PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Bergelut Diranjang Asrama


__ADS_3

Tari tidak rela kehilangan sasaran empuknya yaitu Mila. Kini hanya Mila yang dapat memuaskan amarahnya. Ketika Mila menyatakan mundur dari kampus ini, Tari sangat tidak rela.


Tari pun mengintai Mila yang baru saja masuk ke ruangan Ibu Pur untuk berpamitan dan serah terima perlengkapan kamar asrama. Menunggu Mila sampai keluar dari ruangan Ibu Pur.


Tari mulai gelisah. Karena merasa Mila sangat lama didalam ruangan Ibu Pur. Beberapa saat kemudian malah yang tampak keluar adalah Ibu Pur. Tari merasa tak dapat menunggu lagi. Segera Tari berlari masuk keruangan Ibu Pur. Mila kaget ketakutan. Spontan berdiri dari duduknya. Walaupun kakinya terasa bergetar.


Tari berpura-pura tidak memperdulikan Mila. Berjalan cepat kearah meja kerja Ibu Pur. Mengambil tas Ibu Pur dan mengacak-acaknya. Mencari dompet Ibu Pur. Setelah ketemu, diambilnya dan akan dimasukkannya kedalam tas Mila.


"Hei...mau apa lo" protes Mila yang mengambil paksa tas sandang Mila.


"Diam lo.." kata Tari dan spontan menampar satu pipi Mila. Lalu mendorong Mila. Hingga Mila terjatuh. Tari pun berkesempatan memasukkan dompet Ibu Pur ke dalam tas Mila. Setelah itu...


"Oooo...kasihan. Jatuh, ya.." lanjut Tari. Berpura-pura menolong Mila untuk bangun berdiri. Setelah Mila berhasil berdiri. Tiba-tiba kembali Tari mendorong tubuh Mila.


Mila terjatuh lagi. Kali ini keatas salah satu sofa. Satu tangan Tari spontan menjambak rambut Mila.


"Aduuhh..aduh...gile lu !. Lepaskan !, Tari..."


"Makanya, kalau mau pergi itu harus pamitan dong..."


"Hei...ada apa ini " tanya Ibu Pur yang tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu masuk ruangannya. Wajah Ibu Pur tampak begitu kaget dan bingung.


Segera Tari melepaskan tangannya dari rambut Mila. Sedang Mila langsung berlari menghambur kebalik punggung Ibu Pur.


"Si Tari kesetanan, bu" kata Mila dengan suara tangis tertahan.


"Si Mila mengambil dompet Ibu"lapor Tari galak


"Bukan, bu. Bukan...dia yang..."


"Periksa saja tas nya, bu"


Mila mendesah pasrah. Ibu Pur memeriksa tasnya dan tentu saja Ibu Pur menemukan dompetnya disitu.


"Mila !.." kata Ibu Pur dengan suara menahan amarah. Sambil memperlihatkan dompetnya kehadapan Mila.

__ADS_1


Mila tak beniat membela diri dan menjelaskan yang sebenarnya. Fikirnya, "Percuma". Toh...dirinya sudah resmi keluar. Jadi persoalan akan selesai, begitu kaki Mila melangkah keluar dari ruangan ini.


Ternyata fikiran itu tertangkap oleh Tari.


"Bu...sebenarnya bukan Martha yang mengambil uang anak-anak. Tapi Mila, bu.."


"Apa !?" pekik Mila spontan, kaget. Begitu juga Ibu Pur. Tapi tanpa pekikan. Hanya dari tatapan matanya saja yang menatap tidak percaya pada Tari.


"Martha hanya kambimg hitam Mila, bu" lanjut Tari lebih bersemangat melakukan propaganda.


"Tidak, bu. Bohong !...Itu fitnah !. Tapi dia, bu. Dia yang membuat Martha buta. Dia semprotkan saos sambal ke mata Martha, bu. Dia pelakuanya...Dia lah pencurinya..."


"He !...sudah terbukti lo pelakunya. Tuh !...tadi...dompet Ibu Pur. Masih sempat-sempatnya lo mau nyolong. Lo klepto !...lo..."


"Sudah..diam !. Iya...kenapa dompet saya ada didalam tas kamu"


"Itu ulah Tari, bu. Dia yang masukin kesitu. Bukan saya.."


"Dia, bu...Karena itu dia berniat keluar. Dia takut keburu saya laporin ke ibu"


"Saya setuju, bu" jawab Mila tegas, cepat dan penuh percaya diri.


"Jika benar, saya akan menghubungi orang tua kamu. Jika tidak, yah sudah. Lupakan..." lanjut Ibu Pur. Lalu mengeluh panjang.


"Saya tidak bisa lupakan, bu. Saya akan berurusan dengan Tari" jawab Mila. Sambil menatap tajam pada Tari. Lalu Mila pergi. Begitu pula dengan Tari.


Sejak kepergian Mila, keadaan didalam kamar; kembali tenang dan berjalan normal kembali. Bercanda, belajar, gossip, pamer baju, sepatu, pacar baru, gebetan baru...Pokoknya cerita tentang kehilangan uang, tidak ada lagi.


Juga tidak ada lagi teman yang ketakuta pada Tari. Semua teman-teman satu kamar Tari. bahkan tampak cuek terhadap Tari. Sebagia besar dari mereka ada yang mengakui kebenaran pernyataan Mila, bahwa Tari itu licik, jahat dan sadis. Karena itu mereka cenderung menjauhi Tari. Termasuk Ruli, mulai membuat jarak dengan Tari.


