PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Masa PKL


__ADS_3

Masa PKL tiba dan mereka dibagi masing-masing lima orang dalam satu kelompok. Mereka ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit negri, maupun swasta dan di puskesamas-puskemas. Bahkan ada di klinik beberapa orang dosen mereka sendiri.


Tari bersama Fitri dan tiga orang lagi teman mereka yang berbeda kamar. Mereka ditempatkan disebuah rumah sakit negri dikota itu.


Setiap kali pulang PKL, Fitri selalu dijemput pacarnya yang bernama Toni dengan mobil mewahnya. Wajah Toni ke koreaan. Penampilannya modis dan rapi. Serasi dengan Fitri yang bertubuh langsing dan juga modis.


Wajah Fitri tergolong cantik. Tapi sayangnya jutek. Berbanding jauh dengan wajah Toni yang ramah. Selalu menebar senyum kepada teman-teman Fitri. Tiap kali bertemu disaat Toni menjemput Fitri.


Kehadiran Toni sebagai pacar Fitri, membuat kegundahgulanaan Tari kepada Fitri menjadi bangun kembali. Bagi Tari masalah yang lalu dengan Fitri, belum usai. Hanya di endapkan untuk beberapa saat. Sementata bagi Fitri, sudah. Bahkan Fitri sudah melupakannya.


Kini kemarahan Tari sudah double portion kepada Fitri. Berbaurkan kecemburuan dan kekecewaan masa lalu. Melihat Toni yang ganteng, romantis dan pasti kaya adalah Pacar Fitri. Biar bagaimanapun, Tari masih perempuan normal. Juga ingin memiliki pacar. Apalagi kalau pacar itu adalah Toni.


Sering dalam kecemburuannya, Tari bertanya pada Fitri tentang sosok Toni. Sebagai kekasih yang baik, tentu Fitri menceritakan kebaikan-kebaikan Toni saja. Juga kelebihannya, perhatiannya kepada Fitri, keromantisannya dan tidak lupa menceritakan jabatan Toni ditempat Toni bekerja. Juga tentang ayah Toni yang merupakan dokter kepala disalah satu rumah sakit swasta ternama dikota ini.


Keterangan itu membuat hati Tari semakin terbakar amarah dan api cemburu yang luar biasa. Maka dengan diam-diam, Tari menyelidiki Toni kekantornya.


"Haaaa...." Tari terpengarah dengan mulut terbuka lebar. Begitu mendapat infotmasi bahwa Toni seorang pimpinan sebuah perusahaan properti terbesar dan ternama dikota ini. Tidak cukup sampai disitu, Tari juga mencari tahu. Kemana saja Toni membawa Fitri pergi usai PKL.


Jika menurut perhitungan waktu versi Tari. Seharusnya Fitri dan Toni lah yang terlebih dahulu tiba diasrama. Jika dibandingkan dengan Tari dkk. Karena mereka naik angkot yang harus ngetem diperempatan, dihalte ataupun didepan sekolah dll.


Sedangkan Fitri dan Toni naik mobil pribadi. Tidak ada tempat untuk ngetem, menunggu penumpang.


Dalam kegusarannya yang tersembunyi, Tari mengemukakan pendapatnya itu kepada Neneng. Praduga Neneng kepada Tari, mobil Toni juga ngetem. Tidak menunggu penumpang. Karena ngetemnya di mall, kafe atau bioskop.


Seerrr.....darah Tari langsung mendidih di ubun-ubun kepalanya.


"Yaahhh...namanya orang pacaran, Ri. Lagi manis-manisnya menciptakan waktu berduaan. Dinner kek, shoping, jalan-jalan sambil berpegangan tangan. Aahhh...lo, kayak gak tahu tradisi orang pacaran saja" jawab Neneng santai.


Walaupun sebenarnya Neneng gusar. Harus berbicara dengan Tari. Apalagi membahas hal pribadi orang lain seperti itu. Tapi Neneng tidak tahu, kalau Tari lah yang sebenarnya lebih gusar. Membayangkan kebahagiaan Fitri mendapatkan pacar setajir Toni.

__ADS_1


Banyaklah kecemburuan terpancar dari raut wajah Tari. Membayangkan Fitri naik mobil mewah. Lalu nongkrong di kafe. Menikmati makanan dan minuman mewah. Belanja sepatu, baju dll...yang terbaru. Pasti mahal-mahal dan masih bisa belanja sepuasnya.


Lalu nonton film dan makan popcorn. Merawat kulit, rambut, kuku...Lalu beli hp terbaru. Apa sajalah yang diinginkan Fitri, bisa langsung dimilikinya. Hanya dengan bergelayut mesra dan manja dilengan ataupun dibahu Toni.


Betapa semakin bencinya Tari kepada Fitri, bisa mendapatkan keberuntungan seperti itu. Tari sangat tidak rela, Fitri menikmati semuanya itu. Jika Fitri bisa mendapatkan Toni dan kemewahannya, mengapa Tari tidak. Selagi janur kuning belum melengkung, Tari bertekat akan mendapatkan Toni.


Tidak perduli kalau tubuhnya tidak langsing. Kulit dan wajahnya tidak kinclong. Pakaiannya tidak pernah harmonis dengan tubuh badaknya. Tidak bisa berdandan. Hanya tahu ceplokkan bedak tabur ke wajah dan tubuh. Mewarnai bibirnya dengan lipstik lima ribu dapat tiga.


