PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Jadi Budak


__ADS_3

Sejak peristiwa Gracia itu, Kabila n d gank nya sepakat seribu persen. Menjaukan Tari dari mereka. Walaupun tampaknya sulit untuk dilaksanakan. Entah mengapa, Tari telah begitu kuat mencengkeram mereka dengan kedonaturannya itu. Padahal baru beberapa kali. Itupun bukan permintaan mereka. Si Tarinya saja yang memaksakan kehendak. Sangat bernafsu mentraktir mereka.


Maka pada suatu siang dikantin. Kabila sudah memotivasi dirinya dan teman-temannya untuk berani menolak perintah Tari.


"Katakan tidak pada Tari" kata Kabila memompa keberanian teman-temannya. Termasuk pada dirinya sendiri.


Keberanian untuk berkata itu saja, sudah dipupuk Kabila pada dirinya. Siang dan malam. Tadi pagi sudah ditranfernya kepada kelompoknya. Siang ini akan dieksekusi Kabila n d gank nya.


Tampak Tari masuk ke kantin. Mengembangkan senyum pada Kabila n d ganknya, yang sedang duduk bersama. Jantung mereka mulai berdebar-debar tidak karuan. Melirik-lirik Tari dengan ekor mata mereka masing-masing.


"Kita pasti bisa, friend" kata Kabila berbisik pada teman-temannya itu.


"Kita harus bersatu" kata Gracia, juga dengan berbisik.


"Oke...sesuai rencana" kata Kabila lagi dan menegakkan punggungnya.


Sebelum Tari meletakkan pantatnya didepan Kabila. Segera Kabila berdiri dan diikuti anggota gank nya. Lalu memberi isyarat melalui gerakan matanya. Mengarahkan ke seluru anggota ganknya untuk beranjak pergi dari kantin.


Anggota gank nya mematuhi Kabila. Mereka semua berdiri dan akan melanglah pergi. Mengikuti Kabila yang telah lebih dulu berjalan anggun menuju pintu kantin


Spontan emosi Tari memuncak hingga ke ubun-ubunnya. Sebelum Kabila mengkah jauh. Tari akan mengajar Kabila. Tapi seseorang menjulurkan kakinya. Menjegal kaki Tari. Taripun jantuh tersungkur diatas lantai. Wajahnya mengenai sepasang sepatu seorang teman.


"Terimakasih. Tapi gak usah sampe gitu kali. Salim aja cukup kok." kata teman sepatu dicium Tari. Akibat jatuh tersungkur tadi.


Spontan teman-teman lain pada tertawa kencang. Termasuk Kabila yang langsung berhenti melangkah dan berbalik menatap Tari. Saat Tari terjatuh tadi.


Sementara langsung berdiri. Mendengar tawa ejekan dari teman-temannya.


"Siapa yang mendorong gue !" tanya Tari dengan suara teriakan.


Matanya liar menatap tajam seluruh teman-temanya itu. Semuanya hanya menunduk. Berpura-pura melihat hp masing-masing. Tari menggeran kencang dan mendengus.


"Gak ada kali yang mendorong lo. Lo jatuh sendiri. Makanya jalan pakai mata juga. Jangan pake marah" kata seseorang dari arah pojok kantin. Suaranya adalah suara cowok.


Tari pun memperhatikan sekumpulan cowok-cowok yang dipojok itu. Mereka juga semua sedang menunduk. Menatap layar hp masing-masing. Jadi sulit memastikan, siapa cowok yang berani berkata seperti itu pada Tari.


"Pengecut !...Banci !..." teriak Tari lagi. Pada cowok si pemilik suara itu.


Kembali Kabila menatap para anggotanya dan memberi isyarat dengan gerakan kepalanya untuk lanjut pergi. Tari melihat gerakan kepala Kabila itu. Tuing !...segera timbul dihatinya, bahwa insiden ini digagas oleh Kabila. Berarti Kabila lah orang yang harus bertanggung jawab.


Tak terduga oleh siapapun. Tiba-tiba kembali Tari mengejar Kabila. Larinya bak angin kencang, wus !...Tari tiba dibelakang punggung Kabila dan langsung mendorongnya kuat. Kabila terjatuh diambang pintu kantin. Duk !...kepalanya membentur kosen pintu.


