
Untunglah bayi itu mempunyai ayah yang baik, pengertian dan lembut; seperti Anton.
"Siapa namanya, pak" tanya bidan itu pada Anton.
"Happy...Karena dia aku akan selalu happy" jawab Anton yang sedang menggendong bayinya itu.
"Hallo Happy...welcome anak baik" kata si bidan tulus. Sebagai doa buat Happy.
Sementara Tari semakin gusar dengan kemarahannya. Tidak memperdulikan bayinya. Bahkan belum pernah menyentuh ataupun menggendong bayinya itu.
Hanya menyedot ASI nya dan menaruhnya didalam kulkas. Selanjutnya akan menjadi urusan Anton.
"Syukur dia kukasih ASI, kalau tidak...mati dia"
"Tari !...jangan begitulah dengan anak kita"
"Anakmu"
"Kau boleh benci sama aku, sama Bila dan Bintang. Tapi jangan benci Happy. Dia tidak salah apa-apa"
"Diam kau !....Atau kubuang ASI ku ini !"
Akhirnya Anton hanya bisa diam, pasrah dan fokus mengurus Happy. Jika Anton pergi kerja, Happy dititipkannya pada Mbak Min. Ingin menitipkannya pada Bintang, banyaklah pertimbangan yang mengacaukan fikiran Anton.
Tapi kenyataannya, Bintanglah yang kemudian mengambil alih merawat Happy dari Mbak Min. Seharian Bintang akan bersama Happy. Mengasuhnya dengan sangat baik.
Jika malam sudah tiba, Bintang akan mengembalikan Happy pada Mbak Min. Karena pada malam hari, Anton akan datang menjemput Happy.
Sama juga seperti Anton, banyaklah pertimbangan yang mengacaukan fikiran Bintang untuk langsung menyerahkan Happy pada Anton.
Sedangkan waktu-waktu Tari lebih banyak dihabiskan diwarung Mbak Ipeh atau rumah Tante Hombing. Meluapkan amarahnya dan tidak pernah perduli pada Happy.
"Bagaimana bayimu, Ri" tanya Mbak Ipeh, suatu kali.
"Baik...Tadi dia lagi tidur"
"Baru kamu kasih ASI ?, makanya dia tidur"
"Tidak...Dia tidak gua kasih ASI. Si Anton yang memberinya susu dari botol"
"Kenapa ?...Ada masalah dengan ASI mu"
"Tidak...yang masalah itu keluarga si Anton"
"Ooo...Lalu ASImu...sayangkan terbuang"
"Aku jual"
__ADS_1
Kening Mbak Ipeh sampai berkerut mendengar pengakuan Tari itu. Mbak Ipeh tidak menyangka, kalau Tari sangat tega kepada bayinya. Tidak dikasih ASI, malah ASI nya dijual.
"Kejam !" bisik Mbak Ipeh didalam hatinya.
Sebenarnya Mbak Ipeh ingin berbantah dengan Tari. Mengenai masalah kebenciannya pada keluarga Anton yang terimbas pada bayinya. Tapi mengingat dirinya masih punya banyak hutang uang kepada Tari, terpaksa Mbak Ipeh hanya bisa mendesah panjang. Menyimpan perbantahan itu didalam hatinya saja.
Lalu melirik Tari sesekali. Menghitung sudah berapa banyak gorengan yang masuk kemulut Tari.
"Mbak, dimana mbak tahu dukun yang paling hebat" tanya Tari kemudian. Setelah melahap lima gandasturi.
"Lho ?...Bukannya Mbak Kahpok itu dukun hebat" kata Mbak Ipeh, kaget dan penasaran.
"Yang lebih hebat dari Mbah Kahpoklah, mbak"
"Ada...Tapi jauh...Dikampung suami gua"
"Ayo kita kesana. Besok, bagaimana ?"
"Gak bisalah...Kampungnya jauh sekali. Kalau kita kesana, harus nginep. Lo kan punya bayi. Bayi lo siapa yang jagain"
"Emang gua selama ini, pernah mbak lihat jagain dia. Enggak, kan ?...Udah..Dia mah gak perlu difikirkan. Dia perempuan, gak bisa jadi ahli waris. Biarin dia sama Bik Min. Jadi anak pembantu"
Mbak Ipeh mendesah panjang lagi, mendengar pengakuan Tari itu. Sangat terpaksa harus mengabaikan.pendapat Tari itu.
Jika Mbak Ipeh mengajukan protes terhadap Tari, Tari pasti akan memusuhinya. Mbak Ipeh bisa kehilangan pelanggan yang royal dan itu tidak baik untuk bisnis pewarungannya.
Toh...semua biaya perjalanan dan 'buah tangan' untuk sang dukun, ditanggung oleh Tari. Asal dukun itu dapat mengirim teror pada Bila dan Bintang. Membuat mereka ketakutan berada dirumah itu. Sampai mereka hengkang dari rumah itu. Barulah terornya dihentikan. Kemudian Tari akan masuk kerumah itu dengan senyum kemenangan.
