
Mumpung masih hangat kejadian pertengkaran Ruli dan Mila, dipakai Tari lah itu untuk membuat semakin ramai suasana kamar. Kalau boleh menjurus kegaduhan.
Mempermainkan ketakutan teman-temannya akan keamanan uang mereka. Menempatkan posisi dirinya tidak hanya sekedar tokoh baik. Melainkan juga pelindung yang terpercaya. Mengajak teman-temannya untuk mawas diri terhadap Ruli dan Mila.
"Bisa saja Mila atau Ruli pencurinya. Berpura-pura kehilangan uang atau mungkin mereka itu bersekongkol. Kalian tahu kan ?, kalau dari awal mereka itu berteman. Ingat ?..." bisik Tari pada teman-temannya. Tanpa sepengetahuan Ruli dan Mila.
Begitulah Tari, didepan teman-temannya itu Tari memfitnah kedua-duanya. Berusaha membuat tembok pemisah diantara teman-temannya. Terserah mereka percaya atau tidak.
Jika mereka percaya kepadanya, berarti pengikutnya. Jika tidak, mereka tinggal memilih. Mau berpihak pada Mila atau pada Ruli. Tidak mungkin ada yang berpihak pada keduanya, Mila dan Ruli. Karena Tari telah menangkap dari tatapan mereka, ada curiga pada Mila dan ada juga pada Ruli.
"Menurut lo...siapa pencurinya, Ri" tanya salah seorang teman mereka dengan wajah bingung.
"Gue gak mau asal tuduh. Tapi yang terpenting, gue harus hati-hati terhadap keduanya. Dompet dan hp.gua, gue akan bawa kemana pun gue pergi. Kekamar mandi kek, lagi berak kek..kalau lagi tidur, gue selipin dibawah bantal" jawab Tari sangat bijaksana dan penuh muslihat.
Banyak teman-teman yang menyetujui pendapat Tari itu dan melakukannya. Jika Tari butuh uang, barulah beraksi. Paling pas saat mereka tidur. Terutama tidur siang. Karena yang tidur siang, sedikit. Jadi aksinya bisa lebih tenang. Tinggal tiupkan nafas lembut saja keubun-ubun mereka. Pasti tidurnya sangat lelap. Hehehe...Tari senyum-senyum bahagia sendiri.
Sebenarnya Tari ingin bersorak dan melompat-lompat. Tapi tidaklah mungkin. Tidak ingin menimbulkan wasangka yang jelek dari teman-teman. Cukuplah menebat cengar-cengir sombong. Mengagumi dirinya yang hebat diantara sekian banyak orang disekitarnya yang bernama teman satu kamar, nan bodoh semua.
Belum seorang pun dari teman-temannya itu yang kesombongan Tari itu. Bagi mereka, Tari masih sebagai tokoh baik yang terbaik. Tempat perlindungan yang aman dan terpercaya. Sikapnya netral, tidak asal tuduh dan tidak berpihak pada siapapun atau pada kelompok manapun.
Kepercayaan teman-temannya itu sengaja tetap dijaga Tari untuk membawa seluruh teman-temannya satu kamarnya ke dalam dunia kebencian, dendam dan selalu dirasuki amarah. Agar ramai dan Tari punya banyak sekutu. Sekalian untuk menaklukkan setan.
Mengambil posisi setan sebagai sosok biang kerok segala yang jahat. Tari ingin jadi Mahabiang keroknya. Begitu bisikan ***** jahat Tari yang selalu menggema dihatinya. Kata orang bagai srigala berbulu domba. Nah Tari akan seperti itu. Setan bersayap malaikat.
Pada tampak luar, Tari berpura-pura bersikap manis. Padahal niatnya akan semakin memperkeruh keadaan. Karena Tari belum puas dengan keadaan suasana kamar sekarang. Tari ingin keadaan yang lebih buruk lagi.
