PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Tari Minta Kawin


__ADS_3

Harapan Karina tumbuh lagi. Bunga-bunga cintanya pada Anton, bermekaran lagi. Posisi Tari dan Karina adalah 1:1. Anton memilih Tari. Bintang memili Karina. Tinggal mendapatkan reaksi dukungan orang tua Anton, Bang Theo dan Kak Bila.


Bang Theo adalah kakak tertua, yang merupakan pengusaha eksport-import rempah-rempah. Kak Bila adalah kakak nomor dua. Merupakan seorang dokter yang wajahnya mirip Luna Maya.


Senyuman manis pun selalu mengembang menghiasi wajah Karina. Hubungannya dengan Bintang semakin manis dan mesra.


Jika Bintang pulang kerumah orang tuanya, sekarang selalu mengajak Karina. Bahkan sampai pakai menginap lagi. Jika sudah menginap, pasti sarapan dan makan malam akan bersama dengan keluarga Bintang.


Ada papi, mami, Kak Bila dan suaminya, juga ada Anton tentunya. Karena itulah yang tinggal bersama dirumah orang tua mereka itu. Sedangkan Bang Theo berada diluar kota, bersama istri dan dua orang anaknya.


Jika sudah berkumpul bersama, pasti akan saling bercerita. Jika sudah saling bercerita, maka keluarga Bintang dan Karina semakin akrab. Saling mengenal lebih dekat dan benih-benih rasa suka akan muncul.


Tampaknya papi dan mami, Kak Bila dan suaminya, menyukai Karina. Mereka bilang Karina itu anak yang sopan, ramah, lembut, baik dan cantik. Lalu bagaimana pendapat Anton.


Taripun mencari tahu pendapat Anton tentang Karina. Pada suatu acara makan malam berikutnya.


"Bang Anton diam aja. Biasanya banyak cerita yang disampaikan" goda Bintang.


"Hhmmm..." jawab Anton setengah suara.


"Kita lagi membicarakan Karina" lanjut Bintang yang kemudian cepat direspon Karina dengan menyikut lembut lengan Bintang. Karina tampak tersipu-sipu malu, tapi senang.


"Iya...kita lagi membicarakan Karina" Bila buka suara. Seakan mendukung dan mengerti maksud tersembunyi Bintang. Menjodohkan Karina dengan Anton.


"Bagaimana pendapat kamu tentang Karina" lanjut Bila dengan menatap ramah pada Anton.


"Yes !...2:1" bisik Karina didalam hatinya. Sebenarnya Karina ingin melompat bahagia. Tapi..."Aahh" cukup dengan menunduk dan tersenyum-senyum sajalah.


"Orangnya baik" jawab Anton datar.


"Kok kamu tahu dia baik ?" mami pun ikut bersuara, menggoda Anton dan Karina.


Senyum Karina semakin mengembang dan disembunyikan dibalik wajahnya yang tertunduk.

__ADS_1


"Karina kan teman Bintang, mi. Sering main kerumah kita. Yah...pasti Anton tahu dong" jawab Anton masih datar.


"Eee...ternyata kamu diam-diam memperhatikan Karina, yaaaa..." celetuk papi. Ikut-ikutan menggoda Anton dan Karina.


Membuat semuanya tertawa dengan bersuara kecil. Kecuali Karina yang menahan tawanya didalam hati. Tersipu-sipu malu. Sementara Anton masih asyik menikmati makan malamnya.


"Sudah...sudah...Karina jadi malu. Ayo...dihabisin makannya" kata mami. Sambil menahan tawanya.


Memang Anton belum bercerita tentang hubungannya dengan Tari. Entahlah, mengapa Anton masih merahasiakan hubungannya itu. Nah...moment itulah yang dipakai Bintang untuk menjodohkan Karina dengan Anton. Langsung didepan keluarganya.


Agar Anton berputar haluan. Memilih Karina yang perfect dimata keluarga. Baik kepribadian dan phisiknya. Ibarat artis, Karina sangat mirip dengan Lyodra.


"Horeee.. " teriak Karina didalam hatinya. Mendapat respon keluarga Bintang yang nyata sudah welcome pada dirinya. Apakah sudah dapat dikatakan, nilai kemenangan ada pada Karina ?. Sementara pemain intinya yaitu Anton. Selalu bagai patung pajangan diruang makan.


Mengingat hal itu, diam-diam Karina jadi sering melirik Tari. Memperhatikan Tari dengan seksama. Apakah yang disukai Anton pada Tari ?.


Wajah Tari sangat jutek. Mirip nenek sihir yang kehilangan tongkatnya. Apalagi ada beberapa komedo nangkring diwajahnya. Rambutnya yang keriting, selalu tampak kusut. Sepertinya jarang disisir.


Kecuali kalau baru keramas atau selesai mandi. Selanjutnya Tari masa bodoh dengan rambutnya. Juga dengan wajah, penampilan. Apalagi ngurus kulit, kuku...


Sementara Karina adalah tipe perempuan masa kini. Selalu modis, prilaku berkelas, juga pintar.


Jika membandingkan seperti itu, tidak jarang Karina akan bersikap sinis pada Tari. Sampai akhirnya Tari menyadari sikap sinis Karina itu. Menyiratkan sikap permusuhan.


