PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Toni Oh Toni


__ADS_3

Sebelum sorot mata itu melahirkan pergunjingan, terpaksa Toni memgantarkan Tari pulang ke asrama. Sangatlah kegirangan si Tari diantar Toni. Walaupun tidak full 100%. Karena Fitri melihatnya turun dari mobil mewah Toni.


Hanya ada satpan kampus yang lagi bertugas dan beberapa orang adik-adik tingkat mereka yang masih lalu lalang disekitaran kampus.


Tari sedikit melangkah lesu menuju kamar. Aiiihhh...ternyata Fitri sudah berada didalam kamar. Sepertinya baru saja sampai dikamar. Buktinya Fitri masih berpakaian putih-putih, seragam mereka.


Taripun melangkah ringan masuk kekamar. Tidak lupa bernyanyi lagu cinta dengan suara kecik. Wajahnya sangat ceria. Tapi Fitri tidak memperdulikan Tari. Tatapannya hanya tertuju pada layar handphonenya. Masih berbalas pesan dengan Toni dari wa. Garis wajah Firti memperlihatkan bentuk adanya rasa kecewa dihatinya kini.


Melihat kenyataan itu, kebahagjan Tari kembali memuncak dan berlipat ganda. Setelah diantar Toni dan kini mendapatkan Fitri sedang mengalami kekecewaan. Senyum Tari pun mengembang lebar. Lalu merebahkan dirinya diatas ranjangnya. Membawa serta kebahagiaan dan senyumannya itu.


"Dari mana aja lo" ternyata Fitri telah memperhatikannya dan mulai berkomentar dengan pertanyaan. "Bolos lagi lo" tuduh Fitri sangat kejam. Tapi Tari menikmati kekejaman itu dan tidak menjawab.


Hatinya masih sangat bahagia. Membawa fikirannya ke alam khayalan. Sedang berduaan dengan Toni, memadu kasih. Sambik mata Tari menatap kelangit-langit kamar, merem melek-merem melek.


Fitri memperhatikan Tari dengan keheranan.


"Mesum lo, ya" usik Tari dengan mengguncang bahu Tari, sesaat.


Tari tidak menggubris Fitri. Malah memiringkan tubuhnya, membelakangi Fitri. Fitri pun semakin terheran-heran. Melihat sikap aneh Tari ini.


"Haaaa...gua tahu. lo lagi jatuh cinta, ya" tebak Fitri.


Karena berdasarkan pengalaman Fitri, tingkah aneh Tari ini adalah tingkah orang yang sedang jatuh cinta. Berarti Tari sedang jatuh cinta. Fitri berdecak kagum sendiri. Sambil memandangi punggung Tari.


Walaupun masih dugaan, tetap saja kabar tentang Tari yang sedang jatuh cinta, menjadi viral. Tidak hanya dilingkungan kamar asrama. Tapi juga meluas sampai dilingkungan kampus.


Penyebar kabar itu tentu saja Fitri. Banyak dari teman-teman mereka, menyambut baik kabar itu. Hanya segelintir orang yang nyinyir menyindiri. It's okelah. Namanya juga hidup didunia. Ada yang suka, ada yang tidak. Itulah yang membuat kehidupan jadi tetap seimbang dan berwarna-warni.


Bagi mereka yang suka kabar itu, menyambut bahagia. Terutama bagi teman-teman yang pernah dijahatinya, seperti Gina. Mereka berharap, dengan begitu Tari menjadi sosok teman yang baik. Tidak arogan lagi dan tidak sadis. Sebab cinta dapat merubah sikap seseorang. Semoga Tari termasuk dari salah satu dari orang itu.


Benar saja, Tari jadi kembali menjadi sosok yang menyenangkan lagi. Sering memperlihatkan senyumnya lagi kepada teman-temannya. Perlahan-lahan teman-temannya kembali mendekatinya.


Terutama Fitri dan Desi yang doyan dengan cerita pribadi orang. Mereka selalu usil menginterogasi Tari tentang sosok pria yang membuatnya jatuh cinta. Bertanya secara bertubi-tubi. Tak kenal tempat waktu.


Kadang disaat kuliah sedang berlangsung, pada tengah malam, saat Tari lagi berak de el el. Tari tak pernah menggubris mereka. Tapi mereka tak kenal putus asa. Terus saja menjejali Tari dengan pertanyaan itu-itu saja.


