PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Nyai...


__ADS_3

Rumah itu telah beberapa hari ini kosong. Karena pemiliknya seorang janda dan lagi pergi ke luar kota, ke rumah salah seoranh anaknya. Tari sering melihat pohon itu dari atas dahan pohon kesayangannya. Sedangkan ibu pasti tidak menduga, kalau Tari akan bersembunyi diatas pohon tetangga mereka itu.


Tari dapat bernafas lega. Ketika sampai di dahan pohon itu. Berusaha duduk santai dengan menikmati matahari tenggelam. Angin sepoi-sepoi mengecup-ngecup kulit Tari. Tapi semakin lama semakin nakal. Desissan suaranya berbisik bahwa malam akan datang. Berada dibelakang rumah ini, pasti sangat menyeramkan. Bisa saja sekarang rumah ini telah dihuni hantu atau penjahat.


Terfikirkan seperti itu, bulu kuduk Tari mulai merinding. Mengundang ketakutan datang bersama dengan kecengengan. Kenapa ibu sangat jahat padanya. Seperti menyimpan kepahitan dimasa silam yang tak tertuntaskan. Lalu ditransfer kepada Tari. Maka kini Tarilah yang harus membayar kepahitan.


Fikiran iti nyaris membuat Tari jadi cengeng. Kalau saja daun-daun pohon itu tak tertiup angin. Menari-nari didepan Tari. Seakan sedang menertawakannya. Kerlipan bintang-bintangpun, seperti sedang menggosipkan Tari yang mulai cengeng.


Tidak !....Tari harus mengusir kecengengan itu. Karena cengeng adalah manipulasi tokoh sok baik. Lebih baik memutar ulang dan berkali-kali. Setiap waktu yang ada akan kekejaman ibu kepadanya. Sejak mulai Tari kecil. Hingga detik terakhir tadi.


Bagaimana bahagianya ibu melihat Tari terpojok dan nyaris tak berdaya. Ternyata memori kanak-kanaknya, tidak mampu menguburkan kekejaman ibu di ingatannya. Itu adalah hasil pembiakan dendam yang sekarang sudah siap untuk dipanen.


Waktu terus berjalan dan kini menyongsong malam dengan kegelapannya. Menebar aroma kemarahan di fikiran Tari. Cepat Tari menghalau kecengengannya. Lalu membuat kesepakatan dengan gairahnya.


Menyetujui perbuatan perlawanannya terhadap ibu. Mengambil uang ayah dan berpura-pura baik kepada Kabila n d gank nya. Mentraktir mereka berkali-kali lagi. Abaikan saja kemarahan ayah dan nikmati kemarahan ibu.


Semua itu akan membuat Tari menjadi pribadi yang tangguh. Tidak cengeng, tidak obral ait mata dan baperan. Semua itu sifat orang-orang rapuh dan manja.


Bagi Tari manja adalah kata lain dari penipu sadis. Berpura-pura manis dan lemah. Tapi dari belakang, membunuh dengan kampak. Maka tak ada jera. Melainkan semangat dan keyakinan, bahwa Tari harus melakukannya lagi.


Karena ada kenikmatan tersendiri yang baru muncul di dalam Tari. Tatkala melihat ibu kesal, ayah kesal, Kabila n d gank nya juga kesal.padanya. Membuat gairahnya untuk membangkang, muncul kembali.


Menjelang tengah malam, barulah Tari turun dari pohon itu. Kembali ke rumah dengan mengendap-endap super hati-hati. Lebih dari kehati-hatian seorang pencuri yang sedang memasuki rumah incarannya.


Ternyata banyak keuntungan buat Tari atas kebiasaan ibu. Selalu pulang kerumah pada tewat tengah malam. Dahulu Tari sangat benci pada kebiasaan ibu itu. Tari jadi kehilangan kesempatan untuk dininabobokkan oleh ibu. Apalagi jika Tari terbangun tengah malam, karena mimpi buruk. Tak ada pelukan ibu yang menenangkannya.


"Apak ?!" teriak setan dikepala Tari. Mendapati kecengengan Tari masih tersisa. Mengajaknya bercengeng ria. Berkhayal tentang cerita-cerita manis anak-anak normal. Helooo...Tari bukan anak normal yang mendapatkan tradisi seperti itu.

__ADS_1


"Ayolah...wake up girl. Wake up now !" Tari tersentak dari lamunannya sesaat tadi dan kembali mengendap-endap masuk kedalam rumah.


Horeee...keadaan rumah tenang dan aman. Tari pun bersyukur tak pernah dipeluk ibu. Jadi tidak mengharapkan ibu menyambutnya, saat pulang kerumah.


Seluruh ruangan rumah begitu gelap. Tak ada satupun lampu yang menyala. Rumah tampak menyeramkan. Tapi Tari tak takut. Bahkan tampak bahagia. Itu artinya ayah ataupun ibu belum pulang ke rumah. Kalau begitu tak perlulah Tari mengendap-endap lagi.


Tak curiga Tari membuka pintu depan dan akan melangkah masuk. Tak...tak...ooppsss...Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam tampak melintas cepat diruang makan. Seketika Tari menghentikan langkahnya dan membelalakkan matanya ke arah ruangan makan.


Bulu kuduknya mulai berdiri. Tapi ada rasa penasaran yang menuntunnya untuk mencari tahu. Bayangan apakah itu ?. Kembali Tari berjalan mengendap-endap menuju ruang makan.


Matanya jelalatan mengitari dengan awas seluruh ruang makan dibawah kegelapan. Melirik ke sisi kiri dan kanan. Sesekali menoleh ke arah belakangnya. Mencari-cari bayangan itu. Sambil berjalan selangkah, dua langkah...sangat lambat.


