
Lalu Tari masuk kedalam rumahnya. Orang-orang itu segera menyerbu masuk kedalam rumah Tari juga. Mereka berlari kencang dan tetap waspada menuju pintu masuk rumah Tari itu. Karena khawatir Tari akan menutup pintu rumahnya itu.
"Tap tap tap tap...."
"Ceklek...."
Begitu mereka semua berhasil masuk kerumahbTari. Melalui ruang tamu. Seketika lampu ruang tamu itu hidup dan menyala sangat terang.
"Kalian ?" tanya Tari kaget melihat orang-orang itu.
Begitu pula orang-orang itu yang tadi menguntitnya. Mereka kaget dan tercengang diam, sangat ketakutan.
"Mau apa kalian ke rumah gua, ha !?. Mau ngerampok gua, ya !?" tuduh Tari dengan suara kencang dan seketika Tari berlari kencang, keluar dari rumahnya.
"Toloooonngg !!!... Toloooonnggg !!!.... Ada rampooookkkk !!!... Rampooookkk !!!...." teriak Tari.
Sambil berlari dihalaman rumahnya dan menuju pintu pagar rumahnya yang terbuka lebar. Percis saat itu ada dua orang petugas ronda, Mang Kimun dan Bang Sotar; sedang berkeliling. Melintas dari depan rumah mereka.
Maka kedua orang petugas ronda itu, kaget dan segera menghampiri Tari.
"Dimana rampoknya, bu...dimana ?" tanya Mang Kimun.
"Iya...Ibu Tari...dimana rampoknya. Biar kusikat dia" kata Bang Sotar dengan logat Bataknya. Suaranya bass dan kencang. Tapi orangnya bertubuh kecil dan kurus.
"Itu !...didalam rumah saya"
Tari menunjuk kearah rumahnya dan tampaklah orang-orang tadi yang memasuki rumahnya, telah keluar dengan wajah panik dan kebingungan. Mereka clingak-clingung dan grasak-grusuk harus lari kearah mana untuk bisa bersembunyi atau menyelamatkan diri.
Sebentar kearah kiri. Lalu berbalik lagi kearah kanan. Menoleh kebelakang, kearah kedalam rumah Tari. Sambil menyembunyikan wajahnya dengan tapak tangannya masing-masing atau membuang muka dari Tari dan kedua petugas ronda itu.
Tak seorangpun dari mereka berani menatap lantang memperlihatkan wajahnya kepada Tari dan kedua petugas ronda itu.
"Itu, pak...Itu mereka"
"Hei !...Mau lari kemana kalian " teriak Mang Mimun. Sambil berlari mendekati orang-orang itu, diikuti oleh Bang Sotar.
Orang-orang itu masih berada diteras depan rumah Tari. Berlarian panik kesana-kesini. Tidak menemukan tempat bersembunyi ataupun cara menyelamatkan diri.
Jika lari kearah sampin kiri atau kanan, hanya ada tembok yang menjulang tinggi. Pembatas rumah Tari dengan rumah tetangga. Tak ada pula pohon-pohon tinggi tumbuh disekitar itu untuk sesaat bersembunyi. Tak ada juga lobang atau celah untuk melarikan diri, keluar dari halaman depan rumah Tari ini.
Hanya ada pintu pagar yang masih terbuka. Itupun ada Tari yang berdiri tidak jauh dari pintu pagar itu. Kini Taripun tengah menatap mereka tatapan sangat buas.
Mang Kimun dan Bang Sotar semakin mendekat kearah mereka. Semakin mendekat....dekat....Spontan mereka saling berpelukan dan menyembunyikan wajah mereka dibalik bahu antar teman-temannya itu.
"Kami bukan rampok, pak. Kami..." kata Karina gugup dan akhirnya mendongakkan wajahnya dan menatap Mang Kimun. Serta Bang Sotar, silih bergabti.
Karina adalah salah seorang dari orang-orang yang tadi memasuki rumah Tari.