"Siapa sih cowok itu, Ri. Kenal dimana lo sama dia. Ganteng kah, Ri. Ada gak temannya, Ri. Cowok itu dokterkah, Ri.........:


Padahal didalam hati, Tari sudah ingin membuat kejujuran pada Fitri. Sebagai ucapan terimakasihnya yang telah menyebar kabar tentang dirinya yang telah jatuh cinta. Pada pandangan Tari itu artinya Fitri telah menyatakan dirinya berhasil mendapatkan Toni.


Maka disaat Toni menjemput Fitri sore itu, seperti biasanya. Tiba-tiba Tari masuk kemobil Toni. Tanpa ada kata penjelasan apapun. Spontan membuat Fitri dan Toni yang sudah berada didalam mobil, terhentak kaget dan bimgung. Keduanya langsung menoleh pada Tari yang sudah duduk santai di jok belakang.

__ADS_1


Fitri mencubit lengan Toni.


"Auh !...apa sih" tanya Toni


"Kenapa tadi pintu gak langsung dikonci" bisik Fitri ditelinga Toni.


Tari yang dapat mendengar hal itu, hanya tersenyum sinis. Melirik pada Fitri.


"Sorry, Ri...Ada apa, ya..." tanya Fitri


"Gue ikut" jawab Tari sangat tenang. Tatapannya hanya tertuju pada Toni.


"Ikut kemana ?. Kami belum langsung keasrma, Ri"


"Gue tahu. Tapi gue haru ikut. Iya kan, Toni ?"


Suara Tari sangat lembut menyebut nama Toni. Membuat Fitri sejenak menatap Toni, curiga. Lalu berbalik menatap Tari, ingin muntah. Berharap mereka mengerti arti tatapan Fitri itu. Lalu memberi penjelasab kepadanya.


Tapi yang diharapkan tidak terwujud. Malah Toni menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya. Dalam perjalanan tak ada kata yang terucap dari bibir mereka bertiga. Hanya ada tatapan mesra Tari kewajah Toni. Tentu semakin membuat Fitri uring-uringan, manyun, menekuk wajahnya dan gelisah.


Hingga mereka tiba diasrama, Fitri langsung keluar dari mobil. Sementara Tari hanya tersenyum menatap Fitri. Belum jauh Fitri melangkah dari mereka, Taripun keluar dari dalam mobil dan masuk kembali kedalam mobil. Hanya untuk berpindah duduk. Duduk disamping Toni.


Fitri masih sempat melihat mereka. Seketika Fitri menghentikan langkahnya. Lalu berbalik dan berjalan cepat. Kembali mendekati mereka. Hatinya sangat terbakar emosi, akibat cemburu.


"Hei..." Tari kaget dan nyaris terjatuh.


"Apa-apan sih, lo. Mau jadi pelakor !. Lo gak pantes buat Toni !. Ngaca donh lo !" kata Fitri meluapkan emosinya dengan intonasi suara yang tinggi.


Kali ini Tari bisa mengabaikan kemarahan orang. Tidak menggubris Fitri sedikitpun. Tari langsung pergi dengan menyenggol keras satu lengan Fitri dengan satu bahunya.


Terdengar suar Fitri mengaduh, kesal. Bukan mengaduh sakit. Sebab hatinya lebih sakit. Seperti ditikam pada dadanya. Fitri tidak menerima perlakuan Tari itu. Amarahnya semakin meletup-letup. Seperti lahar yang baru mengalir dari puncak gunung merapi.


Fitri berjalan cepat, menyusul Tari.


"Fitri" panggil Toni untuk mencegah terjadinya kegaduhan lebib panjang dan lebih ramai.


Tapi Fitri mengabaikan. Bahkan berhasil menyusul Tari dan menyalibnya. Berdiri berkacak pinggang didepan Tari dengan jarak cukup dekat. Mereka saling menatap tajam. Tak ada kata atau senyum lagi dibibir Fitri untuk Tari. Walaupun Tari telah mempersiapkan sikap ramahnya kepada Fitri.


Malah Fitri mendengus kencang. Mengisyaratkan sikap permusuhan secara terang-terangan.


"Pelakor !...Perempuan ganjen tidak tahu diri !. Sok cantik lo. Oplas dulu lo baru jadi pelakor !..." tuding Fitri pada Tari. Taripun hanya terdiam. Berakting seolah-olah dia adalah orang yang tertindas untuk menarik simpati Toni. Berharap dibela Toni.

__ADS_1


Saat itu, yah...Tari dibela Toni. Toni menyuruh Fitri diam dan menuntun Tari untuk pergi ke kamar. Merangkul pundaknya dan tidak lupa meminta maaf. Sampai memohon-mohon mesra gitu.


