
"Tok Tok Tok Tok...:
"Masuk" terdengar suara dari dalam. Suara seorang perempuan.
Tari segera membuka lebar pintu itu dan seketika tercengang, kaget. Melihat sosok yang sangat dikenalinya. Duduk dengan kewibawaan yang anggun dibelakang meja kerja dokter kepala. Berpakaian kebesaran seorang dokter yaitu blazer putih. Lengkap dengan atribut PNSnya.
"Martha ?" gumam Tari kencang, tak percaya.
"Ya...saya Martha. Dokter Martha Pramita, dokter kepala disini. Silahkan masuk..."
Tak gentar Taripun melangkah masuk. Sesuai instrukai sang dokter kepala yang tidak lain pernah jadi teman satu kamar diasrama, dahulu. Drop out dari kampus. Karena tuduhan mencuri uang teman-teman satu kamar.
Lalu matanya pernah disemprotkan saos sambal oleh Tari. Karena katanya dengan matanya sendiri, dia melihat Tari mencuri uang Yunita. Tentu saja Tari marah. Terlalu lancang menuduh Tari. Walaupun itu adalah benar.
Kini sang teman itu telah menjadi seorang dokter. Dokter kepala di puskesmas tempat Tari mengabdi.
Pertemuan tak mesra antara mantan teman itu pun terjadi begitu dingin dan menyeramkan.
Tari melangkah masuk kedalam ruangan sang mantan teman itu dengan gaya kesombongannya. Sementara Martha berdiri dibalik mejanya dengan was-was penuh.
"Silahkan duduk" kata Martha.
Tapi Tari telah terlebih dahulu duduk. Masih dengan kesombongannya. Melirik sinis pada Martha yang kemudian duduk pada kursinya dibalik meja kerjanya itu.
"Lo dokter benaran atau gadungan" tanya Tari, sinis.
Tapi Martha mengabaikan Tari. Lebih fokus memperhatikan berkas yang ada didepannya. Membaca berkas itu dengan teliti. Beberapa saat kemudian barulah menatap Tari.
"Ibu Tari, anda tidak disiplin. Masuk kerja sesuka hati. Tidak bekerja sesuai preofesi anda sebagai bidan. Melainkan anda ditempatkan dibagian administrasi dan itupun anda tidak mengerjakannya dengan baik. Anda lebih banyak dikantin" kata Martha membacakan sebuah catatan yang tertera diberkas itu, yang tidak lain adalah berkas-berkas Tari.
Lalu Martha menatap Tari dan diam beberapa saat. Begitu juga Tari, diam tidak membantah sepatah katapun. Hanya gelisah dalam duduknya.
"Surat peringatan pertama tidak anda gubris dan ini SP keduanya"
Martha meletakkan sebuah amplop putih diatas mejanya, didepan Tari. Tari masih diam dan tidak gelisah lagi. Hanya menatap amplop itu sesaat. Lalu menatap Martha dalam-dalam.
Berusaha mencari jawaban, benarkah ini sebuah kesungguhan ?. Tidak permainan Bintang untuk menerornya ?. Benarkah Martha menjadi seorang dokter. Bahkan menjadi dokter kepala dipuskesmas ini.
"Dan ini peringatan lisan dari saya..." kata Martha dengan tenang. Sambil berdiri dibalik meja kerjanya itu.
__ADS_1
"Peringatan yang pertama dan terakhir. Anda harus mematuhi peraturan dan disiplin kerja. Sesuai dengan sumpah jabatan. Terutama peraturan disini. Jika tidak, maka anda akan saya usulkan untuk dimutasikan kedaerah tertinggal. Mengerti..."
"Belagu lo..." tantang Tari dan berdiri juga disebrang didepan meja kerja Martha itu.
"Gua suntik mati lo...baru tahu rasa lo!" kata Tari mengancam Martha. Martha tak memberi respon apapun pada ancaman Tari itu. Walaupun ada besar rasa ketakutan yang menyerangnya. Tapi berusaha disembunyikannya dibalik kewibawaannya.
Martha yakin, ancaman Tari tidak bisa diabaikan begitu saja. Mengingat kejadia dulu. Matanya disemprot Tari dengan saos sambal. Tapi Martha harus menutup ketakutannya.
"Itu SP kedua untuk anda. Jika anda masih melanggar peraturan dan kedisiplinan, anda tahu SP ketiganya...anda mutasi ke desa tertinggal"
"Ngancam gua lo !. Lo anggap angin lalu ancaman gua ?!. Gak pake ancaman aja, mata lo dulu gua semprot dengan saos sambal. Mau nambah, ha !. Dua-dua mata lo gua semprot pake sambal lagi. Sampe buta !... Waktu itu gua masih berbelas kasih ke elo !. Makanya mata lo gak rusak...." kata Tari membabi buta dengan emosi tingkat tinggi dan mendekatkan wajahnya ke wajah Martha. Sampai setengah tubuhnya nyaris membungkuk.
"Sekarang kedua mata lo masih bisa melihat. Tapi sekali lagi lo ngancam gua, gua tusuk mata lo pake pena..."
"Kayak Danu, suaminya Ruli. Lo tusuk lidah dan pahanyakan ?"
"Iya !"
Tantang Tari dan meraih cepat sebuah pulpen yang tergeletak pasrah diatas meja kerja Martha itu.
