PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Terusir


__ADS_3

Berhari-hari Bintang masih terpengaruh dengan kata-kata Della, bahwa Tari berniat menyingkirkan Bintang dari rumah papi-maminya. Bintang jadi lebih banyak diam, melamun dan sesekali berfikir.


Beberapa kali Bintang melonjak kaget. Ketika Della memanggilnya ataupun berbicara padanya. Padahal suara Della lembut dan pelan.


"Lo baik-baik aja kan, Bin ?" tanya Della akhirnya, suatu kali.


"Apa ?...Oh...iya. Gua baik. Ada apa, Del ?"


Della hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Lalu melanjutkan belajar dimeja belajarnya. Sesaat kemudian melirik Bintang lagi. Tampaklah Bintang tengah melamun lagi. Della pun hanya mendesah sedih. Karena merasa bersalah. Telah membagikan ketakutannya kepada Bintang. Hingga membuat Bintang jadi sering melamun.


Padahal kali ini Bintang tengah mematangkan rencananya akan menyalib langkah Tari. Lebih gigih lagi mempengaruhi papi-mami. Menyarankan Anton tidak berlama-lama tinggal bersama mereka dirumah ini.


Lagi pula Bintang mendapat bocoran dari mami. Kalau papi telah menyediakan sebuah rumah buat Anton. Jika kelak Anton telah menikah. Nah...inilah saatnya Bintang mengingatkan kedua orang tuanya, tentang rumah Anton itu.


"Kali saja setelah pisah rumah, Bang Anton semakin terpacu untuk mencari kerja. Dia akan merasa lebih diharhai sebagai kepala rumah tangga, jika dirumahnya sendiri" kata Bintang sangat antusias mempengaruhi kedua orang tuanya.


Terlihat papi-mami sangat menerima argumen-argumen Bintang.


"Iya...iya...Biar bagaimanapun Tari itu pasti ada kebutuhan. Dia juga pasti ingin mengatur rumahnya sendiri. Jadi kalau Tari sering marah-marah sama anton, yaahh....karena Anton belum bekerja. Kita harus dorong Anton untuk bekerja, Pi"


"Tuh kan...mami setuju dengan Bintang" bisik Bintang didalam hatinya, sangat bahagia.


Bintang tersenyum lebar. Akhirnya kedua orang tuanya menyetujui sarannya. Jalan keluar untuk permasalahan pelik ini, akhirnya ditemukan dan dijalankan. Bintangpun dapat tersenyum manis pada Tari.


Walupun senyum manis Bintang itu membuat mulut Tari penuh dengan caci maki. Tari semakin lancar melontarkannya. Apalagi setelah mami menyampaikannya dengan bahasa lembut, santun dan wibawa seorang ibu kepada anaknya yang sudah dewasa. Agar Anton segera mempersiapkan diri untuk memasuki rumah mereka sendiri. Hadiah perkawinan dari papi.


"Brengsek !...Kurang ajar !... Sialan !... Mati saja kalian semua !" kata Tari masih memaki dengan tidak letih didalam kamar mereka, didepan Anton.


"Mereka semua menghinaku. Terutama si Bintang itu. Ini pasti ulah si Bintang. Pasti dia memaksa papi untuk mengusir kita. Biadap !...Adik kau itu perempuan biadap !"


Anton hanya mendengarkan dan menatap mata Tari. Setelah merasa Tari selesai bicara, Anton segera akan menuju kamar mandi. Tak disangka Anton, spontan Tari menampar satu pipi Anton dengan sangat kuat.


"Hei !..." teriak Anton kaget.


"Penipu kau !...Kurang ajar kau !..." kata Tari dengan matanya yang melotot tepat kemata Anton.


"Apalagi, sih..." tanya Anton marah.

__ADS_1


"Kau penipu !...Kalian semua penipu !. Brengsek kalian semua !"