"Mampus lo !" teriak Tari bahagia. Melihat Kabila jatuh.

__ADS_1


"Aduh !..." rintih Kabila dan memegang pelipisnya yang sobek, terluka. Tawa Taripun pecah. Melihat pelipis Kabila.


"Lo teman yang gak berterima kasih !. Gue traktir, gua baik-baikkin...tapi lo menikam gue !. Brengsek lo Kabila !" kata Tari dengan suara kencang. Ekspresi wajahnya seperti orang gila dijalanan.


"Siapa lagi yang minta lo traktirin kita. Lo aja yang kegeeran mentraktir kita" Gracia buka suara. Garis wajahnya memperlihatkan keberanian melawan Tari.


Sambil menolong Kabila untuk bangun, berdiri. Tari melangkah mendekati Kabila dan Gracia. Spontan Kabila dan Gracia berpegangan tangan. Seakan sepakat untuk melakukan perlawanan. Terhadap apapun bentuk tindakan Tari selanjutnya kepada mereka.


Sementara sebagian teman-teman mereka terbengong. Seperti penonton yang terhipnotis oleh adegan menegangkan. Menahan nafas dan menantikan dengan berdebar-debar. Apa yang akan dilakukan Tari terhadap Kabila dan Gracia.


Sebagian lagi sudah menyalakan video di hp masing-masing. Juga dengan jantung berdegup kencang. Ketakutan jika ketahuan Tari. Ketakutan juga dengan aksi Tari selanjutnya. Dimana mereka hanya bisa menyaksikan untuk merekam.


Tepat dugaan Kabila, Gracia dan teman-teman lain. Tari tidak akan puas. Melihat Kabila hanya sobek pada pelipis dan mengeluarkan darah. Menurut Tari, itu darah masih sedikit. Harus tertumpah banyak.


Tapi mereka terlambat mengantisipasi. Karena sejenak Tari diam didepan mereka. Hanya menatap mereka dengan senyuman sinis. Lalu Tari membalikkan tubuhnya. Seakan hendak akan pergi menjauhi mereka.


Kabila dan Gracia lalai. Mereka saling berpandangan. Bahkan Gracia akan mengelap darah Kabila yang mengalir kematanya. Gracia mengambil tissue dari saku rok nya. Tiba-tiba dengan gerak cepat. Melebihi kecepatan tendangan bayangan Jet Lee. Tari berbalik lagi ke arah mereka.


"Awaaaaasss !!!..." terdengar teriakan seorang memperingatkan, tapi terlambat. Tari telah berhasil mendorong kuat tubuh Kabila. Kabila terlempar keluar, bersama dengan Gracia.


Mereka terjatuh didepan pintu masuk kantin. Kali ini Tari tidak tertawa lagi. Malah langsung pergi dengan senyum kemenangan. Melangkah melewati Kabila dan Gracia yang masih berusaha bangun, duduk.


Setelah Tari agak jauh, barulah teman-teman mengerumuni mereka. Ada yang membantu mereka. Ada juga yang mengutuki perbuatan mereka. Termasuk ibu kantin.


"Kalian...yang tadi sudah merekam kejadiannya, ayo...kirim ke Pak Kepsek. Sebagai barbutnya" tegas ibu kantin. Setelah Kabila dan Gracia duduk kembali pada sebuah bangku, dekat pintu masuk kantin.


"Yaahhh...gue salfok"


"Gue juga...rekaman gua gak ada Tari"


"Gue juga...habis...gue kaget dengar teriakan Januar"


"Iya...gue juga..."


Ibu kantin hanya menepuk jidatnya. Mendengar laporan anak-anak itu yang gagal membuat rekaman videonya. Semua mengaku salah fokus. Mendengar teriakan Januar. Barang buktinya hanya pelipis Kabila dan para saksi hidup.


Kejadian itu tidak hanya menyisakan luka di pelipis Kabila. Juga menyisakan peringatan buat Kabila n d gank nya dan teman-teman yang lain. Agar menjauhi Tari.


