PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Sinopsisnya Telat


__ADS_3

Perempuan itu identik dengan air mata. Segala sesuatu yang dirasakannya pasti disampaikan lewat air mata. Baik bahagia, maupun sedih. Karena itu perempuan terlabelkan sebagai mahluk cengeng, manja, rapuh dan lembut.


Tapi tidak demikian dengan Tari. Tari adalah mahluk perempuan dari golongan minoritas. Pengalaman pahit dimasa kanak-kanak telah membuat Tari masuk dalam golongab minoritas itu. Sebagai bukti otentik bahwa kemarahan itu menular. Bagai penyakit lama nan akut. Hingga dapat mematikan siapa saja yang tertularkan.


Kemarahan Tari pada ibunya bagai api dalam sekam. Bagai borok pada pantat. Beridiri salah, dudukpun salah. Karena dendam dan kebencian menggerogoti dada yang telah terbakar kemarahan.


Cepat sekali menyambar siapa saja yang ada didekatnya. Walaupun akhirnya jatuh cinta pada pria yang memperlihatkan isi dompetnya. Tapi cinta itu tidak dapat merubah Tari menjadi perempuan mayoritas.


Bahkan Tari menjadi singa betina yang kelaparan. Siapa saja yang menghalangi niatnya mendapatkan pria yang telah mencintainya, akan diburu dan dimangsa. Lalu diantap habis.


Berhasilkah Tari menyantap mangsanya dan mendapatkan pria itu ?. Pantengin terus novel saya ini. Tapi bacanya jangan sendirian dan harus berdoa dulu. Karena seram...Oke...Lanjuuuuttt....


****


...BAB-39:...


...Fitri pun KO...


Fitri semakin uring-uringan. Apalagi tiap kali Tari melihat Toni menjemput Fitri, Tari akan melambaikan tangannya mesra pada Toni. Tidak lupa memberi senyum dan tatapan mesra juga.


Pertengkaran diantara Fitri dan Toni pun semakin sering terjadi. Itulah yang diinginkan Tari. Agar Tari dapat bebas masuk kekehidupan Toni. Lalu akan menikmati apa yang selama ini dinikmati Fitri, yaitu kemewahan yang ditawarkan oleh Toni.


Maka "pret" lah tudingan Fitri terhadapnya. Karena Fitri akan tersiksa melihat Tari mesra dengan Toni. Fitri akan menangis sepanjang hari yang ada. Meratapi Toni dan Tari, alias T2 (Tari Toni atau Toni Tari).


Saat itulah tawa Tari akan sungguh-sungguh terlepas😆. Penghinaan yang pernah dilontarkan Fitri terhadap dirinya, cukup terbayarkan. walaupun belum lunas. Itu masih angsuran pertama. Angsuran selanjutnya menyusul dan harus segera dibayarkan. Sampai lunas kemarahan dihati Tari.


Inilah aksi pembayaran angsuran selanjutnya. Tari memasang muka temboknya dan berani duduk berkumpul dengan teman-teman mereka. Mendominasi suasana berkumpul bersama dengan teman-teman sekamar khususnya dan kampus pada umumnya.

__ADS_1


Tari bergosip ria. Mengumbar cerita-cerita bohongnya tentang kemesraannya dengan Toni, dengan suara kencangnya. Sekalian matanya melirik-lirik kearah Fitri yang duduk sendiri pada sudut kanti, pada sudut taman dan pada sudut tempat tidurnya.


"Bukan salah gue, dong. Kalau akhirnya Toni milih gue. Seharusnya bercermin yang benar, koreksi dirilah. Apakah kita sudah mengerti pacar kita ?. Jangan hanya kita yang harus dimengerti pacar kita. Cewek-cewek selalu begitu. Selalu minta diperhatiin, dimengertiin...dandan ala selebritis lah. Menghabiskan uang cowok. Tapi minim perhatian kepada cowoknya. Cowok-cowok juga butuh perhatian dan pengertian dari cewek. Iya kaaannn ????" kata Tari menggebu-gebu. Mirip lagi membacakan puisi.


Sebagian dari teman-teman mereka mulai sependapat dengan Tari. Tidak hanya teman satu kamar, adik-adik tingkat yang lagi dikantin pun. Mulai sependapat dengan Tari. Telah mendapatkan pencerahan dari Tari tentang telah berpalingnya Toni kepadanya.


Buktinya mereka tidak lagi duduk-duduk berbisik dan melirik-lirik sinis lagi kepada Tari. Malah kini Fitrilah yang jadi bahan pergunjingan jahat dari teman-teman satu kamar dan kampus. Mengakibatkan Fitri harus tidak memilih bergabung dengan mereka.


Tidak tahan dengan tatapan tak bersahabat dari mereka. Seakan Fitrilah tertuduh atas terjalinnya hubungan Tari dan Toni.


Lidahnya kini sudah membatu untuk mendominasi cerita, seperti biasanya. Menjadi pusat perhatian teman. Tatkala menceritakan tentang orang tua nya dan Toni. Menggambarkan kehidupannya yang sempurna. Bak du negri dongeng. Semua itu kini sudah berakhir. Tergantikan dengan cerita palsu Tari.