"Bohong, pak..." pekik Tari. Memotong kalimat Karina.
"Mereka masuk kerumah saya tanpa pemberitahuan dan tanpa ijin dari saya. Itu sudah melanggak KUHP 551" lanjut Tari sok tahu dengan nada suara sangat tinggi.
__ADS_1
Sampai urat-urat dilehernya tampak dengan jelas.
"Kami bukan rampok, pak" akhirnya Mila buka suara dan memperlihatkan juga wajahnya pada Mang Kimun dan Bang Sotar.
"Ibu bidan ?" tanya Mang Kimun kaget, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Demikian juga Tari, tidak percaya pada apa yang dilihatnya, yaitu orang-orang itu sangatlah dikenalinya. Lalu Tari berjalan cepat, mendekati mereka diteras depan rumahnya itu.
"Hei !...bidan ini dan teman-temannya masuk kerumah saya tanpa pemberitahuan dan tanpa ijin dari saya. Mereka mau menyerang saya. Mau merampok dirumah saya. Tangkap mereka !..." kata Tari marah.
Setelah berada dekat, berhadapan muka dengan orang-orang itu.
"Kami ini adalah teman-teman ibu ini semasa kuliah dulu, pak. Kami memang mau ngeprank dia, pak" lanjut Ruli lagi. Tampak mulai tenang.
"Oooo...gitu" jawab Mang Kimun dan Bang Sotar serentak dan manggut-manggut kecil.
Menatap Tari dan orang-orang itu silih berganti dan satu persatu.
"Bohong !" teriak Tari menolak 'damai' dengan alasan itu.
"Hei sekuriti bodoh !" kata Tari pada Mang Kimun dan Bang Sotar dengan berkacak pinggang. Membuat Mang Kimun dan Bang Sotar menatap sombong pada Tari. Karena mereka tidak terima dikatai "Bodoh !" oleh Tari.
"Kalian itu harus tahu undang-undang. Sudah jelas mereka itu masuk keroyokan kerumah saya. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan tanpa ada ijin dari saya. Jadi tangkap mereka !"
Spontan Tari mendorong kuat satu bahu Mang Kimun. Untung tubuh Mang Kimun gemuk. Jadi tidak mempengaruhi posisi berdirinya. Hanya hatinya semakin dongkol terhadap Tari.
"Tujuan mereka itu pasti jahat. Mereka pasti sudah merencanakan yang jahat terhadap saya" lanjut Tari dan masih mendorong satu bahu Mang Kimun dengan satu tangannya.
"Tangkap.mereka, bodoh !"
"Bodoh !" maki Tari pada Mang Kimun dan seketika merampas pentungan Mang Kimun dari tangannya. Mengemplang kuat satu lengan Mang Kimun dengan pentungan itu.
"Plak !..."
"Aduh !...Ibu !..." pekik Mang Kimun dan menatap marah pada Tari.
Masih belum puas, kembali Tari mengemplang tubuh Mang Kimun, beberapa kali.
"Plak !...Plak !..."
Mang Kimun tidak memekik mengaduh lagi. Walaupun kemplangan-kemplangan itu mengenai punggung dan kedua lengannya. Secara silih berganti. Karena Mang Kimun, dibantu Bang Sotar berusaha merampas kembali pentungan Mang Kimun.
Lengan dan bahu Bang Sotar pun beberapa kali terkena pentungan itu.
"Plak !....Plak !...."
"Bodoh !...Bodoh !..."
"Ibu !... Sudah cukup !... Cukup ibu !"
Sesaat terjadi aksi pukul dan tarik-menarik pentungan; antara Tari, Mang Kimun dan Bang Sotar.
__ADS_1
Sementara Mila, Ruli, Karina, Gina, Yunita dan Desi; yaitu orang-orang yang tadi masuk kerumah Tari, telah saling berpandangan ketakutan dan saling memberi isyarat bahwa ada ancaman bahaya.
