
Tapi sudahlah, kasih sayang Anton pada Happy sudah tumbuh subur. Jika tidak mungkin lagi untuk meneruskan hubungan ini dengan Tari, lebih baik berpisah.
Antonpun memberi ultimatum kepada Tari. Sebelum membuka pintu kamar, bahwa Happy harus selalu berada dirumah.
"Kamu dengar Tari ?. Kalau kamu pergi kerja, biara Happy dijagain Mbak Min" kata Anton dari balik pintu kamar.
Lama tidak ada jawaban Tari dari dalam kamar. Anton pun membuka pintu kamar dan mendapati Tari sedang rebahan diatas ranjang dengan matanya menatap kelayar TV.
Hatinya sedikit lega. Melihat ketenangan Tari. Anton memberanikan diri masuk beberapa langkah kedalam kamar.
"Happy tidak boleh ditinggalkan diwarung Mbak Ipeh ataupun dirumah Tante Hombing. Kalau tidak..."
"Kalau tidak, apa !" tantang Tari yang spontan bangun dan berdiri dihadapan Anton dengan mata terbelalak menyeramkan.
"Apa, ha !... Apa !"
"Kalau tidak, kau keluar dari rumah ini !" kata Anton sangat tegas dengan intonasi pelan.
"Bangsat kau !... B*b* !... Berani kau mengancam aku, ha !... "kata Tari sangat marah. Sambil mendorong kuat tubuh Anton beberapa kali. Hingga Anton keluar dari kamar dan Tari menghempaskan kuat pintu kamar dan tertutup kembali.
Lalu Tari mengunci pintu kamar itu dari dalam dan terdengarlah suara gaduh didalam kamar. Suara kaca yang dipecahkan. Suara barang-barang yang dihempaskan dan dibanting. Suara kursi, meja yang dibenturkan ke tembok kamar.
Juga suara Tari yang berteriak kencang. Memaki dan mengumpat seluruh keluarga Anton. Termasuk mengumpat Anton dan alat kelaminnya.
Hingga menyimpulkan bahwa Anton telah diguna-gunai Bintang. Makanya Anton jadi lebih berpihak kepada keluarganya, dari pada berpihak pada istrinya. Hal itu dikemukakannya pada Mbak Ipeh dengan amarah yang meluap-luap.
"Itu karena Mbak Ipeh menunjukkan dukun palsu ke gua. Dukun impoten !...Dukun yang gak ada ilmunya. Harusnya Mbak Ipeh tunjukin dukun terbaik, dong. Kan gua bayar ke Mbak Ipeh untuk cari yang terbaik" kata Tari dalam kemarahannya menyalahkan Mbak Ipeh.
Spontan Mbak Ipeh kaget. Menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Tari. Hati kecil Mbak Ipeh memberotak dengan tuduhan itu. Apalagi dituding sebagai pembohong oleh Tari. Memberikan dukun palsu kepadanya.
"Pokoknya sekarang ini, kita harua menemui dukun itu lagi. Gua mau minta uang gua kembali. Mantranya tidak mujarab. Dia pasti bukan dukun. Karena itu uang gua harus kembali !. Kalau tidak, Mbak Ipeh yang harus mengganti uang gua. Dua kali lipat !"
"Apa !"
__ADS_1
Tentu saja Mbak Ipeh semakin kaget, tercengang dan marah. Menggerutu didalam hati. Merasa dirinya tidak bersalah. Tapi harus dipersalahkan. Mau membantah, percuma juga. Bisa-bisa semakin rumit dan panjang.
Tari tidak bisa dibantah. Lebih baik mengikuti kemauan Tari. Kebetulan hari ini dan tiga hari kedepan, warungnya tutup. Mau cuti istirahat.
Sepanjang perjalanan menuju kampung suami Mbak Ipeh untuk menemui dukun itu lagi, dengan menyewa sebuah mobil; Tari terus ngedumel dengan suara kencang. Tak kenal lelah.
"Dukun palsu !... Bangsat !... Gua akan tuntut dia. Bukannya membuat si Bintang keluar dari rumah itu. Malah si Anton yang ngancam gua. Mau ngusir gua dari rumah itu. Semakin lancang mereka melawan gua. Main keroyokan lagi. Kurang ajar !... Lihat saja...gua pasti balas mereka semua !. Tapi dukun ini dulu gua bereskan. Setelah itu mereka sekeluarga !. Gua buat mati semua !"
Mbak Ipeh berpura-pura tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Tari. Walau sempat merinding mendengar ancaman Tari dan wajah Tari yang sangat menyeramkan.
Karena hati Mbak Ipeh sudah sangat kesal. Kepalanya sangat pusing dan perutnya mual. Mbak Ipeh mabuk darat dan semakin mabuk mendengar ocehan Tari. Bau mulut Tari. Bau ketek dan bau-bau kebusukan yang lain yang sudah sangat menyengat hidung Mbak Ipeh. Memancar deras dari aura tubuh Tari.