Tak menyadari kini dirinya telah melewati ruangan makan dan selangkah lagi sudah berada didepan pintu kamar Mbah Kahpok. Kamar yang belum pernah dimasukinya. Kamar itu dijulukinya sebagai kamar khusus. Sampai hari ini ayah tak mengijinkan seorangpun untuk mendekati dan memasuki kamar itu. Kecuali Mbah Kahpok dan ayah sesekali.


Cerita tentang Mbah Kahpok, pertamakali diketahui Tari dari Riris dan Erika. Pertemuannya dengan Mbah Kahpok baru satu kali. Saat Mbah Kahpok membebaskannya dari kandang ayam. Selanjutnya Tari hanya melihat Mbah Kahpok menanam pohon bersama ayah.


Setelah itu Tari tidak pernah tahu lagi tentang Mbah Kahpok.Apakah masih menghuni kamar belakang ini atau tidak. Larangan ayah itu tanpa sengaja dipatuhi Tari. Karena buat apa lagi, usil tentang kamar belakang dan Mbah Kahpok. Tidak nyambung dengan dirinya. Begitu fikir Tari sebelum malam ini.


Berarti lampu dikamar ini menyala. Apakah ayah ada didalama ?. Saat Tari memikirkan itu, bayangan itu tampak lagi dari celah bawah pintu ini. Sepertinya bayangan itu berada didalam kamar ini. Tidak berkelebat lagi, melainkan bergerak-gerak. Seakan melakukan suatu aktifitas.


Mungkinkah itu bayangan Mbah Kahpok. Rasa penasaran kembali menyerangnya. Menggelitiknya untuk menengok ke dalam. Tari penasaran dengan wajah Mbah Kahpok sekarang. Soalnya memorinya tidak pernah meng up date wajah Mbah Kahpok.


Belum sempat Tari berkompromi dengan rasa penasarannya itu, tiba-tiba angin bertiup lembut. Seakan menjilat mesra tengkuknya. Spontan Tari bergidik ketakutan. Beradu dengan keingintahuannya akan bayangan itu. Antara mengintip mencari tahu ke dalam kamar ini atau pergi saja dari depan kamar ini.


Entah yang keberapa kali Tari tak berkesempatan membuat keputusan. Sampai terdengar dua jenis suara dari dalam kamar ini. Suara yang satu, Tari sudah dapat mengenalinya yaitu suara ayah.


Tapi suara yang satunya lagi, samar-samar. Bukan suara itu yang terdengar samar-samar. Tapi Tari ragu-ragu mengatakannya. Apakah suara Mbah Kahpok ?. Padahal Tari baru satu kali mendengar suara Mbah Kahpok yaitu saat membebaskannya dari kandanh ayam. Setelah itu...Tari tidak up date suara Mbah Kahpok.

__ADS_1


Pemenangnya adalah rasa penasarannya. Karena semakin besar rasa itu menguasainya. Pret lah dengan larangan ayah. Tari hanya ingin mencuri dengar saja. Memastikan suata siapakah itu ?.


Tari menempelkan satu telinganya pada pintu kamar yang tertutup itu. Terdengar lagi suara itu. Suara yang satu itu seperti suara seorang perempuan. Tapi bukan suara ibu. Karena suara itu sangat lembut.


Wah !...berselingkuhkah ayah didalam kamar ini ?. Siapa selingkuhan ayah itu ?. Berani sekali ayah berselingkuh dirumah ini. Itu artinya ayah mencari mati. Sebegitu putus asanyakah ayah pada ibu ?. Hingga mencari mati ?.


Ooo...tidak. Tidak mungkin. Atau...Mbah Kahpok yang berselingkuh ?. Membawa selingkuhannya ke kamar ini ?. Wah...berarti Mbah Kahpok yang mencari mati.


Tari menggeleng-gelengkan kepalanya. Bersusah hati dengan tebak-tebakan difikirannya. Membuat rasa penasarannya semakin tumbuh besar dan membuat tebakan baru.


Jangan-jangan ayah dan Mbah Kahpok sepakat untuk berselingkuh dikamar ini dengan satu perempuan. Ngiiiiiing..."What !..."Tari terperanjat sendiri dengan pendapatnya. Tapi hanya bisa membelalakkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar.


Semakin menempelkan telinganya pada pintu kamar ini. Mencuri dengar pembicaraan yang lagi threesome itu.


"Saya minta maaf atas kelalaian saya, Nyai" terdengar suara ayah bernada menyesal, pasrah.


"Sudah terjadi." kata suara perempuan itu, "Pohon itu sudah ditebang. Keanggunan Nyai sudah hilang" lanjut suara itu lembut.


"Nyai ?" bisik Tari didalam hatinya, bingung dan penasaran.


Mendengar ayah menyebut Nyai. Itukah nama selingkuhan ayah dan Mbah Kahpok ?. Apakah bayangan tadi adalah bayangan si selingkuhan itu ?.


"Bisa jadi" jawab Tari didalam hatinya. Membuat rasa penasarannya semakin menggebu-gebu ingin melihat si selingkuhan itu dan apa saja yang mereka lakukan didalam kamar ini.


Tapi Tari masih ragu untuk melancarkan renacananya yaitu mengintip. Seketika fikirannya diserang bayangan sosok bernama Nyai.


Apakah 'nyai' ini seperti yang dilihatnya di film-film horor ?. Wajahnya bisa menjadi perempuan cantik. Konon legendanya, kecantikannya melebihi kecantikan miss world.

__ADS_1


Padahal wujud aslinya adalah seekor ular naga, yang bersisik basah dan selalu mendesis. Pada malam-malam tertentu sosok aslinya adalah perempuan tua yang berkulit keriput, ompong dan rambut ubanan yang sebagian sudah rontok.


"Iiiii..." Tari bergidik ***


__ADS_2