
Sedangkan Martha, begitu bangun dan membersihkan dirinya; langsung menuju ruangan Ibu Pur. Berdiri didepan pintu ruang kerja Ibu Pur. Menunggu Ibu Pur datang keruangannya.
Tari masih melihat Martha diruangan Ibu Pur. Lalu kelanjutannya, Tari tidak tahu lagi.
Usai perkuliahan, Tari pergi berjalan-jalan sendiri. Menghabiskan sedikit uang hasil rampasannya. Ketika sore hari Tari kembali ke kampus dan mendapatkan informasi bahwa Martha di drop out dari kampus. Itu adalah keputusan pihak yayasan kampus. Karena dinyatakan terbukti mencuri uanga Yunita dengan cara profesional. Tindakannya itu sangat meresahkan warga sekamarnya khususnya dan teman-teman sekampusnya, umumnya.
Kecuali Tari, teman-teman satu kamar mereka yang lain, membantu Martha berbenah dan menghibur Martha. Yunita pun turut prihatin pada Martha yang diwajibkan mengembalikan seluruh uang Yunita. Untungnya Yunita berbesar hati untuk tidak mendesak Martha harus segera membayarnya.
Tapi Martha berjanji, pasti membayarnya dengan cara mencicil. Yunita hanya tersenyum ramah menjawab Martha. Alhasil jadilah Yunita ikut membantu Martha. Mencarikan taksi untuk Martha dan mengangkat koper Martha. Sampai memasukkannya kedalam bagasi taksi.
Lalu mereka bercipika-cipiki. Menangis sedih dan sejenak berpelukan.
"Jujur, Yun. Bukan gue yang ambil duit lo. Sumpah demi kuburan nenek gue" kata Martha kepada Yunita.
"Sudahlah...jangan dibahas lagi, ya. Biar bagaimanapun, gue gak mau hubungan pertemanan kita putus. Gue gak mau lost kontak dengan lo."
"Iya...gue juga gak mau"
Sejenak Yunita dan Martha saling bertatapan. Saling mengelus kedua pipi. Kemudian Martha akan masuk taksi dan Yunita langsung pergi. Tidak tahan menahan tangisan kesedihannya.
Entah apa yang ditangisinya. Yunita tidak tahu. Tapi dia merasa sangat sedih. Karena itu Yunita langsung pergi meninggalkan Martha. Teman-teman yang lainpun sudah lebih dulu pergi meninggalkan Martha.
Saat Martha membuka pintu taksi, disitulah Tari tampil. Sebagai sosok teman terakhir yang akan mengucapkan, "Selamat jalan...byee..mmuah !"
"Martha" panggil Tari.
Martha menoleh pada Tari dengan wajah datar. Tari menjulurkan tangannya. Seperti akan bersalaman. Martha menyambutnya dengan wajah kebingungan.
Malah Tari mendekatkan wajahnya ke salah satu sisi pipi Martha. Seakan ingin bercipika-cipiki. Tapi tidak !...ternyata Tari akan berbisik ketelinga Martha dan membisikkan sesuatu kata ke telinga Martha. Sepertinya Martha terperanjat. Hingga matanya terbelalak lebar. Tiba-tiba dan dengan gerakan sangat cepat, Tari menyemprotkan saos sambal ke kedua mata Martha. Crooooottt....
Saos sambal yang khusus diracik Tari untuk disemprotkan ke mata Martha. Saos sambal yang berisikan banya cabe rawit dan cabe gila. Pedasnya melebihi pedas gila setaaaaannn....
"Aduh...Aduh...Mata gue...: kata Martha mengaduh-aduh, kesakitan dan mengucek-ucek matanya.
"Kenapa, dek" tanya sang sopir dari dalam taksi.
__ADS_1
Mila.yang sedari tadi masih berada tidak jauh dari mereka, sempat melihat perbuatan Tari itu. Melihat mata mengucek-ucek matanya dan mengaduh-aduh kesakitan. Spontan Mila kaget.
"Tari !...Gile lo ya !.." teriak Mila. Sambil mendekati Martha dengan setangah berlari.
Tari juga tersentak kaget mendengar suara Mila. Tidak menyadari kalau Mila masih berada dekat dengan mereka.
"Jangan dikucek-kucek, Mar" kata Mila pada Martha. Sambil mengambil air mineral botolan dari tangan Martha. "Ayo kita basuh pakai air ini"
Mila membasuh mata Martha dengan air. Lalu di lap nya pakai tissunya. Beberapa kali hal itu dilakukan Mila dengan perlahan. Sampai air itu habis.
"Mata gue...perih...perih..." rintih Martha
"Jangan kucek ya...Ayo..."
Lalu Mila membawa Martha ke klinik kampus. Tari mengikuti mereka. Bukan untuk membantu menolong Martha. Karena Tari hanya menatap tajam pada Martha. Tari hanya ingin memastikan, kalau Mila tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun.
Mila menyadari arti tatapan Tari itu. Memang ada ketakutan yang kemudian menyerang hati dan fikirannya. Mengingat perbuatan Tari tadi terhadap Martha. Tapi Mila masih berusaha kuat dan fokus untuk menolong Martha ke klinik.
Mendampingi Martha diruangan dokter jaga yang sedang memeriksa matanya. Karena Mila pun ingin memastikan, kalau Tari tidak mencelakai Martha lagi.
"Itu pantes buat dia" kata Tari dengan suara tertahan, menahan marah. Tanpa memperlihatkan mimik rasa menyesal atau bersalah sedikitpun.
"Dia bisa saja buta, Ri" kata Mila sedih mengingat Martha.
"Itu salah dia"
"Kok salah dia ?!. Sudah jelas gue lihat sendiri, lo yang semprotkan saos itu kematanya, dengan sengaja" kata Mila mulai garang. Berani meluapkan tuduhannya dalam marah pula. Menandingi marah Tari.
