
Terkadang walaupun tidak sedang bermimpi, Tari merasakan kegelisahan yang tidak dapat diungkapkannya. Karena Tari tidak tahu cara mengungkapkannya. Lalu malam-malam Tari pun menjadi malam-malam yang menggelisahkan.
Sering Tari tersentak bangun pada tengah malan. Entah sudah tengah malam yang keberapa. Sejak setan menanamkan kejadian itu difikirannya. Tapi sayang, Tari tidak seberuntung anak-anak lain didunia ini. Jika terbangin tengah malam, ada pelukan ibu atau ayah yang menghiburkannya. Lalu meninabobokkannya lagi dengan ciuman dan dekapan hangat yang membawa serta kenyamanan. Apalagi jika seorang anak itu terbangun, karena telah didatangi mimpi buruk. Pastilah dekapan ibu atau ayah sangat dibutuhkan. Sebagai tempat aman untuk bersembunyi dari mimpi buruk itu.
Tari yang terbangun tengah malam itu, akibat gelisahan yang bising. Melebihi mimpi buruk dimalam-malam yang lalu. Hanya bisa terduduk diatas ranjang dan berusaha sendiri untuk melupakan mimpi buruk itu. Terkadang berjalan kedekat pintu kamar dan mencoba mengintip keluar. Membuka sedikit pintu kamar. Lalu menerbarkan pandangannya sejauh mata memandang.
Hanya terlihat meja makan, TV dan dua sofa usang didepan TV. Walaupun gelap, hanya ada bias cahaya bulan yang masuk dari jendela kaca yang tidak pernah bertirai. Biasanya ada ayah dan ibu di sofa itu. Entah sedang berbuat apa. Tari tidak mengerti.
Naahh...tepat sekali. Tari melihat ayah sedang menampar kedua pipi ibu. Sangat cepat dan pasti kencang. Karena kemudian terlihat ibu meringis sesaat. Lalu meludahi wajah ayah. Masih belum puas ibu membalas, akan menampar ayah juga. Tapi ayah cekatan dan berhasil menangkap tangan ibu. Lalu mencengkeram leher ibu sangat kuat.
Tari tidak kaget melihat hal itu. Karena pertangkaran hingga adu phisik ayah dan ibu adalah hal biasa dilihatnya. Setiap terbangun ditengah malam. Tari menyaksikan semua kejadian per kejadian malam itu dan malam-malam sebelumnya. Nyaris sama dengan malam ini. Hanya besa versi adu phisik saja. Juga beda versi objek dan subjek.
Malam-malam sebelumnya, biasanya ayah hanya diam diserang ibu. Ibu sangat agresif menyerang ayah. Menampar, memukul, menendang, meludah dan caci-maki; itu adalah senjata ibu setiap malam. Setiap gaduh dengan ayah.
Tari hanya sebagai penonton gelap. Tanpa tiket, mengintip dan menyaksikannya dikeremangan. Menonton tontonan yang tidak layak ditonton seorang anak kecil. Tapi tertonton setiap malam. Bukan karena kurang di awasi. Tapi karena pemerannya adalah ayah dan ibu yang tidak mau tahu mengawasi penontonnya. Beradegan kekerasan didepan kamar anak-anak. Tentu saja ditonton anak-anak. Anak kecil berusia TK lagi, seperti Tari.
Kejadian-kejadian itu tidak pernah diceritakan Tari pada siapapun. Jika pagi sudah datang, garis wajah Tari sudah ceria kembali. Seakan lupa kejadian tadi malam yang mengganggu tidurnya. Sinar mata Tari berbinar, hanya terbayang kenikmatan disekolah nanti. Menjahili teman-teman. Membuat mereka menangis dan ketakutan pada dirinya. Sungguh hal itu jadi kenikmatan tersendiri buat Tari. Belun lagi ada pangkuan dan pelukan Miss Cecil yang telah menantikannya. Wow...itu kebahagiaan yang tiada taranya. Membuat Tari menyambut pagi dengan suka cita.
