PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Dunia Tari


__ADS_3

Bukan karena takut ancaman ibu. sebab ancaman-ancaman ibu yang lebih sadis dari itu, sudah biasa didengar Tari. Bahkan Tari pun sebenarnya tidak mengerti akan ancaman itu. Tapi karena sudah letih dipukuli. Letih menangis dan menahan tangis. Kepala dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Tari langsung tertidur lelap diatas sofa, didalam rumah mereka. Tanpa sempat lagi memakai baju atau pun ****** *****.


Malaikat-malaikat itu pun keluar dari persembunyiannya dan menatap sedih pada Tari. Memperhatikan garis-garis wajahnya yang polos dan teduh. Seakan tidak menyisakan kejadian buruk tadi untuk dibawa ke alam mimpinya.


Lalu dengan sayap-sayapnya, para malaikat itu menyelimuti tubuh Tari. Meniup-niup kepalanya. Seperti sedang membelainya untuk menyembuhkannya. Sebagian malaikat ada yang mengelus-elus pipi dan kening Tari dengan kecupan-kecupan hangat mereka.


Sayangnya, Tari tidak mengetahui kasih sayang dan perhatian yang diberikan malaikat kepadanya. Tentu saja !, bagaimana mungkin Tari mengetahui kasih sayang dari sosok yang tak terlihat. Sedangkan sosok yang terlihat saja tidak pernah memperlihatkan kasih sayang. Termasuk kedua kakak perempuan Tari.


Yaaahhh...Tari memang mempunyai dua orang kakak perempuan. Erika yang duduk dikelas lima dan Riris yang duduk dikelas empat. Kedua kakaknya inipun tidak pernah memperdulikan Tari. Suatu pemandangan yang sudah biasa, melihat Tari telanjang. Baik dalam keadaan tidur ataupun keadaan bangun.


Erika dan Riris selalu tidak perduli. Jika pun Tari sedang dimarahi atau dipukuli ibu mereka itu. Erika dan Riris akan merasa aman, jika mereka lari bersembunyi saja. Menghindari terimbasnya kemarahan ibu kepada mereka. Tak ada rasa kasih dihati mereka buat Tari. Walaupun itu sekedar memeluk adik mereka. Setelah dipukuli ibu. Apalagi memberinya sehelai kain untuk menutup tubuh Tari.


Mereka sungguh tidak perduli. Apakah Tari kesakitan, kedinginan atau digigit nyamuk. Erika dan Riris tidak mau tahu. Seperti sekarang ini. Erika dan Riris malah asyik menikmati kebahagiaan mereka. Menonton TV yang sedang menayangkan acara kesukaan mereka.


Sampai tiba-tiba ibu datang. Bagai kapal bajak laut yang akan merompak kebahagiaan dan kenyamanan mereka. Melihat Tari tidur telanjang. Sementara Erika dan Riris asyik menonton TV. Sambil ngemil kerupuk, kacang dan ketawa-ketiwi dengan kencang. Remah-remah kerupuk dan kulit kacangnya berserakan diatas lantai, disekitar mereka.


Seeerrr !!!....darah ibu langsung mendidih diubun-ubun kepalanya.


"Erikaaaaa !!!.... Ririiiiissss....!!!" teriak ibu sangat melengking. "B*b* kalian semua !. *nj*ng !..."


Sambil berlari mendekati mereka dengan kecepatan tinggi. Nyaris sama dengan kecepatan suaranya. Seperti hantu yang terbang dengan kepenasarannya. Mengejar orang yang telah membuatnya jadi hantu penasaran.


Erika tidak sempat menghindar, karena kaget. Maka...hup !...ibu berhasil menjambaknya. Erika hanya bisa meringis kesakitan. Sedang Riris berhasil lari tunggang langgang. Nalurinya telah mempelajari, keseiramaan suara ibu akan pasti sama dengan perlakuan kekerasannya. Jadi tidak ada kata kaget, kecuali kabur !.


Melihat Riris berhasil kabur, emosi ibu meningkat lebih dari 360°C. Ibu berteriak kencang memanggil Riris dan mengutukinya. Padahal satu tangannya sedang menjambak Erika. Riris tidak perduli. Terus saja berlari. Fikirnya akan lebih baik lari menghindar. Urusan nanti ibu akan lebih marah lagi padanya, itu urusan berikutnya. Maka jadilah Erika yang mendapat kemarahan ibu berlipat ganda.

