
Sementara Tari sedang mencari sekutu, Mbah Kahpok mencari waktu dan strategi untuk mengunjungi Fitri. Sengaja dibuat tenggang waktu yang sedikit lama. Agar kesan dari pernyataan akhir Fitri, perlahan-lahan terlupakan orang-orang. Katakanlah seperti angin yang bertiup saja. Tak tahu kapan dan dari mana datangnya. Eehhh...tiba-tiba sudah dirasakan tiupannya.
Begitu pula dengan, katakanlah pesan terakhir Fitri; tiba-tiba sudah terjadi dan berlalu dibawa waktu. Malam ini akan dirasakan Fitri tiupannya. Pasti Fitripun tidak akan menduga dan mengetahuinya. Setelah beberapa lama kembali dalam ketenangan dan malam ini akan diusik kenikmatan.
"Semoga kau suka Fitri" bisik Mbah Kahpok dengan suara diburu *****.
"Teenng...Teenngg..."
Bunyi dentang jam bergema dikepala Mbah Kahpok. Waktu menunjukkan telah tengah malam.
"Hup !...Berubah !"
Mbah Kahpok berjingkat dan melompat. Seketika dirinya berubah menjadi bayangan hitam.
"Wus !"
Bayangan hitam itu melejit cepat. Menuji rumah orang tua Fitri. Tempat dimana Fitri tinggal.
Rumah mewah itu tampak terang. Sekeliling rumah dipenuhi lampu-lampu. Begitu pula lampu-lampu ditiap-tiap ruangan, semua menyala. Walau tidak seterang lampu-lampu diluar. Termasuk kamar tidur Fitri. Bayangan hitam itu masih sangat leluasa masuk kerumah itu. Melalui celah-celah bawah pintu. Juga leluasa masuk kekamar Fitri.
"Hup !..."
Begitu masuk kekamar Fitri, bayangan hitam itu merubah wujudnya kembali menjadi Mbah Kahpok.
Sejenak Mbah Kahpok berdiri diam diambang pintu. Tubuhnya telanjang, tanpa ada sehelai benangpun. Memperhatikan Fitri yang sedang tidur lelap diranjangnya. Seluruh tubuh Fitri terbungkus selimut. Kecuali bagian wajah dan kepala.
Mbah Kahpokpun berjalan mendekati Fitri. Kejantanannya mulai berdiri dan mengeras. Seakan memberi petunjuk arah kepada kakinya.
"Tap...tap...."
Selangkah lagi Mbah Kahpok tiba diujung tempat tidur. Satu tangannya telah terjulur untuk menyibakkan selimut yang menutupi kaki Fitri.
Begitu ujung jari tengahnya menyentuh selimut itu. Kemudian diikuti oleh jari-jemarinya yang lain untuk mencengkeram selimut itu. Menarik selimut itu perlahan demi perlahan.
Fitri menggeliat kecil. Berganti posisi tidur, dari miring kearah samping kiri. Kini sudah terlentang. Tampaklah wajah Fitri yang cantik berseri-seri, dibawah cahaya lampu tidur yang remang-remang.
Mbah Kahpok menarik nafas pendek dan membentuk bibirnya seperti ujung nasi tumpeng. Akan meniupkan nafasnya kearah wajah Fitri. Agar Fitri semakin tertidur lelap. Mbah Kahpok akan leluasa menggeluti tubuhnya. Satu....Dua...Mbah Kahpok menarik nafasnya lagi. Lebih dalam dan ditahan sesaat didalam perutnya.
"Hhhhhhh...." meniupkannya perlahan. Tidak kearah wajah Fitri. Karena seketika Mbah Kahpok berubah fikiran. Hasratnya tidak ingin bergelut dengan kekakuan. Mbah Kahpok ingin menikmati kehangatan tubuh Fitri yang aduhai.
Perlahan Mbah Kahpok memulai serangan mesranya. Menyentuh kulit kaki Fitri dengan lembut. Mengelusnya hingga kebagian sensitif Fitri. Fitri menggeliat kecil.
