
Mendapat laporan kehilangan uang lagi. Membuat Ibu Pur marah besar. Sampai menggebrak lemari pakaian Gina. Kebetulan lemari pakaian Gina adalah yang terdekat dari pintu kamar mereka.
Bersama Ibu Pur ada lima orang sekuriti kampus. Dua wanita dan tiga orang pria.
"Buka semua pintu lemari kalian !" perintah Ibu Pur. "Laci meja belajar juga dibuka !. Semua hp taroh diatas meja belajar masing-masing. Lalu semua keluar !" lanjut Ibu Pur dengan suara marah.
Tari dan seluruh teman-teman satu kamarnya, mematuhi perintah Ibu Pur. Tanpa ada yang berani untuk protes bertanya. Mereka berjalan keluar kamar dengan wajah kaget dan kebjngungan. Tapi kemudian ada yang menduga-duga dengan berbisik-bisik, satu dengan lainnya.
"Siapa lagi sih yang kehilangan uang" tanya Desi pada Neneng yang sudah menduga kehebohan malan ini. Karena ada yang kehilangan uang lagi.
Memang mereka belum mengetahui bahwa Gina kehilangan uang. Gina langsung melapor pada Ibu Pur. Ketika mengetahui dompet beserta isinya hilang. Kecuali KTP dan SIM yang sengaja ditinggal si pencuri didalam tas Gina.
"Gak tahu gua" jawab Neneng pelan, berbisik. Sambil mengangkat kedua bahunya.
Tari mendengar bisik-bisik mereka. Bisik-bisik dengan nada suara seperti tidak sedang berbisik-bisik. Tapi seperti sedang berdiskusi didalam perpustakaan. Karena itu Tari mendengar mereka.
Tari hanya terdiam dalam senyum kebahagiaan. Menatap mereka berdua dari balik punggung mereka. Lalu Tari menebarkan tatapannnya ke wajah-wajah temannya, satu per satu.
Termasuk Gina yang tampak sedang berbisik-bisik dengan Ruli, Fitri dan beberapa teman mereka yang lain. Sepertinya Gina mengakui dihadapan mereka. Kalau dirinya kehilangan uang.
"Stop !" terdengar suaru dari seorang sekuriti wanita. Membuat mereka semua berhenti berjalan yang tadi seperti tidak ada tujuan. Asalkan keluar saja dari kamar. Sesuai peritah Ibu Pur. Ada yang berjalan kesebelah kiri. Ada pula ke sebelah kanan dari pintu masuk
"Hei kalian !..." lanjut sisekuriti itu. Menghunjuk kepada Desi dan Neneng yang tadi berjalan kesebelah kiri. "Bergabung kesini" perintahnya kepada Desi dan Neneng.
Desi dan Neneng pun mematuhi perintahnya. Berjalan dan menggabungkan diri ke sebelah kanan. Bersama semua teman-teman satu kamarnya.
"Ayo...kamu, ikuti saya" perintah sekuriti wanita yang satu lagi. Menghunjuk Desi untuk mengikutinya ke kamar mandi. Sementara sekuriti wanita yang satu lagi, hanya menatap mereka satu per satu. Wajah per wajah. Tatapannya penuh kecurigaan dan kemarahan.
Sedang para sekuriti pria, bersama Ibu Pur memeriksa lemari pakaian dan meja belajar mereka satu per satu.
"Menurut lo-lo pada, siapa sih sebenarnya maling diantara kita" tiba-tiba Yunita buka suara. Tampak dari wajahnya bahwa dia sangat kesal, kecewa dan letih.
Pertanyaan Yunita berhasik membuat seluruh teman-temannya saling menatap. Tatapan kecurigaan dan bisa saling tuduh. Beberapa saat mereka saling menatap seperti itu. Kemudian secara tiba-tiba Tari berjalan kearah kamar. Sepertinya akan kembali masuk ke kamar.