Kembali Tari akan menampar satu pipi Anton lagi. Tapi segera Anton menangkap tangan Tari itu. Membuat Tari semakin beringas. Lalu menjambak Anton"


"Hei !...Lepaskan !...Lepaskan !... Perempuan gila !..."


"Kau penipu !...Brengsek kau !..."


Anton berusaha melepaskan tangan Tari yang mencengkeram kuat rambutnya dan berhasil. Meskipun ada beberapa rambutnya yang tercabut.


Kembali Tari akan menjambak rambut Anton. Anton cekatan menghindar. Tari menarik baju Anton. Anton pun mendorong tubuh Tari dengan kuat. Hingga Tari jatuh keatas tempat tidur.


Amarah Tari semakin menyala dengan suhu sangat tinggi. Kembali menyerang Anton dengan berusaha menjambak rambut Anton, mencakar lengan Anton. Anton masih menghindar dengan menepiskan tangan Tari.


Kesabaran Anton sudah mencapai puncak. Spontan Anton menampar lengan Tari sangat kuat. Barulah Tari berhenti dan menatap tajam kearah mata Anton.


"Kau bilang rumah ini diwariskan untukmu. Buktinya apa !...Kau malah diusir dari rumah ini !...dan kau bahagia !?. Tolol kau !...Penipu kau !..."


"Kau yang penipu. Kau tidak bilang, kalau kau sudah tidak perawan lagi !"


Seketika amarah Tari hilang. Tari akhirnya hanya terdiam dan kaget. Berdiri mematung masih menatap Anton. Tidak menyangka kalau Anton mengetahui hal itu.


Ada garis kebingungan perlahan-lahan muncul dari tatapan Tari itu. Sementara Anton sudah menantangnya dengan tatapan yang sangat tajam.


Entah berapa lama Tari diam mematung seperti itu, Anton pun keluar dari kamar. Membuka dan menutup pintu dengan kasar. Membawa serta kemarahannya.


Sepeninggal Anton, barulah Tari bergerak. Berjalan kearah jendela sebelah luar kamar mereka. Menyingkapkan sedikit horden jendela kamar mereka itu. Mengintip dari balik horden itu. Mencari jawaban dari udara yang bergerak diluar kamar mereka.


Mudah-mudahan diantara udara itu ada terdapat utusan Mbah Kahpok. Lalu memberinya jawab, "Mengapa Anton mengetahui dirinya tidak perawan lagi".


Tari tidak mengerti. Syarat Mbah Kahpok sudah dipenuhinya. Tetapi mengapa Anton masih menyadari dirinya tidak perawan. Apakah ada yang salah ?.


Segera Tari bersiap akan menemui Mbah Kahpok, dikamar belakang rumah orang tuanya itu.


Kali inipun Tari kerumah orang tuanya itu tanpa diantar dengan mobil mewah mertuanya. Tari memakai jasa taksi online. Tidak perduli kalau ada tetangga yang melihatnya nanti. Tari tidak memikirkan ke hal itu. Fikirannya hanya ada tertuju untuk menemui Mbah Kahpok, titik.


Begitu tiba dirumah orang tuanya, Tari langsung menemui Mbah Kahpok. Tanpa bertanya ini dan itu, Mbah Kahpok sudah mengetahui maksud kedatangan Tari. Maka sebelum Tari menumpahkan keluh kesahnya, Mbah Kahpok sudah mengawali pembicaraan mereka dengan nada marah dan juga kecewa.

__ADS_1


"Terlalu bernafsu. Saya sudah katakan, lakukan seperti orang yang diperkosa" kata Mbah Kahpok dengan mata terpejam.


Tari terdiam, termenung. Menelusuri kejadian malam pertamanya dengan Anton. Tujuh hari setelah mereka menikah, itulah malam pertama mereka.


