
"Mencari aku !?... Ada urusan apa dia mencari aku"
"Mau bagi warisan katanya"
Spontan Tari shock dan kemudian gugup. Makanpun tidak enak lagi. Malah makanan yang tadi sudah dimakannya dan sudah masuk kedalam perutnya, sepertinya akan dimuntahkannya lagi.
Tiba-tiba saja Tari merasa mual dan kepalanya pusing. Untung masih bisa ingat untuk meneguk air minum yang ada didepannya.
"Glek... Glek... Glek... Haaaa"
"Apa tadi ?... Mau bagi warisan ?. Harta mana yang mau dibagi-bagi lagi. Semuanya kan sudah dapat bagian masing-masing. Kalau rumah yang ditempati Bintang, kenderaan-kenderaan mertua, lahan-lahan dan klinik; sudah jelas...Itu milik Anton. Milik Anton, pastilah milik gua !"
"Semua harta orang tua itu harus dibagi sama ke semua anak-anaknya"
"Gak bisa gitulah, tan. Kita ini menganut paham patrilineal. Jadi semua milik orang tua, otomatis jatuh ketangan anak laki-laki dan sekarang Anton adalah anak laki-laki satu-satunya. Jadi mau dibagi sama siapa lagi"
"Paham patrilineal itu bukan mengatur harta warisan. Tapi penerus garis keturunan adalah anak laki-laki. Kalau harta orang tua, yah...hak semua anak-anak. Anak laki kek, anak perempuan kek. Karena itu dibagi sama"
"Gimana sih, tante ini. Contohnya si Bila nih, kan dikasih rumah dan mobil sama papinya. Si Bila sudah menikah. Masa sih...rumah dan mobilnya jadi milik suaminya"
"Yah...tidaklah. Tetap saja itu rumah dan mobil si Bila. Catatannya tidak boleh dijual. Kalau mau dijual, yah..menjualnya ke si Anton. Kalau si Anton gak mau beli, yah...kepihak keluarga papi mereka. Begitu aturan yang tersirat tentang harta warisan dari orang tua"
"Enak aja dijual ke si Anton. Itukan memang milik si Anton. Jadi diambil paksa si Anton juga boleh"
"Yah...gak boleh. Itu rumah dan mobil si Bila yang dikasih ke si Bila. Tetap milik si Bila. Si Anton gak punya hak apa-apa"
"Jleb !"
Jawaban Tante Hombing itu sangat menikam Tari, tepat mengenai hatinya. Spontan Tari terdiam. Tapi hatinya memberontak.
"Stop negosiasi dan basa-basi ini. Tidak apa-apa kehilangan markas. Jika markas itu tidak aman" bisik Tari didalam hatinya.
Tari menatap tajam Tante Hombing. Kemudian mendengus kuat, lalu beranjak pergi. Tanpa kata salam penutup.
Sepertinya Tante Hombing sangat menyukai tatapan itu. Artinya Tari membenci Tante Hombing dan dapat dipastikan, Tari tidak akan datang lagi kerumah Tante Hombing.
Tentu saja !...Karena Tari telah tersadar. Kalau Tante Hombing telah menyatakan ketidaksukaannya akan keberadaannya dirumah mereka itu. Lewat debat membantah Tari. Berarti Tari telah kehabisan tempat untuk dijadikan markas.
Kalau rumahnya atau kantornya dijadikannya 'markas', terlalu jauh. Tidak dapat mengintai. Bahkan teman-teman untuk dijadikan sekutupun, sudah hilang satu-persatu. Teman-teman kerjanyapun, bukanlah teman ataupun sekutu. Martha telah mencuco otak mereka.
Baiklah, Tari tidak pernah membutuhkan teman. Sejak dahulu Tari tidak butuh teman, yang dibutuhkan Tari adalah sekutu. Satu-satunya kini yang dapat dijadikan sekutu, hanyalah Anton.
__ADS_1
Tari tahu, Anton terlalu lembek untuk terus menentangnya. Anton dapat menjadi sekutu terbaik dan bisa ditempahnya menjadi senjata ampuh untuk melawan orang-orang yang melawan dirinya, yaitu keluarga Anton itu sendiri. Termasuk paman mereka yang kata Tante Hombing mencari dirinya untuk membacakan surat wasiat.
Karena itu dengan penuh percaya diri dan pasang muka tembok, Tari pulang kerumah orang tuanya terlebih dahulu untuk menemui Mbah Kahpok. Masih sama seperti dahulu suasana rumah itu, gelap dan sepi.
Teras depan hanya diterangi lampu jalan yang posisinya percis disamping batas pagar rumah mereka. Sedangkan sisi samping kiri-kanan, hanya diterangi lampu pijar lima watt yang bercahaya kuning dan keadaan didalam rumah, semuanya gelap. Tak ada satu titikpun cahaya.
Hanya bedanya, Tari tidak mau lagi masuk kerumah dengan mengendap-ngendap dari samping rumah. Menuju gudang dan mengintai dari depan keadaan didalam rumah. Barulah Tari masuk lewat pintu belakang.
Sekarang Tari akan masuk rumah lewat pintu depan. Karena tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Tari tidak sedang bolos sekali. Tidak juga telah mencuri uang ayah. Kini Tari sangat bersih dari kesalahan.
