PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Mulai Nakal


__ADS_3

Kini pun Tari tidak memakai jasa ibu lagi untuk bertepuk tangan, mengantarnya ke sekolah. Memang dahulu biasanya kalau Tari akan ke sekolah, ibu cukup berdiri didepan pintu pagar rumah mereka. Lalu bertepuk tangan dua atau tiga kali untuk memanggil sekuriti sekolah TK. Jika ada salah seorang guru TK yang kebetulan terlihat ibu, ibu cukup berteriak memanggil guru itu. Maka berlari-larilah sekuriti atau guru itu ke arah ibu untuk menjemput Tari ke sekolah.


Kebetulan sekolah Tari dekat dari rumah mereka. Berada di depan rumah mereka. Percis di sebrang jalan rumah mereka. Hanya membuang waktu kurang dari satu jam untuk kembali kerumah. Bertepuk tangan didepan pintu pagar rumah. Menyerahkan Tari pada yang berkepentingan untuk dibawa kesekolah. Lalu capcus lagi ke pasar untuk kembali berdagang.


Walaupun sangat berat bagi ibu membuang waktu kurang sedikit dari satu jam. Sebagai pedagang kebutuhan pokok, waktu yang nyaris satu jam itu banyak. Bisa menghasilkan uang ratusan ribu dari pembeli. Jika itu harus terbuang setiap hari, berarti sudah hilang pemasukan lebih sejutaan setiap minggu.


Bisa jadi karena itu ibu selalu marah pada Tari. Pengorbanan ibu dirasakannya sangat besar buat Tari. Untunglah kalau pulang sekolah, ibu tidak melakukan hal yang sama. Menghabiskan waktu berdagangnya lagi. Sekuriti sudah diperintahkan ibu untuk mengantarkan Tari ke rumah.


Terkadang juga salah seorang gurunya yang mengantarkan Tari pulang. Memperhatikan dari depan pintu pagar rumah, bahwa Tari sudah masuk kedalam rumah. Memastikan bahwa Tari sudah diantar dengan selamat ke rumah orang tuanya.


Gampang sekali buat ibu melepaskan tanggung jawabnya terhadap Tari. Hanya bermodalkan tepuk tangan. Menyerahkan Tari untuk beberapa jam ke depan kepada guru-gurunya. Tidak pernah berkenalan dengan guru-guru itu ataupun sesekali meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan mereka. Menanyakan perkembangan Tari disekolah dan menceritakan perkembangan Tari dirumah. Saling bertukar informasi dan sepakat untuk mendidik dan membimbing Tari. Bukankah begitu tradisi yang seharusnya antara guru dan orang tua siswa ?.


Menyadari hal itu jugalah, rasa penasaran mengusik hati Miss Cecil. Sebagai guru dan perempuan yang memiliki naluri keibuan, menggugah hati Miss Cecil. Mengambil peran untuk menjemput Tari dari rumah. Lalu mengantarkannya kembali ke rumah. Harapan Miss Cecil, sekalian dapat berkenalan dengan salah seorang dari orang tua Tari. Tapi harapan itu belum terwujud. Karena setelah tahu Miss Cecil menjemput Tari, ibu tidak lagi mau membuang waktunya.


Jadwal baru itu sejalan dengan keinginan Tari. Karena dengan begitu Tari tidak memerlukan ibu lagi. Tari lebih membutuhkan tangan Miss Cecil untuk digenggamnya. Ada rasa nyaman dan bahagia yang teraliri dari tangan Miss Cecil ke Tari. Walaupun perjalanan dari rumah ke sekolah sangat pendek. Tapi cukup buat Tari untuk berbagi cerita dengan Miss Cecil. Tentang kegiatannya selama dirumah diceritakannya dengan bahagia dan semangat.


Walaupun cerita pembukanya selalu tentang perlakuan ibu kepadanya. Perlakuan Erika dan Riris, ditempatkan diuran terakhir. Pada perjalanan dari sekolah ke rumah. Semua cerita itu diceritakan Tari dengan semangat berapi-api. Diantar cerita itu Tari juga membuat laporan. Bagaimana dia berpakaian sendiri, membuat sarapan sendiri, cuci sepatu sekolah sendiri.

__ADS_1


Tari bangga dengan cerita-ceritanya itu. Tapi Miss Cecil yang mendengarkannya, miris. Hatinya perih dan sangat sedih. Tak terbayang olehnya, anak sekecil Tari harus mandiri dini. Meskipun begitu, tetap Miss Cecil memuji Tari.


"Anak miss semakin pintar. Tadi sarapan apa, nak ?"


"Mi...acu lebus ndili. Enak, miss"


"Wah...hebat. Tapi lain kali kamu minta ibu kamu saja yang rebuskan ya, nak. Kalau gak ada ibu, kamu makan roti saja ya, nak." kata Miss Cecil terharu sedih dan khawatir.


Sambil tidak lupa Miss Cecil memperhatikan dandanan dan pakaian Tari. Lalu merapikannya sebelum masuk ke sekolah. Membenarkan letak kancing bajunya, dasinya, menyisir rambutnya dan bandonya.


"Kamu suka bando ini, nak ?" tanya Miss Cecil. Berharap Tari menggeleng.