Padahal didaftat nama-nama musuh Tari, nama Karina tidak tercantum. Taripun jadi terusik dengan sikap permusuhan Karina itu.


Dugaan sementara Tari, karena Karina teman akrab Bintang. Bisa jadi Bintang yang mempengaruhi Karina untuk memusuhinya.


Taripun semakin membenci Bintang. Menempatkan nama Bintang diposisi teratas. Menggeser nama ibu, sebagai musuh yang harus segera dibasmi. Tapi bagaimana caranya ?. Tari berfikir keras untuk segera melakukan pembasmian musuh.


Kalau Karina saja bisa dipengaruhi Bintang. Tidak tertutup kemungkinan, Antonpun akan mampu dipengaruhi Bintang untuk memusuhinya.


Wow...hal ini tidak boleh terjadi. Sungguh tidak boleh. Berarti Bintang sudah lebih dahulu menabuh genderang perang. Baik...Tari akan membalas tabuhan itu. Pertama, Tari akan terlebih dahulu mengikat Anton.

__ADS_1


Tari akan memutar lagu untuk menginspirasinya membuat skenario. Berpura-pura mengeluh dan bersedih dihadapan Anton. Membuat pernyataan palsu tentang dirinya yang sebentar lagi menyelesaikan studinya dikebidanan ini dan orang tuanya sudah merencanakannya untuk bekerja diklinik kakak perempuan ayahnya. Klinik itu berada diluar propinsi ini.


Maksud Tari mengatakan itu, agar Anton segera menikahinya. Lagian memang Anton harus segera menikahinya. Karena Tari tidak mau kembali kerumah orang tuanya. Setelah wisuda nanti. Tari sudah putus hubungan dengan ibu. Tidak dengan ayah. Karena Tari masih ingin uang ayah.


Juga hal itu disampaikan Tari pada Anton adalah sebagai uji nyali Anton. Benarkah Anton sungguh cinta padanya. Apakah cintanya itu cinta mati. Jika ya, maka Anton dengan segala daya upaya akan melakukan apa yang diinginkan Tari.


"Maaf, Ton. Ini keputusan orang tuaku. Aku tidak mau membantah mereka. Biar bagaimanapun aku ini masih dibawah tanggung jawab mereka. Kecuali aku sudah menikah. Mungkin aku bisa membantah" kata Tari berdiplomasi dramatis sangat baij dan benar dengan kata-kata yang sudah ditatanya sangat rapi.


Sengaja Tari tidak berkata-kata banyak saat itu. Hal ini sudah sesuai dengan skenario yang dibuatnya. Hanya menampilkan mimik yang sedih saja dan menunggu Anton menjawabnya.


Sementara Anton masih menikmati kekagetannya. Mendengar pengakuan Tari ini, bahwa Tari akan pergi jauh. Juga Anton menikmati kebingungannya akan apa yang dilakukannya untuk dapat mempertahankan Tari.


Beberapa menit waktu berlalu. Mereka masih diam. Walaupun sebenarnya Tari sudah tidak sabar lagi mendengar jawaban Anton, yang berkata "Ya...aku akan melamarmu besok". Begitukan indah didengarnya.


"Ok..." kata Anton akhirnya. Memecahkan kesunyian yang menegangkan tadi.


Suara Anton terdengar bergetar. Masih diselimuti kekagetannya. Anton menggenggam erat kedua tangan Tari. Fikiran Tari memaknai arti genggaman itu sebagai genggaman untuk mengatakan lamaran.


Sebenarnya dari genggaman itu, Tari sangat yakin bahwa Anton sangat takut kehilangan dirinya. Anton sangat mencintainya dan segera menikahinya.


Perempuan mana sih yang tidak tersanjung, mengetahui ada pria yang cinta mati padanya. Biar bagaimanapun Tari adalah salah satu dari perempuan itu.


Walaupun Tari tidak tahu, apa yang disumainya dari Anton. Apakah sungguh Tari juga mencintai Anton ?. Sebenarnya cinta bukanlah hal penting untuk dijadikan Tari sebagai pertimbangan.


Makna cinta bagi setiap orang itu berbeda. Makna cinta bagi Tari adalah bahwa Anton patuh padanya dan melakukan apapun yang diperintahkannya.


Maka saat itu juga Tari sudah melambung kelangit ketujuh. Menjadi perempuan kaya yang bergelimang harta.


"Aku akan berbicara dulu dengan orang tuaku..." lanjut Anton dengan suara lembut.


Tapi bagi Tari, jawaban Anton itu bagai petir yang menyambar tubuhnya diatas awan. Lalu menghempaskannya ke atas tanah berbatu, sangat menyakitkan. Emosi Tari seketika memuncak. Karena merasa telah dipermainkan Anton.


"Apa !...Kau harus berbicara dulu dengan orang tuamu !. Hei !...Kau itu laki-laki atau bukan sih !. K*ntr*l mu saja sudah berj*mbr*t. Masih harus bicara dulu ke orang tuamu !. Mati sajalah kau !" kata Tari dengan nada suara sangat melengking tinggi.

__ADS_1


Lalu Tari langsung meninggalkan Anton.***


__ADS_2