PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Nyonya


__ADS_3

Tinggal dirumah orang tua Anton sebagai pengantin baru, Tari masih menikmati masa-masa bahagianya. Bahkan sangat bahagia. Seakan baru saja bangun dari tidurnya.


Walaupun sebagai anggota keluarga yang baru, Tari telah menunjukkan taringnya. Terutama kepada para asisten rumah tangga mami dan papi. Sikapnya cenderung arogan untuk memperlihatkan dirinya sebagai pemilik rumah yang berkuasa dan harus dihormati.


Memerintah Mbak Minah (nama panjang Mbak Min) yang merupakan kepala asisten rumah tangga, untuk mengantarkan makanannya kekamar tidurnya.


Padahal kebiasaan dirumah mami dan papi adalah sarapan dan makan malam dilakukan secara bersama-sama diruang makan. Kecuali makan siang, dilakukan masing-masing anggota keluarga. Terserah mau dimana. Berhubung semuanya mempunyai pekerjaan dan aktifitas masing-masing.


Tapi Tari...baik sarapan, makan siang ataupun makan malam; semua dilakukan didalam kamar tidur. Itupun selalu sendirian, tanpa Anton. Suaranya akan berteriak memanggil Mbak Min untuk mengantarkan makanannya.


Nada suaranya yang tinggi dan melengking, selalu mengagetkan Mbak Minah dan seluruh penghuni rumah. Lalu semuanya kembali berpura-pura seperti tidak mendengar. Semua tampak seakan-akan sedang menikmati makanannya masing-masing, termasuk Anton. Kecuali dari gerakannya yang kemudian gelisah dan semakin tertunduk. Menyembunyikan perasaan malu.


Mungkin kalau boleh, Anton membenamkan wajahnya kedalam piring yang ada dihadapannya. Agar tidak terlihat mami, papi, Bila dan Bang Edhie.


Beberapa hari berikutnya, Tari masih bersikap seperti itu. Barulah papi menegur Anton dengan kewibawaannya,


"Kamu gak ajak istri kamu sarapan bersama" tanya papi.


"Sudah, pi" jawab Anton, tertunduk.


"Lalu ?..." susul papi. Tapi Anton tidak menjawab. Papi masih menunggu jawaban Anton, beberapa saat. Anton tetap tidak menjawab. Bahkan tidak berniat untuk menjawab. Karena tampak Anton begitu tenang. Melahap habis makanannya.


Sampai Mbak Min menghampiri mereka untuk melayani mereka lagi, akhirnya papi berpesan pada Mbak Min,


"Mba...mulai nanti malam. Setelah menghidangkan makan malam kita, mba langsung antar makanan Ibu Tari kekamarnya, ya"


"Iya, pak"


"Mungkin Tari masih malu bergabung dengan kita. Jadi kamu Anton sebagai suami, jangan bosan mengajak istrimu bergabung dengan kita dimeja makan. Makan bersama itu penting"


"Iya, pi" jawab Anton datar.


Sebenarnya kebingungan dan kegundahgulanaan sedang melanda Anton. Bagaimana menjawab papi lagi, jika ditanya lagi mengenai ketidak hadiran Tari dimeja makan.

__ADS_1


Sudah berkali-kali Anton mengajak Tari. Tapi Tari kekeh menolak dengan nada marah. Antonpun hanya bisa mendesah panjang. Menghadapi sikap Tari dan mendengar jawaban Tari. Jika sedang membahas sesuatu yang sifatnya usulan dari Anton.


Salah satunya usulan Anton untuk bergabung makan bersama dengan keluarganya dimeja makan keluarga. Bagi Tari itu bukan usulan. Tapi pemberontakan Anton dan seluruh keluarga Anton untuk mendepaknya dari rumah itu. Maka kemarahan Tari mulai tumbuh kepada keluarga Anton.


Berbeda dengan halnya Bila. Setelah memperhatikan sikap Anton yang tampak murung. Tidak seperti lazimnya yang dialami pengantin baru. Selalu sumringah dan wajah berseri-seri. Tapi tidak demikian dengan Anton.


Bila jadi teringat dengan kata-kata Bintang beberapa hari yang lalu. Karena itu, usai makan malam dan Bila sudah berada dikamar tidurnya. Bila menelepon Bintang.


"Kamu pernah bilang ke kakak, kalau Tari itu sudah tidak perawan" kata Bila dengan nada berbisik. Tidak ingin kedengaran Edhie yang saat itu sedang rebahan diatas ranjang mereka.


"I...ya..." jawab Bintang ragu dan mulai was-was.


"Dari mana kamu tahu dan siapa yang melakukannya"


"Ntar..." kata Bintang dan tampak curiga dengan pertanyaan Bila Mereka-reka arah pertanyaannya akan kemana.


