
Sejenak Tari terdiam memperhatikan Mila. Ada rasa iri dan marah yang mengganggu hatinya saat ini. Hingga tanpa disadari Tari, Mila juga telah menangkap kehadiran Tari dengan sorot matanya.
"Tari" bisik Mila didalam hatinya.
Seakan mendengar namanya disebutkan Mila, Taripun seketika menoleh pada Mila. Mila pun gugup. Tapi kegugupan itu hanya sesaat. Begitu merasakan satu tangan suaminya merangkul pinggangnya.
"Ini sang bidan, Nyonya Tegar Bambang" kata Tegar memperkenalkan Mila pada salah seorang temannya. Lalu mereka saling berjabat tangan.
"Mila" kata Mila memperkenalkan namanya pada teman suaminya itu.
"Franky" jawab teman suaminya. Juga memperkenalkan dirinya pada Mila.
"Franky ini dokter angkatan laut, honey" kata Tegar lebih memperkenalkan Franky pada Mila.
Kemudian merekapun terlibat pembicaraan ringan. Mila kembali melirik kearah Tari dan ternyata Tari masih berdiri ditempatnya. Tergeraklah hati Mila untuk mendekati Tari. Lalu minta ijin pada suaminya dan Franky.
"Mau menyapa teman lama, darling" kata Mila berbisik ditelinga Tegar.
"Siapa ?"
"Itu...Ibu keriting yang gendut"
"Ooo...oke, honey"
Kemudia Mila melangkah mendekati Tari. Karena dihati Mila, Tari masih tetap sahabatnya. Walaupun jalinan persahabatan mereka sangat menyakitkan. Nyaris menjadi luka batin.
Untung sekarang Mila mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Suami yang ganteng, taat agama dan orang terhormat lagi denga satu orang buah cinta mereka yang sudah berumur satu tahun.
Jadi masalah apapun yang pernah terjadi diantara mereka dahulu, bagi Mila hanyalah sebuah perjalanan buruk. Sekarang ini mereka ada diperjalanan yang sekarang. Semoga menjadi lebih baik. Itulah alasan Mila menyapa Tari dihajatannya ini.
"Halo Tari, apa kabar" sama Mila ramah dan mengulurkan tangannya kearah Tari untuk berjabat tangan.
"Baik" jawab Tari dengan wajah datar. Menyambut uluran tangan Mila, tak mesra dan tak hangat. Karena Tari membuang wajah, saat berjabatan tangan dengan Mila.
__ADS_1
Selanjutnya ada kekakuan diantara mereka. Mila langsung kehabisan kata-kata baik untuk Tari. Untung masih ada sisa senyum manis diwajahnya. Saat akan mendekati Tari tadi.
"Nggg...lo tinggal dimana" tanya Mila asal. Demi memecah kekakuan itu.
"Kita tetangga kok"
"Oh ya ?...Rumah lo yang mana sih. Kok gua gak tahu, ya"
"Gua juga gak tahu lo tinggal disini"
"Masa sih...Terus...kok lo tahu klinik gua ini"
"Gua gak tahu. Kebetulan aja tadi ibu-ibu melintas dari depan rumah gua. Saat gua lagi bawa main anak gua"
"Ooo...Anak lo udah berapa ?"
"Tiba-tiba aja lo udah buka klinik disini" kata Tari dengan nada sinis. Tak menghiraukan pertanyaan ramah Mila. Membuat Mila kembali gugup dan was-was. Karena menyadari Tari masih seperti yang dulu yaitu tensi cepat tinggi.
"Oh ya...silahkan dimakan makanannya ya. Gue mau nyamperin tamu yang lain. Sorry ya...Gua tinggal ya..."
"Sirik aja lo. Gue emang sengaja gak undang lo. Lo biang kekacauan. Gue gak mau lo kacaukan acara gue" bisik Mila didalam hatinya.
Tari yang sejak datang sudah sangat kesal. Karena klinik Mila ini dan juga tidak diundang Mila. Tambahan lagi suami Mila orang terhormat, tajir dan ganteng lagi. Mila dikasih membuka klinik mewah dan megah. seperti ini.
Maka Tari semakin sangat kesal, cemburu dan iri. Apalagi tadi dicueki Mila. Sempat beberapa lama Tari diam merenungi kekesalannya.
Ketika tersadar, tak menyurutkan niatnya untuk kembali kerumah mertuanya. Setelah menumpahkan kekesalannua itu diwarung Mbak Ipeh. Selanjutnya setelah malam, barulah Tari menelpon Anton. Memerintahlan Anton untuk menjemputnya dari warung Mbak Ipeh.
"Edan !" gumam Anton sendiri didalam mobil. Menuju rumah orang tuanya. Mematuhi perintah Tari.