__ADS_1


"Kurang ajar kalian !. Setan !. Mau kupecahkan kepalamu di TV itu !. Ha !" ancam ibu pada Erika. Sambil menyeret Erika ke dekat TV.


Erika meronta-ronta. Berusaha melepaskan tangan ibu dari rambutnya. Sedangkan Tari sudah tersentak bangun dan langsung duduk. Saat mendengar teriakan pertama ibu tadi. Walaupun setengah sadar. Tapi panik juga. Tari segera berpakaian dan masih sempat melihat Riris tadi laru tunggang langgang. Hampir menabrak pintu.


Tari mengenakan pakaiannya dengan bersembunyi-sembunyi, dibalik sofa yang ada diruang tamu. Mengintip Erika dipukuli ibu.


"Matikan TV itu !. Pakaikan si Tari baju !. Cepaaaattt !!!...." perintah ibu dengan mulut yang terbuka lebar. seukuran satu kepalan tangan pria dewasa yang kekar.


Segera Erika mematikan TV dan berlari. Seperti akan melaksanakan perintah ibu. Padahal karena mendapat celah untuk segera menghindar dari depan ibu. Menghindar dari kemarahan ibu selanjuynya. Terlebih bau mulut ibu.


Erika mencari Tari di ruang tamu dan menemukannya dibalik sofa. Berpura-pura sedang membantu Tari berpakaian. Padahal Tari sudah berpakaian. Tapi hal itu dipergunakan Erika untuk melampiaskan kekesalannya pada Tari. Karena bagi Erika, Tari lah biang kerok yang selalu membuat ibu marah dan dirinya selelu terkena imbasnya.


Erika memaki Tari. Tepat seperti ibu memaki mereka. Menyebutnya *nj*ng lah, b*b* lah...Sambil gencar mencubit pipi, lengan, perut, pantat. Menampar dan menggetok kepala. Akhir dari serangannya kepada Tari, Erika pasti meludahi wajah Tari. Barulah Tari puas dan meninggal Tari. Tinggallah Tari sendiri yang hanya bisa meringis dan merintih-rintih kecil.


Namun beberapa hari kemudian. Ketika mereka mendapat perlakuan yang sangat kasar lagi dari ibu, Erika kembali melampiaskan kekesalannya pada Tari. Erika mencubit kencang perut Tari. Bahkan memelintir kulit perut Tari. Sampai Tari terduduk menahan sakit dan memegangi tangan Erika itu. Tapi kali ini Tari tidak menangis ataupun meringis. Malah spontan Tari membalas. Menampar pipi Erika, memakinya. Kemudian meludahi wajahnya. Karena tanpa sengaja, Erika memelintir bagian perut Tari yang masih sakit, membiru. Bekas cubitan Ibu kemarin sore.


Ibu yang saat itu lagi sibuk mengurusi ayam-ayamnya dibelakang rumah mereka, mendengar suara tangisan Tari itu. Seeerrr !!!...darah ibu langsung mendidih. Tambahan lagi tubuh dan fikiran ibu sudah letih oleh aktifitas mencari uang dan masalah seharian ini. Serasa meledaklah kepala ibu. Cepat tangan ibu meraih sebuah sapu dan...wus !...Ibu berlari kearah mereka dengan menghunuskan gagang sapu itu.


Erika masih sempat melihat perbuatan ibu itu. Nalurinya membunyikan sinyal bahaya. Segera Erika berlari kencang, sebelum ibu tiba. Tapi telat buat Tari. Walaupun Tari melihat ibu berlari kearah mereka dengan menghunus gagang sapu dan nalurinya samar-samar menerjemahkan ada yang tidak baik. Tapi Tari kecil yang masih kanak-kanak, yang masih rindu dapat pembelaan dari seorang ibu. Membiusnya dalam keluguan harapan itu. Karena itu Tari berhenti menangis dan menatap ibu dengan harapan itu.


