PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Kasihan si Della


__ADS_3

Tari merasa sangat terhina. Merasa.terusir dari istana masa depannya, yaitu rumah mertuanya. Karena kebodohan Anton, fitnahan Bintang dan adanya dukungan Bila akan sikap Bintang terhadap Tari yang begitu membenci Tari. Tanpa sebab musabab, begitu menurut Tari. Hanya karena dirinya dan Anton saling mencintai.


"Begitu kalau jomblo. Bawaannya iri sama orang yang sedang jatuh cinta. Gua doa in si Bintang jadi jomblo akut. Biar tempenya jamuran. Hahahaha..." begitu kata Tari dengan suara kencang. Suatu hari diwarung gorengan Mbak Ipeh.


Maka tertawa ramailah orang-orang yang mendengar ocehan jahat Tari itu.


Masih menurut Tari, bahwa Della punya peranan atas pengusiran dirinya ini.


"Yaahhh...Della...Binatang ****** itu harus menerima ganjarannya dari tangan gua" bisik Tari didalam hatinya. Ketika dalam perjalanan menuju rumah Tante Hombing.


Niat hatinya akan berkeluh kesah pada Tante Hombing. Walaupun kini jarak yang ditempuh lumayan jauh. Harus naik kenderaan. Kalau dulu kan hanya berjalan kaki beberapa langkah.


Tidak mengapalah kini jauh. Tetap akan ditempuh Tari demi menumpahkan uneg-uneg kemarahannya yang sangat bergelora dijiwanya. Sangat mengganggu khayalannya akan bayangan dirinya yang akan menjadi pegawai negri. Sebagai bukti bahwa Tari akan selalu beberapa langkah didepan Bintang.


Uneg-uneg ini hanya bisa disampaikan kepada sekutunya, salah satunya Tante Hombing. Tante Hombing tidak hanya sebagai pendengar. Tapi juga seorang pemberi komentar yang menyemangati Tari.


Sambil berkeluh kesah dengan bahasa kotor dan tanpa tanda baca. Apalagi pemakaian jeda. Biasanya mulut Tari juga penuh makanan. Menyantap makanan Tante Hombing. Baik makanan berat, seperti nasi dan lauk-pauknya. Itupun tidak cukup satu porsi. Harus pakai nambah, satu atau dua kali.


Juga makanan ringan, berupa cemilan. Alhasil dimana Tari duduk menyampaikan keluh kesahnya, maka disekitarnya akan kotor. Hasil remah-remah makanan yang berlompatan dari mulutnya.


Selesai hari ini dari rumah Tante Hombing. Keesokan harinya akan ke warung gorengan milik Mbak Ipeh. Juga disitu Tari berkeluh kesah dengan volume maksimal. Sambil mengungah gorengan, Tari menyampaikan keluh kesahnya. Bahasanya kotor dan penuh caci maki, sumpah serapah kepada keluarga Anton. Terumata Bintang dan teman-temannya. Tidak terkecuali juga kepada Anton.


Mbak Ipeh, CEO warung gorengan tempat biasa Tari nongkrong; juga bisa menjadi pendengar yang baik. Sambil memperhatikan mulut Tari dan menghitung setiap gorengan yang masuk ke mulut Tari.


Semakin banyak Tari berkata-kata, maka semakin banyaklah gorengan yang masuk kemulut Tari. Tidak hanya gorengan, pasti disertai pembasuh. Berupa es teh manis. Minuman favorit Tari.


Menyaksikan semua itu masuk kemulut Tari, senyuman Mbak Ipeh semakin lebar kepada Tari. Maka yel-yel penyemangat buat Tari pun terucap dengan indah dari bibir Mbak Ipeh.


"Lho ???....Kok jadi begitu, ya. Padahal menurut saya nih, ya...Kalian sudah cocok. Secara yang saya tahu, kamu kan bidan dan Bila dokter. Jadi yang sakit sama dokter Bila, yang mau ngelahirin dan konsultasi ibu hamil sama Bidan Tari. Kan jadi komplit kliniknya. Jadi rame..."


Mbak Ipeh memperlihatkan keberpihakannya kepada Tari. Karena Tari adalah gelembung pundi-pundinya.


Tari tersenyum bangga. Bukan pada ide Mbak Ipeh itu. Tapi karena Mbak Ipeh bisa dijadikan sekutu kuatnya.


"Mana mereka setuju gua diklinik itu, mbak. Apalagi si Bintang. Dia kan juga calon bidan. Dia takut klinik itu diserahkan ke gua"

__ADS_1


"Wah...fikiran si Bintang jelek banget, sih"


"Yah...iya. Bukan hanya jelek. Tapi jahat. Buktinya gua diusir"


"Iya, jahat"


"Diluar saja dia bersikap sok suci, sok alim. Padahal didalam rumah itu...wah !. Gua lah yang tahu kebusukannya, mbak. Dia itu seperti anjing. Beraninya didalam kandang, didalam rumah. Diliar rumah, tidak bersuara dia. Ini saja gua lagi nungguin dia. Kalau dia berani keluar, pasti akan gua telanjangi dia. Biar malu dia...:


"Emangnya si Bintang dirumah ?. Bukannya dia tinggal di asrama" tanya salah seorang warga yang kebetulan sedang membeli gorengan Mbak Ipeh.


"Iya...kali aja dia dirumah. Mana gua tahu" jawab Tari gugup dan asal.


Syukurlah Tari tidak terganggu dengan pertanyaan seorang warga itu. Kalau Tari terganggu, pasti siwarga itu masuk 'daftar tunggu'. Orang yang akan diteror.