Bagai seorang kleptomania, Tari kembali beraksi. Kali ini mengambil beberapa lembar uang milik Fitri dari dalam lemari Fitri. Ketika itu Tari melihat diruang perkuliahan, Fitri sangat mengantuk. Menguap berkali-kali saat perkuliahan sedang berlangsung.
Maka ketika usai, diam-diam Tari mengikuti Fitri yang berjalan cepat keasrama. Lalu masuk ke kamar. Tapi Tari masih menjaga jarak. Berpura-pura sedang duduk istirahan dibangku taman didepan kamar mereka.
Tidak sampai lima belas menit, Taripun masuk ke kamar. Langkahnya lebar dan perlahan. Melongokkan kepalanya kedalam kamar. Haaa...Tari bernafas lega. Melihat Fitri sudah terbaring.
Taripun masuk kekamar. Mendekati ranjangnya yang kebetulan berada tepat disamping ranjang Fitri. Tari meletakkan tapak kanannya ke kekening Fitri. Ternyata Fitri tidak terganggu. Kemudian Tari meniupkan nafasnya ke wajah Fitri. Fitripun tidak terganggu dan disitulah Tari langsung beraksi.
__ADS_1
Baru jeda beberapa hari, sebelum reda sakit kepala Fitri memikirkan uangnya. Tari kembali beraksi. Mengambil beberapa lembar lagi uang milik teman yang dikamar sebelah. Si teman ini menceritakannya kepada Mila.
"Ini pasti ulah Ruli" jawab Mila ke siteman itu.
"Ruli ?...kok..." jawab siteman bingung dan ragu
"Soalnya...beberapa hari yang lalu gua lihat Ruli plangak-plongok didepan pintu kamar kalian. Pasti dia lagi mengamat-amati" papar Mila sangat pasti.
Kebetulan saat mereka bergosip ria itu, disalah satu bangku yang ada dikoridor kampur; seorang teman yang lain mendengar dan langsung mengabarkannya pada Ruli. Akibatnya tak dapat dihindari lagi. Pertengkaran pun harus terjadi.
Pertengkaran kali ini sangat seru. Sampai adu phisik. Bukan hanya pertengkaran antara Ruli dan Mila. Tapi pertengkaran dua kubu yaitu antara pembela Ruli dengan korban-korban yang pernah kehilangan uang. Terrmasuklah Fitri yang mempergunakan momen itu, memplokamirkan dirinya juga telah kehilangan uang.
Mereka saling jambak, berteriak, saling dorong, mengumpat, mengucapkan kata-kata kotor. Sampai harus mendatangkan Ibu Pur. Barulah perkelahian itu berhenti.
Lalu diputuskan Ibu Pur, yang harus menerima hukuman adalah Ruli. Karena dianggap sebagai biang kerok keributan ini. Memulai terjadinya adu phisik dengan menampar pipi Fitri.
"Fitri menuduh saya mengambil uangnya, bu"kata Ruli membela diri.
Hanya Tari seoranglah yang tertawa bahagia. Melihat keributan itu. Tapi tetap tawanya masih didalam hati. Itupun harus bersembunyi dulu. Mengasingkan diri dari teman-temannya. Lalu membusungkan dadanya dan mengembangkan senyum pada angin yang sedang bertiup.
Ketika kembali ke teman-temannya, Tari memasang wajah sedih yang mendalam. Terutama dihadapan Ruli. Bahkan pada pemandangan Ruli, Tari memberi bonus yaitu memasang wajah keprihatinan. Agar kepercayaan Ruli kembali kepadanya.
Tari mau, agar Ruli bergantung kepercayaan kepadanya. Karena Tari masih menyimpan dendam atas tatapan kecurigaan Ruli yang dahulu itu.
Ruli mendekati Tari, pada keesokkan harinya. Ada curhat yang ingin disampaikan Ruli pada Tari. Juga Ruli butuh dihibur dan dibela oleh seorang teman. Kata hati Ruli, teman itu adalah Tari.
"Kenapa lo gak bilang, kalau mereka yang memulai pertengkaran itu" kata Tari berbisik pada Ruli. Seakan membela Ruli.