"Hei...!....mau kemana kamu ! " tegur sisekuriti wanita yang sedari tadi mengawasi mereka dengan tatapannya itu.
Tari mengabaikan teguran itu. Tetap saja melangkah masuk kedalam kamar. Tampak Ibu Pur sangat marah melihat Tari masuk. Itu pun Tari tidak perduli. Tari mengambil hpnya. Lalu menghampiri Ibu Pur.
"Bu...maaf, ijin bicara..."
"Ada apa"
__ADS_1
"Sebenarnya saya...eee..." Tari tampak gugup dan ragu-ragu. Sejenak memperhatikan teman-temannya lewat jendela kamar yang memang masih terbuka lebar. Tentu saja, berhubung hari masih sore.
"Katakan saja, ada apa " desak Ibu Pur, penasaran.
Lalu Tari memperlihatkan hpnya pada Ibu Pur. Setelah membuka sebuah video rekaman dan video itulah yang sekarang sedang dilihat Ibu Pur.
"Tapi tolong, bu. Pastikan saya aman. Saya takut, bu" kata Tari berbisik pada Ibu Pur disaat Ibu Pur masih melihat video itu. Roman wajahnya seketika berubah sangat marah dan bercampur kecewa.
"Suruh semua masuk" perintah Ibu Pur kemudian, kepada ketiga orang sekuriti pria itu. "Kirim ke hp saya" perintah Ibu Pur lagi. Tapi kali ini kepada Tari. Tari mengangguk dan langsung mengirim video itu ke hp Ibu Pur.
"Kapan kejadian ini" tanya Ibu Pur kepada Tari.
"Kemarin siang, bu. Kebetulan saya masuk kamar untuk istirahat"
"Oooo..." Ibu Pur manggut-manggut. "Ayo !..." kata Ibu Pur kepada seluruh sekuriti itu. Kemudian mereka pergi meninggalkan kamar.
Sepeninggal Ibu Pur dan para sekuriti, teman-teman sekamar Tari pun langsung mengerumuni Tari. Bagai semut yang baru mendapatkan sebutir gula yang jatuh dilantai.
"Ada apa, Ri"
"Siapa dalangnya"
Blablabka...pertanyaan-pertanyaan itupun bising ditelinga Tari. Tapi tak satupun dijawab oleh Tari. Tari lebih memilih tidur. Menutupi seluruh tubuhnya, hingga kepala dengan selimut mesumnya. Memeluk hp nya erat-erat dan senyum kemenangan mengembang lebar dibibirnya.
Teman-temannya tidak menyerah. Keingin tahuan mereka sangat besar. Tak ada Tari, Gina pun jadilah. Lalu mereka mengerumuni Gina.
"Uang lo yang hilang, Gin. Kapan ?...Dimana ?....Berapa jumlahnya..."
"Lo duga siapa pelakunya"
Seperti biasa, para teman-teman akan terus heboh. Sampai kepenasaran mereka puas. Walaupun Gina tak menjawab satupun pertanyaan mereka. Kecuali hanya menangis sedih.
Segera Ruli memeluknya. Tanpa sepatah katapun lagi keluar dari mulutnya. Begitu pula teman-temannya pada akhirnya. Sangat sopan mereka menyingkir. Tapi masih duduk berkelompak diatas ranjang Desi.
Sampai keesokan paginya, kembali kehebohan terjadi. Pasalnya Fitri dipnggil keruangan Ibu Pur.
"Apa menurut kalian, Fitri pelakunya" tanya Desi pada teman-temannya.
"Bisa jadi" jawab Tari dengan cepat.
"Kok bisa sih ?..."
__ADS_1
"Yah bisalah, namanya juga klepto"
"Emangnya Fitri klepto ?" kini Neneng yang bertanya.
"Sebelumnya Martha...lalu Mila...sekarang Fitri. Sebenarnya, siapa sih malingnya" tanya Desi lagi. Karena sangat penasaran dan kebingungan.