Seakan fikiran mereka sedang bersepakat untuk segera lari dan seketika secara bersamaan mereka berlari. Menuju pintu pagar rumah Tari yang masih terbuka. Melewati dan menerjang Tari, Mang Kimun dan Bang Sotar yang masih rebutan pentungan.
"Kurang ajar !" umpat Tari.
Melihat eks teman-temannya itu berlarian akan melewati pintu pagar rumahnya. Tari tidak rela, jika mereka lolos begitu saja. Setelah membuatnya terperanjat. Karena mereka telah masuk kerumahnya secara keroyokan dan pasti berniat menjahatinya. Maka mereka harus mendapat ganjaran dari Tari.
Taripun mengayunkan kembali pentungan itu yang masih bisa dipertahankannya dengan kekuatan kemarahan dan kebenciannya.
Mengarahkan pentungan itu kekepala Mang Kimun dan Bang Sotar.
"Plak !...Plak !..."
Tapi gagal, karena Tari tidak memperhatikan ayunan tangannya dan ternyata mengenai kembali bahu Mang Kimun dan lengan Bang Sotar. Membuat Mang Kimun dan Bang Sotar berhenti berhusaha merampas pentungan itu dan akhisnya menyerah. Karena mereka sangat kesakitan.
Tari tidak memperhatikan mereka lagi. Karena Tari telah berlari mengejar eks teman-temannya itu.
"Jangan lari kalian, bangsat !" teriak Tari dan masih berlari. Berusaha mengejar eks teman-temannya itu.
Akibat tubuhnya yang gemuk dan tidak pernah berolah raga. Menyebabkan persendian dan kakinya tidak lancar bergerak. Taripun sudah kelelahan dan tidak dapat mengejar eks teman-temannya.
Tapi amarahnya tidak surut. Bahkan semakin memuncak. Taripun tidak kehabisan akal. Kemarahannya telah sangat merasukinya.
Taripun mengayunkan lagi pentungan itu dan melemparkannya kearah eka temab-temannya.
"Pletak !...Gedebuk !...."
Pentungan itu tepat mengenaik kaki Mila, yang kebetukan berlari paling belakang. Hingga membuat Mila terjatuh, tersungkur diatas trotoar.
"Hahahah..."
Tari tertawa bahagia melihat Mila terjatuh. Wajah Mila 'adu kambing' dengan trotoar.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emaa ini, Tari langsung mengejar Mila. Sebelum Mila berhasil bangun.
"Buk !...Buk !..."
Satu kaki Tari langsung menginjak kepala Mila. Percis saat Mila akan mengangkat kepalanya.
"Aaaa !!!!..." jerit Mila kesakitan.
Karena wajah dan keningnya terluka gores. Akibat berbenturan dengan aspal trotoar yang keras dan kasar, saat terjatuh tadi. Tambahan lagi kepalanya diinjak kuat dan ditekan Tari sangat kuat ke aspal yang keras dan kasar itu.
Tari tersenyum puas mendengar rintih kesakitan Mila. Tari juga sangat menikmati, saat Mila meronta-ronta dibawah kakinya. Menggapai-gapai kakinya.
"Tari...Tolong lepaskan gue...." kata Mila memelas dan kesakitan.
"Mati aja lo !. Gua akan kirim lo ke neraka. Buat nemanin Martha yang udah gua kirim juga ke neraka !"
Tari menggenggam kuat pentungan itu dengan kedua tangannya. Mengangkatnya tinggi diatas kepalanya dan akan menghantamkannya dengan sangat kuat kekepala Mila. Sambil menatap Mila yang masih meronta-ronta dibawah kakinya engan senyum kepuasan.
__ADS_1
"Selamat jalan ke neraka" kata Tari.***
(Maaf ya...kalau beberapa hari gak up date. Kehidupan nyata lagi menyita banyak waktu. Maaf ya..)