Ternyata salah !. Begitu ibu tiba didekatnya, ibu langsung memukulkan gagang sapu itu ke kedua betisnya. Blek !...blek !...tangisan Tari pun pecah. Harapannya sia-sia. Bahkan mendapatkan siksaan yang sangat sakit pada betisnya.


"Ampun, buuu..." tangis Tari. Sambil menjulurkan kedua tangan kecilnya kearah gagang sapu yang sedang diayunkan ibu. "Catit, bu. Ampuuuunnnn. Catiiiittt..."


"Makanya kau diam !. Diam !.Kalau tidak !, kupukul kepalamu pakai sapu ini !. Mau ?!..."

__ADS_1


Ibu memperlihatkan sapu itu dan memukul-mukulkannya ke kekening Tari. Untung pukulannya tidak keras. Tapi sudah mampu membuat Tari menggeleng-geleng kecil. Menatap sapu itu dan ibu, silih berganti.


Membayangkan rasa sakit akibat sapu itu, membuat Tari berhenti menangis. Barulah ibu pun berhenti memukulnya. Lalu Tari segera berlari mencari tempat persembunyian yang tenang. Biasanya Tari memilih teras depan rumah mereka. Karena tempat itu jarang dihuni ibu, Erika ataupun Riris.


Ibu lebih banyak menghabiskan waktunya dibelakang rumah. Mengurusi ayam-ayamnya. Menurut ibu, lebih baik mengurusi ayam-ayam yang dapat menghasilkan uang. Daripada mengurusi anak-anakanya yang hanya menghabiskan uang. Sedang Erika dan Riris lebih banyak menonton TV diruang tengah. Merangkap ruang keluarga dan ruang makan. Tapi jika ibu ada dirumah, Erika dan Riris lebih sering bermain kerumah teman-temannya.


Duduk sendirian dilantai teras depan, sesekali Tari tampak meringis kesakitan. Apalagi saat memegang bagian tubuhnya yang baru saja jadi sasaran empuk kemarahan ibu. Tapi biasanya hal itu hanya beberapa saat. Karena cepat naluri kanak-kanaknya, menggodanya untuk segera bermain.


Tari pun telah teringat akan boneka princessnya. Lalu mengambil bonekanya itu. Walaupun boneka itu terbuat dari bahan yang sederhana. Pemberian Miss Cecil, sang guru TKnya. Boneka itu dia jejerkan diatas lantai teras. Memandanginya beberapa saat. Sambil tersenyum-senyum bahagia pada mainannya itu.



Bosan memandang bonekanya. Tiba-tiba Tari berdiri. Lalu berjalan bolak-balik, mengelilingi bonekanya itu. Menatap kakinya yang sedang melangkah-langkah pendek. Muluynya pun mulai mengeluarkan suara hhhhhmmmm....berirama. Wajah dan sinar matanya memancarkan kebahagiaan. Tidak ada terisa garis rasa sakit ataupun sedih.



Ternyata Tari sedang teringat akan sebuah lagu baru yang tadi baru diajarkan Miss Cecil, disekolah. Tari sedang mencoba menyanyikannya kembali. Sambil membuat gerakan-gerakan kecil. Juga seperti gerakan yang diajarkan Miss Cecil. Maka jadilah Tari berlagak jadi Miss Cecil yang sedang mengajarkan lagu dan gerakannya, kepada para bonekanya.



Tak ketinggalan para malaikat yang selalu mengintipnya, ikut ambil bagian. Mengikuti nyanyian dan gerakan-gerakan Tari. Tari, para malaikatnya dan boneka-bonekanya; menciptakan kegembiraan bersama dan menikamatinya bersama-sama. Walau Tari tak melihat para malaikat pelindungnya itu.



Tari kecil telah kembali ke keceriaan kanak-kanaknya untuk beberapa saat kedepan. Seakan Tari tak mengalami kejadian buruk apa-apa. Usianya yang kanak-kanak itu telah menyembunyikan semua kenangan pahit yang dialaminya. Nalurinya menuntunnya untuk selalu bergembira.

__ADS_1



Itupun jika Erika dan Riris tidak mengusilinya. Ibu tidak terganggu dengan tangisannya ataupun kreatifitas mengekpresikan kegembiraan naluri kanak-kanaknya. \*\*\*


__ADS_2