PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Pagi Yang Mencekam


__ADS_3

Tari akan mendobrak pintu rumah dengan kekuatan penuh dari kemarahannya. Setelah memasang kuda-kuda dan menarik nafas dalam-dalam dan...


"Sret !..."


Mbah Kahpok yang berbentuk bayangan hitam, kembali melezit pesat menghantam tubuh Tari. Mencekik leher Tari dan membawa Tari masuk ke alam supranatural. Melayang cepat dan tiba didepan rumah mertuanya.


"Jleb !... Sret !..."


Sebelum Tari menyadarinya, bayangan hitam itu seketika melezit lagi. Pergi meninggalkan Tari yang masih dalam posisi akan menyeruduk pintu rumah. Mirip banteng yang akan menyeruduk seorang yang berbaju merah. Sambil mendengus-dengus marah.


"Srep !... Srep !... Srep !..."


Kaki kanannya mengais-ngais. Lalu berlari dengan setengah membungkuk.


"Bruk !..."


"Aduh !... Bangsat !..." maki Tari kesakitan dan marah.


Karena ternyata yang ditubruknya adalah satu pilar teras depan rumah mertuanya. Barulah Tari terasadar dan melihat kesekelilingnya.


Sejenak Tari terpana, kaget dan sedikit kebingungan. Sambil memegangi lehernya yang terasa sangat sakit.


"Aduh !... Si tua bangka sudah berani nyakitin gue. Membawa gue kerumah ini lagi. Brengsek kau tua bangka !. Cabul !... Otak mesum !.. Gua akan usir lo dari kamar itu. Tua bangka miskin !. Bau tanah !...Mati aja lo !" gerutu Tari sangat kesal.


Sambil fikirannya berjalan, menimbang-nimbang. Apakah akan masuk kedalam rumah mertuanya itu atau pulang saja kerumah mereka.


"Inikan rumah gua. Mengapa gua yang pergi. No !..." bisik hati Tari memantapkan keputusannya untuk masuk kerumah mertuanya itu.


Anton tidak kaget. Melihat Tari masuk kedalam kamar. Hanya semakin mempererat dekapannya ke Happy yang sedang tidur dalam dekapannya.


Walaupun sudah terbilang lama Tari hanya diam. Mengurung diri dirumah mereka. Bukanlah untuk koreksi diri. Tapi sedang menumpuk kemarahannya.


Kini amarah itu sudah menuntut pembayaran. Makanya Tari kembali kerumah papi mami. Membawa seluruh tagihannya yaitu berupa tuntutan haknya atas kepemilikan rumah ini.


Begitulah tafsiran Anton atas kembalinya Tari. Karena itu Anton semakin mempererat dekapannya pada Happy. Jika tiba-tiba Tari mengeluarkan amarahnya dengan suara kencang, tidur Happy mudah-mudahan tidak akan terganggu.

__ADS_1


Malah Anton telah langsung menyusun rencana. Tidak ingin bertengkar lagi dengan Tari. Apalagi dipagi hari yang cerah ini. Antonpun tetap siaga penuh. Memperhatikan gerak-gerik Tari dari ekor matanya.


Tampak Tari masuk ke kamar mandi. Sebelum mandi pasti berak dulu, lalu mandi. Tidak berapa lama kemudian, Tari keluar dari kamar mandi dengan tubuh telanjang.


"Glek"


Kelaki-lakian Anton tidak terangsang. Malah tampak semakin lemas dan menyusut. Walaupun matanya dengan jelas melihat setiap lekuk tubuh Tari yang dipenuhi lemak.


Sampai Tari selesai berpakaian. Memakai baju dinas kerjanya. Tapi sejenak naik keatas ranjang, duduk ditepi ranjang. Memperhatikan Anton yang sedang duduk diatas ranjang juga. Bersender pada tembok kamar. Sambil mendekap Happy.


"Sudah kau fikirkan" tanya Tari kemudian.


"Fikirkan apa" Anton balik bertanya, karena bingung.


"Kau memang bodoh, ya !" Kata Tari dan menatap Anton sangat tajam.


"Sekarang ini kau kepala rumah tangga dirumah ini. Seharusnya suaramu yang didengarkan. Peraturan yang kau buat, yang harus dipatuhi semua penghuni rumah ini. Keputusanmu yang berlaku dirumah ini. Mengerti !..."


Anton tersentak tersadar. Membenarkan pendapat Tari. Tapi juga mengetahui maksud tersembunyi dari pendapat Tari itu. Karena itu Anton beranjak untuk keluar kamar. Tadikan sudah ditekatkannya didalam hatinya, tidak ingin bertengkar dengan Tari.


Langkah Anton lebar keluar dari kamar. Tari mengejarnya hingga ke depan pintu kamar mereka dan meneriakinya.


"Hei !... b*b* !... Mau kemana kau !. Gak usah belagu kau pergi kerja !. Tak ada kerjamu !. Tak pernah kau kasih aku hasil kerjamu !. Cuma ng*t*t ajanya kerjamu !. Sama b*b*lah kau ng*nt*t !" teriak Tari dari depan pintu kamar mereka


Anton berpura-pura tidak mendengar. Malah memanggil-manggil Mbak Min.