Tari hanya berbekal itu untuk mendapatkan Toni. Setan saja hampir menertawakannya. Jika tidak ingat kalau Tari adalah sekutu mereka untuk merusak suasana damai sukacita orang-orang disekitar Tari.


Salah satunya damai sukacita antara Fitri dan Toni. Jadilah para setan mendukung niat Tari itu. Hanya dengan mengajarkan Tari memperlihatkan sikap ramah kepada Toni. Sambil mencari celah untuk bisa lebih pedekate dengan Toni.


Sebenarnya alasan Tari untuk merebut Toni dari Fitri, bukanlah semata karena Toni pacarnya Fitri. Fitri itu masih musuh buat Tari yang harus disakiti. Bukan...bukan karena itu.


Tapi karena Toni adalah tipe cowok idaman Tari. Sudah tajir, ganteng dan royal lagi sama pacarnya. Juga Toni itu anak orang tajir juga. Lengkaplah sudah kesempurnaan Toni buat Tari. Maka harus direbut dari Fitri.


Walaupun sudah nyata, Toni tidak welcome terhadap Tari. Sering mencueki Tari, saat Tari bersikap ramah padanya. Bahkan beberapa kali menolak Tari untuk diantarkan ke asrama.


Tapi Tari adalah sosok orang yang pantang menyerah untuk sesuatu yang diinginkannya. Apalagi ini menyangkut harga dirinya. Apa kata Fitri nantinya. Kalau dia tahu Toni menolak Tari. Bisa sangat tertawa kencang si Fitri, memperolok-oloknya.


Akan lebih baik Fitri tahu. Kalau Tari mengejar Toni dan harus mendapatkannya. Istilah muka tembok, ditambah ambisi untuk mendapatkan pria tajir; itulah yang disandang Tari untuk harus mendapatkan Toni. Sampai-sampai Tari rela bolos PKL.


Hari inipun Tari bolos lagi demi untuk mengunjungi Toni ke kantornya. Sebagai perwujudan aksinya yang tidak hanya khayalan.


Toni sangat kaget mendapat kunjungan Tari, lagi. Ini entah yang keberapa kali Tari mengunjungi kekantornya. Kunjungan yang sebelumnya, selalu ditolak Toni dengan perantaraan Sekuriti.


Kali ini, akibat Toni merasa kasihan. Maka terpaksa menerima Tari. Anggap sajalah menghormati calon konsumen untuk membeli salah satu unit rumahnya. Biarlah Toni melayaninya dengan baik. Toh...pembeli adalah raja. Mengenai jadi tidaknya dibeli, itu urusan nanti.


Karena itu Toni tidak membawa Tari keruangannya. Karena Toni yakin, Tari tidaklah pembeli. Toni membawa Tari ke kantin kantornya. Mengajaknya makan dan minum. Setelah itu..."Daaahhh...".

__ADS_1


Jadi apapun yang dikatakan Tari dengan suara kencangnya itu, Toni mengabaikannya saja. Semenit dua menit, hingga habis satu porsi makanan. Lalu porsi yang kedua. Suara tawa Tari sangat kencang dengan mulut penuh makanan.


Huaaaggghhhh...nyaris membuat Toni muntah. Untunglah sedari tadi Toni tidak ikut makan berasama Tari. Hanya mendengar ocehan Tari dengan suara kencangnga.


Apalagi disela-sela masih mengunyah makanan, Tari berujar sok pedenya,


"Sebenarnya gua suka sama lo, Ton. Gua cinta sama lo..."


"OMG.." teriak Toni didalam hatinya dan pengakuan Tari itu, nyaris membuat Toni emosi marah.


"Gimana, Ton. Sungguh...gua cinta sama lo. Mau yah...jadi pacar gua. Tubuh gua padat dan montok. Ketimbang Tari yang kurus. Hanya berisi tulang belulang. Mending gua...Putusin si Fitri, Ton. Lo sama gua aja. Gua jamin lo puas. Mau ya, Ton.."


Untunglah suasana kantin ramai. Jadi Toni tersadar dan dapat menguasai diri. Walaupun orang-orang yang dikatin pada melihat kearah mereka dan terbengong-bengong.


Toni berhasil menguasai dirinya untuk tenang, berfikir positif. Anggaplah melatih kesabaran menghadapi calon nasanah yang bawel. Maka dengan manis, Toni menolak Tari dengan sopan. Namun dengan sikap dan nada bicara yang tegas.


Tapi Tari tidak mau ditolak. Bahkan masih menunggu Toni. Sampai usai jam kantor. Berdiri didepan mobil Toni. Lalu memaksa Toni untuk mengantarnya pulang ke asrama.


"Tidak bisa. Saya mau menjemput Fitri"


"Batalin saja"


"Enak saja...Gak bisalah !"


"Kenapa tidak bisa. Tinggal telpon dia. Katakan kamu gak bisa menjemput dia"


"Gila nih cewek. Gak pake harga diri. Main paksa lagi" bisik Toni didalam hatinya.


Sejenak Toni terdiam. Kehabisan kata-kata untuk menolak Tari. Sementara mata karyawannya yang hilir mudik, sudah terarah kepada mereka dengan sorot mata penuh kecurigaan. Sebelum sorot mata itu melahirkan pergunjingan, lagi sangat terpaksa Toni mengikuti kemauan Tari.

__ADS_1


Jadilah Toni mengantarkan Tari pulang ke asrama🚘***


__ADS_2