Bintang dan Bila tidak kaget melihat kedatangan Tari. Walaupun mereka tidak pernah siap untuk menerima kehadiran Tari dirumah ini. Apalagi harus hidup satu rumah dengan Tari.
Mereka hanya kaget atas kedatangan Tari disaat tengah malam baru saja tiba. Bersama suara kencangnya yang memerintah Anton lagi untuk meminta kunci kamar mertuanya itu.
__ADS_1
"Aku mau kita yang menempati kamar itu" kata Tari dengan sombongnya.
Bila dan Bintang hanya memperhatikan mereka dari lantai atas, didepan kamar Bila. Juga saat Anton menapaki anak tangga demi anak tangga untuk naik dan akan menghampiri mereka, Bila dan Bintang masih memperhatikan mereka dengan hati resah.
Ketika Anton sudah berada didekat mereka, barulah Bila dan Bintang saling bertatapan. Kemudian Bila mengangguk pada Bintang. Seakan memberi isyarat kepada Bintang untuk menyerahkan kunci kamar orang tua mereka kepada Anton.
Bintangpun tidak ragu untuk segera memberikan kunci kamar itu pada Anton. Sebelum Anton memintanya. Akibatnya Anton merasa malu sendiri dan tertunduk malu. Saat menerima kunci itu dari Bintang, sambil menggendong Happy.
"Deg..."
Seketika hati Bintang trenyuh ketika menatap wajah Anton dengan sangat dekat. Banyak garis wajahnya menggambarkan kesedihan, keletihan dan keputusasaan. Juga marah dan dendam. Tapi semua itu tak dapat diungkapkannya. Kecuali menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Yah...patuh sajalah.
Lalu Anton berjalan kekamar orang tua mereka dengan langkah lesu. Membaringkan Happy diatas tempat tidur, kemudian keluar lagi. Berjalan dengan cepat, mengangkat koper-koper dan kardus-kardus Tari. Memindahkannya dari mobil kedalam eks kamar papi dan mami.
Beberapa kali Anton melakukannya. Jadi terpaksa mengabaikan Happy yang mulai menangis. Sejak dibarinhkan diatas ranjang. Sementara Tari sudah tidak tampak lagi batang hidungnya.
Akhirnya Bintanglah yang kemudian berinisiatif menggendong Happy. Begitu digendong Bintang, seketika tangisan Happy berhenti. Bintang menimang-nimangnya, memberinya susu, membelai pipinya, rambutnya, menatap mata Happy yang juga sedang menatapnya.
Happy tampak tersenyum bahagia. Kaki kecilnyapun menendang-nendang tangan Bintang. Tangan kecilnya pun menggapai-gapai wajah Bintang. Bintangpun memegang lembut kedua tangan Happy itu. lalu menciuminya, menciumi kakinya, kedua pipinya. Hingga terdengar suara tawa kecil Happy dengan sesekali menyemburkan ludahnya.
Mendengar suara tawa kecil itu, tiba-tiba kesedihan melanda hati dan fikiran Bintang. Sebuah tangisan besar serasa akan meledak dari dalam dadanya.
Sebelum itu terjadi, segera Bintang menyerahkan Happy pada Bila. Lalu Bintang masuk kekamarnya dan meledaklah tangisan Bintang didalam kamarnya itu. Hatinya begitu sedih menghadapi kenyataan.
Ada terbersit dihatinya, betapa berharganya Happy buat keluarga mereka. Sampai orang tuanya, Bang Theo dan keluarganya; seakan membayar kehadiran Happy dengan nyawa mereka.
Tapi itupun Tari masih tidak mengerti. Mengabaikan Happy dan lebih memilih untuk menikmati ambisinya.
Kesedihan itu rasanya tidak dapat diwakilkan oleh air matanya. Seakan air matanya tidak dapat menggambarkan kesedihannya itu. Apalagi Bintang merasa belum selesai dengan kenangan kedua orang tuanya. Ketika berada dikamar orang tuanya itu.
Bintang masih ingin menghirup aroma orang tuanya yang tersisa dikamar itu, dibaju bekas dipakai orang tuanya itu, handuk mereka, sprei, bantal; dengan semua itu.Bintang belum selesai. Tetapi sudah dipaksa harus diselesaikan.
Perasaan itu yang semakin membuat Bintang bersedih. Seakan Bintang dipaksa untuk segera mengakui statusnya sebagai anak yatim piatu. Belum selesai juga dengan itu, Bintang sudah dipaksa lagi harus mengakui kekuasaan rezim baru ini, yaitu Tari dan ambisinya.
__ADS_1
Harus tunduk dan patuh pada rezim ini. Menyerahkan semua harta dalam kekuasaannya. Jika tidak, akan dideportasi secara tidak hormat.***