Fitri pun hanya bisa pasrah dikesendirian. Menahan rasa sakit didalam dirinya. Yah...Fitri harus lebih banyak diam dalam kesendirian yang menyakitkan. Mengindari kumpulan teman-teman. Bahkan menghindar, tatkala Toni datang ketempat PKL ataupun asrama untuk menemuinya. Eh...malah Tari lah yang ditemukan Toni.


Inilah yang tidak disukai Tari. Tari yang jadi uring-uringan dengan sikap Fitri itu. Hal itu bisa menjadi celah buruk untuk strateginya. Karena sikap diam Fitri itu telah nemunculkan fenomena baru buat Tari, yaitu kecurigaan tanpa terdeteksi. Jangan-jangan Fitri dan Toni menjali hubungan lagi secara backstreet.


Tapi jangan sebut Tari. Jika tidak memburu mangsanya. Itu adalah strategi pamungkasnya. Langsung labarak dan "Dor !...Dor !...Dor !...". Tari nyaris berhasil menjambak rambut Fitri. Kalau saja Fitri tidak cekatan menangkap sinyal buruk akan kedatangan Tari kekamar.


Langsung menghampiri Fitri yang lagi santai diatas ranjangnya. Langkah kakinya sangat lebar, nyaris berlari. Wajah ditekuk, seperti lagi ngedan. Fitri mendapat sinyal itu dari sudut matanya. Maka Fitri spontan melompat dari ranjangnya.


Sedangkan teman-teman yang sedang berada dikamar, juga sudah pintar membaca gerak mencurigakan Tari itu. Merekapun spontan mencegah terjadinya kegaduhan yang bising dan ramai.


Ada yang memalangi langkah Tari. Ada pula yang melindungi Fitri. Berdiri berkeliling disisi Fitri.


"Ada apa, Ri" tanya Karina yang berdiri percis didepan Tari.


Tari tidai memperdulikan Karina. Hanya mendengus kuat didepan wajah Karina. Lalu mendorong tubuh Karina dan mendorong siapa saja yang berusaha menghalangi langkahnya untuk mendekati Fitri.

__ADS_1


Karina yang nyaris jatuh tersungkur, langsung berteriak.


"Jangan gaduh lagi, Ri !....atau gua lapor ke Ibu Pur !" ancam Karina marah dengan suara setengah berteriak.


Sebelum ancaman itu terlaksana, Ibu Pur telah berada diambang pintu kamar mereka. Setelah mendapat laporan dari Gina, Ibu Pur langsung meluncur ke kamar mereka.


"Ada apa ini !" teriak Ibu Pur. Menghentikan niat Tari. "Tari !....Fitri !...Karina !...ikut keruangan saya" perintah Ibu Pur.


Fitri mematuhi Ibu Pur. Sementara Tari masih mematung. Kemudian berjalan lesu keluar kamar. Tapi tidak menuju ruangan Ibu Pur. Tari hanya duduk disatu bangku taman asrama yang ada didepan kamar mereka.


Masih menyimpan amarahnya pada Fitri dan juga seluruh teman-teman satu kamarnya. Tari menganggap mereka semua berkhianat dan penjilat. Berpura-pura manis didepannya. Tertawa mendengar kisahnya dan seakan mendukung sikapnya untuk merebut Toni. Kenyataannya mereka semua melindungi Fitri.


Kenyataan ini adalah tidak adil. Tari akan mencari cara untuk balas dendam ke semua teman-temannya itu.


Masih lama Tari berada sendiri dibangku taman itu. Mereview dimemorinya, siapa saja teman-temannya yang telah menghalangi niatnya tadi. Lalu menuliskan nama mereka didaftar antri musuhnya.


Jam tidur malampun sudah tiba. Lampu-lampu kamar padam otomatis di jam tidur malam. Termasuk kamar mereka. Karina telah kembali kekamar sejak tadi. Sementara Fitri tidak kunjung keluar dari ruangan Ibu Pur. Lampu ruangan Ibu Pur masih menyala.


Sampai keesokan paginya, Tari belum bertemu Fitri lagi.


Hingga berangkat ke tempat PKL, barulah Tari mendapat kabar. Ternyata Fitri tidak kembali ke kamar. Fitri juga tidak masuk PKL hari ini. Tapi emosi Tari tidak reda.


Tidak sabar menunggu usai waktunya PKL hari ini. Konsentrasinya teralirkan rasa cemburu dan curiga. Membuat dirinya sangat gelisah. Maka begitu usai jam PKL, Tari langsung pergi tergesa-gesa. Tidak naik angkot. Langsung ojek on line.


Tari ingin segera kembali ke asrama. Bertemu Fitri dan melanjutkan kemarahan yang belum tuntas, tadi malam itu. Tapi masih Fitri tidak ditemukannya.


Kali ini Tari mendapat informasi dari sumber terpercaya, yaitu Karina; bahwa Fitri diijinkan untuk pulang kerumah orang tuanya malam itu dan dijemput oleh Toni.

__ADS_1


"Tidaaaakkkkk !!!!...."****


__ADS_2