"Klepto kan penyakit...." Tari ingin menjelaskan. Mencari celah untuk menyudutkan Fitri dari penyakit kleptomania ini. Tapi Tari tampak kebingungan.
"Tapi bukan menular. Masa iya...menular dari Martha ke Mila dan sekarang Fitri. Lalu nanti ke siapa lagi" bantah Neneng.
Kehebohan mereka itu masih berlanjut diruang kuliah. Tak satupun dari mereka konsentrasi pada penjelasan materi mata kuliah yang disampaikan dosen. Sengaja mereka memilih duduk berdekatan untuk bisa melanjutkan diskusi tentang penyakit klepto dan hubungannya dengan masalah yang mereka hadapi didalam kamar. Tapi tak juga menemukan titik terang.
"Apa klepto ini menghasilkan virus yang bisa berregenerasi ?" tanya Desi. Setelah selesai perkuliahan.
"Bodo ah !" jawab Tari kesal dan kehabisan kata-kata untuk menjelaskan. Karena penjelasannya ngambang. Tujuannya hanya untuk menyudutkan Fitri dan menjadikannya tersangka.
Karena kesal pada teman-temannya yang tidak dapat dipengaruhinya. Agar setuju dengan pendapatnya. Akhirnya Tari meninggalkan teman-temannya itu diruang kuliah. Niat Tari akan kembali kekamar. Menantikan Fitri yang mungkin saja masih diruangan Ibu Pur. Menantiikan keputusan hukuman dari pihak yayasan.
Namun ketika kembali ke kamar, Tari sangat kaget. Mendapati Fitri masih berada didalam kamar. Tidak berbenah-benah untuk pergi gitu. Malah tiduran diatas ranjangnya, sangat santai lagi. Memainkan hpnya dan tertawa-tawa didepan hpnya itu.
Hal itu sangat merobek-robek kebahagiaan Tari. Seketika kemarahan merasuki kepala Tari. Apalagi sepertinya Fitri tidak memperdulikan kehadiran Tari. Padahal Tari tahu dan sangat yakin, bahwa Fitri melihatnya masuk ke kamar. Tapi Fitri cuek bebek saja.
Ingin rasanya Tari menarik Fitri dari tempat tidurnya itu. Menjambak rambutnya dan menyeretnya keluar dari kamar. Tapi kemudian Gina datang. Juga tidak menghiraukan Tari. Tidak melirik Tari sesaat pun. Begitu saja nyelonong masuk dan langsung menuju kursi meja belajarnya. Meletakkan tasnya diatas meja dan meletakkan pantatnya pada kursi. Mengambil hpnya dari dalam tasnya dan mulai asyik menatap layar hpnya. Sama seperti Fitri, Gina juga senyum-senyum didepan hpnya.
Tidak berapa lama kemudian, teman-teman yang lain juga berdatangan. Masuk ke kamar dan tidak memperdulikan Tari. Malah selanjutnya mereka sudah bercanda dan tertawa-tawa. Mereka menggap Tari hantu yang tak terlihat.
Ini tidak bisa dibiarkan. Tari tidak mau mati berdiri diambang pintu kamar, dicueki seluruh teman-teman tidurnya.
Taripun mendekati Gina dengan langkah lebar.
"Gimana, Gin" Tari to do point
"Apanya gimana" jawab Gina cuek. Matanya masih menatap layar hpnya.
"Duit lo. Udah tahu pelakunya"
Seketika seluruh mata teman-temannya hanya tertuju pada Tari dan Gina. Mereka langsung menghentikan aktifitas bercandanya. Suasana pun menjadi hening mencekam.
Tapi itu hanya beberapa saat. Karena satu menit kemudian, Ibu Pur sudah muncul. Berdiri didepan pintu kamar mererka
"Tari...keruangan ibu sekarang" ***
__ADS_1