Apakah Tari benar-benar lupa ?, entahlah. Bagi Tari yang masih anak kecil itu, kejadian yang terjadi berulang menjadi hal biasa. Jadi tidak ada istimewanya untuk diceritakan. Toh tidak membuat Tari jadi anak manis. Karena malam berikutnya akan terulang lagi. Masa sih harus diceritakan lagi. Itu lagi...Itu lagi...bosan.
Ketika sudah tengah malan...teng...Tari terbangun lagi. Mengintip dari balik pintu. Memperhatikan ke sekeliling depan kamar dan....sepi. Tidak ada pertengkaran. Wow...ini baru ajaib, tidak biasa. Haruskah diceritakan ?....tidak lah. Karena malam berikutnya juga sepi. Padahal Tari wajib terbangun tengah malam.
Walaupun tidak ada pertengkaran yang bising. Tapi kegelisahannya membangunkannya. Seperti panggilan tengah malam. Tari terbangun, mengintip dan menatap ruangan sepi ruang makan yang ada didepan kamar mereka itu. Terus menatap dari balik pintu. Sampai kantuk kembali menyerangnya. Membuat tubuhnya jatuh perlahan didekat pintu yang terbuka kecil. Tari pun tertidur diatas lantai, diambang pintu kamar.
Hanya beberapa malam saja pertengkaran itu tidak tayang. Karena dimalam ini, ayah dan ibu bertengkar lagi. Tanpa adu phisik. Kali ini ayah yang marah-marah dengan suara pelan dan halus. Ibu lah yang jadi pendengarnya. Sebenarnya ibu ingin menantang. Terlihat dari duduknya yang gelisah dan tatapannya yang tajam pada ayah.
Kemudia ayah diam. Menatap ibu sangat kesal. Ibu tidak perduli. Lalu pergi meninggalkan ayah. Setelah mendorong ayah. Sampai ayah terjatuh terduduk diatas lantai. Kemudian terdengar pintu kamar ayah ibu terhempas kuat.
__ADS_1
Taripun menutup pintu kamar. Duduk bersandar pada tembok disanping pintu. Menatap kosong lurus kedepan. Seakan menatap pada Erika dan Riris yang tertidur lelap. Tanpa ada gangguang. Termasuk mimpi buruk yang mungkin enggan mengusik mereka.
Fikiran Tari benar-benar kosong. Menanti kantuk menyerangnya. Ternyata itulah momen yang ditunggu setan. Kekosongan fikiran Tari itu, segera diisi setan dengan kejadian-kejadian setiap malam yang dialami Tari. Awalnya masih berupa bayangan saja. Sampai Tari pun tertidur dengan posisi duduk seperti itu. Perlahan-lahan tubuhnya rebah diatas lantai. Tapi tidak mengganggu tidurnya. Mimpi burukpun telah tertanam dialam fikirannya. Tanpa mengganggu tidurnya.
Memang tidur Tari tidak terganggu. Tapi semangat paginya hilang. Berperngaruh dengan keceriaannya disekolah pun sirna. Tidak ada yang menyadari hal itu. Bahkan teman-temannya pun tidak mempermasalahlan. Kecuali Miss Cecil.
Miss Cecil melihat ada yang berubah. Tari tampak tidak berniat untuk ikut bermain bersama-sama teman-temannya. Bahkan untuk melirik teman-temannya dan tersenyum sedikitpun akan tingkah laku teman-temannya, tak ada tergambar dari wajah Tari. Pangkuan Miss Cecil pun dikacangin sama Tari.
Padahal Miss Cecil sengaja menarik tangan Tari untuk duduk bersama dibangku taman sekolah. Memperhatikan teman-teman bermain. Tari tidak segera menghambur kepangkuan itu. Sampai beberapa daun yang gugur dari pohon taman itu, yang menempati pangkuan Miss Cecil.
"Kamu sakit, nak ?" tanya Miss Cecil khawatir. Lalu memeluk dan menciun kepala Tari.
