
"Biarlah dia disitu. Toh...ada saatnya nanti, Bintang juga akan pergi dari rumah orang tuanya itu. Doakanlah dia biar cepat dapat jodoh. Biar dibawa jodohnya itu, dia pindah rumah"
"Haaahh ????...Mendoakannya agar dapat jodoh !?. Gak sudi aku. Aku hanya mendoakannya, agar dia cepat mati... atau...kubunuh saja si Bintang itu, tan ?".
"Glek !"
Tante Hombing menelan air liurnya sendiri. Kaget dengan perkataan Tari. Seketika Tante Hombing teringat aksi nekat Tari pada Danu. Walaupun sebenarnya Tante Hombing sudah meragukan kabar itu menjadi sebuah gosip tetangga yang iseng.
Buktinya sampai hari ini Tari anteng-anteng saja. Bebas berkeliaran, berbuat sesuka hatinya.
Kini malah memperkatakan hal yang mengerikan. Membuat bulu kuduk Tante Hombingpun seketiak berdiri. Kengerian menyerang fikirannya. Bagaimana jika Tari nekat melakukan apa yang dikatakannya itu.
"Pamit dulu, tan. Masih ada urusan yang harus segera gua selesaikan" kata Tari dan langsung berdiri dari duduknya.
"Oh ya...Silahkan... Silahkan..." jawab Tante Hombing dengan cepat nan bahagia. Apalagi melihat Tari melangkah keluar dari rumahnya.
"Haaaaa....."
Tante Hombing bernafas lega. Tapi tetap kepergian Tari itu meninggalkan kengerian dihati Tante Hombing. Juga kegelisahan, ketakutan dan was-was akan keselamatan Bintang.
Biar bagaimanapun Tante Hombing adalah orang tua yang juga mempunyai anak gadis, yaitu Angel. Bagaimana jika posisi Bintang ada pada Angel. Betapa hancur hati Tante Hombing. Tidak sanggup membayangkan kejadian yang akan menimpa Bintang itu, terjadi pada Angel.
Naluri keibuan Tante Hombing untuk melindungi anaknya, bangkit. Katakanlah anaknya itu Bintang. Anak dari tetangga yang bersebelahan rumah. Almarhum orang tua Bintang itu sangat baik, ramah dan tidak sombong. Suka menolong sesama, terutama tetangga.
Berkat bangkitnya naluri keibuan, Tante Hombing berniat dan bertindak untuk melindungi Bintang dengan cara akan memberitahukan perktaan Tari itu kepada Bintang. Agar Bintang selalu berjaga-jaga terhadap Tari.
Tapi sebelum kerumah orang tua Bintang untuk mencari Bintang. Tante Hombing terlebih dahulu ke warung Mbak Ipeh untuk memastikan bahwa Tari tidak berada diwarung Mbak Ipeh itu.
Tante Hombing berpura-pura sedang melintasi warung Mbak Ipeh. Berjalan didepan sebrang jalan warung itu dan melirik-lirik kearah dalam warung. Ternyata tidak ada Tari.
Segera Tante Hombing berbalik dan menuju rumah almarahum orang tua Bintang. Walaupun Tante Hombing tahu, Bintang pasti tidak berada dirumah. Bintang sedang berada dikantornya.
Tapi setidaknya Tante Hombing, menyampaikan pesannya kepada Mbak Min.
"Saya khawatir, Tari nekat. Tolong sampein, ya. Tolong ya, Mbak Min"
"Iya, bu...Iya. Pasti saya sampein" jawab Mbak Min, kaget dan ketakutan. Mendapat kabar niat jahat Tari terhadap Bintang dari Tante Hombing.
Lalu Tante Hombing segera kembali pulang kerumahnya. Jangan sampai Tari memergoki Tante Hombing berada dirumah almarhum mertuanya ini. Apalagi dengan maksud membocorkan niat Tari itu kepada Bintang.
Tergesa-gesa Tante Hombing meninggalkan rumah almarhum orang tua Bintang itu dengan perasaan lega. Setidaknya Tante Hombing telah mentranfer kegelisahannya, ketakutannya dan was-wasnya kepada Mbak Min. Walaupun kengerian masih ada tersisa dihatinya.
__ADS_1
Kini Mbak Minlah yang dilanda kengerian, kegelisahan, ketakutan dan was-was.
Sementara Tari masih dengan rasa sukacitanya yang melimpah. Mengabarkan kabar kemenangannya itu ke teman-teman kerjanya. Walaupun tidak ada yang merespon antusias.
Bahkan ada beberapa orang yang menjawab dengan nyinyiran yang sinis atas kebahagiaan Tari yang berhasil mengusir Bila.
"Itu namanya lo jahat. Mengusir kakak ipar lo sendiri. Jadi lo jangan bangga. Seharusnya lo malu" jawab seorang teman kerja Tari.
"He...emang siapa lo. Sok nasehatin gua. Diam lo !...Gua gak butuh nasehat lo" kata Tari penuh emosi.
"Siapa lagi yang nasehatin lo !. Rugi gua kali nasehatin lo"
"Diam lo"
Temannya itupun diam dan memalingkan wajahnya dari Tari. Sebenarnya Tari ingin merobek-robek mulut temannya itu dengan pisau dapur milik tukang kantin puskesmas ini. Tapi berhubung orang-orang masih ramai, dengan sangat terpaksa Tari harus mengurungkan niatnya.
