PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Keributan Tak Terelakkan


__ADS_3

"Ibu seperti apa kau ini !. Meninggalakan bayi di warung !"


"Hei !...Jangan banyak bacot kau !. Suka-sukakulah !...Apa urusanmu !"


"Tentu saja urusanku. Happy kan anakku juga"


"Setan kau !...Dia bukan anakmu !"


Karena begitu emosinya disambut dengan amarah Anton. Lalu tadi sebelum masuk ke kamar mereka, Tari sempat melihat Bintang duduk santai disofa panjang depan TV, diruang keluarga.


Tampak sedang asyik menonton TV. Padahal tadi niatnya akan menjambak rambut Bintang lagi. Sebelum masuk ke kamar mereka itu.


Kalau saja Anton tidak mencercanya dengan pertanyaan itu. Pasti kini tangan Tari sudah mencengkeram rambut Bintang yang panjang itu dan sedang tergerai disandaran sofa itu. Tapi itupun gagal. Maka terucaplah kalimat pernyataan itu.


Tidak hanya Anton yang tersentak kaget dengan mulut terbuka lebar. Bintangpun sangat kaget mendengar pernuataan Tari itu. Maka siaran TV itu tidak bisa lagi menarik perhatian Bintang. Bintangpun menatap tajam pada Tari. Sama seperti Anton. Hanya Tari tidak membuka mulutnya lebar.


Sesaat Anton dan Bintang terpelongo menatap Tari. Mencari jawab digaris wajah Tari. Semoga itu pernyataan spontan. Karena marah pada Anton.


Tapi kenyataannya, Tari tampak gugup. Walau berusaha untuk tidak memperlihatkan kegugupannya itu. Beberapa detik kemudian, Tari malah membalas menatap tajam pada Anton. Samar-samar Taripun menangkap dari ekor matanya, tatapan tajam Bintang kepadanya.


"Apa kau !" tantang Tari kepada Bintang, "Mau kucongkel mata kau itu !"


"Perempuan sundal !...Perempuan gila !...Sadis !..." kata Bintang dan berdiri berkacak pinggang, menantang Tari.


"Apa kau bilang !?" kata Tari. Lebih marah lagi dan melangkah lebar nan cepat akan menghampiri Bintang.


Anton menyadari niat Tari itu. Segera Antong menghadang Tari, berdiri didepan Tari. Membuat langkah Tari terhenti.


"Ggghhh !!!..." Tari menggeram marah pada Anton.


"Pinggir kau, setan !"


Tari menghardik Anton. Agar menyingkir dari depannya.


"Sudah !... Diam !... Masuk kamar !" perintah Anton, marah. Tak bergeming dari depan Tari.


"Berani kau memerintah aku, ha !. Mau kucongkel mata kau !"


"Kau memang perempuan sadis !" kata Bintang, lantang.


"Sekali lagi kau bicara, kupotong lidahmu !"


"Oh ya ?!... Kayak lidah Danu ?!. Kau tusuk pake pena. Juga pahanua, kau tusuk !. Iya, kan ?" tantang Bintang.


Sambil mengeluarkan hpnya dan memencet tombol merekam video. Walaupun ketakutan seketika menyerangnya. Tapi Bintang merasa mendapat momen untuk sebuah pengakuan Tari. Maka Bintang melawan ketakutannya itu.


Lagi-lagi Tari tampak gugup. Begitu juga Anton, gugup. Karena kaget mendengar tuduhan Bintang.


"Danu Anggara ?" tanya Anton pada Bintang.


Tapi Bintang tidak menghiraukan Anton. Karena Bintang sudah menangkap apa yang akan dilakukan Tari. Segera Bintang bersiaga. Mengantongi kembali hpnya dan memasang kuda-kuda untuk menangkis dan memberi perlawanan terhadap serangan Tari.


Tari mendorong kuat tubuh Anton. Hingga Anton bergeser kebelakang beberapa langkah. Lalu Tari menjulurkan tangannya ke arah rambut Bintang.


Segera Bintang menangkis tangan Tari. Lalu menjambak rambut Tari sangat kuat. Hingga terdengar bunyi :

__ADS_1


"Krek !"


Bintang menjambak Rambut Tari dengan kedua tangannya.


"Aduuuhhh !!!....Kurang ajar !" teriak Tari dan meronta-ronta.


"Perempuan sundal !... Pelacur !... Sadis !... Mati aja lo !" teriak Bintang pula. Suaranya tak kalah kencang dari suara Tari.


"Stop !... Berhenti !... Tari !... Bintang !..." teriak Anton juga, yang terjepit diantara Tari dan Bintang.


Keributan tak terelakkan lagi. Anton masih berusaha melepaskan tangan Bintang dari rambut Tari. Tapi Bintang semakin kalap. Menarik rambut Tari ke sebelah kiri, lalu ke sebelah kanan dan ditarik lagi kedepan.


"Duk !"


Kepala Anton beraduk kuat dengan kepala Tari. Entah sudah berapa kali kepala Tari ditarik kencang kekiri, kekanan dan kedepan.


Mendegar keributan teriak-teriakan itu, Bila dan Edhie langsung keluar dari kamar merea dan terperanjat, kaget dan panik. Melihat Bintang menyerang Tari.


Segera Bila dan Edhie berlari turun, mendekati mereka.


"Bintang...lepaskan. Lepaskan, Bin" kata Bila. Sambil menampar tangan Bintang, beberapa kali. Barulah Bintang melepaskan tangannya. Tapi tidak rela. Karena itu Bintang langsung meludahi wajah Tari.


"Puih !"


"Kurang ajar !"