Buktinya Tari sangat lancar mengeluarkan semua kebenciannya didepan Mbak Ipeh. Tidak perduli pada orang-oranh atau warga-warga lain yang datang dan pergi di warung itu.


Semakin banyak yang datang dan mendengarnya, maka Tari akan semakin kencang mengeluarkan kalimat kebenciannya.


Sampai mendekati larut malam dan Mbak Ipeh sedang membersihkan warungnya. Sebab dagangannya sudah sedari tadi habis. Remah-remah gorenganpun sudah dilahap Tari. Seperti melahap makan malam. Barulah Tari juga berniat untuk pulang. Berbekal sorak gembira dihatinya.


Tidak sia-sia datang ke warung Mbak Ipeh. Seharian hanya makan gorengan dan es teh manis beberapa gelas, yang penting dia sudah berkampanye disitu. Menyebarkan kebenciannya dan sedikit berita hoaks. Tidak saja pada Mbak Ipeh, melainkan kepada siapa saja yang datang ke warung itu.


Memperlakukan Bintang dan keluarga mertuanya dengan sorot mata sinis, cibiran tersenyembunyi dan gosipan yang pasti akan terus meluas dari lingkungan terdekat, RT/RW sebelah, Kelurahan sebelah, Kecamatan sebelah, tetangga samping kiri-kanan, keluarga terdekat, keluarga jauh, teman dekat, kolega dekat. Hingga teman jauh dan yang terjauh.


Gosip jelek tentang mereka akan terus meluas. Seperti wabah penyakit yang sangat menyakitkan dan mematikan.


Sampai senyum sinis mengembang di bibir Tari. Alam mimpipun kaget melihat senyuman itu. Berbekas hingga dipagi harinya. Berbuahkan semangat untuk membungkam Della yang telah menjadi pihak ketiga. Atas insiden pengusiran dirinya dari rumah mertuanya. Padahal itu adalah rumah masa depannya.


Katanya mengunjungi almamater. Tanpa ada kepentingan apapun. Hanya untuk melancarkan niatnya. Membalaskan kemarahannya pada Della. Tari pun clingak-clinguk didepan pintu pagar kampus almamaternya itu.


Satpam yang pernah diludahinya, memang sudah melihat Tari dan semua gerak-geriknya sejak tadi. Tapi tidak memperdulikannya. Masih ada rasa kekesalannya terhadap Tari. Terutama aroma ludah Tari yang sepertinya masih ada didalam ingatannya.


Membuat dirinya kembali meresa eneg. Perutnya tiba-tiba mual. Karena pada waktu itu, ludah Tari tepat mengenai ujung hidunya dan menetes ke bibir atasnya. Lebih dari dua hari sejak kejadian itu, si satpam tidak berselera makan dan minum. Hanya menghisap rokok dan rokok. Sampai istrinya marah-marah. Uang jatah belanja bulanannya terpotong untuk tambahan membeli rokok. Semua itu akibat aroma ludah Tari yang sama dengan bangkai tikus.


"Puih...Ikh..."

__ADS_1


"Pak...Ada Della ?" tanya Tari ditengah lamunan si satpam.


Membuat si satpam melonjak kaget. Mendengar suara Tari yang mirip suara beruang bersendawa. Aromanya sangat bau. Spongan si satpam mundur beberapa langkah dari pintu masuk pos satpam. Menggosok-gosok hidunya beberapa saat. Barulah menatap Tari yang ternyata sudah berdiri didepan pintu masuk pos satpam ini.


"Apa !?...Eh...menjauh kamu" kata si satpam kesal dan mengibaskan-ngibaskan satu tapak tangannya.


"Ada Della" ulang Tari bertanya. Tanpa mematuhi perintah si satpam. Tetap berdiri didepan pintu masuk pos itu.


"Tadi sih keluar" kata si satpam dan menunjuk kearah jejeran warung-warung yang ada disebrang jalan kampus.


Tari pun mengikuti arah telunjuk si satpam. Memperharikan warung bakso, mie ayam, warung minuman kekikinian dan makanan kekinian. Ada juga konter pulsa, hp, laptop dll.


"Biasanya Della ada di warung mana"


"Gak tahu...Cari aja sendiri"


"Sombong !...Wek...." kata Tari kesal dan menjulirkan lidahnya ke arah satpam.


"Iiiii..." si satpam bergidik, mau muntah.


Untungkah Tari tidak melihat raut wajah si satpam yang akan muntah. Karena Tari sudah melihat Della masuk ke warung makanan Korea yang lagi digandrungi anak-anak muda.


Tari pun menghambur cepat.ke warung itu. Tak ingin melepas buruannya. Berdiri sejenal diambang pintu masuk. Matanya liar mencari-cari posisi Della ditengah keramaian pengunjung warung itu.


"Yap "


Tari telah melihat Della duduk disatu sudut ruangan, sendirian. Tersenyum lebarlah Tari dan melangkah mendekati Della.


Della belum menyadari kehadiran Tari yang selangkah lagi tiba didekat Della. Setelah Tari duduk didepan Della, barulah Della menyadarinya dan Della sangat kaget. Menatapa Tari dengan mulut terbuka lebar dan mata tidak berkedip.


Tari duduk percis didepan Della. Menatap tajam kemata Della.


"Byuuurr !!!"


Seketika aura negati yang dibawa Tari menghantam kepala Della dan seakan ada sesuatu yang memaksa masuk ketubuh Della untuk menguasai fikirannya.

__ADS_1


Della merasakan kepalanya seakan membesar dan berat. Bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya kedinginan.***


(Tlg dukung ya dengan like, komen dan vote. Thank u pul all..Loop u❤)


__ADS_2