Tari hanya tertunduk dan menggeleng kecil dua kali. Sambil melirik Miss Cecil dan teman-temannya yang masih asyik bermain. Sikap Tari itu membuat Miss Cecil semakin penasaran khawatir. Naluri keibuannya berbisik, ada yang tidak baik yang sedang dialami Tari. Tapi Tari sendiri tidak dapat mengatakannya. Karena tidak mengerti. Makanya Tari hanya diam dan sepertinya ingin menyendiri.
Miss Cecil jadi merasa harus berkewajiban mencari tahu. Maka saat mengantar Tari ke rumah, seusai pulang sekolah. Miss Cecil sengaja masuk kerumah orang tua Tari. Biasanya Miss Cecil mengantar Tari hanya sampai pintu pagar rumah saja. Kali ini tidak. Berharap akan bertemu dengan salah seorang dari orang Tua Tari.
Kali ini mudah-mudahan akan bertemu lagi. Entah Ibu Siti atau Pak Khairuddin; demikian nama ayahnya Tari diketahui Miss Cecil dari data murid.
"Halo...bu...pak...selamat siang" kata Miss Cecil didepan pintu masuk rumah yang telah dibukakan Tari.
Tari hanya berdiri didepan pintu. Memperhatikan Miss Cecil dengan terheran-heran. Beberapa kali Miss Cecil mengucapkan salam. Tidak kunjung juga ada salah seorang dari orang tua Tari yang muncul, atau siapa sajalah orang dewasa yang ada dirumah itu sekarang. Miss Cecil pun memperhatikan Tari, mulai iba. Jangan-jangan tak ada orang dewasa dirumah ini. Kecuali Tari seorang.
__ADS_1
Kembali Miss Cecil menatap iba pada Tari. Sambil membantunya mengganti pakaian seragamnya dengan pakai rumah. Meletakkan tas sekolahnya diatas meja yang ada diruang tamu. Hati dan fikiran Miss Cecil masih berkecamuk merintih. Memikirkan Tari yang seorang diri dirumah. Tidak ada yang menyambutnya. Tidak ada yang menyediakan makannya. Menemaninya bobok siang. Membantunya belajar dan blablabla....
Nyaris Miss Cecil berurai air mata. Karena itu segera Miss Cecil memeluk Tari, sedikit lama. Lalu mengecup keningnya dan kedua pipinya. Menyuguhkannya sebuah kotak yang berisi makanan. Kebetulan tadi Miss Cecil minta tolong pada sekuriti untuk membelikan makan siangnya untuk dibawa pulang. Sebenarnya itu makan siang Miss Cecil. Tapi ternyata Tari yang lebih membutuhkannya.
"Kamu makan ya, nak" kata Miss Cecil dengan suara bergetar. Menahan tangis yang masih memaksa keluar.
Segera Miss Cecli melangkah lebar. Meninggalkan Tari yang masih ingin lebih lama bersama Miss Cecil. Terlihat Tari hanya menatap Miss Cecil. Sampai Miss Cecil membuka dan menutup pintu gerbang rumah. Miss Cecil melambaikan tangannya dari balik pintu pagar.
"Acih miss" kata Tari dengan gerakan bibirnya. Saat Miss Cecil melambaikan tangannya. Miss Cecil masih melihat gerakan bibir itu dan menjawabnya dengan kecupan jauh.
Tak berkedip mata Tari menatap Miss Cecil. Sampai Miss Cecil hilang dari tatapannya. Barulah Tari menatap makanan itu. Tanpa bernafsu untuk segera menyantapnya. Karena tiba-tiba kesedihan dan kesepian menyerangnya. Tanpa diketahuinya.
Tari hanya merasakan ingin bermalas-malasan. Tidur diatas lantai teras depan. Menatap kotak makanan dan melirik ke arah pintu pagar. Mungkin berharap Miss Cecil kembali dan menemaninya. Bermain bersamanya sepanjang waktu yang ada. \*\*\*
__ADS_1