Jadilah Tari semakin berbunga-bunga. Mengabaikan saja tudingan-tududingan Fitri itu. Meskipun Fitri terus menuduhnya sebagai pelakor yang tidak tahu diri. Memviralkan tudingan itu ke semua teman-temannya. Juga keseluruh penjuru kampus.


Teng !...Tari mengeluarkan senyum sadis pada Fitri. Kini Tari telah merebut emosi Fitri. Mudah-mudahan emosi kebanyakan teman-temannya pula. Apalagi emosi Fitri sudah tensi sangat tinggi. Ini adalah makanan empuk.


Tari pun tak bisa diam lagi. Tak bisa berakting sebagai orang yang tertindas lagi. Kini Tari harus bangun dan meraih kehidupan yang diimpi-impikannya.


Maka ketika sore berikutnya, usai PKL. Fitri baru saja tiba dikamar asrama. Sementara Tari sudah sedari tadi menunggunya. Tanpa berkata apa-apa, Tari langsung menghampiri Fitri dan...Plak !...Plak !...Tari menampar kedua pipi Fitri.


Fitri kaget dan kesakitan. Hingga tak berkesempatan melakukan perlawanan. Begitu pula dengan beberapa orang teman mereka yang kebetukan berada didalam kamar dan melihat kejadian itu. Mereka hanya bisa menatap terpelongo.


"Lo jauhi Toni !. Kalau tidak..." kata Tari akan mengancam Fitri.


"Toni ?...Mimpi lo, ya !. Dia itu pacar gue !" tantang Fitri. Tanpa memperlihatkan rasa takut pada Tari. "Bahkan sudah lebih dari pacar. Dia itu tunangan gue !. Lagian, lo itu bukan tipenya Toni. Nyadar lo !" kata Fitri sangat lantang dan mendorong tubuh Tari.


"Brengsek !" Tari sangat marah dan berusaha menjabak rambut Fitri.


Untung Fitri dapat menghindar. Melangkah mundur menjauhi Tari. Tapi Tari yang juga sudah dikuasai emosinya, melanhkah lebar. Mengejar Tari dan...Plak !...Plak !...Kembali Tari berhasil menampar kedua pipi Fitri dengan satu tangannya. Sedang tangannya yang satu sangat cekatan melayang kearah rambut Tari. Hap !...Tari menjambar rambut Fitri.


Fitri berteriak-teriak kesakitan. Sambil meminta Tari melepaskan tangannya dari rambutnya dengan cacian. Sedangkan teman-temannya yang sedari tadi melerai dengan suara teriakan. Ketika melihat aksi Tari VS Fitri semakin seru, merekapun membantu Fitri.


Berusaha melepaskan tangan Tari dari rambut Fitri. Gina yang juga menyaksikan aksi itu. Mempergunakan kesempatan itu untuk melampiaskan kekesalannya pada Tari yang pernah meneror dan mungkin pernah mengambil uangnya.


Gina menjambak rambut Tari. Menampar kepala Tari berkali-kali. Mencakar lengan Tari yang menjambak rambut Fitri itu.


"Lepaskan !...Tari !....Sudah !...Sudah !...Berhenti !...." teriak Karina siketua kamar, yang berdiri diantara Fitri dan Tari.


"Tidak !...Gua mau botakin rambutnya. Biar gak kegatelan !" jawab Tari


"Lo gila !. Toni itu pacar gua !. Lo yang kegatelan !" kata Fitri dengan suara kencang dan berusaha mencakar-cakar lengan Tari.


"Sudah !...Hentikan !...Tidak tahu malu kalian !...Sudah !..." kata Karina lagi.


Larangan Karina ini tidak ada artinya buat Fitri. Karena Fitri sudah terbakar api cemburu. Tari telah merampas Toni darinya.


Tapi pada sesi ini, Tari berlagak mematuhi Karina. Mengakhiri kegaduhan itu. Melepaskan tangannya dari rambut Tari dan berjalan santai kearah ranjangnya.


Fitri masih menuding Tari sebagai.pelakor. Menuduhnya perempuan gatel yang tidak tahu diri. Tari terkesan tidak perduli akan semua itu. Sambil berjalan ke arah ranjangnya, senyum kemenangan mengembang dibibir Tari.


Walaupun tubuhnya terasa sangat sakit. Lengannya penuh dengan cakaran dan kepalanya terasa sangat pusing. Tetap saja Tari tersenyum dan naik keranjangnya. Lalu merebahkan dirinya.

__ADS_1


Terlihat disudut kamar, Gina tersenyum puas.***


__ADS_2