"Padahal ya, mbak...Mami mertua gua itu sudau jelas ngomong langsung ke gua. Kalau rumah itu, rumah gua. Milik gua. Tapi itu tuh...dua orang anak.perempuannya itu. Jahat !...nggak ngasih gua tinggal dirumah itu" keluh Tari dengan nada sinis.
"Jadi...kapan kita nemuin tuh di dukun"
"Minggu besok saja.."
"Terlalu lama, mbak"
"Kalau di minggu ini kan gua gak bisa. Bude suami gua kan nikah besok lusa"
"Nikah ?...Gak ketuaan"
"Kagaklah...Biasa kali zaman sekarang ini nenek-nenek menikah lagi. Apalagi sama brondong"
"Asyik dong.."
Spontan mereka berdua tertawa-tawa geli.
"Hajatan nikahnya berarti dikampung suami mbak, dong"
__ADS_1
"Iya.."
"Ya, udah. Gua skalian ikut aja. Biar gua langsung nemuin tuh si dukun"
"O gitu...ya...Oke"
"Hap...nyam nyam nyam...Hap..."
Tari sangat bahagia dan langsung melahap dua goreng pisang sekaligus. Sambil membayangkan Bila dan Bintang keluar dari rumah itu, karena ketakutan.
Semangat Tari pun muncul lagi. Pulang kerumahnya jauh sebelum tengah malam tiba. Berbaik hati menggendong Tari.
Setelah mereka dari kampung suami Mbak Ipeh pun, Tari masih berbaik hati merawat Tari. Membawa Happy ke warung Mbak Ipeh. Seharian berada diwarung Mbak Ipeh itu. Sampai malam larut, barulah Tari membawa Happy pulang kerumah mereka.
Edisi membawa Happy ke warung Mbak Ipeh, masih berlanjut lagi. Bahkan hingga beberapa hari kedepan. Hingga suatu kali Tante Hombing sengaja menunggu Tari melintas dari depan rumahnya. Lalu memanggil Tari dan memberi nasehat padanya.
Nalurinya sebagai ibu, memerintahkan Tante Hombing untuk mengatakan itu. Agar Tari jangan terlalu sering membawa Happy kewarung gorengan. Asap penggorengan sangat tidak baik untuk pernafasan Happy.
Istirahat Happy juga tidak nyaman. Hanya dibarigkan tanpa alas dimeja atau didipan warung yang terbuat dari kayu. Bagus kalau kayunya halus. Kalau kayunya masih kasar. Bisa saja serpihan kayu masuk ke kulit Happy dan itu sangat berbahaya.
"Kan lebih baik kalau kamu titipin ke rumah mertuanya saja. Ada Bintang atau Mbak Min atau juga asisten yang lain, yang jagain dan merawat Happy"
"Gak lah...Nanti anakku disakitin mereka. Kalau bapaknya ada dirumah itu, gak apa-apa. Ini kan bapaknya lagi kerja"
"Masa sih...Anakmu disakitin mereka. Gak mungkinlah"
"Tuh kan ?...Tante gak percaya. Waktu aku hamil saja, mereka berani mengusirku dari rumah itu. Padahal mami mertuaku aja sudah bilang ke aku, kalau rumah itu milikku. Tapi si Bila dan si Bintang tidak tahu diri. Malah memusuhiku. Secara tidak langsung, mereka juga pasti membenci anakku. Lagian, hawa dirumah itu panas. Seperti ada mistik-mistiknya"
"Gak mungkinlah...Mertuamu itu taat beragama. Gak mungkin pake mistik-mistik buat mereka"
"Tante gak percaya lagi kan, sama aku. Sudahlah..."
"Kasihan bayimu ini...atau kalian pindah saja kerumah mertuamu itu. Rumah itu kan besar. Cukuplah buat kalian semua tinggal disitu. Biar bayimu pun tidak terlalu capek badannya. Tiap hari harus datang kesini"
"Gak lah, tan. Suami si Bila kan masih dirumah itu juga. Masa sih kami satu rumah. Biarpun aku dibilang orang kasar, aku masih berpegang pada tatakrama dan adat istiadat, tan. Tabu lah kalau aku iparnya si Bila, satu rumah dengan suaminya. Coba tante bayangkan. Aku lagi nyusui Happy...eh...dilihat suami si Bila t*t*kku atau si Bila dan suaminya lagi genjrot...eh...aku dengar desah nafasnya. Iiii....Gak ah, tan"
"Ajaklah si Anton tinggal dirumah itu juga. Ini demi bayi kalian"
"Si Anton gak mau. Jalan satu-satunya, si Bila itu harus pindah dari rumah itu. Iya kan, tan ?"
"Kalau mengenai itu, kalian bicarakanlah baik-baik. Si Anton yang harus bicara. Sekarang dia kepala rumah tangga dirumah itu"
"Cling !..."
Tari mendapat pencerahan dan dukungan dari pembicaraannya dengan Tante Hombing. Berarti tidak sia-sia tadi Tari terpaksa mendengar nasehat Tante Hombing.
Maka tanpa berdiskusi dengan Anton, bergegas Tari berkemas-kemas untuk segera pindah kerumah mertuanya itu.
__ADS_1
(Thank ya bagi yang membaca. Salam kenal🙋♀️)