PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Kampanye Nyaris Gagal


__ADS_3

Fitri, Gina dan beberapa teman-teman yang lain menuju kamar Bintang. Mereka mendapati Bintang sedanh tiduran.


"Hai, Bin. Gak masuk lo" tanya Gina. Begitu mereka masuk dan menghampiri Bintang. Bintangpun langsung menoleh kearah mereka dan duduk ditepi ranjangnya.


"Masuk tadi pagi. Ini juga baru pulang, baru akan istirahat..." jawab Bintang dengan menatap satu persatu kakak-kakak tingkatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Eh...lo pada...Ada apa nih. Gue gak punya hutangkan ?...ke elo-elo pada"


Belum ada serangpun yang menanggapi Bintang. Fitri sudah nyosor numpang tidur diranjang Bintang. Tak perduli dengan tatapan Bintang yang penuh tanya.


"Kagak....Hanya kakak ipar lo" Gina mulai bersuara.


"Ada apa dengan dia" tanya Bintang dengan tatapan kearah Fitri. Fitri tampak tergeletak pasrah diatas ranjang Bintang. Matanya tertutup rapat. Berusaha menenangkan dirinya.


"Siapa ?...Fitri atau kakak ipar lo" masih Gina yang bersuara.


"Dua-duanya" jawab Bintang dan kini kembali menatap kakak-kakak tingkatnya itu, yang tadi mengantarkan Fitri kekamarnya.


"Nyaris gaduh dihalaman depan kampus" jawab salah seorang kakak tingkat Bintang.


"Masalah dendam lama ?" tanya Bintang antusias


"Kayaknya sudah berkembang. Karena tadi Tari nyinyirin Fitri yang udahan sama Toni. Eeehh...Fitri langsung berang. Lalau ngatain Tari menjual perawannya ke dukunnya Tari itu. Tentu saja Tari sangat marah. Tatapan mata Tari horor banget ke Fitri. Sampe Fitri pasrah gitu. Fitri bilang, kalau nanti atau besok dia mati. Itu pasti ulahnya Tari dan dukunnya" Gina menjelaskan.


"Waduh !...kok semakin mengerikan begini. Lalu..."


"Kitanya kudu semakin hati-hati, Bin. Kalo boleh, hindari deh si Tari" komen Gina.


"Gimana gue mau menghindari si Tari. Dia kan sekarang jadi bagian keluarga gue"


"Iya...ya..." jawab kakak-kakak tingkat Bintang secara bersamaan dengan wajah dilanda kebingungan dan kecemasan.

__ADS_1


Tari juga sedang dilanda kecemasan atas kestabilan semangatnya untuk melanjutkan promosi dirinya ke orang-orang sekitarnya. Akibat pernyataan Fitri kemarin itu, bahwa jika nanti atau besok Fitri mati. Maka yang bertanggung jawab adalah Tari dan dukunnya.


Pernyataan Fitri itu merangsang amarah Tari untuk mewujudkan kata-kata Fitri itu. Perkataan adalah doa dan doa harus dikabulkan. Agar si pengirim doa berbahagia.


Masalahnya Tari tidak ingin bertanggung jawab atas Fitri. Karena tidak ada keuntungannya. Jika tidak ada keuntungan, untuk apa dilakukan. Tapi Tari ingin membahagiakan Fitri dengan mengabulkan doanya itu.


Maka Tari menyerahkan teknisnya pada Mbah Kahpok. Mbak Kahpok merespon positif perintah Tari dengan senyum sumringah yang nakal. Sudah terbayang difikirannya, menggumuli tubuh Fitri yang montok berbalut kulit putih mulus itu.


"Selesai" bisik Tari didalam hatinya.


Lalu Tari melanjutkan kampanyenya, keesokan harinya. Masih bertemakan edisi kampus dengan rangkaian kegiatan: mentraktir Ibu Pur, satpam dan petugas kebersihan kampus dan asrama. Menggabungkan diri pada sekelompok adik-adik tingkat yang sedang duduk-duduk dikantin, didalam ruang perkuliahan. Sampai yang berada disemua warunh yang ada disebrang depan kampus.


Hari-hari itu kegiatan Tari penuh. Hanya untuk berkampanye. Mempromisikan dirinya dan memamerkan statusnya sebagai orang berhasil. Berhasil mencapai kebahagiaan yaitu memiliki banyak uang.


Tari pun menceramahi adik-adik tingkatnya untuk tidak hanya fokus belajar. Tapi juga fokus mencari pasangan hidup yang kaya. Agar biaya yang telah dikeluarkan semasa kuliah tidak sia-sia. Melainkan mendapatkan untung dengan mendapatkan pasangan kaya.


Kata Tari itu bukan materialistis, melainkan logis. Juga tidak perlu lagi susah-susah mencari kerja, banting tulang. Semua pengeluaran semasa kuliah sudah terbayarkan dari penghasilan pasangan hidup kita itu.


Biasanya ceramahnya itu akan didramatisir disesi akhirnya. Tari akan berpura-pura tergesa-gesa untuk segera pergi. Karena sejak menikah dengan orang kaya, kesibukannya berlipat kali ganda.


