PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Oohh Bintang


__ADS_3

"Ssshhhh sayang...Sssshhhh sayang. Anak papi yang baik, pintat...Happy anak papi. Sssshhhh..." kata bibir Anton.


Tapi fikirannya melayang. Mencari-cari kalimat yang sopan untuk meminta Bintang keluar dari rumah ini.


Sedang Tari masih bersukacita dengan cerita barunya, bahwa Bintang akan segera angkat kaki dari rumah orang tuanya sendiri.


Cerita baru itu dikisahkannya pada keesokan harinya. Setengah hari diwarung Mbak Ipeh dan setengah hari lagi dirumah Tante Hombing. Lengkap dengan pesta kecilnya.


Membawakan banyak makanan kewarung Mbak Ipeh dan ke rumah Tante Hombing. Hingga seluruh anggota keluarga Mbak Ipeh dan Tante Hombing, dapat menikmatinya dengan sangat puas.


"Gua udah perintahkan ke si Anton untuk segera mengusir Bintang. Capek gua berantem mulu sama si l*nt* satu itu !..." Suara Tari yang kencang akan lebih dulu tiba, dibandingkan orangnya.


Maka ketika Mbak Ipeh atau Tante Hombing akan mencari kalimat penolakan, makanan yang ditangan Tari sudahpun tiba dihadapan mereka.


Haruskah segera dibuang ketempat sampah ?. Itu namanya tidak sopan !. Kalaupun mereka akan membantah atas tindakan yang dilakukan Anton akan mengusir Bintang dari rumah orang tua mereka sendiri, tetap saja mereka tidak mempunyai celah untuk mempergunakan kesempatan. Karena Tari bercerita tanpa jeda dan tanpa tanda titik.


lagi pula terlalu banyaklah cara yang dilakukan Tari untuk mereka tidak bisa menolak traktirannya itu. Juga nyanyian ocehannya itu. Kecuali mereka hanya bisa membenarkan traktiran itu dengan memegang pedoman dari nenek moyang yaitu rejeki pantang ditolak. Walaupun mereka sangat menolak sikap Tari dan Anton, terhadap Bintang dan Bila.


Saat Tari datang lagi keesokan harinya dengan membawa makanan yang lezat-lezat juga banyak, Tante Hombing tidak menyambutnya. Meskipun sangat ingin menyantap rakus makanan itu.


Mengingat kemarahan Om Hombing atas makanan pemberian Tari itu. Bahkan banyak makanan itu yang bernasib jelek. Saat Om Hombing memergoki makanan itu dimeja makannya. Nyaris semuanya berakhir ditempat sampah. Bersama kata-kata pengantar berupa marah pada Tante Hombing yang masih membiarkan Tari masuk kerumah mereka. Padahal sudah lama Om Hombing memberi larangan via Tante Hombing bahwa TARI DILARANG MASUK.


Rejeki yang dari Taripun harus ditolak. Demi meredakan amarah suaminya itu. Maka makanan yang dapat disantap, akan disantap Tante Hombing sekedarnya. Sebagai penghormatan atas tamum Meskipun itu tamunya adalah Tari yang datang beserta ocehan berbahasa kotor.


Setelah kenyang Tante Hombing berdiri dari duduknya. Berjalan-jalan sebentar untuk menghancurkan lemak makanan pemberian Tari itu. Sedang Tari telah tertidur lelap disalah satu sofa didepan TV, diruang keluarga Tante Hombing ini. Tante Hombing meninggalkan Tari sendirian disitu dan berjalan ke arah teras depan rumahnya.


Berjalan dengan mengangkat tinggi lututnya. Secara bergantian kiri dan kanan. Sampai kedekat pintu pagar rumahnya dan berbalik lagi, kearah teras depan rumahnya.


Begitu dilakukan Tante Hombing beberapa kali. Hingga kali yang kesekian, tanpa sengaja Tante Hombing melihat kearah depan pintu pagar rumah almarhum orang tua Bintang.


Ada Bintang yang berdiri didepan pintu pagar rumah orang tuanya itu dan sedang mengguncang-guncang sangat kuat pintu pagar itu.


"Mbak Min...buka pintunya. Kenapa diganti sih pintu pagar ini. Siapa yang ganti Mbak Min !. Mbak Miiiinnn !!!..." teriak Tari dari depan pintu pagar itu.


Saat tadi pulang kerja, ternyata Bintang mendapati kunci pintu pagar rumah telah berubah, diganti dengan sebuah gembok yang besar.


Tentu saja Bintang belum mempunyai kunci itu. Itu pasti unsur kesengajaan Tari. Mengganti kunci pintu pagar dengan gembok yang baru dibelinya.


Bintang kembali memanggil-manggil Mbak Min untuk dibukakan pintu. Tapi Mbak Min juga tidak mempunyai kunci gembok pintu pagar itu.

__ADS_1


"Mana Bang Anton" tanya Bintang pada Mbak Min.


"Ada, kak...dikamarnya..."


"Tolong minta dari Bang Anton. Kali aja dia punya kuncinya"


"Udah, kak. Tapi..."


"Tapi apa, mbak ?"


"Tidak diberi...."


"Apa !...tidak diberi !?. Apa maksudnya ini. Bang Anton !...Baaaanñnngggg !!!!..."


Bintang berteriak kencang memanggik Anton. Membunyikan klakson mobilnya berkali-kali dengan bunyi yang panjang. Lalu berteriak lagi memanggil Anton.