Rasa takut yang begitu dalam sangat menghantui mereka. Setiap kali melihat Tari. Sementara Tari yang menyadari ketakutan teman-temannya itu, begitu bahagia. Semakin bernafsu untuk berakrab ria dengan mereka.


Memperlihatkan sikap sok manis, sok lembut, sok baik dan segala macam sok-sok an yang bisa masuk kedalam ketakutan teman-temannya itu. Karena ketakutan teman-temannya itu adalah sumber kekuatan kebahagiaan seorang Tari.


Bahkan pada Kabila dan Gracia, seakan Tari telah melupakan kejadian dikantin itu. Tanpa rasa beraalah, Tari selalu mendekati mereka. Walaupun mereka tampak menjauhinya. Itu bukan masalah buat Tari. Selama mereka takut pada Tari, itulah yang ingin dinikmatinya. Melahirkan kesombongan yang lebih arogan didalam dirinya, bahwa dia adalah the real big bos dan bukan Kabila.

__ADS_1


Menikmati kebahagiaannya yang baru itu, Tari pun menjadi anak yang baik dirumahnya. Pulang kerumah dari sekolah, sudah tepat waktu. Jika sudah berada dirumah, Tari akan betah berlama-lama didalam kamarnya.


Menikmati makanan-makanan ringan yang sudah distocknya dirumah. Makanan ringan itu adalah upeti Kabila n d gank nya untuk dirinya. Makanan ringan plus minuman-minuman ringannya. Semua itu harus diberikan setiap hari.


Sambil menikmati makanan dan minuman ringan itu, Tari membayangkan ketakutan Kabila n d gank nya. Sampai tak menghiraukan teriakan ibu didepan pintu kamarnya. Toh...sebentar lagi ibu capek sendiri. Lalu pergi menunaikan kebiasaannya setiap sore.


Perkiraan Tari tepat sekali. Karena kemudian suasana didepan kamarnya sepi. Tidak lagi terdengar suara berisik ibu. Tari pun bergegas akan keluar kamarnya. Begitu membuka pintu, ada ayah yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya itu.



"Ayah ?" kata Tari, heran melihat ayah yang tidak biasanya. Berdiri bak seorang penjaga pintu.



Tanpa kata pembuka, ayah langsung menarik lengan Tari. Tari pun tanpa kata, mengikuti ayah. Hatinya siap untuk menerima hukumab apapun dari ayah.



Ternyata ayah membawa Tari ke kamar Mbah Kahpok. Itupun Tari masih tidak berkata apa-apa. Walau hatinya dipenuhi tanda tanya.



Mbah Kahpok sedang duduk bersila didepan 'tempat sampah' nya.



"Obati dia...biar tidak mencuri lagi" pesan ayah pada Mbah Kahpok.



Ayah menyerahkan Tari pada Mbah Kahpok. Tari tetap tidak berkata sepatah kata untuk protes membantah ataupun bertanya. Seperti ada sesuatu kekuatan yang menyusup kejiwanya. Memaksanya untuk patuh dalam diam.



Ketika ayah pergi keluar kamar itu. Seketika bulu kuduk Tari berdiri. Tubuhnya kedinginan dan terasa kaku membeku. Mbah Kahpok menatapnya dengan tatapan nakal.


Tari yang sudah tidak berdaya, terhipnotis dalam kepatuhan. Hanya diam ketika Mbah Kahpok membaringkannya diatas sebuah kasur yang sudah digelar didekat 'tempat sampah' nya itu. Menjamahi tubuhnya dan menuntaskan kejantanannya yang sudah lama terpendam.


Akibat tubuhnya dipinjam si nyai untuk jadi wadah. Antara ayah dan si nyai. Kini si nyai lagi cuti, katakanlah ngambek. Karena pohon mangga yang jelmaannya itu sudah ditebang ibu. Inilah saatnya buat Mbah Kahpok menuntaskan kerinduannya pada tubuh wanita. Apalagi tubuh wanita perawan, seperti Tari.



Plup...plup...Mbah Kahpok menjalari seluruh tubuh Tari. Menuntaskan 'rasa haus'nya dengan beringas.\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2