Tangan Mbah Kahpok semakin nakal. Naik kebagian dada, menyusup kebalik baju tidur satin Fitri. Meremas kedua gundukan daging yang kenyal itu. Lalu lidah dan bibir Mbah Kahpok mulai beraksi pula.
Fitri hanya menggeliat-geliat kecil dan mendesah-desah. Bagai dirasuki mimpi basah sedang bercumbu mesra dengan Toni. Begitulah Fitri menikmati permainan Mbah Kahpok yang lembut itu. Rangsangan demi rangsangan dilancarkan Mbah Kahpok.
Sampai tak tertahankan lagi, birahi Mbah Kahpok telah merasukinya. Perlahan Mbah Kahpok akan menindih tubuh Fitri.
__ADS_1
"Buk !..." tiba-tiba serangan satu menghantam kuat tubuh Mbah Kahpok.
"Gedebuk !..."
Tubuh Mbah Kahpok terjungkal dari atas tempat tidur. Jatuh terlentak diatas lantai kamar. Segera Mbah Kahpok bangun, duduk diatas lantai.
"Buk !...Bak !..."
Kembali serangan tiba-tiba itu menghantam tubuh Mbah Kahpok. Hingga Mbah Kahpok terjungkal kebelakang.
Cepat Mbah Kahpok kembali bangun, duduk diatas lantai. Mengedarkan tatapannya ke seluruh kamar. Namun tak menemukan suatu apapun yang mencurigakan.
Segera Mbah Kahpok mengambil sikap seperti bermeditasi. Tapi belum lagi pada posisi sempurna, tiba-tiba satu wajah telah berada tepat didepan wajah Mbah Kahpok.
"Ggghhh..." wajah itu memperlihatkan seringaiannya. Membuat Mbah Kahpok tidak dapat memejamkan matanya.
"Mas Surro..." suara Mbah Kahpok gugup, menyebutkan nama itu. Setelah menyadari sosok wajah itu.
Segera Mbah Kahpok menggganti posisi duduknya. Menekuk kedua kakinya kebelakang dan duduk diatas kedua kakinya itu. Membungkukkan punggungnnya dan menundukkan kepalanya. Sejajar dengan punggungnya.
Mbah Kahpok memberi salam hormat pada sosok Mas Surro yaitu kakek Toni yang adalah kakak seperguruannya.
"Kurang ajar kau Kahpok !. Lancang kau melanggar perintah nyai guru. Kau sudah dikuasai birahimu. Apa kurang cukup perawan Tari untukmu !. Munafik !...Kau bilang tidak mau menikah. Padahal kau butuh kepuasan. Bodoh kau !" kata Mas Surro sangat marah dan kecewa.
"Plak !..."
Seketika Mas Surro memukul kuat kedua bahu Mbah Kahpok dengan kedua tapak tangannya.
"Gedebuk !..."
"Kahpok !..."
Tiba-tiba terdengar suara nyaring seorang perempuan. Tanpa ada sosoknya yang kelihatan. Suara itu menggema dikamar itu, mengandung kemarahan besar.
Walaupun Mbah Kahpok merasa sangat kesakitan pada seluruh tubuhnya dan mengalami ketakutan yang besar. Tapi segera Mbah Kahpok berusaha membuat sikap hormat. Menekuk kedua kakinya kebelakang. Membungkukkan punggungnya dan menundukkan kepalanya. Sejajar dengan punggungnya.
"Ampun, nyai...Saya khilaf" kata Mbah Kahpok dengan suara bergetar ketakutan.
"Kamu melayani Tari atau melayani saya !" tanya suara nyai.
"Saya akan tetap melayani nyai"
Seketika kejantanan Mbah Kahpok berdiri dan mengeras. Bersamaan dengan munculnya sosok nyai percis dihadapannya. Tangan kanan nyai langsung mencengkeram kuat kejantanan Mbah Kahpok. Kuku jempol tangannya itu yang runcing, menempel kuat pada batang kejantanan Mbah Kahpok.
"Aaaaaa !!!!..." jerit kesakitan Mbah Kahpok. Hingga punggungnya tegak dan kepalanya menengadah keatas. Matanya terpejam rapat. Menahan sakit yang terhingga.