"Sret !..."
Tari mengarahkan mata pulpen itu kearah mata Martha. Spontan Martha menarik tubuhnya kebelekang dan dalam ketakutannya itu, Martha melirik-lirik keatas arah belakan Tari. Hanya mau memastikan bahwa CCTV yang ada diruangannya ini menyala.
Jika Tari sampai nekat dan kembali menjahatinya, maka CCTV akan jadi saksinya.
"Gua tusuk mata lo. Biar bu..."
Tiba-tiba Tari berhenti mengancam Martha. Ketika menyadari Martha yang melirik-lirik kearah atas belakangnya. Segera Tari menoleh dan tampaklah lampu CCTV yang kedap-kedip. Menandakan CCTV diruangan Martha itu aktif.
Menyadari itu, Tari bergegas keluar dari ruang kerja Martha. Menutup pintu ruangan Martha dengan cara menghempaskannya. Lalu berjalan cepat menuju ruangan si wakil kepala.
Menemui si wakil kepala diruang kerjanya. Tanpa ketuk pintu. Langsung membuka pintu ruangan lebar-lebar dan berdiri diambang pintu itu.
"Gak salah tuh...dokter kepala si Martha" tanya Tari dari ambang pintu. Tanpa masuk, duduk dan menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengatur kata-kata to do point pada tujuan. Tapi tetap sopan dan tidak menyinggung porno dan SARA.
"Silahkan masuk Ibu Tari" ajak si wakil kepala ramah dan sopan.
"Si Martha itu bidan. Bagaimana ceritanya bisa jadi dokter. Menjabat dokter kepala lagi. Pasti itu bohongan, kan !?"
__ADS_1
Akhirnya si wakil kepala yang mengalah. Berdiri dan berjalan mendekati Tari. Berdiri didepan Tari dengan melipat kedua tangannya didadanya
"Seperti yang anda lihat. Beliau adalah dokter Martha Pramita. Dokter kepala dipuskesmas ini"
"Gak mungkin !... Dia itu bidan. Saya tahu, karena dulu kami satu kamar diasrama. Tapi memang sih, dia akhirnya di do. Karena mencuri !..."
Siwakil kepala hanya tersenyum sedikit. Merespon pernyataan Tari itu. Tari tidak suka melihat senyuman itu. Bagi Tari senyuman itu mengandung makna jahat yang terselubung.
"Tapi berdasarkan data-data, beliau adalah seorang dokter dari universitas negri dikota ini"
"Tidak mungkin !... Bohong !... Tidak mungkin !. Saya akan usut data-data si Martha itu sampai tuntas. Biar ketahuan kedoknya !"
"Brak !"
Tari menutup pintu ruangan si wakil kepala dengan sangat kencang. Hatinya sangat panas. Terbakar emosi dan kekesalan. Tidak percaya bahwa Martha adalah seorang dokter. Dokter kepala lagi dipuskesmas tempat Tari bekerja dan mengancam akan memutasikan dirinya.
Tidak puas dengan jawaban si wakil kepala itu, Taripun segera meninggalkan puskesmas. Berarti bolos lagi. Padahal baru saja menerima SP ke dua dan SP lisan yang pertama dan terakhir dari dokter kepala.
"Pret !... Kampret !" kata Tari. Akhirnya menyadari tentang SP itu. Ketika sudah ditengah perjalanan. Kemana lagi kalau tidak menuju 'markas besar'nya yaitu warung Mbak Ipeh.
Mbak Ipeh masih diserang rasa kagetnya atas pengakuan dari Tari sendiri yang tidak sengaja didengarnya, bahwa Happy adalah anak hasil perselingkuhannya dengan dukunnya sendiri yaitu Mbah Kahpok.
Mbak Ipeh juga masih diserang rasa kebingungan. Antara mengatakan fakta itu kepada Anton atau didiamkan saja. Jika didiamkan saja, rasa bersalahlah yang menyerang Mbak Ipeh. Tapi Mbak Ipeh tidak mempunyai keberanian dan bukti-bukti untuk mengatakan dengan jujur kepada Anton ataupun kepada keluarga Anton.
Perasaan itu ternyata mengganggu senyuman manis Mbak Ipeh pada Tari. Ketika Tari tiba diwarung Mbak Ipeh dengan kata salam khususnya yaitu ocehan dengan kata-kata jorok.
"P*p*k si Martha penipu itu harus disiram air keras !..." kata Tari. Sambil melangkah masuk kewarung Mbak Ipeh dan memilih duduk diujung sebuah bangku yang ada didepan pintu belakang warung Mbak Ipeh.
Mbak Ipeh tidak kaget. Karena hal itu sudah biasa. Hanya penasaran dengan sebuah nama baru yang disebut Tari tadi, yaitu Martha. Tapi Mbak Ipeh lagi ogah untuk beranya-tanya pada Tari.
Mbak Ipeh hanya memberi senyum seadanya pada Tari yang masih saja ngoceh. Sedang Mbak Ipeh berpura-pura fokus menggoreng. Menggoreng kremes-kremes sampai gosong.
"Mbak, lo punya minyak tanah ?. Bagi dong seliter"
"Buat apa"
"Buat bakar si Martha "
"Ops !...Wadow !..."***
__ADS_1
(Thanks ya bagi yg masih setia disini. Loop u pul pul)