"Hati-hati lo bicara"
"Lo yang harus hati-hati dengan perbuatan lo !. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Martha. Lo yang fitnah dia. Lo yang ambil uang Yunita. Martha memergoki lo. Sekarang...lo balas dendam ke Martha. Lo buat dia buta !. Lo kan ?...yang curi uang kita-kita. Jahat lo, ya. Sadis !...Gila !..." Mila semakin lancang. Mengabaikan ketakutannya pada Tari yang sesaat tadi menyerangnya. Meluapkan amarahnya pada Tari.
Tak terduga Mila yang masih ingin mencaci-maki Tari, tiba-tiba....Plak !...Plak !....Tari menampar kencang kedua pipi Mila. Lalu menjambak rambutnya yang panjang sebahu. Menyeretnya menuju toilet klinik.
"Lepaskan !...Lepaskan, Tari !..." Mila berteriak dan meronta-ronta. Berusaha melepaskan tanga Tari dari rambutnya. "Aduh !...Sakit !...Lepaskan, Tari !..."
__ADS_1
Tepat didepan pintu toilet, Tari berhenti menyeret Mila. Tapi tangannya masih mencengkeram kuat segumpalan rambut Mila.
"Dengar ya...Gua akan tega melakukan hal yang sama ke lo. Seperti pada Martha. Bahkan bisa lebih parah lagi. Mungkin gua akan robek mulut lo. Kalau lo buka suara. Ngerti lo !"
"Lepaskan !...Lo gila !..."
Tari melepaskan tangannya dari rambut Mila. Mila pun segera pergi tergesa-gesa dengan berlari kecancang. Tari mengiringi Mila dengan tawanya yang kencang. Percis tawa nenek sihir. Sampai menggema diruangan klinik itu yang kebetulan sepi. Jika hari sore, menjelang malam seperti ini.
Mila masih berlari ketakutan, menuju kamar asrama. Bulu kuduknya berdiri, mendengar tawa Tari itu. Sayangnya, tawa Tari itu terekam pula di kepalanya. Suara rekamannya sangat jernih. Terngiang-ngiang menggema didalam kepalanya.
Membuat Mila serasa hidup di kehororran. Ketakutannya sangat besar. Sampai seluruh tubuhnya menggigil. Apalagi suara itu mulai menghasilkan gambar wajah Tari saat mengancamnya.
"Iiii..." Mila bergidik. Serasa melihat hantu yang akan memakannya hidup-hidup. Walaupun Mila sudah membenamkan wajahnya dibawah selumut. Ternyata selimut itu tidak mampu membenamkan ketakutannya.
Ketika bangun keesokan harinya, ketakutan itu lebih mencekam lagi. Tatapan kejam dan sadis Tari tak pernah lepas ke arahnya. Tiap detik yang dijalani Mila, serasa sangat mencekam.
Sepertinya Tari sedang mengawasinya. Mencari-cari kesempatan untuk melaksanakan ancamannya. Hingga tak menyisakan sedikit waktupun untuk Mila menjenguk Martha atau mengetahui keadaan Martha kini. Mata Tari selalu mengawasinya.
Mila juga tidak diberi kesempatan untuk mendekat kepada seorang teman. Padahal Mila ingin menceritakan apa yang dirasakannya kini, pada seseorang. Termasuk ingin menceritakan apa yang dilakukan Tari terhadap Martha. Tapi itupun sepertinya tidak ada peluang.
Tari selalu mepet Mila. Terkadang ada kesempatan, Mila bersembunyi dibalik punggung seseorang. Agar tidak terlihat Tari. Terkadang juga menutupi wajahnya dengan tas atau dengan handuk. Agar tidak bertatapan dengan Tari.
Ketika dikamar, Mila lebih rajin menutupi wajahnya dengan selimut, dengan menunduk saat belajar atau dengan buku. Berpura-pura membaca. Semua itu dilakukannya, agar tidak melihat mata Tari.
Mila menghindar untuk sarapan dan makan malam. Memilih sarapan diwarung-warung yang berjejer disebrang kampus. Menggeser waktu makan siang, jadi mendekati sore. Agar sekaligus dengan makan malam.
Beberapa orang teman yang menyadari perubahan tingkah Mila itu, sempat bertanya pada Mila. Tapi Mila mengabaikan mereka. Karena difikirannya sudah penuh tawa dan tatapan mengerikan Tari.
Tiap kali melihat Tari, tubuhnya pasti langsung menggigil dan detak jantungnya melemah. Tari melebihi hantu bagi Mila. Tapi ketakutannya itu tak terucapkannya. Karena untuk menyebut nama Tari saja, lidahnya sudah kelu. Sama sekali tidak dapat digerakkannya. Serasa lidahnya memiliki tulang keras.
Berbeda dengan Tari. Ternyata sangat menikmati ketakutan Mila itu. Menumbuhkan kepercayaan dirinya. Betapa hebatnya dirinya. Mampu menebar ketakutan dan membodohi banyak orang disekelilingnya.
Jika begitu, Tari merasa yakin pada dirinya. Pasti mampu menaklukkan ibu. Membuat ibu ketakutan pada dirinya. Tiap kali melihat ataupun hanya mengingat Tari. Seperti ketakutan yang dialami Mila.
Seketika hal itu mengunggah fikirannya untuk berkunjung kerumah orang tuangnya. Tapi maaf, bukan karena Tari rindu pada mereka. Tari hanya ingin mencari bahan untuk meneror ibu. Biar ibu dilanda ketakutan dan tidak sanggup memicingkan matanya sekejappun. Saat teringat sosok Tari👽***
__ADS_1