"Maunya sih begitu. Tapi...kita lihat sajalah. Sekali lagi dia nuduh gue, gue tonjok bibirnya. Sampai copot semua gigi depannya. Gue gak perduli, kalau gue sampe drop out. Persetan !...masih banyak sekolah kebidanan lain" jawab Ruli penuh emosi.
Tak menyadari, kalau Tari sudah merekam kata, "Sekali lagi..." Baiklah...Tari masih akan berbaik hati pada Ruli. Memberinya waktu sekali lagi. Sekali lagi Tari membuat siasat. Mengambil tas seorang teman yang pro kepada Fitri dan menyembunyikannya ke dalam lemari Ruli. Inilah waktunya pencicilan akan balasan terhadap Ruli, dimulai. Teng !...
Kepanikanpun kembali melanda kamar. Desi yang manja, tapi bawel itulah yang kini jadi korbannya. Desi lah sipemilik tas itu.
__ADS_1
Langkahnya sangat lerbar, masuk ke kamar. Sambil menangis dan ngedumel, Desi langsung mengobrak-abrik semua tempat tidur yang ada didalam kamar itu. Tanpa ada kata-kata pembuka. Hanya mengandalkan tangisan yang kencang dan mengutuki entah siapa yang telah menyembunyikan tasnya.
Membuat teman-temannya hanya terpaku menatap Desi menarik sprei kasurnya, mengangkat kasurnya dan menjungkirbalikkannya dari ranjang ke atas ubin kamar. Semuanya tampak pasrah dan bingung dengan tindakan Desi itu.
"Apa sih Des." tanya Neneng kemudian. Setelah kasurnya jungkirbalik.
"Tas gue..."jawab Desi dengan nafas ngos-ngosson. Tapi masih energik melakukan aksinya. Kini giliran kasur Fenda.
"Tertinggal dikampus kali" kata Fenda kesal dan merapikan kembali kasurnya.
"Gak mungkinlah. Tas gue gak pernah lepas lagi dari tangan gue"
"Gak pernah lepas...kok sekarang hilang" tanya Neneng penasaran dan mulai iba pada Desi.
"Tuh dia...gue tadi ketoilet. Tas gue, gue taruh dimeja belajar. Begitu gue balik kamar, tas nya gak ada. Padahal gue gak lama. Hanya pipis doang. Gue juga udah keruangan Ibu Pur mencarinya. Gue fikir, kali aja gue lupa ingatan, tertinggal disitu. Ee...gak ada juga..."
"Hp lo ada gak didalam tas lo itu" tanya Gina. Sambil memalangi Desi mendekati tempat tidurnya.
"Hp, dompet, sampe surat berlian dan berliannya yang baru gue beli, ada didalam" jawab Desi. Sambil menatap Gina dengan sendu.
"Ya...udah...miskol aja..."kata Gina
Spontan Desi tersadar dan meraih paksa hp Gina dari tangan Gina. Padahal tadinya Gina sedang teleponan dengan mantan pacarnya yang lagi merayu Gina untuk baikkan lagi.
Bahkan sampai sebelum Desi berada didekat tempat tidurnya, perbincangan alot mereka masih berlangsung. Gina mengabaikan isak tangis Desi yang bercampur sumpah serapah itu. Sampai Gina memberi saranpun, hubungan teleponan tadi masih aktif.
Tapi setelah dirampas Desi, masih terdengar suara mantan pacarnya Gina dari hp Gina itu.
"Hei, Des...apaan sih lo...gue kan.."teriak Gina kesal
Desi tidak perduli. Langsung break teleponan mantan pacar Gina itu. Lalu menghubungi normornya sendiri. Seketika ketegangan yang mencengkam terjadi. Semua menajamkan pendengarannya masing-masing. Berkonsenteasi untuk mendengar nada panggilan hp Desi, termasuk Tari. ***
(pada dag dig dug kan ????...sabar ya...tahan nafas...)
__ADS_1