"Kenapa Kak Bila menanyakan hal ini"


"Kakak sedih melihat sikap Anton. Dianya kebanyakan murung, sedih, melamun...Secara dia kan pengantin baru. Harusnya happy dong"


"Kamu tahu dari siapa kalau Tari itu..."


"Dari teman dong, kak. Dugaan Bintang dan teman-teman Tari yang dulu satu kamar diasrama dengan Tari, Tari itu menggunakan ilmu pellet untuk mendapatkan Anton. Secara kakak tahu kan...bagaimana penampilan adik ipar kakak itu. Pria normal gak akan tertarik sama dia. Mau tertarik dari segi mana coba. Wajah begitu, penampilan juga begitu. Apalagi wataknya...Waduh !. Parah habis, kak"


"Iya...iya...terus...Pertanyaan kakak tadi.."


"Ilmu pellet itu dapatnya dari dukun. Naahh...bayarannya yah keperawanan si Tari"


"Iihhh...kok horor begitu sih. Kamu tahu dari mana tentang itu"


"Dari teman..."


"Iya...ya...teman. Teman kamu tahu dari mana ?"

__ADS_1


"Makanya dengerin Bintang dulu, kak. Jangan main potong pembicaraan"


"Iya...ya...sorry. Lanjutlah..."


"Dukunnya di Tari memelihara jin Jinnya itu sering datang kekamar asrama. Bercinta sama si Tari...."


"Apa ?!...dikamar asrama mereka bercinta ?!. Gak tahu malu !. Udah horor !...Porno lagi. Gila ya tuh cewek. Lanjut..."


"Teman yang tempat tidurnya ada didekat Tari, pernah memergoki Tari dan jin itu sedang bercinta. Malah temannya itu, nyaris diperkosa jin itu. Karena memergoki mereka. Bukan hanya itu, kak. Beberapa hari yang lalu, teman itu masih diteror jin itu. Mau memperkosa dia"


"Sudah, Bin. Kakak jadi merinding"


"Karena itulah Bintang menentang Tari untuk masuk kekeluarga kita. Tapi sudah terlambat"


"Terus...gimana dong, Bin..." suara Bila terdengar sangat memelas ketakutan. Sedangkan Bintang tidak tahu harus berkata apa. Kecuali hanya diam, merenung sedih.


Setelah pembicaraan dengan Bintang itu, Bila jadi sering merinding dan diam-diam mengawasi Tari dengan matanya. Secara diam-diam. Tatapan matanya penuh curiga kepada Tari.


Tentu saja hal itu dirasakan oleh Tari. Kemarahan Tari terhadap Bila semakin besar menyala.


Tiap kali mereka tanpa sengaja berpapasan didalam rumah, kemarahan itu langsung membakar ubu-ubun Tari. Maka Tari akan pasang aksi. Membusungkan dadanya, mengangkat dagunya dan mendengus seperti banteng.


Sedangkan Bila akan tertunduk, takut. Membuang mukanya dan berjalan cepat menjauhi Tari. Setelah beberapa meter mereka saling menjauhi, Bila pun melirik sinis. Lalu melangkah lebar dari Tari.


Mendapati ketakutan Bila itu, Taripun semakin menyombongkan dirinya. Segera Tari mengabarkan hal itu kepada para tetangga mereka. Melalui kunjungan say hellonya kerumah Tante Hombing. Sebagai tetangga samping rumah.


Lalu ke warung gorengan yang ada disebrang jalan. Berjarak tiga rumah dari rumah Tante Hombing. CEO warung gorengan itu bernama Mbak Ipeh.


Disitu Tari up date status. Menceritakan kebanggannya itu. Sekaligus memperkenalkan dirinya sebagai calon nyonya rumah. Menggantikan posisi mami mertuanya kelak. Memproklamirkan dirinya sebagai ahli waris tunggal dari rumah mertuanya itu dan tentunya klinik papi mertuanya itu.


Statusnya itu tidak perlu pakai emotion yang banyak. Cukup dengan wkwkwkwkw....yang kencang, panjang dan berkali-kali. Sampai semua orang yang ada diwarung itu, diam terperangah mau muntah. Menatap Tari yang tertawa dengan mulut lebar dan penuh dengan goreng pisang, bercampur bakwan. Tapi kemudian mereka ikut berwkwkwkwkw....meriah. Setelah Tari mengatakan,


"Hari ini saya yang traktir semua. Makan sepuasnya....wkwkwkwk...."

__ADS_1


Tari begitu bahagia mendengar tawa-tawa mereka itu. Pertanda bahwa mereka mendukung Tari sebagai calon nyonya rumah, mengggantikan posisi mami mertuanya.


Tidak memperdulikan Anton yang sedang uring-uringan. Karena belum menikmati malam pertamanya. Tapi sudah selalu dan selalu dimarahi Tari. Wkwkwkwkw....***


__ADS_2