"K*nt*l kau, Anton !... Bangsat !... Aku yang kasih kau makan, ya !. Jadi jangan belagu kau !. Habis bensin mobil itu !. Uangku juga yang kau minta untuk membeli bensin !. K*nt*lmu tak berguna !. Sama kayak kau tidak berguna !"


Anton masih berpura-pura tidak mendengar Tari. Segera menyerahkan Happy pada Mbak Min dan ingin cepat pergi dari rumah. Rasa malunya sudah tidak tertahankan lagi. Mendengat tuduhan Tari yang sangat jahat padanya dengan didengar semua penghuni rumah ini.


Tadi Anton sempat melihat Bila, Bintang dan Edhi; tengah menatap kearahnya. Bila, Bintang dan Edhie tentu sangat terganggu dengan suara berisik Tari yang kotor itu.


Tapi mereka tidak ada waktu untuk menegur Tari. Karena akibatnya adalah pertengkaran. Mereka tidak ada waktu untuk bertengkar. Waktu merekapun tidak pernah dianggarkan untuk bertengkar.


Gairah kerja bisa hilang. Sukacita bisa hilang. Pasanganpun bisa hilang. Jadi biarkan sajalah si Tari mengotori atmosfir pagi dirumah ini dengan kata-kata kotornya yang berisik. Tidak perlu ditambahi lagi tingkat kekotorannya. Toh angin masih bertiup dan pasti meniupkan kotoran itu dari rumah ini.

__ADS_1


Antonpun berfikiran begitu. Tetap tidak mau memperdulikan Tari. Setelah menyerahkan Happy kepada Mbak Min, Anton tergesa-gesa pergi keluar rumah. Tari masih menyusulnya dan meneriakinya.


Walaupun Anton telah masuk kedalam mobil dan mobilnya sudah melaju jauh dari rumah.


Tari masih meneriakinya dengan berdiri didepan pintu pagar rumah mertuanya itu dengan berkacak pinggang. Menatap kearah mobil Anton.


Orang-orang yang lalu lalang dijalan didepan rumah itu, melihat kaget pada Tari. Pagi-pagi mereka juga sudah mendapatkan atmosfir udara kotor dari kemarahan Tari.


Bila yang akan berangkat kerja dan tengah berjalan menghampiri mobilnya; akhirnya terpancing marah. Mendengar teriakan Tari itu. Juga melihat aksinya yang berkacak pinggang didepan pintu pagar rumah orangtuanya itu dengan dilihat para tetangga dan orang-orang yang lalu lalang.


Emosi Bintang bergelegar. Ingin melayani kemarahan Tari dengan kemarahannya juga. Semangat kerjanya telah turun drastis. Gagang pintu mobilnya hanya dipegangnya saja. Niatnya tertahan untuk masuk ke mobilnya.


"Pagi-pagi teriak-teriak seperti orang gila !. Bukannya berangkat kerja !" kata Bila dari samping mobilnya kepada Tari.


"Hei !... Diam lo !. Perempuan tidak tahu diri !. Tidak tahu malu !. Kau itu perempuan dan sudah menikah !. Kau tidak berhak tinggal dirumah ini lagi !. Ngerti lo !"


"Ini rumah orangtua gue. Gue berhak tinggal dirumah orangtua gue. Kalau lo gak suka gue disini, pergi lo !. Pulang kerumah orangtua lo !"


"Lancang lo, ya !. Gua bisa mengusir lo dari rumah ini !"


"Oh ya ???... Coba...gua mau lihat !" tantang Bila.


Tari tampak panik menghadapi Bila dan kehabisan kata-kata. Apalagi Bila menantangnya dengan menatapnya tajam. Tari mendekati Bila. Sementara Bila sudah bersiaga untuk was-was, menepis ketakutannya. Ketika tadi tiba-tiba ingat cerita Bintang. Bagaimana Tari nekat menusuk Danu.


Tari mendengus kencang. Percis didepan kedua mata Bila. Bila gelagapan terhirup bau nafas busuk Tari. Sesaat memalingkan wajahnya dengan mata terpejam. Tapi saat itulah dipergunakan Tari, mendorong kuat tubuh Bila. Nyaris Bila terjatuh terjungkal kearah belakangnya. Untung genggaman tangannya pada gagang pintu mobil masih kuat. Jadi bisa menopang tubuhnya untuk tidak terjungkal.


Kebetulan saat itu Bintangpun akan berangkat kerja dan sedang berjalan ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Bintang melihat Tari mendorong Bila.


"Hei !" teriak Bintang kaget. Berlari kearah mereka dan menolong Bila.


Tari mundur menjauhi Bila dan Bintang. Saat Bintang membantu Bila untuk kembali berdiri tegak. Lalu mereka mengedarkan pandangannya untuk mencari Tari.


Tidak berapa lama kemudian, mereka melihat Tari keluar dari dalam klinik. Bila terperanjat kaget. Tadi Bila sebentar masuk ke klinik untuk mengambil tas kerjanya. Tapi begitu mendengar Tari masih memaki Anton, Bila langsung keluar dan lupa mengunci pintu klinik.


Melihat Tari keluar dari klinik, Bintang dan Bila pun saling berpandangan dengan tatapan was-was dan kecurigaan. Lalu bersamaan mereka mengejar Tari.***

__ADS_1


(thanks ya...masih setia disini. Loop u pull ⚘)


__ADS_2