Lalu...kesalahan Tari dimana. Tidak adakan ?, jadi Tari akan membuka pintu depan.
"Ceklek !"
Tari bernafas lega. Pintu rumah masih belum dikunci. Sama seperti dulu, tidak pernah terkunci. Hebatnya lagi, sampai sekarang tak pernah dimasuki maling. Kecuali perampok yang pernah menggasak barang-barang berharha ibu. Itu sih menurit ibu. Padahal perampok sebenarnya adalah Tari.
"Kreeeeettt..."
Tari membuka pintu rumah dengan perlahan dan tidak lebar. Hanya separuh terbuka saja yang pentinh Tari bisa mendongakkan kepalanya kedalam. Melihat dan memperhatikan situasi didalam rumah yang lumayan gelap.
Hanya dengan bantuan pantulan cahaya lampu jalan dari lantai teras ke dalam rumah. Untuk dikatakan remang-remangpun situasi didalam rumah, tidaklah tepat. Tapi itu tidak pentinglah. Asalkan Tari dapat memastikan bahwa keadaan rumah sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan ayah ataupun ibu dirumah.
"Aman" kata Tari pada dirinya sendiri. Meyakinkan dirinya, bahwa keadaan rumah aman untuk dimasuki.
Tapi kalau sosok ayah, sedikitnya Tari tahu arti seorany ayah, yaitu pemberi uang ataupun donatur terbaik.
Semestinya Tari sedikit terusik rasa penasaranlah padw ayah. Masa sih sejak dahulu sampai sekarang, masih tidak kerasan berada dirumah. Terutama pada malam hari. Misalnya untuk sekedar menonton TV. Walaupun itu sendirian. Tanpa istri yang menemani.
Jika begitu, apa artinya rumah dibangun megah dan besar. Mengeluarkan biaya besar. Memeras tenaga dan otak. Tapi tidak ditempati. Hanya jadi sarang Mbah Kahpok bermesum dengan dirinya dan menghasilkan Happy.
Seandainya pemikiran baik itu lahir dari Tari. Pastilah yang pertama tertawa sangat kencang adalah para setan yang sering berbisik-bisik ditelinga Tari. Memakai media tiupan angin.
Kenyataannya, mana Tari tahu hal-hal seperti itu. Buktinya diri sendiri saja tidak menemani suaminya dirumah, entah sudah berapa lama.
Hal yang manis dan romantis seperti itu, bukanlah milik Tari. Milik Tari hanyalah marah, dendam dan kebencian. Warisan dari sang ibu. Tapi kelebihan Tari dari ibu adalah ketiga rasa itu dikembangkan Tari yaitu harus dipuaskan.
Karena itu Tari ingin menemui Mbah Kahpok untuk memperkuat persekutuan mereka semakin kuat. Menyerang Bintang dan antek-anteknya.
Begitu Tari memastikan keadaan rumah aman untuk dimasuki, Taripun melangkah masuk kerumah. Tapi baru saja melangkah satu langkah, seketika satu bayangan hitam melezit cepat kearahnya.
"Sreb !... Jleb !"
__ADS_1
Bayangan itu tidak lain adalah Mbah Kahpok. Mbah Kahpok langsung mencekik kuat leher Tari.
" Aaaaggggg...." teriak Tari dalam kesakitan dan menggelepar-gelepar. Percis seperti orang yang tenggelam dilaut lepas yang dalam.
"Aaaaggggg..."
Tari menepuk-nepuk kencang tangan Mbah Kahpok yang mencekik lehernya itu.
"Cepat pergi dari rumah ini dan jangan kembali" bisik Mbah Kahpok marah. Tepat didepan telinga Tari.
Lalu melepaskan tangannya dan seketika mendorong kuat tubuh Tari.
"Buk !"
Hingga tubuh Tari membentur daun pintu.
"Aduh !... Brengsek kau dukun cabul !"
"Cepat pergi !"
"He !... Memangnya siapa kau !. Lancang mengusirku dari rumah ayahku !"
"Kalau kau mau anak itu tetap hidup, sebaiknya kau pergi !. Cepat !..."
"Bodo !... Memangnya aku perduli kalau dia mati !. Biar saja...."
"Perempuan bandel !"
"Srep !"
Kembali Mbah Kahpok secepat kilat mendekati Tari dan mencekik leher Tari lagi.
"Aaaaggggg...."
"Nyai akan membunuh anak itu dan aku tidak mau anakku mati. Kalau anakku mati, kau tidak akan mendapatkan apapun dari harta oranh tua Anton !. Ngerti !..."
"Tap !... Buk !..."
Mbah Kahpok memukul kencang satu bahu Tari. Lalu kembali mendorong kencang tubuh. Hingga Tari terpelanting ke teras depan.
"Brengsek kau !" kata Tari sangat marah. Lalu bangun, berdiri dan berlari kearah pintu rumah.
__ADS_1
Tari akan mendobrak pintu rumah dengan kekuatan penuh dari kemarahannya. Setelah memasang kuda-kuda dan menarik nafas dalam-dalam dan....
"Sret !..."***