
"Tari !...keruangan ibu. Sekarang !..." perintah Ibu Pur kepada Tari. Lalu Ibu Pur berlalu. Tapi Tari masih terdiam terpaku didekat Gina.
"Lo dipanggil tuh." kata Gina mengingatkan Tari.
Terpaksa Tari beranjak pergi. Mengikuti Ibu Pur menuju ruang kerjanya. Sementara didalam kamar, teman-teman Tari itu langsung berkerumun diatas ranjang Fitri. Mereka mendiskusikan gossip heboh ter up date dan terpercaya.
"Emang Tari yang ambil duit lo" tanya Ruli
"Gak tahu, sih" jawab Gina datar
"Terus...kenapa dia dipanggil Ibu Pur. Mana wajah Ibu Pur tampak sangat marah lagi dan kecewa" Yunita berkomentar
"Tari ada kirim video ke Ibu Pur..." Fitri akan menjelaskan.
"Ha ?...Video !?...Video apa" tanya Yunita sangat kaget dan penasaran.
"Video tentang gue yang lagi buka lemari Gina. Nah...berdasarkan video itu, Tari nuduh gue yang ambil uang Gina"
"Gimana ceritanya sih..." Neneng tampak bingung. "Lo membuka lemari Gina dan ketahuan sama Tari. Lalu dia video in."
"Iya..."
"Untuk apa lo buka lemari Gina. Tentu saja Tari curiga dan merekam" Neneng protes. Seakan membela Tari
"Ceritanya begini..." akhirnya Gina berbicara untuk mencegah terjadinya salah tafsir Neneng. "Itu video lama. Lebih kurang sebulan lalu. Waktu itu Fitri mau pinjam gaun gue. Dia mau kencan. Yah...gue suruh cari sendiri di lemari gue. Lagian saat Fitri buka lemari gue itu...gue ada didekat Fitri. Tuh video udah diedit si Tari"
"Dari mana lo tahu itu video sebulan lalu" cetus Amelia si gadis pendiam. Tiba-tiba berkomentar, tak biasanya. Komentarnya pun sangat menohok. Spontan semua mata teman-temannya tertuju padanya.
"Apaan sih...gue salah, ya" tanya Amelia gugup ditatap teman-temannya.
"Kagak..." jawab Fitri. "Itu emang video sekitar sebulan lalu. Dari baju yang gue pakai. Baju itu kan sudah sebulan gue tinggal dirumah nyokap gue. Waktu itu gua kerumah nyokap juga bareng Gina. Gina lihat gue salin disana dan tuh baju dlihat Gina kok dikeranjang baju kotor nyokap gue. Waktu Gina juga salin dan gue suruh dia juga naroh baju kotornya di keranjang baju kotor nyokap. Padahal kata Tari, video itu dia ambil sekitar tiga hari yang lalu"
"Iihh...si Tari...diam-diam merekam kegiatan kita. Serem gue kalo gitu" tambah Neneng berkomentar.
__ADS_1
"Iya...ngapain sih rekam-rekam kita. Mana disalah gunakan lagi untuk menjebak kita" Prilia buka suara.
"Kita kudu hati-hati sama si Tari. Dia itu kan...mmmm..." Fitri ragu mengungkapkan tentang bayangan hitam yang menggeluti Tari dimalam itu. Juga nyaris menggeletuinya. Karena tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, Fitri merinding.
"Pokoknya...kita harus hati-hati dan khusuk berdoa. Terutama sebelum tidur" nasehat Fitri.
"Lalu...apa kata Ibu Pur tentang video itu" tanya Neneng, masih penasaran.
"Ibu Pur no komen. Tapi kayaknya percaya ke kita. Buktinya si Tari dipanggil" jawab Gina, penuh percaya diri.
Sementara diruangan Ibu Pur, Tari masih diinterogasi Ibu Pur.
"Sebelumnya Martha yang dituduh mencuri. Itupun berdasarkan bukti-bukti atas petunjuk kamu. Lalu Mila, juga berdasarkan bukti-bukti dari kamu. Sekarang kamu sangkakan Fitru. Bukti-buktinya juga dari kamu. Yah...video itu."
Ibu Pur terdiam sejenak dan memperhatikan Tari. Sedang Tari hanya duduk manis dan tertunduk. Tak berapa lama kemudian, seorang sekuriti wanita yang dibawa Ibu Pur untuk menggeledah Tari dan teman-temannya malam itu; datang dan mengetuk pintu ruang kerja Ibu Pur.
Tok...tok...tok...
"Iya...masuk" Ibu Pur mempersilahkan si sekuriti masuk.
Ibu Pur sengaja memanggil si sekuriti. Setelah mendengar laporan dari Fitri tentang bayangan hitam yang menyusup ke dalam kamar dan mendatangi Tari.
