
Setelah dari rumah kakek Toni, Bintangpun berusaha memunculkan keberaniannya. Menepis rasa takutnya atas aksi nekat Tari. Menolak dengan keras kehadiran Tari sebagai bagian dari anggota keluarga mereka.
Hal itu dilakukannya sendiri. Tanpa melibatkan orang lain lagi. Bintang tidak ingin hal yang sama menimpa Fitri, terjadi pada temannya yang lain, yang dimintainya bantuan untuk menyelamatkan keluarganya. Terutama menyelamatkan Anton dari Tari.
Hal utama yang dilakukan Bintang adalah mempenharuhi orang tuanya untuk menentang niat Anton menikah dengan Tari. Jangan sampai Tari masuk kerumah orang tuanya. Menjadi bagian dari keluarga mereka. Itu sangat berbahaya !.
"Kamu terlalu membencinya. Karena Anton lebih memilih Tari ketimbang Karina. Itu tidak baik" kata mami menangkal maksus Bintang.
Itu terjadi ketika Bintang memulai aksinya. Mempengaruhi orang tuanya untuk menentang pernikahan Anton dan Tari.
"Mami, ayolah...Bukan karena Karina, mi. Kalau perbuatan Tari itu baik, tidak mungkin Bintang membencinya. Lagian, masih banyakkan perempuan cantik dan baik diluar sana. Kenapa harus Tari sih, mi"
"Tanya Bang Anton. Jangan Tanya ke mami"
Haruskah Bintang berterus terang saja. Perihal perbuatan Tari kepada Bintang. Ketika dikampus pada waktu itu ?. Kalau Bintang berkata jujur tentang hal itu, apakah Bintang memanfaatkan keadaan ?. Bersikap cengeng, lalu mengadu kepada keluarganya untuk minta perlindungan. Kekanak-kanakkan Bintang dalam hal ini ?.
Bagaimana kalau jujur mengatakan, kalau Tari punya jin peliharaan. Jin itu pernah diperintahkan Tari, mereror Fitri untuk memperkosa Fitri, saat dikamar asrama. Biar banyak bahan pertimbangan keluarganya untuk menentang pernikahan Anton dan Tari.
Pasalnya Bintang sudah sangat bingung. Sementara hari lamaran sudah semakin dekat. Sungguh Bintang tidak rela menerima Tari sebagai bagian dari anggota keluarga mereka.
Bintang sudah pernah gagal mempengaruhi mami dan papi. Lalu harus mempengaruhi siapa lagi ?. Bang Theo ?, Kak Bila ?...Mereka itu contoh anak yang patuh pada orang tua.
Sementata Bintang semakin hanyut dalam kebingungan. Padahal waktu berjalan terus. Kasak-kusuk kebingungannya, tidak akan menghentikan waktu. Malah membhai Bintang dalam kegelisahan. Hingga tiba hari pelamaran.
Karena begitu panik, Bintang nyeletuk meracau ke Bila.
"Tari udah gak perawan, kak" kata Bintang dengan berbisik ke Bila. Saat mereka akan berangkat kerumah orang tua Tari untuk lamaran.
"Apa !?...Apa Anton pelakunya"
Bintang akan menjawab. Tapi Bang Edhi keburu datang merapat ke Bila dan menggenggam tangan Bila. Menuntunnya untuk masuk ke mobil. Bintang hanya mendesah kecewa berat dan masuk kemobil orang tuanya.
Acara lamaran pun tiba. Undangan dari pihak Tari, sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki Tari seorang. Itu pun jari-jarinya tidak habis. Alias undangan mereka tidak lebih dari dua puluh orang.
Sedangkan tamu dari pihak Anton, boleh dikata banyak. Kalau hanya untuk lamaran saja.
Acara lamaran awalnya begitu indah dan bahagia. Tapi ketika tiba pada sessi mahar...Wah !...ketegangan mulai terjadi.
__ADS_1
Inilah acara lamaran yang spektaluler alotnya dan itupun tak menemukan kesepakatan. Soalnya ibu meminta mahar dengan jumlah yang sangat tinggi dan harus dibayarkan tunai, saat itu juga.
Keluarga Anton mencoba untuk negosiasi. Mencoba memberi pengertian pada ibu. Akibatnya ibu pun walk out di acara itu. Lamaranpun to be continue beberapa hari kemudian.
Acara lamaran kedua akan berlangsung. Eh...ketika rombongan keluarga Anton tiba dirumah orang tua Tari, ibu tidak ada dirumah. Lagi ada urusan luar. Apalagi kalau tidak bermain judi. Hari itupun lamaran ditunda.
Beberapa hari kemudian, acara lamaran ketiga berlangsung. Tak ada acara makan-minum lebih dulu. Langsung pada penyerahan mahar. Lalu ibu kabur, entah kemana. Meninggalkan rombongan keluarga Anton dirumah mereka. Hanya ditemani ayah.
"Benarkan ?" kata Bintang pada Bila. Setelah mereka kembali pulang dari acara lamaran jilid tiga itu.