Tari marah dan akan menyerang balik. Tapi Anton sudah lebih dulu memeluk pinggang Tari dari belakang. Lalu menarik pinggang Tari untuk mundur menjauhi Bintang, akan membawa Tari masuk kedalam kamar mereka.


"Lepaskan, b*b* !. Biar kupenggal tangan si kurang ajar itu !" kata Tari meronta-ronta dari pelukan Anton.


Tak segan-segan Tari mencakar tangan, paha dan wajah Anton. Bahkan menjambak rambut Anton. Anton tidak perduli, terus memaksa Tari untuk masuk ke kamar.


Mendorong tubuh Tari masuk kekamar. Kemudian segera mengunci pintu kamar dari luar. Anton berdiri didepan pintu kamar, menunggu Tari hingga diam.


Bila, Edhie dan Bintang hanya berdiri menatap Anton. Menunggu tindakan apa yang akan dilakukan Anton selanjutnya. Tapi tatapan Bila hanya tertuju pada Bintang. Ada kekecewaan diwajah Bila pada Bintang.


"Ada apa lagi sih, Bin" tanya Bila, kecewa pada Bintang.


"Dia bilang kalau Hap...."


"Diam !" bentak Anton. Memotong pembicaraan Bintang.


Mendengat bentakan Anton, mereka semua terdiam. Tidak ada yang berniat untuk bersuara lagi. Kemudian Edhie menarik tangan Bila dan Bila menarik tangan Bintang menuju kamar mereka dilantai dua.


"Bagaimana keadaan Danu" tanya Anton. Membuat Bintang, Bila dan Edhie menghentikan langkah. Nyaris serentak mereka berpaling, menatap Anton. Tapi Anton tertunduk. Menyembunyikan wajahnya.


"Sampai hari ini belum fasih bicara" jawab Bintang, datar.


"Danu Anggara ?" tanya Bila, penasaran. Bintang mengangguk dan kembali melangkah. Menapaki anak tangga.


"Ada apa dengan dia" tanya Bila masih penasaran. Menyusul Bintang dan berjalan disamping Bintang. Menatap wajah Bintang dengan kepenasaran dan ada keresahan.


"Bin, ada apa dengan Danu" tanya Bila lagi. Setelah mereka masuk ke kamar Bintang.


"Tari menusuk lidah dan pahanya"

__ADS_1


"Apa !?"


Spontan Bila tersentak kaget. Menutup mulutnya dengan kedua tapak tangannya.


"Kok sadis sih. Gimana ceritanya"


"Tari masih menyimpan dendam lama pada istri Danu. Istri Danu namanya Ruli. Teman satu kamar Tari waktu di asrama. Dulu Ruli dan Tari ada punya masalah diasrama. Ditambah lagi, Ruli ini buka klinik bersalin didekat rumah mereka yang disana itu. Semakin bertambahlah kemarahan Tari ke Ruli. Kemarahannya dilampiaskan ke Danu"


"Iii...sadis banget si Tari"


"Udah lapor poliri" tanya Edhie


"Udah...Tapi gak cukup bukti untuk menetapkan Tari jadi tersangka"


"Gak cukup bukti ?...Alat yang digunakan Tari untuk menusuk Danu atau bekas sidik jari...apa gak bisa dijadikan bukti" tanya Edhie lagi.


"Enggak, bang. TKPnya bersih...Alat bukti gak ditemukan"


"Tuh..yang bilang pena siapa"


"Danu...pakai bahasa tulisan. Dia juga menuliskan nama Tari sebagai pelaku"


"Terus ?..."


Bintang hanya mengangkat bahunya. Pertanda dia tidak tahu kelanjutannya.


"Terus tadi...kami bilang Hap...Maksudnya apa, Bin" kali ini Bila yang bertanya.


Bintangpun hanya diam dan tertunduk. Terlalu dini pertanyaan Bila itu untuk direspon sekarang. Karena itu Bintang memilih diam.


Sementa Tari masih berteriak-teriak dari dalam kamar dan menggedor-gedor pintu kamar dengan sangat kencang. Seperti akan mendobrak pintu kamar itu.


"Buka pintunya !...Kembalikan Happy !"


"Jawab dulu...Apa benar Happy itu bukan anakku ?"


Pertanyaan Anton itu terdengar oleh Bila dan Edhi. Percis saat itu mereka sudah keluar dari kamar Bintang dan sedang berjalan menuju kamar mereka.


Spontan Bila dan Edhie kaget, saling berpandangan sejenak. Lalu mencuri dengar pertengkaran Anton dan Tari lagi


"Memangnya kenapa ?!...Apa perdulimu, *nj*ng !"


"Lalu Happy anak siapa ?!"


"Anak setan !... Kau setannya !... Buka pintunya, Anton !. B*b* kau !..."


Anton memaksa hatinya untuk lega dengan jawaban Tari itu. Walaupun dari fakta malam pertama mereka, sampai saat ini; Tari tidak pernah menjelaskan apa-apa.


Tari juga tidak permah memperlihatkam bentuk cintanya pada Anton. Sangat dingin jika diranjang. Kalau bukan Anton yang minta, maka hubungan suami istri diantara mereka tidak akan pernah dilakukan dan Anton sudah lama tidak meminta.


Boleh dibilang, kedua puluh jari-jari Anton tidak akan habis untuk menghitung. Berapa kali mereka melakukan hubungan suami istri.


Tapi sudahlah, kasih sayang Anton pada Happy sudah tumbuh subur. Jika tidak mungkin lagi untuk meneruskan hubungan ini dengan Tari, lebih baik mereka berpisah saja.***


(Halo para pembaca novelku, thanks ya ⚘ini buat kalian semua. Loop u all)

__ADS_1


__ADS_2