Mbak Min tidak tega melihat Bintang diperlakukan seperti itu. Hatinya sangat sedih melihat Bintang. Mbak Min pun tidak menyerah, berusaha membantu Bintang. Mengetuk pintu kamar tidur Anton dan memanggil-manggil Anton.


Lama kemudian barulah Anton keluar dari kamarnya. Tapi hanya mengintip Bintang dari balik tirai jendela ruang tamu rumah. Bintang mengetahui itu. Karena tadi melihat wajah Anton tersembul dari balik tirai jendela ruang tamu itu.


Sepertinya Anton tidak perduli. Karena kemudian Anton kembali masuk kedalam kamarnya. Bintangpun semakin marah, kecewa dan sedih; diperlakukan seperti ini.


Mematuhi Tari untuk mengganti semua kunci-kunci rumah. Terutama kunci pintu pagar.


Mbak Min pun kembali menemui Bintang. Memberitahukan keberadaan Tari dirumah Tante Hombing. Segera Bintang melangkah kerumah Tante Hombing.


Saat itu Tante Hombing sengaja duduk diteras depan rumahnya. Karena memang Tante Hombing telah mengetahui dari Tari sendiri, kalau Tari memerintah Anton untuk mengganti semua kunci pintu rumah mereka itu.


Makanya ketika Tante Hombing melihat Bintang berdiri didepan pintu pagar rumah almarhum papi-mami mereka dan memanggil-manggil Mbak Min untuk membukakan pintu itu, Tante Hombing segera masuk kerumahnya.


Duduk diteras depan rumahnya. Menikmati rasa ibanya terhadap Bintang. Tapi tidak tahu harus berbuat apa. Segela nasehat sudah disampaikan Tante Hombing kepada Tari. Tapi semua sia-sia. Malah Tari membela diri dengan berbantah pada Tante Hombing.


"Dengar ya, tan....Si Bintang itu lebih jahat dari gua. Dia menusuk gua dari belakang. Semua teman-teman satu kamar gua diasrama dulu, dia pengaruhi untuk menyerang gua. Si Mila dan si Ruli, sengaja membuka klinik bersalin didekat rumah gua. Pasti itu atas perintah Bintang. Terus si Martha, dia suruh jadi dokter dan apesnya lagi. Si Martha itu jadi dokter kepala di puskesmas tempat gua berdinas. Itu juga pasti atas skenario si Bintang. Juga dua malam yang lalu, semua teman-teman gua itu menyerang gua dirumah gua. Itu juga pasti perintah si Bintang. Coba tante bayangkan, siapa yang lebih jahat. Gua atau si Bintang kurang ajar itu !"


Tante Hombing hanya bisa mengeluh. Tidak mempercayai semua perbantahan Tari itu. Karena akan jadi percuma. Tari itu berkepala batu.


"Tante..." panggil Bintang sopan.


Tante Hombing tersentak dari lamunannya yang sesaat itu. Lalu mendekati Bintang.

__ADS_1


"Maaf tante"


"Ada apa Bintang ?"


"Saya mau bertemu dengan Tari"


"Mau apa kau, binatang !" jawab Tari yang tiba-tiba muncul diambang pintu rumah Tante Hombing itu.


Berdiri berkacak pinggang. Menatap Bintang dengan sorot mata sangat tajam. Melihat itu Tante Hombing jadi gelisah dan was-was. Memperhatikan dengan seksama wajah Bintang dan Tari, silih berganti. Jangan sampai mereka gaduh didepan rumahnya ini.


"Mana kunci pintu pagar"


"Mana gua tahu !. Emangnya gua sekuriti dirumah itu !"


"Jangan berpura-pura tidak tahu !. Lo kan !...yang ganti kunci pintu pagar dengan gembok. Biar gua gak bisa masuk"


"Ha !?... Jangan sembarangan nuduh lo ya !. Gua laporin polisi lo !. Menuduh sembarangan !..."


"Alaaaahhh....Polisi... Lapor polisi...Basi !. Cepat !...berikan kuncinya !..."


"Tidak !... Mati saja lo !"


"Lo yang mati !. Perempuan sundal !..."


"Kurang ajar !... b*b* !... *nj*ng !... Lancang mulut lo ya !... Perlu gua sobek juga mulut lo itu !" kata Tari sangat emosi dengan suara yang berteriak sangat nyaring.


Tari akan menampar pipi Bintang. Tante Hombing kaget. Langsung melonjak berlari menghampiri mereka dan berdiri diantara mereka.


"Stop !...Jangan gaduh dirumah saya !. Berikan saja kuncinya. Ayo..." kata Tante Hombing pada Tari yang tidak setuju dengan cara kekanak-kanakkan Tari itu.


"Tidak !...Biar dia mampus !. Itu rumah gua !. Dia tidak boleh masuk kerumah gua !" jawab Tari dengan lantang. Membantah Tante Hombing dan melototkan matanya didepan wajah Tante Hombing.


"Oh ya ?..." tantang Bintang. Sambil mendorong tubuh Tari.


"Ayo !...didepan rumah bokap kita selesaikan ini !. Ayo..." kata Bintang lagi dengan mendorong-dorong tubuh Tari yang gemuk itu. Menantang Tari dengan tubuh langsingnya itu.


"Gggggrrrr..." Tari menggeram marah.


Amarahnya tertantang untuk melayani tantangan Bintang itu. Lalu Tari berlari masuk kembali kerumah Tante Hombing. Membuat Tante Hombing kebingungan.

__ADS_1


Sedang Bintang berjalan cepat keluar dari halaman depan rumah Tante Hombing itu. Menuju ke depan rumah orang tuanya.***


__ADS_2