
Kegalauan Tari semakin hebat. Apalagi ketika Tari sedang melaksanakan kewajiban perjanjian malam pertemuannya dengan Mbah Kahpok. Jejak kebahagiaan Tari benar-benar hilang, tanpa bekas. Menyadari keoriginalan dirinya.
Apa kata Anton nanti, dimalam pertama mereka. Ketika Anton tahu, dirinya sudah tidak perawan lagi, atau tidak tahukah Anton membedakan yang perawan atau tidak ?. Sekolot itukah Anton ?. Sampai tidak tahu ?.
"Semoga dia tidak tahu" kata Tari menghibur dirinya sendiri.
Tapi tetap semakin membuat Tari ragu akan keinginannya untuk menikah dengan Anton. Maka semakin sangat lamalah Tari menjawab Anton untuk menemui kedua orang tua Tari, meminta restu.
Sampai-sampai Anton mulai khawatir, kalau-kalau Tari akan berubah fikiran. Menolak untuk menikah dengan dirinya dan lebih memilih keputusan orang tuanya. Kerja diklinik bersalin kakak perempuan ayahnya itu.
Kekhawatiran Anton itu terbaca oleh Bintang dari sikap dan air muka Anton yang selalu tampak murung. Maka Bintanglah yang lebih dulu sangat kegirangan dan satu-satunya orang yang sangat kegirangan.
"Gila lo, ya. Abang lo patah hati, lo nya malah senang. Nyaris sama jahatnya lo dengan si Tari" kata Della, teman satu kamar Bintang; dengan bercanda.
"Patah hati ada obatnya, Del. Ketimbang abang gue patah arang setelah menikah dengan Tari. Hayoo...mendingan mana"
"Yah...patah hatilah"
"Nah...tuh lo sekeyakinan dengan gue. Contohnya Karina, gak dapat Abang Anton, dia dapat anak pemilik kos-kosannya"
"Iya...syukur ya Karina ngekos. Setelah banyak teman-teman mereka kembali kerumah orang tuanya masing-masing:
"Iya...jadi dapat jodohkan dia. Pengacara lagi..."
Seketika Della dan Bintang pun tertawa-tawa bahagia. Mereka masih tertawa-tawa. Ketika tanpa sengaja dan tanpa diketahui mereka berdua, Tari melihat dan mendengar tawa mereka itu.
Tari menangkap tertawaan itu mereka itu adalah tawa ejekan untuk dirinya. Hal itu menyulutkan api amarah Tari. Membuat hati dan fikirannya panas, hingga mengelepar-gelepas. Seperti ikan yang terdampar didaratan.
Tak akan bertoleransi lagi dengan tawa ejekan itu. Tari harus mengalahkannya dan menggantinya dengan tangisan. Maka Tari mengintai Bintang atupun Della.
Menantikan satu diantara mereka masuk kekamar mandi. Kemudian akan digebukin Tari. Sampai amarahnya tuntas atas tawa jahat mereka itu tadi.
Tari menantikan mereka dengan bersembunyi pada suatu ruangan kecil yang berada tidak jauh dari kamar mandi group kamar Bintang. Tempat itu adalah bekas toilet dan kini dipakai tempat menyimpan barang-barang bekas kamar mandi. Bau, sepi dan gelap.
Sebenarnya Tari enggan bersembunyi disitu. Tapi terpaksa, karena tidak ada tempat lain.
Tentu saja benar perkiraan Tari. Walaupun telah menantikan cukup lama dan menyiksa. Sudah berjam-jam lamanya. Nyamuk-nyamuk menyerang tubuhnya. Kecoa bersileweran menakut-nakutinya, tak mengapa. Karena tidak sia-sia.
Terlihat Bintang berjalan sendiri menuju kamar mandi. Begitu Bintang masuk dan akan menutup pintu kamar mandi, spontan Tari keluar dari persembunyiannya. Berlari kearah kamar mandi dan mendorong kencang pintu kamar mandi itu.
"Prak !"