"Mereka gila uang. Ibunya saja parah. Lihat kan tadi, cara ibunya memeluk uang itu. Pasti anaknya akan lebih parah" lanjut Bintang pada Bila.
Bila tidak menjawab, hanya terdiam dan berpura-pura sibuk merapikan kamar tidur mereka. Bintang hanya memperhatikan wajah Bila. Lalu melirik wajah Bang Edy yang sedang menatap televisi.
Kemudian Bintang keluar dari kamar Bila. Mencari mami dan papi. Mendapati kedua orang tuanya itu sedang berada dihalaman belakang. Bintang pun memperhatikan wajah orang tua nya itu.
Ada kekecewaan dan kesedihan di wajah papi, mami, Bila dan Edhi. Karena itu Bintang berkomitmen didalam hatinya, kali ini tidak boleh pasrah lagi.
Setelah gagal mempengaruhi kedua orang tuanya, Bila dan Edhi untuk menentang terjadinya pernikahan Anton dan Tari; Bintang belum menyerah. Tidak kehabisan kata untuk pantang menyerah. Maju Tak Gentar. Bintang bangkit dan melakukan aksinya yang berikut.
Bintang menghampiri mami dan papi dihalam belakang itu dan langaung "Dar...Dir....Dor"
"Ya...Tapi itu nanti kita bahas" jawab papi dengan wajah datar. Demikian pula dengan mami.
Bintangpun jadi menyesal mengajukan usulnya itu, disaat suasanan kacau seperti ini.
Memang setelah lamaran jilid pertama dan kedua gagal, papi tampak sangat terpukul. Sebagai kepala rumah tangga, papi merasa gagal. Mewujudkan impian anaknya, yaitu Anton untuk menikah dengan pujaan hatinya.
Mungkin karena itu papi tidak begitu merespon usulan Bintang itu. Suatu usulan yang sangat dini. Lamaran saja belum diterima. Malah masuk ke jilid tiga. Itupun belum ada jawaban dari ibunya Tari. Karena ibunya itu langsung kabur. Membawa semua uang mahar itu.
Eh...Bintang dengan sangat lantang dan penuh percaya diri yang dikuasai ego, mengajukan usulan pemisahan rumah. Itukan namanya anak kurang ajar !.
Begitu yang dikeluhkan Bintang didepan Della, Karina, Ruli dan..."Surpriiiiiiise...". Ada mila lho. Mereka sengaja berkumpul dikamar Bintang pada suatu hari Sabtu sore. Sebelum Bintang pulang kerumah orang tuanya. Seperti yang biasa dilakukan Bintang.
Tidak kebetulan rumah orang tua Bintang dengan kampus mereka, jaraknya tidak jauh. Sama-sama berada dikota yang sama. Ceritanya, Bintang yang becita-cita ingin jadi bidan. Sengaka memilih kampus kebidanan ini.
Biar jarak tidak jauh dari rumah orang tuanya. Jadi Bintang bisa setiap hari Sabtu sore, pulang kerumah orang tuanya. Pada hari Minggu sore, kembali ke asrama.
__ADS_1
Juga kampus kebidanan ini, sudah terkenal dan terpecaya. Sering menghasilkan bidan-bidan yang berkwalitas dan siap pakai.
Ceritanya juga, Sabtu sore ini Bintang tidak berencana untuk pulang. Karena akan mengadakan rapat mendadak dengan teman-temannha itu. Khusus membahas issue tentang Fitri dan Tari.
"Sekarang keadaan Fitri bagaimana ?" tanya Karina.
"Sudah mulai tenang dan bisa tidur. Hanya belum masuk PKL. Kondisi phisiknya masih lemah" Bintang menjelaskan.
"Jahat banget, ya...si Tari. Sampe memelihara jin segala" komentar Mila dengan nada kesal.
"Hush !...Jangan kencang-kencang" Karina mengingatkan Mila, "Jangan sampe didengar jinnya Tari"
Spontan Mila mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Udaahh...Bagaimana nih tentang nasib keluarga gua" kata Bintang dengan wajah sedih.
Seketika mereka semua terdiam dan tertunduk. Wajah mereka masing-masing tampak bingung. Harus berkomentar apa. Sebagai tanda turut simpati pada Bintang.
Lama mereka terdiam dengan posisi seperti sedang mengheningkan cipta. Apalagi terdengar suara ringtone hp seseorang dengan lagu "Hening Cipta"
*Dengan seluruh angkasa raya memuji pahlawan negara
Nan gugur remaja diribaan bendera
Bela nusa bangsa
Kau kukenang wahai bunga putra bangsa
Harga...Jasa...
Kau cahya pelita
Bagi Indonesia mer...de...ka*....
Selesai bunyi ringtone itu, Della pun berkomentar,
"Menurur gua sih...Lo khusuk berdoa. Agar Tari bertobat"
__ADS_1
"Amiiiinnn..." jawab teman-temannya itu serentak. Bintangpun manyun sejelek-jeleknya.***
(Like and komen ya. Thank u all❤❤❤)