Lalu Tari segera beranjak. Karena jika berlama-lama disitu dan melihat wajah temannya itu tadi, emosi Tari bisa jadi tidak terkendali dan melaksanakan keinginannya itu.
Persetankan sajalah teman yang nyinyir itu. Toh sudah banyak dari teman-temannya itu yang sudah mendengarkan kisah kemenangannya itu. Buat apa pusing oleh satu orang
Jadi Tari memilih pergi dan lebih baik menemui dr Martha Pramita. Karena inilah target utamanya masuk kerja hari ini, yaitu untuk memberitahu sang dokter kepala itu, bahwa Bintang akan segera ditaklukkannya.
Langkah awal, memang Bila yang tersingkir. Tahap akhir, pasti Bintang. Jika Bintang sudah tersingkir, Martha tidak perlu lagi repot-repot memerankan tokoh dokter. Apalagi dokter kepala.
Tari ingin melihat wajah kekagetan Martha. Mendengar Bintang mulai ditaklukkannya. Lalu Martha ketakutan dan pasti segera hilang dari peredaran dipuskesmas ini. Maka SP tiga itu tidak berlaku lagi.
Tari tersenyum-senyum sendiri didepan pintu ruang kerja Martha. Membayangkan wajah jelek Martha (begitu menurut Tari. Padahal wajah Martha mirip dengan Kristen stewart) ketakutan, gugup dan panik.
Tak perlu mengetuk pintu, Tari langsung membuka lebar pintu ruang kerja Martha itu. Saat itu Martha tengah berbenah untuk pulang kerumahnya. Tatapan tajam mata Tari membuat Martha diserang ketakutan yang luar biasa.
Kejadian dimasa lalu, saat Tari menyemprot matanya dengan saor sambal; kembali melintas dibenaknya. Ikut-ikutan menerornya kini.
Sesaat Martha tampak gugup. Segera Martha menepis bayangan masa lalu itu. Lalu menguasai dirinya untuk tidak ketakutan. Karena ketakutan adalah lahan empuk Tari untuk menyerang seseorang yang ingin diserangnya.
Martha kembali fokus berbenar untuk segera pulang. Kali ini berbenahnya dilakukan dengan sangat tergesa-gesa.
"Mau kemana lo" tanya Tari dengan suara lantang dan duduk dikursi yang ada didepan meja kerja Martha.
"Pulang..." jawab Martha dengan suara gemetar.
"Pulang ke alam baka lo !" kata Tari dengan suara setengah berteriak. Sambil menggebrak meja kerja Martha.
__ADS_1
"Brak !"
Martha melonjak kaget dan dengan tergesa-gesa pula berusaha mengambil hpnya dari dalam tas sandangnya.
"Hahahaha...."
Tiba-tiba Tari tertawa kencang dan wajahnya berubah jadi sangat bersahabat. Ada segaris senyum manis dibibirnya yang ditujukan buat Martha. Martha pun mengurungkan niatnya untuk mengambil hpnya.
"Lo takut ama gue ?. Hahahah...Santai aja. Hari ini gua lagi bahagia. Nih...SP lo gua kembalikan. Gak ngaruh buat gua. Karena gua mau pensiun dini"
"Mau pensiun dini ?. Lo kan baru...."
"Memang gak boleh"
"Gak tahu sih...Tapi...kenapa lo langsung minta pensiun" tanya Martha dengan santai. Setelah melihat Tari yang sedang berbahagia. Jadi tidak mungkin berbuat jahat padanya. Sepeti yang difikirkannya tadi itu.
"Gua gak butuh jadi bidan puskesmas. Gua punya klinik sendiri. Jadi gua fikir, lebih baik gua fokus aja mengelola klinik gua itu"
"Lo buka klinik bersalin dirumah lo" tanya Martha masih dengan santai. Malah Martha sudah kembali duduk tenang dikursinya.
"Tidak !...Mila dan Ruli udah buka klinik bersalin dekat rumah gua. Lo tahu kan ?"
"Iya, sih..." jawa Martha dengan mengangguk-angguk kecil. Sambil fikirannya menerawang jauh keklinik bersali Mila dan Ruli yang baru dikunjunginya beberapa hari yang lalu.
Saat sedang memikirkan itulah, perhatian Martha lengah terhadap Tari. Menyadari itu, Tari bergerak cepat. Melonjak berdiri dan langsung menghampiri Martha. Hingga kursi yang didudukinya terjungkal kebelakang, terhempas diatas lantai dan menimbulkan suara berisik.
Martha tersentak kaget dan terlambat untuk menghindar. Karena Tari sudah tiba disampingnya dan langsung mencengkeram rambut Martha. Menarik kuat rambut Martha.
"Krak"
"Buk !... Gedebuk !... Sreet !... Sreeett !..."
Kursi kerja Martha yang tadi diduduki Martha, juga terjungkal kebelakang. Martha juga terjatuh terduduk diatas lantai. Bokongnya terhempas kuat diatas lantai itu.
Belum sempat Martha mengaduh kesakitan, Tari sudah kembali menarik kuat rambut Martha, menyeret Martha.
"To..."
Martha akan berteriak minta tolong.
"Berisik !" kata Tari. Sambil seketika mengbenturkan kepala Martha ke tembok ruangan Martha itu.
__ADS_1
"Buk !... Buk !... Buk !...."***
(Maaf kalu tdk up...)