Benar saja dugaan Miss Cecil. Begitu teman-temannya melihatnya, mereka tidak hanya menertawakannya. Tapi mengolok-olok Tari sebagai badut. Mulai jam pelajaran, sampai jam istirahat. Baik secara sembunyi-sembunyi dengan berbisik-bisik satu sama lain, maupun secara langsung. Meneriaki Tari badut lampu merah. Hingga ada yang merampas dan menyembunyikan bandonya itu.


Miss Cecil segera bertindak dengan meng hubur Tari. Lalu menasehati teman-temannya itu tidak boleh saling menyakiti sesama teman. Teman harus saling menghibur dan memuji. Tari bahagia melihat teman-temannya dimarahi Miss Cecil. Walaupun Miss Cecil hanya memberi nasehat dengan suara lembut. Tapi buat Tari itu adalah kemarahan dan itulah yang diinginkan Tari. Pembelaan dan penghiburan.


Hal yang tidak pernah didapatkannya dari ibu. Jika kedua kakaknya menjahilinya. Eee...malah Tari yang pasti dipukul ibu. Karena kalau Tari dijahili kakaknya, Tari pasti menangis. Tangisan Tari membuat darah ibu cepat mendidih.

__ADS_1


Jadi pembelaan dan penghiburan Miss Cecil, membuat Tari tentram dan nyaman untuk kembali ceria. Penuh kepercayaan diri untuk Tari kembali bermain dengan teman-temannya itu. Namun ingatan akan kenakalan teman-temannya itu, mengajak hatinya untuk melakukan pembalasan. Siapa tadi teman-teman yang menertawakan dan menjahatinya, secara diam-diam dijahatinya pula.


Seperti mencubit pipi dengan kencang. Menarik bibir mereka. Menjitaka kepalanya dan bahkan ada yang didorongnya dengat kuat. Sanpai tersungkur dan kepalanya membentur tiang bendera. Ada pula yang dijambaknya dan menyeretnya. Ada juga yang disembunyikan tasnya.


Ketika Miss Cecil mendapat laporan akan kenakalan Tari itu, Miss Cecil tidak percaya. Horeee...Tari merasa sangat bahagia. Masih mendapat pembelaan dari Miss Cecil. Merangsang Tari untuk kembali menjahati teman-temannya itu lagi.


Entah mengapa, Tari masih merasa belum puas membalaskan perbuatan teman-temannya itu kepada dirinya. Juga entah mengapa, Tari merasa sangat bahagia melihat teman-temannya menangis dan ketakutan. Karena telah dijahatinya. Alhasil teman-temannya kembali menjauhinya. Tapi Tari tidak perduli lagi. Tari tetap membaurkan diri dengan mereka. Bermain dan makan bekasl bersama. Walaupun banyak bekal mereka yang dirampas dan dimakan Tari. Jika mereka mengadu, pasti Miss.Cecil akan membela dan menghiburnya. Karena telah difitnah teman-temannya.


Nikmatnya penghiburan dari Miss Cecil itu, sama nikmatnya dengan menjahati teman-temannya. Walaupun Tari mendapatkan kenikmatan itu hanya beberapa menit dari 24 jam yang tersedia dalam satu hari. Sisa dari 24 jam itu, Tari akan mendapat pukulan dan caci maki dari ibu atau kejahilan kedua kakaknya. Tanpa ada pembelaan dan penghiburan dari siapapun.


Apakah masih boleh dikatakan, "untunglah Tari masih anak-anak". Jadi Tari tidak memberontak ataupun protes pada ibu dan terlebih pada Tuhan. Kenapa kenikmatan waktunya sangat sedikit, dibandingkan dengan waktu kesakitan yang diterimanya. Mengapa ibu selalu bersikap kasar padanya ?. Mengapa bukan Miss Cecil saja ibunya ?.


Mana Tari tahu protes sama Tuhan. Juga memberontak pada ibu. Menuntut ibu untuk bersikap seperti Miss Cecil. Kepolosan fikiran kanak-kanaknya hanya bisa menerima saja. Kalau ibu seperti itu dan Miss Cecil seperti itu. Ibu kandung seperti itu dan ibu guru seperti Miss Cecil.


Keuntungan lain dari fikirannya yang polos itu, Tari lebih mengingat indahnya kebersamaan dengan Miss Cecil, penghiburan dan pembelaannya. Ketimbang caci maki dan sumpah serapah ibu. Pesan-pesan Miss Cecil yang berisi pujian, itu pun selalu terngiang-ngiang difikiran Tari. Membuat Tari selalu tersenyum dan semangat untuk belajar.


Seperti sekarang ini. Ketika pulang sekolah, Tari pun langsung ingin belajar lagi. Tanpa sempat masuk kedalam rumah ataupun membuka baju seragam sekolahnya. Tari langsung duduk dilantain teras depan rumah mereka. Mengeluarkan seluruh buku-bukunya dan peralatan tulisnya dari dalam tas sekolahnya. Lalu rebahan telungkup, Tari mulai membuka-buka buku bacaannya.

__ADS_1


Semua bukunya dijajarkan dihadapannya. Tari memperhatikan buku-bukunya itu. Memilih mana yang akan dipergunakannya. Satu-persatu buku itu dibukanya. Dibolak-balim, diperhatikan gambar-gambarnya. Tapi kemudian Tari mulai tampak lelah dan mengantuk. Tak tertarik lagi untuk belajar. Kantuk menyerangnya begitu hebat. Matanya tak dapat lagi bertahan terbuka dan perlahan menutup. Tari pun tertidur diatas lantasi berhadapan dengan buku-bukunya yang terbuka ***


__ADS_2