mengawasi Tari. Tari pun meronta lagi dan berbalik badan. Untungnya Rudi, Kris dan Hans; sigap. Kembali mencengkeram Tari.


"Lo Kabila, kan ?. Hahahah...Sok pemimpin lo !. Sejak dulu lo sok pemimpin !. Mati gaya lo di depan gua !. Gak ngaruh ke gua !. Lo juga pasti suruhan Bintang kan ?. Hahahah..."


"Ayo jalan !" perintah Rudi dan Kris secata serempak kepada Tari. Sambil mendorong punggung Tari.


"Diam lo !...He !...Kabila !... Bilang ke si Bintang itu. Gua gak akan kalah !. Biarpun lo berperan jadi jendral !...gua gak akan kalah !. Gua gak akan kalaaaahhhh !!!...." teriak Tari kencang. Mirip lolongan srigala.


Sambil berjalan, Tari berteriak, meronta, meludah, sesekali akan menggigit pipi atau telinga mereka. Sebenarnya kesabaran Hans sudah habis. Hans tidak tahan lagi menghadapi sikap Tari yang menurutnya brutal dan mulutnya sadis.


Ingin rasanya Hans menutup mulut Tari dengan lakban. Beberapa lapis lakban tebal. Karena wajah Hans sudah sangat bau air liur Tari. Berkali-kali kena ludah Tari. Paha dan betisnya juga sudah berkali-kali kena tendangan Tari.


"Kamu tidak punya perbendaharaan kata-kata manis. Maaf kek...ampun kek... Agar orang-orang tahu kamu itu menyesali perbuatanmu" kata Hans sangat kesal.


Malah Tari menjawab Hans dengan sundulan lututnya keselangkanhan Hans.


"Pecah nyawa gue !. Perempuan gila !" kata Hans. Sambil meringis kesakitan menahankan sakit diselangkangannya.


"Masuk !" perintah Hans dan menekan tengkuk leher Tari. Agar kepalanya menunduk dan masuk kedalam mobil dinas polisi itu.


"Singkirkan tanganmu, bodoh !" kata Tari dan kembali menyundul Hans dengan kepalanya. Kali ini mengenai dagu Hans.


Sebuah sundulan kepala yang sangat kuat. Sampai terdengar bunyi gigi yang beradu. Lalu dari mulutnya keluar darah.


Melihat darah itu, kembali Tari tertawa-tawa bahagia sangat kencang. Bahkan dengan tempo yang lama dan diselingi dengan ucapan syukur atas rasa sakit yang diderita Hans.


"Patah gigi kau !. Mati kau !, ompong !. Hahahaha..." kata Tari disela tawa bahagianya.


"Diam !...Ayo, masuk !" perintah Rudi yang juga sudah mulai habis kesabarannya.


"Lo bedua mau juga jadi ompong !. Kayak teman lo ini !. Hahahaha...Hup !"

__ADS_1


Tiba-tiba tawa Tari terhenti. Karena Bila muncul dan berjalan kearahnya. Kebencian dan amarah kembali menguasai Tari. Tatap matanya tajam dan tak berkedip menatap Bila.


Begitu juga Bila, ingin rasanya Bila merobek-robek mulut Tari yang tadi dilihatnya terkembang tertawa lebar, sangat bahagia.


"Masuk !" perintah Rudi untuk kesekian kalinya kepada Tari.


Rudi sengaja membuat jarak kepada Tari. Sekedar untuk berjaga-jaga. Rudi hanya mempergunakan sebuah pentungan untuk mencolek tangan Tari. Saat memerintahkan Tari untuk masuk kedalam mobil polisi.


Tapi Tari belun juga mau masuk. Masih ingin menatap Bila dengan tajam. Seakan ingin menerkam Bila dan mencakar-cakar wajah 'Luna Maya' Bila itu.


Sekali lagi Rudi mendorong Tari pada bagian pinggangnya dengan pentungan. Tak disangka, Tari menendang kuat ************ Rudi. Rudi meringis dan lalai. Seketika Tari mengejar Bila dengan langkah lebar, hampir berlari.


"Kubunuh kau !... Dokter gadungan !..." kata Tari kencang. Sambil mengejar Bila.


Untunglah Edy langsung menangkap sinyal buruk. Langsung bergerak menarik tangan Bika. Sebelum Tari berhasil mendekat ke Bila. Sedang Om Hombing menjegal kaki Tari.


"Gedebuk !"


Tari terjatuh tersungkur diatas tanah, dihalaman depan rumah orang tuanya itu. Tari tidak berhasil mendekati Bila.


Segera beberapa orang polisi lain, bersama ibu; mendekati Tari. Polisi itu menarik bahu Tari untuk berdiri. Sedang ibu berdiri berkacak pinggang dihadapan Tari.


"Plak plak..."


"Cih !"


Tari meludahi ibunya dan tepak kena ke wajah ibu.