Mbak Ipeh sudah sangat membutuhkan air hangat dan udara segar. Sedari tadi Mbak Ipeh sudah minta berhenti sebentar di sebuah warung. Mbak Ipeh juga sangat ingin terkena udara asli dari Tuhan. Bukan udara dari dari AC mobil ini.
Meluruskan kedua kakinya sejenak dan meneguk air putih hangat. Lalu mengeluarkan angin busuk dari duburnya, alias kentut. Biar perutnya terasa lega dan mualnya hilang. Itupun tidak dipenuhi Tari.
Tari sangat sibuk dengan amarah dan kebenciannya. Jadi dia tidak punya waktu untuk memperhatikan Mbak Ipeh. Bahkan Tari memaksa si sopir untuk melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
"Hati-hati bukan berarti pelan. Cepat juga boleh" protes Tari.
Tiba-tiba ada sekelebat bayangan hitam melintas dengan cepat, dari arah belakang mereka ke arah depan. Sopir tersentak kaget dan panik. Lalu mobil jadi oleng. Si Sopir kehilangan konsentrasinya. Stir dan ban tidak bisa seiring sejalan.
"Pak sopir !... yang benar dong nyetirnya" protes Tari, marah.
"Saya eng...gak tau. bu. Ini se...stirnya...ma...u...copot. Tidak...bis...sa...di..kendal...likan..." kata si sopir dengan panik. Sampai gagap untuk berbicara.
Si sopir semakin panik, melihat di depan mereka ada sebuah pohon besar dan mobil mereka menuju pohon itu.
"Sial !" kata si sopir.
Dalam kepanikannya si sopir jadi salah memberi perintah pada kakinya. Malah kakinya menginjak pedal gas dan mobil semakin oleng.
"Ciiiiiittt.....Buar !!..."
__ADS_1
Mobil mereka menabrak pohon itu. Barulah kakinya menginjak rem.
"Mmmmmuuuaakkkkhhhh..."
Mbak Ipeh pun muntah didalam mobik. Bercampur kaget dan pusing kepalanya. Tapi Mbak Ipeh masih berusaha untuk segera keluar mobil. Karena muntahnya akan keluar lagi.
Bampet mobil mengenai pohon itu dan penyok. Tari dan sopirpun segera keluar dari dalam mobik dengan nafas yang terpacu kuat. Tidak menghiraukan Mbak Ipeh.
Mbak Ipeh masih terbatuk-batuk dibelakang mobil. Sibuk memegangi perut dan kepalanya. Pada saat itulah Tari melihat bayangan hitam bergerak cepat. Melintas dari depannya.
Bukannya Tari ketakutan, malah mengejar bayangan itu. Hingga kesebrang jalan. Sebrang jalan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan ilalang tinggi nan lebat.
Bayangan itu sengaja berhenti. Setelah mengetahui Tari mengejarnya. Bersembunyi pada sebuah pohon besar. Tapi Tari mengetahui persembunyian bayangan hitam itu dan Tari mendekatinya.
Begitu nyaris dekat dengan bayangan itu, Tari dapat mengenali sosok bayangan hitam itu.
"Mbah ?!...Ngapain tiba-tiba muncul seperti itu. Mau menakuti saya ?!...Hah !... Sejak kapan saya jadi penakut. Jangan ganggu saya !. Sono pulang !..."
"Diam !...Lebih baik kau yang pulang. Urus anak itu"
"Hah ?!...Siapa kau, berani mengatur saya !. Kalau kau mau, urus saja sendiri anakmu itu...."
"Kress...kresss...ad...kresek...kress... kresek...kresek..."
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu benda padat jatuh menimpa ilalalng. Tari kaget dan langsung menoleh kearah suara itu. Mengedarkan tatapannya kesekelilingnya. Mencari tahu dengan tatapannya, akan penyebab suara berisik ilalang itu.
Tari tidak menyadari, ternyata Mbak Ipeh mengikutinya. Saat mengejar bayangan itu. Ketika Tari dan bayangan itu terlibat pembicaraan, Mbak Ipeh bersembunyi diantara ilalang yang tinggi dan lebat untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
Begiti Tari mengatakan, "Urus saja anakmu itu". Fikiran Mbak Ipeh langsung ke Happy, bahwa Happylah yang mereka maksud. Berarti Happy bukan anak Anton. Melainkan anak Tari dan Mbah Kahpok.
Mbak Ipeh langsung kaget dan melonjak. Tapi kemudian terjatuh, tergelincir. Karena ternyata ilalangnya basah. Tubuh Mbak Ipeh sempat berguling. Lalu berusaha untuk bangun dan jatuh lagi. Bangun lagi dan berjongkok. Lalu menjauhi Tari.
"Glek..." Mbak Ipeh menelan air liurnya. Karena shock berat.***
__ADS_1