Sii sekuriti itu diketahui Ibu Pur sebagai 'orang pintar'. Memang sengaja ditempatkan direktur yayasan ini sebagai sekuriti. Sekaligus sebagai sekuriti di alam supranatural wilayah kampus mereka.
Namun Tari tidak mengetahui si sekuriti ini sebagai 'orang pintar'. Mbah Kahpoklah yang langsung mengetahui, bahwa ada kuasa otoritas supranatiral di kampus itu. Meski siapa orangnya, Mbah Kahpok tidak tahu. Hanya merasakan kekuatannya saja.
Karena begitu si sekuriti melangkah masuk keruangan Ibu Pur, Mbah Kahpk juga merasakan ada serangan tiba-tiba yang menghantam tubuhnya. Padahal Mbah Kahpok berada di dalam kamarnya, diruang belakang rumah orang tua Tari. Makanya Mbah Kahpok langsung membuat pertahanan dengan duduk bersemedi dan mengucapkan mantranya. Membuat si sekuriti tadi nyaris terjatuh.
"Silahkan duduk, Ibu Sofi" kata Ibu Pur kepada si sekuriti yang ternyata bernama Ibu Sofi.
"Iya, bu. Terimakasih" jawab Ibu Sofi dan duduk disofa yang ada didepan Tari.
Ibu Sofi masih menatap lekat-lekat pada Tari. Sesaat tadi Tari melirik Ibu Sofi. Lalu tertunduk lagi.
__ADS_1
"Itu video sebulan lalu kan ?. Maksud kamu sebenarnya apa ?!. Jangan-jangan bukan Martha atau Mila pelakunya. Jangan-jangan kamu" tuduh Ibu Pur langsung untuk melihat reaksi Tari.
"Terserah ibu kalau tidak percaya. Kalau saya pelakunya, mana buktinya" tantang Tari.
"Lalu...mengapa kamu memfitnah Fitri"
"Saya tidak memfitnah Fitri"
"Lalu pengaduan kamu berdasarkan video itu, apa ?!"
"Kalau bukan Fitri, yah...ibu selidiki saja. Jangan langsung menuduh saya dong" kata Tari kesal. Lalu berdiri dan pergi.
Akhirnya Ibu Pur terdiam, kecewa dan kesal. Ibu Pur tidak punya bukti menuduh Tari pelakunya. Walaupun Ibu Pur sangat curiga pada Tari.
"Bagaimana menurut Ibu Sofi"
"Iya, bu...anak itu pelakunya. Dia mempermainkan emosi teman-temannya. Anak itu punya backingan. Kuncinya adalah anak-anak jangan mudah terpancing emosinya terhadap Tari. Anak-anak harus belajar cuek. Agar mereka aman dan keadaan kamar akan kembali tenang" begitu nasehat Ibu Sofi kepada Ibu Pur dan Ibu Pur meneruskannya kepada teman-teman Tari. Khususnya teman satu kamar Tari.
Sementara Tari tidak mengetahui hal itu. Tari hanya dikuasai emosinya. Karena merasa telah dipermainkan Gina dan Fitri. Tari pun mengumbar kemarahan kepada mereka berdua. Secara tiba-tiba dan tersembunyi dari teman-teman lain, Tari menyerang Gina. Seperti tiba-tiba menjambak Gina. Menampar pipinya dan mendorong tubuhnya, sampai terjatuh.
"Apaan sih lo, Ri. Kenapa lo selalu celakain gue. Gue salah apa sama lo" akhirnya Gina protes, sewot. Tanpa ada rasa takut dari tatapan matanya yang menatap Tari dengan tajam.
"Kalau gue bilang uang lo hilang dan yang curi Fitri, harusnya lo nurut"
"Gue udah pasrah, uang gue hilang. Entah lo yang ambil, gue gak perduli. Asal lo jangan ganggu gue"
Sekali lagi Tari menampar kuat kepala Gina. Lalu pergi meninggalkan Gina dan kini Tari memburut target berikutnya, yaitu Fitri. Tapi dengan meminjam jasa Mbah Kahpok. Memerintahkan Mbah Kahpok untuk datang ke kamar asrama pada tengah malam. Mengganggu dan meneror Fitri.
"Tidak...saya tidak mau" kata Mbah Kahpok menolak permintaan Tari.
"Kenapa !?...apa kurang puas dengan pelayanan saya ?!"
"Ada backingan diasrama kamu. Mbah tidak mau gaduh dengan backingan itu. Dia penjaga disana. Dia berotoritas disana. Mbah gak boleh menganggu otoritas itu"
__ADS_1
Mendengar itu, Tari sangat kesal dan bertekat tidak akan mau lagi diberi 'pengobatan' oleh Mbah Kahpok. ***