__ADS_1
"Aduh !" terdengar Bintang mengaduh. Keningnya beradu dengan daun pintu.
Tari segera masuk dan menjambak rambut Bintang. Menampar pipi Bintang.
"Plak...Plak...Buk" dan menjitak kepalanya dengan kepalan tangannya.
Bintang hanya mengaduh-aduh dan Tari tanpa suara terus menyerang Bintang secara membabi buta. Tak memberi kesempatan pada Bintang untuk menyerang balik ataupun menghindar.
Karena pukulan-pukulan berikut begitu cepat dan tak terduga. Beberapa kali mengenai kepala, tangan, wajah, perut dan dada.
Sampai Bintang terjatuh, terduduk diatas lantai. Kedua tangannya masih dipakai melindungi wajah dan pipinya dari serangan-serangan berikut. Karena itu juga Bintang tak berkesempatan untuk melihat sosok orang yang telah menyerangnya itu.
Saat Bintang sudah jatuh terduduk, tiba-tiba,
"Plak !"
Sebuah benda keras menghantam kepala Bintang. Membuat Bintang jatuh tersungkur kearah samping dan Tari langsung lari, meninggalkan Bintang.
Beberapa menit Bintang masih dalam posisi tersungkur, diam. Akibat kepalanya terasa amat sakit dan pusing. Juga seluruh tubuhnya, serasa remuk. Sampai kemudian seseorang datang ke kamar mandi dan mendapati Bintang dalam posisi seperti itu. Masih tak bergerak dan tak bersuara.
Orang itu adalah teman satu kamar Bintang, yang langsung berteriak histeris. Mengakibatkan para penghuni kamar berdatangan. Merekapun menolong Bintang. Sambil bertanya-tanya heboh tentang kejadian yang menimpa Bintang.
Sementara Tari tengah tertawa-tawa kecil nan bahagia. Tengah mengadakan pesta kecil kemenangannya, sendirian. Memang Gina beberapa hari yang lalu telah memutuskan untuk ngekos.
Jadi Tari kini sudah sendirian berada dikamarnya. Sedang kamar-kamar yang lain, yang dahulu dihuni oleh teman-teman seangkatannya, juga telah kosong. Karena itu Tari sangat bebas mengekspresikan kebahagiaannya.
"Itu masih peringatan. Nextnya lo macam-macam ke gue....wekh..." kata Tari. Sambil membuat isyarat memotong leher dengan satu jari telunjuknya ditempelkan pada lehernya.
Selanjutnya yang ada dibenak Tari sebagai rencananya untuk balas dendam pada Bintang adalah, kelak kalau Tari sudah jadi istri Anton. Bintang tidak boleh lagi datang dan tinggal dirumah orang tua mereka itu. Karena rumah itu pasti jadi milik Tari.
Kejadian yang dilakukannya pada Bintang dan rencana yang ada difikirannya, membangkitkan semangat Tari untuk tak gentar menemui ibu.
Mengalahkan gengsinya demi untuk memberitahukan kabar akan pernikahannya. Lagi pula Tari sudah tidak tahan terus berdiri dipanggung sandiwara ini lagi.
Berperan sebagai tokoh pemaaf dan kelak harus tinggal sebagai tokoh pahlawan yang telah melalui banyak penderitaan. Mengalahkan ibu sebagai tokoh antagonis yang profesional dikehidupan Tari. Cukuplah peran itu untuk ibu. Kini saatnya peran itu diambil paksa oleh Tari dengan taktik yang telah difikirkan Tari.
Toh...Tari telah memerankan tokoh itu kepada teman-temannya. Buktinya, Tari lebih hebat dari ibu. Masa sih...sekarang Tari harus diistirahatkan. Mengembalikan peran itu kepada ahlinya, yaitu ibu. Padahal skenario kali ini Tarilah penulisnya. Seharusnya peran tidak dapat diubah siapapun, termasuk sutradara. Hanya penulis yang memiliki hak itu.