Seperti menemani mami mertuanya shopinglah, kesalonlah, menghadiri undangan pernikahan kolega mami mertuanyalah, undangan sunatan pasien papi mertualah dan lebih sering menemani kedua mertuanya ke undangan saudara mereka yang sudah jadi pejabatlah, politikuslah dan jenderal bintang dua, tiga blablabla...


Tapi tak lupa Tari memberi pesan, bahwa sekolah tinggi hanyalah sarana untuk mendapatkan suami kaya. Membuat yang mendengar jadi keluar air liurnya, mimisan dan mengeluarkan air mata. Sebagai ekspresi kekaguman mereka akan status sosial Tari sekarang ini.


Tapi ada juga yang akhirnya bosan. Karena setiap hari mereka mendengar ceramah Tari itu. Mulai pagi sampai petang dengan topik dan materi itu-itu saja.


Bagi yang merasa bosan, satu per satu mulai undur. Bahkan ada yang langsung pergi. Sebelum Tari tiba menggabungkan dirinya.


Telinga mereka tidak rela lagi untuk mendengar Tari bercuap-cuap. Terutama dengan intonasi suaranya yang selalu pada nada tinggi nan sumbang.


Pasti bisa merusak gendang telinga. Jika setiap hari dan setiap menit, mendengar suara Tari itu dari jarak yang sangat dekat. Bahaya tingkat tinggi. Karena itu bagi yang merasa dirinya bijak, undurlah. Akhirnya banyak yang undur. Berarti banyak yang bijak.

__ADS_1


Tidak mengapalah bagi Tari. Setidaknya mereka pernah mendengar ceramahnya. Walaupun tidak lengkap. Karena langsung diskip. Semoga tidak terjadi salah pengertian.


Sepotong juga bisa viral kok. Setidaknya ada yang membekas ditelinga mereka, bahwa kini Tari masuk golongan orang terhormat, orang penting dan kaya. Apalagi banyak dari mereka memergoki dirinya. Saat keluar dan masuk kemobil mewahnya.


Pastilah mereka akan saling bercerita. Katakanlah seperti cerita berantai. Maka tersebarlah dikampus tentang keadaan Tari yang sekarang ini. Mereka pasti iri dengan status Tari kini. Kalau sekarang mereka mau bersahabat dengan Tari, tidak mungkin. Pintu persahabatan Tari sudah tertutup rapat.


Ternyata beberapa orang sama sekali tidak mempercayai ceramah Tari itu, yaitu kelompok Bintang. Hal ini tidak bisa diabaikan Tari. Karena dapat merusak reputasinya.


Maka ketika siang iti dikantin kampus, Tari mendapati Bintang sedang tertawa-tawa dengan banyak teman-temannya. Amarah Tari langsung menggelegar. Menyambar hati dan fikirannya.


Lalu mendekati Bintang dengan wajah ditekuk parah. Berdiri percis didepan Bintang.


"He !...Kurang ajar !. Berani kalian menertawakan gue, ha !" kata Tari sangat lantang dengan amarah penuh.


"Ih...kegeeran" jawab Bintang santai. Menatap ke wajah Tari dengan posisi masih tetap duduk santai pula dikursinya tadi. Tak gentar dengan tatapan tajam Tari, tertuju pada Bintang.


"Kita lagi lihat tingkah banyol si Kurkur kali" lanjut Bintang dan langsung tertawa-tawa kencang bahagia. Tak memperdulikan Tari sama sekali.


Tawa Bintang itupun diikuti oleh teman-temannya lain. Malah tawa Bintang lebih kencang lagi. Melihat tingkah si Kurkur. Anak si pemilik kantin yang kurus kurang vitamin. Makanya dipanggil Kurkur. Pria dewasa yang masih lajang, sangat kocak dan ramah.


"Minggir lo" kata Bintang lagi. Sambil menggerakkan satu tapak tangannya kearah Tari. Agar Tari bergeser dari hadapan mereka.


Tari nyaris beraksi, menampar Bintang. Kalau saja seseorang dari teman mereka tidak segera berdiri dibelakang Tari dan tanpa sengaja menyenggol bahu Tari.


Taripun menoleh kearah orang itu. Tanpa sengaja Tari melihat ada Kurkur yang tak jauh dari mereka sedang beraksi banyol.


Sadar akan hal itu, segera Tari berlalu dari hadapan Bintang.


"Makanya jadi orang jangan kegeeran" kata Bintang mengiringi kepergian Tari.


Kata-kata Bintang itu masih menggema dikepala Tari. Serasa menghujam harga dirinya dan menjatuhkan reputasinya sebagai nyonya kaya yang terhormat.

__ADS_1


Tari merasa sangat dipermalukan Bintang dikantin, didepan banyak teman-temannya. Padahal Tari telah berjuang keras untuk mengangkat kehormatannya. Tapi Bintang dengan mudahnya menghancurkan perjuangannya itu. Maka Tari akan membuat perhitungan akan hal itu.***


__ADS_2