"Satu kali lagi kau tidak patuh pada saya...ini saya potong"
__ADS_1
"I...i...ya...yah...a...am...puh...am...pun....ny...ny...ai..."
"Slet !..."
Seketika nyai menghilang. Mbah Kahpok kembali langsung terjatuh terlentang diatas lantai dan menggenggam lembut kejantanannya.
"Ingat..." kata Mas Surro. Mbah Kahpokpun berusaha bangun, berdiri dan membungkukkan punggungnya dihadapan Mas Surro.
"Kesepakatan kita dengan nyai. Jangan menidur perempuan yang bukan istri syah satu-satunya. Nyai sudah sangat toleran. Membiarkanmu dengan Tari. Jadi...jangan berulah lagi. Layani nyai dengan sungguh-sungguh. Mengerti !..."
Mbah Kahpok hanya mengangguk-angguk kecil, sambil meringis. Mas Surro hilang seketika dari kamar.
Mbah Kahpok masih sangat kesakitan pada kejantanannya. Ada seiris luka pada kulit kejantanannya. Membuat Mbah Kahpok tak mampu untuk berjingkat. Apalagi melompat untuk mengubah dirinya menjadi bayangan.
"Hup !....Aaaaa !!!..." jerit kesakitan Mbah Kahpok. Saat berusaha melompat. "Hup !...Aaaa !!!..."
Berkali-kali Mbah Kahpok berusaha untuk mengubah dirinya. Namun selalu gagal. Karena rasa sakit itu sangat tidak tertahankannya. Sampai seluruh tubuhnya menggigil. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.
"Ampuni saya, nyai. Mas...tolong saya" rintih Mbah Kahpok dengan suara sangat pelan. Karena Mbah Kahpok melihat Fitri mulai menggeliat-geliat. Lalu bangun dan duduk diatas ranjangnya.
"Hooooaaaa..." terdengar suara Fitri. Sambil merentangkan kedua tangannya diatas kepalanya. Menggerakkan tubuhnya kekanan dan kekiri dengan mata yang masih terpejam.
Tampaknya Fitri tidak mengetahui tentang kejadian didalam kamarnya. Lalu Fitri mengucek kedua matanya dengan kedua tangannya dan membukanya.
"Hup !..."
Mbah Kahpok berhasil mengubah dirinya. Pada saat detik-detik Fitri mengucek matanya. "Wus !..." Mbah Kahpok telah melejit, hilang dari kamar Fitri. Pada saat Fitri mulai membuka kedua matanya.
Mbah Kahpok kembali kekamarnya dengan kesakitan yang tidak tertahankan. Juga keletihan yang amat sangat. Akibat gempuran Mas Surro.
Mbah Kahpok langsung bermeditasi diatas ranjangnya. Baru beberapa saat Mbah Kahpok melakukan itu. Kemudian Tari datang menemuinya. Masuk kekamar Mbah Kahpok tanpa mengetuk pintu.
Mbah Kahpok tidak kaget dengan hal itu. Masih tetap duduk bersila diatas ranjang mesumnya itu dan tidak sedekitpun membuka matanya.
"Bagaimana, mbah. Sudah beres dengan Fitri" tanya Fitri. Sambil naik keatas ranjang juga. Duduk disamping Mbah Kahpok.
Karena Mbah Kahpok tidak memberi jawab, Taripun menatap Mbah Kahpok.
"Ada lagi nih...Namanya Della. Beresin ya, mbah"
Mbah Kahpok masih tidak memberi respon. Masih fokus bermeditasi dan menahan rasa sakit pada kejantanannya. Taripun masih menatap Mbah Kahpok. Lalu menghela nafas pendek. Membuka pakaiannya dan langsung rebah diatas ranjang mesum itu.
"Pakai pakaianmu !" perintah Mbah Kahpok. Tanpa membuka matanya dan tanpa menoleh sedekitpun padq Tari.
"Saya lagi butuh..."
"Ke suamimu saja"
__ADS_1
"Bukan butuh genjrot. Makanya otak jangan selalu mesum. Sudah tua..."
Seketika Mbah Kahpok membuka matanya. Menatap tajam kemata Tari. ***