Dimana Tarilah satu-satunya pemeran tokoh itu. Apalagi Tari akan menikah, peran itu harus melekat pada dirinya dan tidak boleh ada peran ganda. Predikat nyonya kaya akan disandangnya. Lalu membalaskan rasa sakit hatinya kepada orang-orang yang telah masuk daftar musuhnya. Terutama Bintang dan ibu.
Tapi baiklah cerita tetap dijalankan dengan baik tidak perlu mendapat piala penghargaan. Ini adalah cerita masa depan sipenulis skenario. Ahli antagonis harus ditaklukkan si pendatang baru di tokoh antagonis. Tari harus menaklukkan ibu demi masa depannya. Tanpa bayangan gelap dari ibu dikisah selanjutnya.
__ADS_1
Memang berbagai cara sudah dilakukan Tari untuk menaklukkan ibu. Tapi selalu gagal. Sekarang Tari memakai peran yang selalu tertindas dulu. Memerankan tokoh korban penindasan demi memohon restu ibu.
Mudah-mudahan masih berlaku bahwa kejahatan tidak dilawan dengan kejahatan. Melainkan dengan kebaikan. Walaupun bagi Tari itu adalah kalimat basa-basi yang sudah busuk. Hanya berlaku dikisah fiksi saja.
Sedangkan ini adalah kisah nyata. Tapi tidak apalah. Tari mau menguji kisah fiksi itu. Benar atau tidak. Tunggulah kesimpulannya diakhir bab.
Hari ini Tari bersiap akan kerumah orang tuanya. Saat Tari melangkahkan kakinya dihalaman kampus untuk menuju ke pintu gerbang kampus, Tari melihat didepan klinik kampus, Bintang tengah dipapah kedua orang tuanya.
Tari mengetahui orang tua Bintang itu dari photo yang terpajang diruang tamu rumah mereka. Photo itu ukurannya sangat besar dan bingkainya sangat bagus. Tari mengkhayalkan suatu saat nanti photonyalah yang dipajang disitu.
Kedua orang tua Bintang itu membawa Bintang masuk kedalam sebuah mobil mewah. Sementara Tari mulai berpura-pura mencari tahu, apa yang terjadi pada Bintang.
"Tadi malam ada orang yang menyerang Bintang dikamar mandi" jawab seorang teman Bintang.
"Oh ya ?...Siapa ?" tanya Tari, pura-pura terkejut.
"Belum diketahui. Dugaannya sih orang itu mau memperkosa..."
"Lho...memperkosa Bintang ?"
"Targetnya bukan Bintang. Yah siapa saja yang ketangkep dikamar mandi"
"Siapa yang mau memperkosa"
"Paling juga pemuda brandal dari kampung dibelakang tembok asrama kita" jelas teman yang lain.
"Iya...dikampung sebelah itu kan ada beberapa pemuda preman yang suka ngumpul-ngumpul. Pasti salah seorang dari mereka"
"Pernah juga kan kejadian seperti ini menimpa mahasiswi disini. Dia diperkosa dan dipukulin. Kejadiannya dikamar mandi" komentar yang lain lagi.
"Orang yang memperkosa itu ketangkap ?" tanya Tari. Tidak berpura-pura lagi. Tapi semakin bahagia. Karena telah merasa terselamatkan oleh kisah kejadian masa lalu.
"Ketangkep dan dipenjara. Tapi kabarnya sudah bebas. Sempat ngilang dari kampung itu. Tapi beberapa hari yang lalu, orang itu terlihat lagi dikampung itu. Ehh..kejadian deh pada Bintang"
"Kasiha ya si Bintang. Sempat juga digebuki orang itu"
"Tapi sepertinya gak sempat diperkosa deh..."
Teman-temannya itu masih meneruskan gosip hangat itu. Sementara Tari diam-diam sudah menyinhkir dari mereka dengan hati sangat bahagia. Melanjutkan rencananya dengan gairah membara, menemui ibu tercintaš ***
(Mohon komen dan likenya ya..Thank uā¤)
__ADS_1