"B*b* !... Kurang ajar !" kata ibu sangat berang dan akan menampar pipi Tari lagi. Tapi dicegah ketiga orang polisi yang mencengkeram kedua tangan kiri dan tenggkuknya.


"Pembawa sial kau !. Kau bunuh si Bintang. Lalu kau kabur kerumahku. Brengsek !... Setan kau !..." kata ibu sangat marah pada Tari.


"Kau yang setan !. Mati saja kau !" balas Tari pada ibu.


"Manusia tamak !... Rakus !... Perempuan dursila !... Pembunuh !... Kau saja yang mati dipenjara !. Membusuk kau dipenjara !..." kata Bila tak mau kalah dengan suara kencang juga.


Tidak terima dengan penghinaan Bila itu, Tari akan memberontak lagi dari cengkeraman para polisi itu untuk menyerang Bila. Tapi ketiga orang polisi telah bersiaga dari setiap tindakan tak terduga Tari.


Seorang mencengkeram tangan kiri Tari dan menginjak kaki kirinya juga. Seorang lagi mencengkeram tangan kakannya dan menginjak kaki kanannya. Sedang seorang lagi mencengkeram tengkuk leher dan kepalanya.


Lalu ketiga orang polisi itu menggiring Tari masuk kedalam mobil polisi.


Anton, Ibu, Bila dan Edhie, juga Om Hombing dan Mbak Ipeh; menatap Tari dengan senyum kepuasan. Sementara ayah yang menatap Tari dari kejauhan, wajahnya muram dan sangat sedih.

__ADS_1


Sementara Mbah Kahpok sudah menghilang sedari tadi. Tidak ada yang menyadarinya ataupun yang melihatnya.


Tiba-tiba Anton berlari kearah mobil polisi yang akan membawa Tari. Anton mendekati mobil itu dan mengetuk kaca pintu belakang mobil.


Kaca pintu mobil terbuka. Tari menatap Anton dengan tatapan pengharapan, kalau Anton akan membebaskannya saat itu juga.


"Apa benar Happy itu anaknya Mbah Kahpok" tanya Anton datar.


Pertanyaan itu mematahkan pengharapan Tari seketika.


"Puih !... "


Tari menjawab dengan meludahi wajah Anton. Pintu kaca mobil naik untuk segera tertutup. Tak sengaja Tari menangkap sosok Mbah Kahpok yang berdiri tepat dibelakang Mbak Ipeh.


Walaupun sebuah sarung menutupi kepala hingga wajahnya dan hanya ada sisa sinar bulan yang menyinari hari gelap itu. Tari dapat mengenali Mbah Kahpok.


Masih terlihat Tari ditangan kanan Mbah Kahpok ada sebilah pisau. Tari pun penasaran. Padahal mobil polisi yang membawanya itu sudah meluncur. Tari grasak-grusuk ingin mengetahui maksud Mbah Kahpok memegang pisau.


Tari bergerak kekiri dan kekanan untuk dapat menoleh kebelakang. Tubuh gemuknya yang sudah mengeluarkan bau keringat busuk, sangat mengganggu dua orang polisi yang mengapit dikiri dan kanan.


Tambahan lagi tubuh gemuknya itu saja sudah membuat penuh jok belakang. Apalagi Tari harus memutar setengah lingkaran tubuhnya. Hanya untuk melihat kebelakang. Naas bagi polisi yang mengapit, wajah mereka harus tersenggol dada Tari.


Syukurnya hanya tersenggol sesaat. Malahan sempat parkir, menutupi seluruh wajah polisi yang mengapit Tari disebelah kiri. Si polisi sesak nafas dan eneg. Perutnya mual dan akan muntah. Aroma tubuh Tari yang melebih bau sampau busuk, harus dinikmati sekian menit.


"Bu...duduk, bu !" kata polisi yang disebelah kanan.


"Diam kau !... Lihat dibelakang, ada tontonan seru !" kata Tari dengan bersemangat bahagia.


Tari melihat Mbah Kahpok mengayunkan pisaunya keleher Mbak Ipeh.


"Crut !... Cruuuuuttttt..."


Mbah Kahpok menusukkan sangat dalam pisau itu dileher Mbak Ipeh. Sampai hanya yang tampak adalah gagang pisau itu.


Belum ada yang menyadarinya kejadian itu. Selain daripada Tari. Hingga membuat Mbah Kahpok dapat pergi leluasa dengan cepat. Keluar dari kerumunan orang-orang yang masih membahas tentang Tari.


Hingga beberapa detik kemudian. Setelah Mbah Kahpok pergi, barulah tubuh Mbak Ipeh lunglai dan rebah diatas tanah dihalaman depan rumah orang tua Tari.


"Aaaaaaa !!!!...." teriak seseorang yang berada tepat disamping Mbak Ipeh tadi berdiri.


Seketika suasana kembali ramai***


(ditunggu like and komennya. Thank u)

__ADS_1


__ADS_2