Seberapa besarpun usaha Tari untuk merebut perhatian teman-temannya itu lagi kepadanya, tetaplah sia-sia. Tari tak dianggap sebagai tokoh baik lagi. Malah dianggap sebagi nenek sihir yang salah mengambil jelmaan. Harusnya wanita cantik. Eh...malah wanita gendut dengan wajah dibawah standart.


Akibatnya, boleh dikata teman-temannya itu menjauhinya. Menjauhi Tari tanpa meninggalkan ekspresi apapun. Misalkan benci, marah ataupun kesal. Semua ekspresi emosi mereka tidak ada. Mereka bagai robot tanpa jiwa. Begitu kata hati Tari. Memuntahkan kekecewaannya akan teman-temannya itu.


Seandainya mereka menjauhi Tari karena takut, itu sangat baik. Tari bisa masuk ke kehidupan mereka dan mengacak-acak emosi mereka itu. Itu adalah permainan yang disenangi Tari. Tapi jika mereka bak robot tanpa jiwa seperti itu, Tari tidak bisa masuk.

__ADS_1


Sungguh Tari tidak merasa nyaman hidup dengan keadaan seperti ini. Rasanya jemu dan membosankan. Jika begini terus, Tari tidak dapat menikmati kehidupan dengan bahagia.


Padahal Tari sudah berusaha untuk merusak keadaan itu. Menggosipkan Desi kepada Ruli. Mengatakan pada Desi, kalau Ruli itu masih sangat sakit hati terhadap Desi. Ruli itu menjuluki Desi sebagai perempuan sok cantik, sok kaya dan blablabla...


Ternyata usaha itupun tidak berhasil. Baik Desi dan Ruli, tidak terpengaruh dengan kata-kata Tari. Malah mereka tampak mulai akrab lagi. Betapa kecewanya Tari mendapati kenyataan itu.


Posisi Tari sepertinya terancam akan terpinggirkan atau bisa langsung dimuseumkan. Bukan sebagai barang antik. Tapi barang keramat. Tak dianggap lagi sebagi teman. Apalagi dengan posisi sebagai tokoh baik.


Tak dimintai pendapat lagi. Tak ditraktir lagi dan blabla..Pokoknya tak...tidak...tak...tidak... Hanya yang di tabukan atau dipantangkan dalam pertemanan. Betapa bencinya Tari pada teman-temannya itu. Apalagi melihat mereka bahagia, tanpa kehadirannya.


Sama besar kebenciannya, ketika mendapati ibu masih bahagia memakinya. Tidak pernah takut melihat dirinya. Keadaan seperti ini namanya bukan kehidupan buat Tari, melainkan kematian. Dunia ini bagai kuburan-kuburan baru. Dimana mayat-mayatnya belum belajar jadi hantu yang menakutkan. Tapi hantu yang ketiduran.


"Munafik !" umpat Tari didalam hatinya.


Ini semua pasti salah Mbah Kahpok. Dukun tua itu tidak sakti lagi atau jangan-jangan Mbah Kahpok adalah dukun palsu. Selama ini hanya memperalat dirinya untuk memuaskan kejantanannya.


"Brengsek kau dukun tua !" umpat Tari pada Mbah Kahpok. Ketika Tari mengunjungi Mbah Kahpok disuatu jadwal malam mereka.


Tari langsung marah-marah. Sebelum ritual pengobatan dimulai. Padahal Mbah Kahpok sudah mempersiapkan air untuk mandi dengan ramuan rempah-rempah yang akan mengharumkan 'anu'nya mereka berdua. Agar semakin bergairah dan Mbah Kahpok tetap energik. Ternyata...tinggallah itu.


"Aku tidak butuh kau lagi !" kata Tari. Lalu pergi tanpa memberi jatah pada Mbah Kahpok.


Sehari dua hari terlewat dari jadwal pengobatan Tari dan Tari tak kunjung datang, Mbah Kahpok masih bisa menenangkan 'anu'nya. Menganggap kemarahan biasa pada perempuan yang menjelang dewasa.


Barulah setelah hampir seminggu, Mbah Kahpok tidak tahan lagi. Urat syarafnya ikut menegang. Menuntut penuntasan si 'anu'nya sesegera mungkin. Jika tidak, maka dirinya benar-benar jadi dukun 'impoten' diusia tuanya. Ini tidak bisa dibiarkan.


Maka Mbah Kahpok pun beraksi untuk menagih jadwal malam pengobatan mereka. Beserta denda dan bunganya. Berarti harus lebih dari satu atau dua ronde. Bila perlu sampai subuh.


Mbah Kahpokpun membentuk dirinya jadi bayangan hitam. Mendatangi Tari ke asrama pada tengah malam. Masuk ke kamar melalui celah pintu dan mencari Tari.


Senyum lebarpun mengembang dibibirnya, ketika melihat Tari dengan wajah tersembul dari balik selimutnya yang menutupi nyaris seluruh tubuhnya. Mbah Kahpok langsung menyelinap kedalam selimut Tari.


Menarik selimut itu hingga menutupi seluruh tubuh Tari. Mempreteli pakaian tidur Tari. Menimpanya dan melumurinya dengan menjilat seluruh tubuh Tari. Membuat Tari terbangun dan membuka matanya.


Mendapati Mbah Kahpok berada diatas tubuhnya. Tapi membiarkannya dan bahkan mempersilahkannya. Menikmatinya dengan mengeluarkan erangan halus. Agar tidak terdengar oleh tetangga sebelah tempat tidurnya yaitu Fitri.***

__ADS_1


__ADS_2