Tari berusaha mengingat kejadian malam itu. Sayangnya, Tari tidak mengingat semuanya. Kecuali bergumul dengan Anton. Lalu dia merasa jijik dengan pergumulan itu. Karena itu mereka belum melakukannya lagi. Sampai malam tadi.


Bisa jadi itu penyebab Anton uring-uringan. Berani berbantah dengan Tari dan lebih memilih mematuhi orang tuanya, diusir dari rumah itu. Begitu menurut Tari. Padahal papi mertuanya menghadiahi sebuah rumah plus perabotannya kepada Anton. Sebagai hadiah pernikahan mereka. Lalu mengajak Anton untuk menempati rumah itu. Itu saja, bukan mengusir.


Mbah Kahpok tersenyum bangga, mengetahui apa yang dirasakan Tari. Lalu menghampiri Tari. Memperlakukannya dengan lembut. Membelai rambut dan pipinya. Menyentuh gundukan lemaknya. Memeloroti pakaiannya satu demi satu dan pergumulan seru pun terjadi. Sehingga Tari haru menginap dikamar belakang itu.


Kekecewaan Anton belum juga surut. Tambahan lagi Tari tidak pulang. Sudah lama Anton memendam kekecewaannya atas keperawanan Tari itu. Tapi terucapkannya juga dalam kemarahan.


Kini berkecamuk kegelisahan dan kebingungan akan kelangsungan pernikahannya. Haruskah diakhiri saja ?. Mengingat ikatan dan janji pernikahan diagama mereka adalah sekali seumur hidup. Hanya maut yang dapat memisahkan mereka.


Tari adalah pilihannya untuk menjadi pasangan seumur hidupnya. Sampai maut memisahkan mereka. Baik dalam keadaan sehat ataupun sakit, senang ataupun sedih; harus selalu bersama. Sampai kematian datang menjemput salah satu dari mereka, terlebih dahulu.


Anton merasa terjebak dalam pernikahannya dan kini hanya bisa mengutuki dirinya. Merenung dalam kamarnya sendiri. Mencoba mengambil sebuah keputusan.


Jika Anton harus memutuskan untuk mengabaikan ikatan dan janji pernikahannya, apa kata papi-mami. Betapa kecewanya mereka dengan Anton. Tapi jika dipertahankan, kuatkah Anton menghadapi Tari yang telah menipu dirinya dan semua perlakuan kasar Tari ?.


Memikirkan semua itu, Anton hanya bisa menciut dalam kesendiriannya.


Menjelang tengah hari pada keesokan harinya, Tari pun datang. Langkahnya santai masuk kekamar mereka dengan membawa aroma harum ditubuhnya.


Garis wajahnya menggambarkan ketenangan. Tidak ada bayangan beban. Sesaat Tari melirik Anton, sebelum merebahkan dirinya diatas kasur. Itupun masih dengan lirikan ketenangan. Seketika membuyarkan kekecewaan Anton. Mengembangkan dengan cepat naluri kelaki-lakiannya.


Antonpun langsung menyerbu Tari dengan kehangatan yang maksimal. Menunaikan tugasnya sebagai seorang suami yang gagah.


Tari hanya pasrah. Tidak juga menikmati kehangatan Anton itu. Karena hatinya masih menyimpan amarah.


Bahkan ketika akhirnya mereka harus pindah dari rumah papi-mami mertuanya, Tari masih pasrah. Padahal Tari sudah merasa sangat terhina. Merasa terusir dari rumah mertuanya.


Semua itu terjadi karena kebodohan Anton, fitnahan Bintang dan adanya dukungan Bila akan sikap Bintang terhadap dirinya. Juga pasti ada bisikan jahat dari pihak luar. Siapa lagi kalau bukan Della.


"Yah...Della. Binatang ****** itu harus menerima ganjarannya dari tangan gua" bisik Tari didalam hatinya.***


(jangan lupa jempolnya teman-teman. Juga like dan votenya ya...lop u all pull ⚘♥️. Thank u)

__ADS_1


__ADS_2